
Si om nyebelin kini sudah berada di ruang operasi , begitu kami sampai di RS ini ia langsung di tangani di IGD terlebih dahulu lalu segera di bawa ke ruang operasi. Aku yang menunggu di sudut ruangan ini , berjongkok di pojok dinding sambil menenggelamkan wajahku di atas kedua tumpuan tanganku yang ku letakkan di sisi lututku yang ku tekuk sembari terus menangis.
Aku begitu mengkhawatirkan keadaan si om, ku rampalkan doa dalam hatiku agar si om baik-baik saja dan operasinya berjalan lancar.
"Sebaiknya kamu minum dulu kopi susu yang hangat ini." Aku mendongak melihat ke arah suara barusan berucap.
Terlihat ia menyodorkan satu cup berukuran cukup besar ke arahku, aku tak menghiraukannya dan kembali ku tenggelamkan wajahku pada kedua tumpuan tanganku.
"Ayolah minum ini agar suhu tubuhmu tidak terlalu dingin akibat kehujanan tadi." Ia seperti mengkhawatirkan ku.
Aku hanya diam dengan posisi yang tetap sama, sungguh aku tak perduli dengan diriku saat ini, apalagi dengan dirinya yang bukan siapa-siapa ku. Aku sedang kacau, siapakah sebenarnya mereka yang menyerang dan telah menembak si om tadi dengan wajah yang di tutupi masker itu?
Tiba-tiba suara orang melangkah begitu terdengar seperti ada beberapa yang berdatangan ke arah sini.
"Nak Reza bagaimana keadaan Andra? Dimana dia sekarang dan apa yang terjadi?" Aku mendengar suara nenek fashionable alias Mama mertuaku dengan nada begitu khawatir saraya memberondong banyak pertanyaan kepada Om Reza.
"Tenang dulu Ma, satu-satu bertanyanya." Kini aku mendengar suara dari kakek gagah yang tak lain adalah Papa mertuaku.
Aku masih di posisi awalku fokusku kini hanya menunggu selesainya operasi si om dengan berharap-harap cemas akan hasilnya nanti.
"Tante tenang dan sabar ya, Alvian masih di dalam ruang operasi." Ucap Reza.
"Apa yang sebenarnya terjadi Nak Reza?" Tanya Papa Abraham dengan raut khawatirannya dan matanya menelisik ke arah Reza.
"Iya, apa yang terjadi Za?" Mama mertua terdengar tak sabaran.
"Reza belum tau jelas Om , Tante. Namun, Reza rasa ada beberapa orang yang menyerang Alvian." Terang Reza sesuai prediksinya, karena ia belum berani dari sejak awal datang untuk bertanya kepada Alena yang telihat begitu kacaunya.
"Alena." Aku mendengar dan merasakan pelukan berhambur dari seseorang kearahku yang masih tetap di posisi semula.
Kedua tangannya tiba-tiba melingkar dari depan agak menyamping hingga merangkul punggungku penuh sambil menyandarkan kepalanya di bagian tubuhku, terasa kepalanya begitu berdekatkan dengan kepalaku. Ia mengusap-usap lembut punggungku dengan posisi tubuhnya yang bersamaan ikut berjongkok menyamai posisiku.
Ia berusaha memberiku ketenangan dan kekuatan seakan peka dengan apa yang sedang aku rasakan saat ini.
"Len lo baik-baik aja kan?" Tanyanya seakan ragu , aku hanya mengangguk saja dengan lemah.
Ia yang merupakan Vera sahabatku semakin mengusap-usap punggungku lembut. Aku mendengar suara Mama mertua tepat di depanku yang aku masih di posisiku, begitu juga Vera.
"Kamu baik-baik saja kan Nak?" Mama mertua kini berjongkok, aku bisa merasakan kebaradaannya tepat di sebelahku.
Mama mertua memegang serta mengelus lembut pucuk kepalaku, aku hanya diam sambil meresapinya. Tak lama Vera mengajakku bangkit dari posisi kami. Aku di bimbing melangkah dengan di rangkul pundakku sebelah kiri oleh Vera dan lenganku di pegang lembut dan erat oleh Mama mertuaku.
Aku di dudukan di kursi besi yang tersedia di ruang tunggu sekitar ruang operasi ini, aku menatap dengan tatapan kosong. Di otakku sekarang benar-benar hanya memikirkan nasib si om. Selain orang tua si om dan Vera disini sudah datang kedua orang tua Vera.
__ADS_1
"Baju lo basah Len." Ucap Vera sahabatku dengan nada khawatirnya, tapi aku tak menghiraukan ucapannya barusan.
"Eneng." Tiba-tiba suara Mama ku terdengar.
Aku menoleh dan langsung berhamburan ke pelukan Mamaku, menangis lagi dan lagi di pelukkannya. Mama memelukku dan menggusap-usapa punggungku.
"Apa yang terjadi Neng?" Kami melerai pelukan kami dan memegang kedua bahu ku, kedua bola matanya menelisik ke wajahku yang kacau dan mataku yang memerah begitu juga hidungku efek menangis.
Mataku masih basah dengan air mata yang masih mengalir walau kali ini tidak sederas sebelumnya, aku sudah menangis deras sejak di perjalanan tadi. Sungguh aku begitu khawatir serta begitu takut saat darah segar itu terus mengalir begitu banyak dari perut si om, di tambah tangan kanannya yang juga terluka. Kemejanya yang putih polos penuh dengan darah sampai tiba sebuah ambulance datang membawanya dan akupun ikut masuk dalam ambulance itu.
Di dalam ambulance juga ada 2 lelaki yang merupakan tim medis yang bertugas dan memberikan pertolongan pertama kepada si om, selain sang sopir. Saat di perjalanan di dalam ambulance baju si om segera di buka untuk melihat bagaimana lukanya, aku yang ikut berada disana jelas melihatnya begitu mengerikan.
Karena ini pertama kali aku melihat luka yang terbilang parah dengan lubang yang terlihat di perut kirinya, tim medis yang ada mencoba menghentikan aliran darah yang mengalir deras dari lubang bekas tembakan itu. Ya Allah sungguh aku ikut merasakan bagaimana sakitnya luka tembakan itu dengan darah segar yang masih terus mengalir.
Aku masih bersyukur karena kata tim medis nyawanya si om masih ada, mungkin karena kelelahan akibat perkelahian itu dan kehujanan belum lagi tangannya juga ada yang terluka. Jelas itu membuat si om tumbang setelah menerima 2 tembakan pada perutnya.
Mengingat itu aku semakin sadar atas kebodohan ku yang hanya bisa diam dengan rasa takutku tanpa bisa berbuat apapun.
Kini aku yang telah melihat Papa ku di hadapanku, langsung aku beralih berhambur ke pelukan Papa. Aku memeluk erat Papa dan di balasnya sambil mengelus-ngelus punggungku lembut.
"Mama sama Papa siapa yang kabari? Maafkan Alena tidak langsung mengabari Mama dan Papa, Alena bingung dan kacau sekali. Alena takut si Om tidak dapat terselamatkan Pa." Ujarku masih dalam dekapan Papaku dengan suara serak akibat nangis yang masih menderai.
"Mertua kamu yang mengabarinya Nak kepada kami hingga kami pun langsung menuju kesini." Ucap Papa lembut dengan membelai rambutku lembut.
"Keluarga pasien?" Ucap seorang dokter lelaki yang baru saja keluar dari ruang operasi setelah lebih dari 2 jam lamanya mungkin terbilang hampir mendekati 3 jam lamanya.
Kami semua yang ada di sekitar ruang operasipun menoleh ke arah sang dokter itu dan menghampirinya dengan rasa penasaran dan harap-harap cemas.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?" Mama mertua langsung menghampiri sang dokter tepat di hadapannya dengan pertanyaan tersebut. Terlihat jelas wajah kecemasannya.
"Alhamdulillah, kami bisa melakukan operasinya dengan lancar. Luka di perutnya akibat tembakan itu cukup parah, karena ada 1 lubang yang di tembakan kembali pada luka yang sudah tercipta.
Itu memicu darah semakin gencar mengalir dengan rasa sakit yang laur biasa. Pasien memerlukan tambahan darah secepatnya. Karena ia begitu banyak kehilangan darah." Tutur sang dokter.
"Ambil saja darah saya dok!" Mama mertua langsung berkata demikian tanpa ragu.
"Apakah golongan darah ibu sama dengan pasien? Kalau sekiranya golongan darah ibu sama atau cocok dengan pasien, ibu bisa mendonorkannya. Lebih cepat lebih baik." Tegas sang dokter.
"Saya Dok yang golongan darahnya sama dengan pasien, saya ayahnya. Golongan darah kami sama-sama bergolongan darah AB. Saya siap mendonorkan darah saya untuk keselamatan putra saya." Papa mertuaku berucap mantap.
"Sepertinya bapak sehat walaupun di usia tak muda lagi, tapi apa bapak yakin? Karena pasien membutuhkan darah cukup banyak." Dokter tersebut mencoba memastikan kembali.
"Insha Allah saya yakin Dok." Tegasnya.
__ADS_1
"Kalau begitu kita chek terlebih dahulu golongan darahnya, mari ikut saya Pak!" Dokter tersebut pun melangkah dari area ini dan di ikuti oleh Papa mertuaku.
Aku juga melihat Om Reza ikut serta dari belakang, ntah apa yang akan ia lakukannya. Andai golongan darahku sama dengan golongan darah si om, aku akan mendonorkannya.
🍬🍬🍬
"Bangunlah om! Jangan buat Lena semakin bersalah, maafkan Alena Om." Aku menggenggam telapak tangan kirinya yang masih terpasang selang infus, sambil menangis sendu.
Sudah hampir 2 minggu sejak kejadian penembakan itu terjadi dan si om di bawa ke RS, maka sejak itu pula si om tak sadarkan diri hingga hari ini.
Sejak transfusi darah itu selesai dan yang mendonorkan darahnya selain Papa si Om , ternyata Om Reza sahabatnya pun ikut mendonorkan darahnya untuk si om. Dengan ikhlas Om Reza mendonorkan darahnya lebih banyak dari pada Papa Abraham mertuaku, karena memang darah Papa Abraham tidak mencukupi maka dokter pun merasa tertolong juga dengan niatan Om Reza yang ingin ikut mendonorkan darahnya untuk si Om Andra.
Ternyata aku baru tau selain bersahabat lama mereka memiliki golongan darah yang sama juga. Aku tau dari Mama mertua kalau Om Reza ini sudah bersahabat sejak awal mereka 1 sekolah menengah keatas, hingga kini umur mereka yang tak jauh berbeda.
Sejak si om belum sadarkan diri dan masih tetap si rawat di RS ini, sejak itu juga aku selalu menemaninya dan menginap disini. Sesekali Mama atau Mama mertua ikut menemani ku menginap disini, pernah juga sekali Vera ikut menemani ku menginap disini.
Aku pun berkuliah atau berangkat dari RS ini dan selesainya aku kuliah aku pun langsung kembali ke RS ini, tepatnya ke ruang VVIP ini dimana ruang rawat inapnya si Om suamiku.
Aku masih terjaga rasanya selalu susah tidur sejak kejadian itu, apalagi seperti ini kejadiannya. Sungguh aku merasa bersalah karena tak bisa berbuat apa-apa.
"Ya Alloh aku tak ingin si om meninggal, tapi bukan berarti aku suka si om harus koma begini." Sedihku membathin.
🍬🍬🍬
"Kalian jangan kembali ke Indonesia dalam waktu dekat ini, kalau kalian nekad siap-siap kalian menerima ganjarannya dariku."
"_____"
"Aku tidak mau tau aku sudah membayar kalian mahal untuk mengeroyok sekaligus membunuh orang sombong itu, tapi malah kalian yang babak belur. Jadi inilah hukuman kalian aku kirimkan kalian ke luar negeri sekaligus bersembunyi untuk waktu yang tak tentu."
Tuttt...Tuttt..
Panggilan suara itu telah terputus langsung oleh lelaki paruh baya itu. Dia meneguk minumannya sesaat hingga tandas lalu menyenderkan punggungnya ke kepala kursi kebesarannya. Menghela napas panjang beberapa kali lalu berucap.
"Untung saja ada seseorang yang bisa melakukan hal yang aku minta itu dengan baik, walaupun pada akhirnya si orang sombong itu tidak langsung mati. Melainkan koma , semoga si orang sombong itu berakhir dengan tak bangun-bangun lagi selamanya." Sudut bibirnya tertarik sebelah menampilkan senyum jahatnya.
Lelaki paruh baya itu masih belum puas jika Andra belum benar-benar mati. Rasa sakit hatinya atas penolakan Andra pada kasus anaknya itu sungguh tak wajar, hingga ia begitu dendam kepada lelaki tampan yang telah ia juluki sebagai orang sombong.
🍬🍬🍬
Bersambung..
Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰
__ADS_1