TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU
BAB 49


__ADS_3

Tin...


Tin...


Suara klakson mobil Furtuner GR-Sport si om terdengar dari gerbang kampus ku, ia baru saja sampai untuk menjemputku.


"Gue duluan ya." Saat aku berpamitan kepada Siska dan Wina pas kami berdiri di depan gerbang.


"Hati-hati ya Len." Seru mereka berdua, aku pun langsung masuk ke dalam mobil. Mobil pun kembali melaju.


"Gimana ujian terakhir kamu hari ini heum?" Si om bertanya di balik kemudinya.


"Alhamdulillah lancar om. Akhirnya selesai juga ujian akhir semester di semester 6 ini." Sungguh lega rasanya ya temen-temen jika ujian telah berakhir, tapi kadang deg deg menunggu hasilnya hehe.


Hening beberapa menit hingga aku berbicara lagi. "Oya om pas liburan nanti boleh nggak aku nginep di rumah Papa barang beberapa hari aja?" Sudah lama rasanya aku tidak nginep dan tidur di kamarku sendiri.


"Heumm." Jawab si om.


"Jadi boleh om?"


"Iya."


"Makasi ya om." Seruku dengan rona bahagia.


🍬🍬🍬


[ "Assalamualaikum, Ma." ]


[ " ____ " ]


[ " Ya Allah, kok bisa Ma?" ]


[ "_____" ]


[ "Ya udah ne Alena kesana ya Ma." ]


[ "___"]


[ "Wa'alaikumsalam."]


Tutt...


Tutt...


Tiba-tiba air mataku menetes setelah menerima telpon dari Mama ku. Aku memang sedikit cenggeng jika itu berhubungan dengan orang terkasih ku contohnya orang tuaku.


Ceklek..


"Sudah siap?" Tanya si om saat setelah ia masuk ke kamar, aku yang ditanya malah hanya bisa diam sambil menunduk.


Sebenarnya aku sedang menyusun beberapa perlengkapanku yang akan ku bawa untuk menginap di rumah orang tuaku, selama beberapa hari menginap di sana selagi libur semester akhir kali ini.


Si om mendekati ku lalu memegang kedua pundakku lembut. "Kamu nangis Alena?" Tanya lembut.


Aku mendongak menatap ke arahnya yang juga menatapku. "Om tadi Mama menelpon katanya Papa masuk rumah sakit." Laporku sambil air mata semakin deras membasahi pipiku.


Tanpa di duga si om membawaku ke dalam dekapannya hingga wajahku menyadar ke dadanya yang cukup bidang dan terbalut baju kemejanya. Si om memberiku ketenangan dengan mengusap-usap punggungku lembut.


"Sudah jangan nangis." Ucapnya lembut.


Aku pun mengangguk dalam dekapannya. Kemudian si om pun melerai pelukkannya dan sedikit menunduk untuk menatap ke arah wajahku, manik kami bertemu lalu si om berkata. "Insha Allah Papa akan baik-baik saja oke." Ucapnya lembut sekali lalu menghapus air mataku dengan kedua ibu jarinya pelan.


Dan tanpa di duga lagi si om membawaku kembali ke dalam pelukkannya, aku pun tanpa ragu membalas pelukkannya. Mungkin saat hal ini yang aku butuhkan.


"Kita ke rumah sakit sekarang oke." Aku mengangguk lalu kami melepas pelukkan.


Setelahnya kami pun bergegas untuk menuju RS dimana Papa ku di rawat.


___


"Assalamualaikum. Pap..Paaaa.." Aku langsung berhambur


memeluk Papa yang terbaring di bednya.


"Wa'alaikumsalam. Papa nggak kenapa-kenapa Nak." Terang apa menenangkan ku yang kini sudah menangis dalam pelukkannya.


Terdengar suara Papa lemah sekali, dari situ sudah sangat jelas menandakan bahwa Papa benar-benar sedang sakit. Terlihat juga tadi sekilas saat aku masuk dan berhambur memeluk Papa, wajahnya pucat tak seperti biasanya.


"Papa kenapa bisa sakit?" Tanyaku cemas dan sedih.


"Ya bisa lah Nak, namanya juga manusia pasti akan dan pernah mengalami sakit." Tutur Papa lembut, aku masih memeluk papa yang terbaring.


"Setau Lena Papa itu kuat bahkan selama ini Papa jarang sekali sakit, apalagi sampai masuk rumah sakit begini."


Papa ku memang terbilang orang yang jarang sekali sakit, karena pun menjaga asupan makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuhnya dan lupa juga olahraga. Hal itu pun tak luput dari pantauan Mama.


Aku melerai pelukan kami , Papa pun berkata."Ih udah gede masih cengeng." Ejek Papa dengan senyuman , lalu Papa menghapus air mataku.


"Angeus atuh Neng, tong ceurik kitu isin atuh ka carogek." ( Sudah dong Neng, jangan nangis gitu malu kan sama suami ). Mama berujar.


"Ih Mama namanya Lena sedih dan khawatir sama Papa, nggak biasa-biasanya Papa kek gini. Lagian Papa kenapa kok bisa masuk rumah sakit segala, Papa sakit apa Ma?" Aku melirik ke arah Mama seraya cerocosku bertubi-tubi dengan pertanyaan yang jelas aku belum tau jawabannya.


"Iya Nak Mama kamu bener, udah jangan nangis lagi malu dilihat suami mu Nak." Aku pun mengangguk pelan lalu melangkah sedikit menjauh dari Papa, mencari kursi untuk ku duduk di sisi Papa.


Si om setelah menyalami Mama takzim ia hanya diam saja memerhatikan kelakuanku terhadap Papa, dan kini ia mulai menyalami Papa takzim.


"Apa kabar menantu Papa?" Ih Papa apa-apaan kok sekarang malah menyebut si om menantu begitu, besar kepala ntar si om om ini. Walaupun ya kenyataannya si om ini memang menantunya Papa.


"Alhamdulillah, sehat wa'alfiat Pa. Papa sakit apa?" Tanya si om pada akhirnya.


"Gula darah Papa naik Nak Andra." Jawab Papa.


"Loh kok bisa Pa , kan Papa selalu menjaga pola makan dan minum Papa." Potong ku cepat dengan perasaan heran setelah menjawab tadi.


Soalnya gula darah Papa selama ini normal-normal saja, karena memang menjaga asupannya sejak tau kalau Papa megidap penyakit diabetes.


"Ya gimana nggak bisa, itu si Papa gara-gara keasikan sama temennya di teraktir makan durian jadi ke bablasan sampai pingsan. Sangkin gula darahnya naik dan tinggi sekali terus jadi drow gini." Ungkap Mama dengan nada kesalnya.


"Kan sekali-kali Ma." Cengir si Papa dengan watados-nya alias wajah tanpa dosanya.


Datang si Mama malah makin menampilkan mimik kesalnya dengan kedua bijik matanya yang melotot sempurna ke arah Papa.


"Papa jangan gitu lagi dong Pa, Alena kan nggak mau Papa kenapa-kenapa." Tuturku dengan nada manjaku bercampur sendu karena rasa khawatirku.


Aku memang terkadang manja ke Papa ku. Dialah pria yang menjadi cinta pertama ku, sosok Papa sangat aku kagumi dan sayangi begitu juga Mama. Merekalah orang-orang pertana yang berharga bagi ku dan pasti tulus menyayangi dan mengurus ku selama ini.


"Ih anak perempuan Papa segitunya sama Papa." Papa membelai rambut panjangku lembut saat aku kini telah duduk tepat dihadapannya.


"Iya dong Papa kan cinta pertama Lena." Ungkapku dengan bangganya.


"Iya dan cinta terakhir anak perempuan papa ini suaminya." Ih Papa ini asbun gini sih , apa efek lagi sakit ya jadi ngomongnya asbun banget. ( asbun alias asal bunyi ).


Mana disini pas ada orangnya yang bergelar sebagai suamiku. Aku hanya bisa diam tanpa merespon, toh kalau ku respon ucapan Papa yang tadi , aku akan kalah juga. Baik itu merespon iya apalagi menyangkalnya.


"Jadi apa kata dokter Ma soal keadaan Papa?" Aku bertanya lagi.


"Tadi pas di bawa ke sini Papa udah diperiksa dan katanya harus puasa dulu selama beberapa jam untuk mengontrol dan melihat perubahan kadar gula darahnya. Nanti dokternya datang lagi ngechek dan periksa si Papa kembali." Mama menjelaskan panjang lebarnya.


"Papa cepat sembuh ya Pa." Ucapku penuh harap.


"Aamiin." Papa berujar.


"Sebenarnya hari ini Lena memang mau kerumah dan mau menginap di rumah Mama dan Papa. Sengaja Lena nggak kabari rencananya mau bikin kejutan eh malah Lena yang dikejutkan dengan kabar Papa masuk rumah sakit."


"Ya sudah kalau nggak eneng ikut temani Mama jaga Papa malam ini disini juga boleh. Tapi eneng harus izin heula atuh ke suami." Seru Mama.


"Iya, Ma." Kataku.


"Eh Nak Andra Maaf ya jadi di cuekin." Mama berujar sungkan kepada si om yang santai duduk di sofa sebrang sana sambil memainkan gawai sultannya itu.


"Ya nggak apa-pa Ma." Ucap si om dengan seulas senyum.


Si om ini memang aku perhatikan hanya pada orang tua khususnya orang tuanya dan orang tua ku ia bisa berlaku ramah dan menunjukkan sesekali senyum manisnya. Yang memang sejujurnya ku akui senyumnya itu bikin melenyot hati siapa aja yang melihatnya.


Aku pun beranjak dari dudukku dan menghampiri si om di sofa sana. Aku duduk di sebelahnya melihat ke arahnya , ia pun berkata. "Ada apa?" Tanyanya datar dengan matanya tetap fokus ke layar gawai mewahnya yang memperlihatkan tentang artikel yang kurang ku fahami tapi sekilas seperti artikel hukum.


"Lena boleh nginep sini temani Papa dan Mama, om?" Aku langsung ke intinya.

__ADS_1


"Berapa hari?" Tanya lagi yang tetap fokus disana.


"Emang boleh request ya, berapa hari?"


"Heumm."


"Kalau sampai Papa dinyatakan sudah sehat dan boleh pulang, boleh nggak om?" Detailku sambil aku terus menatap ke arahnya.


Ya Allah ganteng bener sih suami orang, eh salah suami aku kan faktanya. Ih Lena apaan sih, hati kamu kok jadi doyan muji-muji si om nyebelin ini sih sejak belakang hari ini. Jangan-jangan aku beneran mulai terpesona sama si om. Duh jangan deh kalau bisa ya Allah.


"Ya sudah." Masih sama menjawab dengan fokusnya disana.


"Ya sudah , boleh om maksudnya?" Aku memastikannya lagi.


"Heumm." Jawabnya hanya dengan berheum sekali saja.


Tanpa sadar bibirku merekah dan berkata. "Terima kasih ya suamiku yang super tampan dan baik hati." Spontan setelah menyadari ucapanku aku membuang muka dari menatapnya.


OMG afa-afaan lidahku ini kok bisa keseleo begini, ampe terucap kata-kata yang lebay itu ke si om. Kemudian terdiam binggung, malu-malu aku ya Alloh.


Sekilas aku melirik ke arahnya , ku lihat si om cuek bebek atas ucapanku barusan tadi. Tapi siapa yang tau apa yang ia fikirkan atas kalimat ku yang terlontar barusan , khususnya di kalimat terakhirku tadi.


Aku pun bangkit dari sisi si om untuk segera menuju kamar mandi, ya kamar mandi adalah tempat terbaik untuk bersembunyi dari hal-hal genting seperti ini.


Huft menghilang dan amnesia aja deh aku sekarang , biar nggak semalu ini. Aku melangkah lebar untuk masuk ke kamar mandi yang ada di bagian sisi kamar rawat inap VIP ini.


🍬🍬🍬


Ke esokkan harinya.


"Neng tolong Mama atuh belikan sarapan gih ke depan."


"Ah iya Ma." Aku pun beranjak dari dudukku hendak mengambil dompetku di dalam tas.


Semalam aku menginap di RS ini menemani Mama jaga Papa dan si om pun akhirnya pulang, katanya akan kembali besok.


"Iyeu icis na Neng." ( ini uangnya Neng ) . Ujar Mama menyodorkan uang berwarna merah cerah itu kepadaku.


"Udah Ma nggak usah, pake aja uang Eneng." Seruku.


"Ah udah pake uang Mama aja atuh Neng." Aku mendorong tangan Mama yang asik menyodorkan tangan kanannya ke arahku yang memegang uang merah cerah itu.


"Udah atuh Neng, ku naon kitu ari make icis Mama." ( Udah dong Neng, kenapa emang kalau pake uang Mama ).


"Ya nggak apa-apa sih, tapi udah atuh Ma simpen aja uang Mama. Toh jarang-jarang juga Lena bayarin Mama." Tuturku, Mama pun menarik uang itu dari hadapanku.


"Ya udah atuh." Pasrah Mama.


"Mama mau sarapan lontong atau nasi uduk atau bubur ayam, atau apa?" Tanyaku beruntun dengan menawarkan beberapa menu sarapan yang kiranya Mama mau.


"Lontong ya Neng kalau ada." Pinta Mama.


"Oke Ma, kalau begitu Lena beli dulu ya." Aku pun keluar dari kamar rawat inap VIP ini.


Soal Papa ku ia masih harus di rawat dan pagi ini Papa masih asyik di alam mimpinya, sampai sarapan dan obat yang di bawa perawat belum terjamah oleh si Papa.


Aku berjalan kaki dari RS ini untuk mencari sarapan di sekitaran yang juga tidak jauh dari RS ini.


___


Tin...


Tin..


Aku menoleh ke sumber suara klakson yang kurasa tak jauh dari jarakku, dan ternyata ada mobil sedan mewah berwarna biru. Aku pun kembali fokus berjalan.


Tin..


Tin..


"Apaan si mobil ini pake klakson-klakson nggak jelas." Sewotku sendiri sambil terus berjalan.


Tin..


Tin..


Tin..


Tin..


Tuhkan klakson-klason lagi, berisik banget sih. Kakiku pun ku berhentikan seketika dan anehnya juga mobil tersebut pun ikut berhenti, maksudnya apa apa coba ini?


Pagi ini sepertinya emosiku tak bisa ku kendalikan lagi, aku maju melangkah menghampiri tu mobil sedan mewah berwarna biru yang ada didapanku kini.


Aku lihat kaca jendela mobilnya tiba-tiba terbuka, aku pun langsung mendekat dan tanpa fikir panjang aku pun langsung menundukkan badanku ke arah kaca mobil yabg telah terbuka sempurna. Aku pun langsung mengeluarkan suara kesalku, peduli amat siapa di dalam sana.


"Maaf ya anda ini sebenarnya mengklaksoni siapa sih? Saya kan udah berjalan di sisi jalan, jadi saya rasa saya tidak mengganggu anda berkendara. Tapi kenapa terus-terus anda membunyikan klakson anda ke saya, hah?" Aku menghela napas gusar sedangkan orang yang aku omelin malah duduk santai di balik kemudinya tanpa menoleh ke arahku malah fokus ke depan.


"Eh bung anda dengar nggak saya bilang apa?" Omelku lagi, pria yang ada dalam mobil ini tetap diam dengan fokusnya ke depan.


Lalu seketika pria tersebut menoleh ke arahku yang kini aku masih berlanjut mengomel kepadanya. Pria yang terlihat menggunakan stelan jas lengkap di tambah menggunakan kaca mata hitamnya bak CEO kece di novel-novel itu tetap diam dan kini malah fokusnya ke arah ku.


"Eh bung jangan bengong aja, saya kan nggak ada salah sama anda bung kenapa pancing emosi saya ini masih pagi loh. Sebaiknya anda sekarang segera menjalankan mobil mewah anda ini ke tujuan anda pergi, saya kan sudah berhenti berjalan. Silahkan bung!"


"Hallo cantik." Ucapnya seraya melepas kaca mata hitamnya. Tatapannya tertuju padaku dengan seutas senyum.


Baru aku sadari tenyata pria ini. "Om Davin kan?" Seru ku cukup kaget sambil mataku memicing.


"Iya cantik, ternyata kau masih mengenali ku." Ujarnya dengan senyuman anehnya, tapi mungkin begitu lah khas senyumannya.


"Oya, kenapa kamu jalan kaki di sekitaran sini cantik?"


"Ah itu, Lena mau beli sarapan om."


"Kalau begitu biar aku antar." Ucapnya seraya membuka pintu mobil untukku dari seberang kemudinya.


"Ah tidak usah om, Lena cari sarapan dekat sini kok om." Tolakku halus.


"Ayolah, apa salahnya aku yang mau mengantarkan mu." Fikirku ucapannya ada benarnya juga, akhirnya aku pun masuk ke dalam mobilnya.


"Nggak ngerepotin ni om, terus apa om nggak kerja?" Tanya ku memastikan dan si om Davin mulai melajukan mobilnya.


"Nggak ngerepotin kok, lagian aku meeting juga nanti siang jadi bisa santai aja ke kantornya." Aku hanya ber O ria aja sebagai jawaban.


Dari penampilannya dan mobil yang ia bawa , aku cukup bisa menebak kalau lelaki ini pasti seorang CEO. Itu si kemungkinan besar dari feel aku.


"Ternyata kamu bisa galak juga ya Cantik." Serunya.


Tak ku tangapi seruannya barusan, ku alihkan dengan pertanyaan "Om Davin tinggal di daerah sini kah?"


"Kediamanku bukan sekitar sini, tadi aku kebetulan aja iseng lewat sini. Eh ternyata keisenganku bisa membuatku ketemu perempuan cantik ini lagi." Kelakarnya, ya menurut ku ungkapan kata cantik darinya hanyalah kelakarnya saja.


"Om Davin ada-ada aja." Cecarku.


"Jangan panggil aku om dong, wajahku kan tak setua itu walaupun umurku mungkin jauh lebih tua dari kamu cantik."


"Om juga jangan panggil aku cantik dong, namaku kan Alena bukan cantik." Kejarku dengan kekehan.


Si om Davin pun melirik kepadaku sekilas, kemudian. "Hahaha.." Kami pun malah tertawa bersamaan.


"Ternyata Om Davin seru juga ya, padahal kami benar-benar baru sekilas bertemu dan kenalan. Itu juga aku kenal ne lelaki dari si om nyebelin yang notabenenya suamiku." Ucapku membatin.


"Oya, umur kamu berapa cantik?"


"Tuh kan Om Davin masih manggil aku cantik." Protesku.


"Ya emang kamu cantik jadi nggak ada salahnya juga aku manggil begitu, walaupun nama kamu bukan cantik." Terangnya dengan fokusnya menyetir aku hanya diam saja malas merespon lagi.


Aku hanya diam saja tak lagi merespon sebutan yang dia sematkan itu padaku, habis aku bingung udah ku larang tetep aja ne orang manggil aku cantik.


"Oya, mau beli sarapan ya katanya tadi. Emang kamu tinggal di sekitaran sini sama Liandra?" Tanyanya lagi.


"Nggak si Om, Lena lagi di RS yang tadi."


"Siapa yang sakit?" Sambungnya cepat.


"Papa Lena Om, lagi sakit dan di rawat di RS tadi." Jelasku.

__ADS_1


"Maaf , emang sakit apa?"


"Diabetes, gula darahnya lagi tinggi jadi drow."


"Oo, semoga cepat sembuh ya Papa kamu cantik." Lembut dan sopan sekali rasanya Om Davin ini, tepatnya gaya bicara seakan berbeda dengan si om nyebelin dan juga Om Reza sahabatnya itu.


Padahal ini juga temannya si om nyebelin setau ku, dan pasti umur mereka nggan jauh beda. Walaupun aku nggak tau teman sejak kapan dan sedekat apa pertemanan si om nyebelin dengan om Davin ini.


"Oya om Davin temannya Om Andra sejak kapan? Eh maksud Lena dengan mas Andra." Huft keceplosan deh, udahlah nggak masalah juga kali ya.


"Teman waktu mondok."


Sejenak aku berfikir dan mencerna kata mondok yang di sebutkan si Om Davin barusan."Pondok pe..santren maksudnya Om?" Ujarku sedikit terbata karena takut salah.


Si om Davin pun mengangguk lalu."Iya bener." Katanya.


Sungguh aku nggak pernah menyangka kalau si om nyebelin pernah mondok di pesantren dan aku kira si om Davin ini teman SMA nya si om nyebelin sama seperti om Reza.


"Zaman kapan itu Om?" Selidikku karena penasaran.


"Tamat SD kami masuk pesantren. Oya kamu kenapa manggil Lian dengan sebutan Om? Bukannya Lian itu suami kamu kan cantik." Sambungnya.


"Ah itu udah kebiasaan sih om, habis umur kami kan terpaut jauh."


"Tuh kan tadi kamu belum jawab saat aku tanya umur kamu berapa cantik."


"Ah iya kelupaan om, umur Lena sekarang genap 20 tahun."


Si Om Davin manggut-manggut dan berkata."Jauh juga ya terpaut 14 tahun lebih tua Lian dari kamu cantik, beruntung banget Lian bisa memperistri kamu yang muda dan cantik." Aku hanya diam saya menanggapi kalimatnya itu.


"Yukk turun, kita beli sarapan disini aja ya." Mataku menelisik keluar ke depan kaca memerhatikan disana sudah terpampang jelas sebuah kafe.


"Om ini kan cafe bukan kedai yang menjual sarapan." Tanyaku heran.


"Udah turun aja, disini juga tersedia lontong sayur dan nasi uduk kok. Rasanya juga enak." Si om Davin pun mulai membuka pintu dan turun dari mobil. Aku pun akhirnya turun dari mobil ini.


"Ayokk sini cantik, jangan bengong disitu aja." Tangannya melambai ke arahku. Aku pun berjalan ke arahnya.


"Hai bro tumben pagi gini udah nyasar dimari, tumben juga pake bawa cewek segala cantik pula tuh. " Ucap lelaki yang terbilang tampan, mengenakan kemeja kotak-kotak dengan celana jins dan sepatu snaker putih.


Matanya menelisik ke arahku dan aku hanya bisa diam seraya tertunduk saja.


"Iya takdir Allah yang bikin aku nyasar dimari, kan lumayan Jun aku bisa nambah penghasilan mu hari ini."


"Oya, kita duduk disana yuk cantik." Tawar si om Davin dengan tangan kanannya menunjuk ke sudut meja yang kosong.


Aku melihat ke arah yang ia tunjuk lalu hanya bisa mengangguk saja dan mengikuti langkah si om Davin.


"Nggak buru-buru kan? Kita sarapan aja dulu disini bisa kan? Oya, Liandra mana?" Ucapnya saat kami sudah duduk.


"Ah ia om , tapi jangan lama-lama juga ya." Ucapku sedikit kaku karena aku bingung dan tak bisa menolak, tapi nggak salah juga kan aku sarapan aja dulu disini soalnya udah laper juga akunya.


"Semalam om Andra udah pulang, karena hanya Lena dan Mama yang nginep di RS menjaga Papa." Sambungku lagi menjelaskan singkat.


"Oo, ya udah mau pesan menu apa? Terus yang mau di bungkus menu apa dan berapa banyak sebut aja ya cantik."


"Lena pesan nasi uduk aja deh om, terus lontong sayurnya 2 porsi aja yang di bungkus."


Si om Davin melambaikan tangannya ke pelayan lalu pelayan pun datang, si om Davin pun menyebutkan pesanan ku tadi dan pesanannya yang juga sama dengan ku.


"Oya minumnya apa cantik?" Tanyanya lagi padaku.


"Lemon tea hangat aja." Jawabku sedangkan ia memesan minuman capucino hangat plus tak lupa air mineral.


Pelayan itu pun pergi setelah jelas pesanan kami tersampaikan.


"Sudah berapa lama kamu menikah dengan Lian?"


"Sudah 1 tahun Om."


"Oo, terbilang sudah lama juga ya. Aku penasaran kalian ketemunya dimana dan bagaimana." Tutur si om Davin, kemudian pesanan kami pun sampai.


Namun, pesanan yang di bungkus belum."Ya udah di makan dulu sarapannya." Seru si om Davin, si om Davin ini terbilang banyak bicara ya dan terasa lebih bersabat dari pada si om nyebelin sang suami.


Kami pun melahap sarapan kami masing-masing. Bener kata si om Davin sarapannya ternyata enak rasanya khususnya nasi uduknya, nggak tau deh kalau lontongnya kan aku makannya nasi uduk. Tanpa terasa sarapan kamipun telah kandas masing-masing.


"Om Lena mau langsung ke RS lagi deh."


"Oke, tapi pesanan lontong sayurnya sepertinya lagi di bungkus. Cukup 2 bungkus aja lontong sayurnya."


"Cukup Om." Ujarku dengan senyuman.


Si om Davin pun beranjak dari duduknya. "Bentar ya kamu tunggu sini dulu ya dan jangan kemana-mana atau jangan pulang duluan sebelum saya datang, oke cantik." Ujarnya lalu melangkah menjauh dari meja tempat kami duduk.


Selang beberapa menit si om Davin pun kembali lagi dengan membawa tentengan plastik dengan berlogokan nama cafe ini.


"Ini lontong sayurnya ya." Serunya sambil mengangkat sedikit tentengan itu sebagai isyarat bahwa pesananku yang dibungkus sudah siap.


"Ah iya Om." Kalau gitu aku bayar dulu ya ke kasir.


"Udah nggak usah, udah ku bayar semuanya." Potongnya cepat sebelum aku beranjak menuju kasir.


"Loh kok om Davin yang bayarin sih, Lena gantinya." Aku mengambil domperku yabg terletak di atas meja hendak mengambil duit.


"Udah nggak usah diganti, emang salah ya kalau aku yang bayar."


"Tapi om?"


"Pliss hargai aku kali ini aja, cantik." Aku menyerah pada akhirnya dan tak jadi mengambil uang dalam dompetku.


"Makasi banyak ya om." Tuturku merasa tak enak juga, tapi ada benernya juga kata dia tadi.


"Sama-sama cantik. Ayokk mau balik ke RS sekarang kan , biar aku antar lagi oke."


Kalau aku menolak dan menganti uangnya yang udah bayarin sarapanku dan 2 bungkus lontong sayur tersebut, itu sama aja aku nggak menghargai dia. Ya udah deh kali ini aja nggak ada salahnya juga ye kan, sekalian juga kan di antar ke RS balik. Fikirku.


Aku pun beranjak dari dudukku dan melangkah bersamaan dengan si om Davin menuju mobilnya. Sampai di depan mobilnya ia membukakan pintu untukku, aku yang di perlakukan begitu berfikir positif aja mungkin memang begini karakter Om Davin jika ke seorang cewek.


"Makasi ya om Davin." Ucapku dengan senyuman.


"Oya sini om pesanannya." Aku mengambil alih tentengan itu dari tangan Om Davin, lalu om Davin memutar arah hendak masuk ke kursi kemudinya.


____


"Terima kasih banyak ya Om Davin atas semua di pagi ini, maaf kalau jadi merepotkan." Ucapku tulus saat kami sudah tiba di depan gerbang RS.


"Sama-sama cantik dan kamu nggak ngerepotin aku kok, aku senang bisa sarapan pagi ini bareng kamu cantik."


"Ih apaan sih om Davin ini, kelakarnya makin menjadi-jadi aja." Cecarku dia hanya kekeh aja menangapinya.


"Oya om Davin nggak mampir dulu?" Tawarku yang sebenarnya basa basi.


"Maaf ya cantik aku harus ke kantor sekarang. Semoga Papa kamu cepat sembuh ya." Ucapnya dengan mimik sendu, syukur deh ne lelaki nggak mampir.


"Aamiin. Ya udah Lena turun ya Om."


"Tunggu, kamu diem aja dulu disini." Ucapnya lalu membuka seatbeltnya dan membuka pintu kemudinya.


Si om Davin megitari mobilnya dari depan lalu, crekk. Tanpa di duga lagi si om Davin membukakan pintu untukku, ya ampyun mesti banget gitu tadi udah bukain pintu juga saat mau pulang sekarang juga begitu saat udah sampai.


"Ih om Davin ini mesti banget ya di bukain, Lena kan ada tangan sendiri bisa buka sendiri om." Aku pun telah turun dari mobil sedan mewahnya.


"Ya nggak apa dong cantik." Tanggapannya selalu begitu dengan seulas senyum.


"Ya udah makasi lagi deh buat Om Davin. Lena masuk ya Om."


"Oke, cantik."


Aku pun melangkah memasuki RS berjalan pelan setelah ku lihat si om Davin melajukan roda 4 nya.


"Dari mana kamu sama Davin?" Suara yang familiar itu sontak mengagetkanku yang ternyata pemiliknya sudah tepat berada di hadapanku.


🍬🍬🍬


Bersambung...


Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰

__ADS_1


__ADS_2