TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU
BAB 45


__ADS_3

"Len gimana keadaan Mr. Andra suami lo sejak insident penyelinap itu, apakah ada perkembangan baikkah?" Reno menghampiri Alena duduk tepat di sebelahnya saat Alena sedang asik membaca buku tentang ekonomi manajement, yang juga salah satu mata kuliah mereka.


Alena menoleh ke arah Reno dengan kening berkerut tanda ia heran. Kenapa Reno bisa tau perihal insident tersebut, padahal ia tak menceritakan hal itu kepada teman-teman sepermainan atau se-genknya kecuali pada sahabatnya Vera.


"Lo tau dari mana Ren?" Selidikku.


"Vera." Cetus Reno ia memainkan kunci motornya lalu berkata "Waktu itu Vera ada cerita sedikit tentang om nya yang tak lain suami lo Len, perihal Mr. Andra yang hampir kenapa-kenapa karena ulah penyelinap itu. Vera merasa sedih sebagai keponakannya melihat keadaan om-nya yang masih koma." Mendengar penuturan Reno aku jadi kembali merasa bersalah.


Tatapan ku beralih lagi ke buku yang ku baca mencoba menenangkan rasa bersalah ini dengan membaca.


"Yang sabar ya Len, gue bantu do'a terbaik semoga suami lo Mr. Andra segera siuman dan sembuh seperti sedia kala." Reno menyemangati tulus.


"Aamiin. Makasi ya Ren." Ucapku menatapnya dengan seulas senyuman, Reno pun membalasnya dengan senyuman.


Kemudian dosen pun telah tiba, kini masuk mata kuliah ke 5 di hari ini. Kami pun akan memulai kembali pembelajaran kami, Reno kembali ke kursinya semula dan Vera baru tiba kembali ke ruang kelas kami.


Sejak di om di rawat di RS aku memang selalu langsung kembali ke RS, dan saat aku berkuliah si om di jaga oleh Mama mertua atau Papa mertua terkadang juga Papanya Vera atau Andi kembarannya Vera. Jika ia sedang tak ada jadwal perkuliahan, terkadang juga Papa ku bersama Mama ku ikut menjaganya, tapi jika hari sabtu.


____


"Eh cewek sok cantik."


"Eh elo budeg ya?" Cetusnya lagi dengan suara lebih tinggi.


Alena yang sedang mencuci tangannya di westafel toilet perempuan yang ada di kampusnya melirik ke sumber suara itu melalui cermin di hadapannya, masih dengan kegiatan mencuci tangannya seraya berkata.


"Kakak bicara sama siapa ya?" Tanya Alena heran karena hanya ada dirinya di hadapan westafel ini selain 2 orang perempuan di belakangnya yang ia ketahui mereka berdua berteman dan merupakan katingnya.


"Emang lo fikir gue ngomong sama setan penunggu toilet ini, ya ngomong sama elo lah." Cecarnya dengan mata melotot tajam ke arah Alena.


"Tapi maksud kakak apa yang tadi, kok menyebut saya cewek sok cantik?"


"Ya elo cewek sok cantik dan sok kecantikan banget. Ternyata Fandi nolak gue itu selama ini gegara elo. Gue jadi kesel dan makin kesel sama elo. Lagian elo udah nikah kan? Kenapa sih masih menghambat gue untuk bisa dapatin Fandi , yang udah gue sukai dan cintai dari awal kami masuk kuliah. Elo itu dasar cewek sialan." Hardiknya panjang lebar dengan di akhiri mendorong sebelah bahuku dengan keras hingga aku hampir saja terhuyung jatuh, tapi keseimbangan tubuhku masih terjaga.


"Kakak kalau bicara hati-hati dan jangan kasar juga dalam tindakan." Ucapku tegas.


"Eh berani ya elo sama gue kating elo." Nyalangnya.


"Saya tidak seperti yang kakak katakan tadi semua dan saya nggak mau ribut-ribut kak sama kakak atau siapapun." Jelasku penuh penekanan, malas rasanya jika harus ribut apalagi hal-hal nggak penting seperti ini.


"Udahlah jangan sok suci elo, dasar cewek gatel nikah aja sama om-om. Om sahabatnya sendiri lagi hahaha."


"Penggoda banget ya kan." Timpal temannya dengan tatapan sinis mengarah padaku.


"Sama kating lelakinya mau sama om-om juga mau ne cewek sok cantik dan kegatelan deh." Cecarnya lagi dan lagi tanpa rasa malu.


"Kakak-kakak ini jangan asal bicara ya, saya bukan perempuan penggoda seperti yang kakak-kakak ucapkan dan fikirkan." Enak aja 2 kating ini menuduhku yang bukan-bukan, dasar mulut comberan.


"Eh dengar ya elo cewek sok cantik jangan lagi elo sok kecantikan di depan cowok-cowok khususnya di depan Fandi, jangan pernah lo dekati Fandi. Lo urus aja suami om-om elo itu, yang katanya lagi sakit ya koma. Hahaha.


Makanya kalau nikah itu sama yang sebaya jangan yang tua-tua. Jadinya baru nikah aja suaminya udah terancam koit." Mereka berdua pun tertawa keras membuat ruang toilet ini menggema dengan suara ledakan mereka yang menjijikan sekali ku dengar.


Aku masih diam saja memerhatikan , ingin rasanya ku jambak ramput kedua kakak-kakak lampir ini. Tapi ntar urusannya berabe. Aku paling malas ribut-ribut nggak jelas sama orang-orang norak kek mereka ini, yang aku juga baru tau sifat mereka ini ternyata begini. PARAHHH..


Kini telujuknya mengarah tepat di wajahku sambil berkata lagi. "Inget ya lo jangan dekat-dekat lagi sama Fandi, kalau nggak gue nggak akan tinggal diam sama elo cewek sok cantik."


Mataku melotot kearahnya sambil menepis tangannya yang menunjuk-nunjuk ke arah wajahku.


"Eh kak bagus-bagus ya berucap dan bersikap, aku nggak pernah kegatelan dan merasa sok cantik sama siapa pun termasuk ke kak Fandi. Kakak juga udah mau luluskan dari kampus ini begitu juga kak Fandi, jadi buat apa buang-buang waktu kakak untuk ngelabrak saya yang nggak salah apa-apa sama kakak." Ucapku dengan nada tsk kalah nyolot, enak aja ne orang datang-datang main marah-marah nggak jelas ke aku.


"Apa lo bilang? Elo nggak salah apa-apa sama gue, elo itu salah bahkan salah banget. Harusnya elo nggak masuk kampus ini , tau lo." Bentaknya sambil kedua tangannya mendorong tubuhku kuat-kuat dan akhirnya akupun terjatuh terduduk di lantai toilet ini dengan kedua telapak tanganku menapak langsung di atas ubin toilet ini.

__ADS_1


Aku pun segera bangkit, rasanya ne kakak lampir harus aku lawan lebih keras lagi. Agar nggak semena-mena begini. Setelah bangkit aku pun tanpa aba-aba mendorongnya sama persis seperti yang ia perbuat barusan padaku. Ia pun sama jatuh persis seperti diriku tadi.


'Rasain.' Umpatku dalam hati.


Mereka fikir aku bakal lemah menghadapi kating modelan bagini, apalagi aku nggak salah buat apa aku harus takut. Toh mereka perempuan juga sama seperti aku perempuan, jadi aku fikir masih bisa aku hadapin keles.


Ia pun bangkit dari jatuhnya dan bergerak cepat dari gelagatnya sepertinya ia hendak menamparku, aku pun mewanti-wanti dan iya kan ia hendak menamparku.


Namun, hal itu tak sempat terjadi karena tanganku dengan sigap memegang tangannya yang sudah hampir melayangkan tamparan ke pipi kiriku. Ku tahan sekuat yang ku bisa tangannya tersebut lalu menghempaskannya dengan kasar dan itu membuat tubuhnya hampir limbung.


"Kakak fikir saya akan tinggal diam kakak perlakukan seperti ini, walaupun saya tak melaporkan ke pihak kampus atas tindakan kakak yang tidak baik kepada saya. Tapi saya wajib membela diri dari kekerasan yang akan kakak perbuat kepada saya. Kakak-kakak ini sudah mau lulus dan wisuda. Tapi attitude ternyata seperti ini ya, dibalik layaar cuma gara-gara lelaki." Aku berucap meremehkan karena rasanya mereka pantas dibegitukan.


Mereka menatapku tak percaya dengan expresi kesal yang begitu kentara, napasnya memburu menahan emosi dan amarah. Tanpa diduga juga akhirnya mereka menyerah dengan berlalu pergi meninggal kan toilet ini dengan di akhiri menendang tong sampah yang ada di sekitar.


"DWARR."


Mereka pun akhirnya lenyap dari pandanganku.


Dengan diakhiri lagi menutup pintu toilet dengan keras dan kuat terbanting..


"DWARR."


"Huftt..Alhamdulillah akhirnya kakak-kakak lampir itu pergi juga. Semoga saja mereka tidak menganggu ku lagi." Legaku karena sebenarnya buang-buang waktu aja sih meladeni mereka yang merasa bener sendiri.


šŸ¬šŸ¬šŸ¬


"Qul ara`aitum in ahlakaniyallāhu wa mam ma'iya au raḄimanā fa may yujīrul-kāfirīna min 'ażābin alīm


Qul huwar-raįø„mānu āmannā bihÄ« wa 'alaihi tawakkalnā, fa sata'lamỄna man huwa fÄ« įøalālim mubÄ«n


Qul ara`aitum in aṣbaḄa mā`ukum gauran fa may ya`tīkum bimā`im ma'īn."


"Shodaqallahul 'azhim."


Ku tutup kitab suci Al Qur'an yang baru saja ku baca dengan baik. Merenung sejenak diatas hamparan sajadahku sebelum aku bangkit dari posisiku, aku menghela nafas pelan.


Aku jadi teringat saat si om pernah melantunkan surah Al Mulk ini dengan suaranya yang deep voice tapi begitu syahdu dan enak sekali rasanya di dengar ke telinga. Hampir di setiap si om selesai sholat magrib atau isya ia melakukan ritual membaca Al-qur'an kalau kebetulan si om lagi di rumah / apartement. Jikalau ia pulang lebih awal dari urusan kerjanya atau hari libur.


Si om juga pernah menjelaskan tentang manfaat dari surat Al Mulk ini pada ku saat kami baru menikah dan masih tinggal di rumah Papa dan Mama ku.


Flashback on.


"Lena apakah kamu suka membaca Al'quran selepas sholat?" Ucap Andra saat ia baru saja tiba, usai sholat berjamaah di mesjid kompleks tempat kediaman mertuanya.


"Kadang-kadang om." Jawabnya singkat.


"Mulai sekarang jangan kadang-kadang lagi membaca Al-qur'annya , bacalah Al'quran setiap hari selepas sholat fardhu walaupun hanya surah-surah pendek!"


"Yachh, Om ini gimana sih kalau Lena lagi di kampus atau lagi ada kerjaan yang memang belum bisa ditinggal mana bisa donk selesai sholat langsung baca Al-qur'an." Alena mencoba memberi penjelasan yang menurut ia benar dan masuk akal.


Andra menghela napasnya pelan lalu beranjak menuju karpet bulu dengan mengenggam Al-qur'annya , yang tadi telah ia ambil dari dalam lemari tempat bajunya tersusun dan tersimpan rapih disana.


"Kamu ini sudah anak kuliahan masih aja ambil kesimpulan asal seperti itu. Mungkin saat waktu sholat dzuhur dan ashar setiap manusia bakal sulit melakukan apa yang saya maksud tadi, tapi tidak dengan saat setelah sholat subuh , maghrib dan isya waktunya lebih banyak luang dan bisa digunakan untuk membaca Al-qur'an setelah melaksanakan sholat."


"Yeii, tadi kan om bilangnya setiap hari selesai sholat fardhu. Ngomong itu yang bener om, jadi orang yang dengar nggak gagal faham." Cebik Alena.


"Kamu saja yang tidak pandai mengartikan kalimat saya tadi. Jadi usahakan selepas sholat maghrib dan isya kamu harus membaca Al-qur'an khususnya surat Al Mulk.__"


"Emang kenapa setelah sholat maghrib dan isya harus membaca surah Al Mulk?" Alena gencar bertanya dengan lantangnya, ia penasaran dan memang tidak tau.


Andra pun melirik Alena sekilas lalu berkata. "Sebenarnya setiap surah yang terdapat dalam Al-qur'an itu baik, apalagi jika kita membaca dan mengamalkannya setiap hari. Namun, ada beberapa manfaat lebih dan berbeda-beda dari beberapa surah yang ada di dalamnya."

__ADS_1


Andra menjeda sejenak penjelasannya seraya duduk diatas karpet berbulu lembut itu dan meletakkan Al'qurannya di rekal ( meja lipat tempat baca Al'qur'an ).


"Surah Al Mulk selain bermanfaat untuk menyelamatkan dari siksa kubur bagi kita yang membacanya dan mengamalkannya, bermanfaat juga untuk menaikkan derajat dan dapat membahagiakan Nabi Muhammad SAW. Rasulluhal juga selain menyukai umat muslim yang suka melantunkan shalawat beliau juga suka kepada umat muslim yang mengamalkan surah Al Mulk.


"Kamu pernah dengar nggak hadist ini?" Andra melerik ke arah Alena kembali persekian detik.


Alena memberikan ekspressi bingung di sertai gelengan kepala yang pelan.


"Saya gemari surat ini ( Tabarakal-lazi bi yadihil-mulk ) terdapat di setiap hati orang mukmin.-HR. Al Hakim."


"Nah hadist tersebutlah yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW senang dengan umat muslim yang suka membaca surah Al Mulk. Tak hanya itu saja, mengamalkan isi dari surah Al Mulk juga dapat memberikan ketentraman di hati."


"Om ini udah kek ustadz aja sih." Celotehnya Alena dengan expressi seakan tak percaya dan nada sedikit terdengar ketus.


Andra pun mulai membuka Al'qurannya dan mencari surah Al Mulk di dalam kitab suci tersebut, tak butuh waktu lama Andra sudah menemukan surah yang ia tuju untuk dibacanya sekarang.


Namun, sebelum Andra mulai membacanya dia bersuara lagi membalas celotehan Alena yang barusan ia dengar.


"Menyiarkan ilmu agama kepada sesama muslim itu adalah kewajiban sebagai saling pengingat. Apalagi jika sesama muslim lain pada dasarnya masih ada yang belum tau ilmunya. Hal itu juga tidak harus menjadi ustadz atau ustadzah dulu baru menyiarkan ilmu agama.


Dalam agama kita kewajiban suami itu bukan hanya memenuhi nafkah lahir bathin saja. Tetapi kewajiban seorang suami sebagai imam untuk istri dan anak-anaknya kelak, bahkan sangat di wajibkan sabagai suami untuk mengajari dan membimbing istri dan anak-anaknya akan ilmu agama yang baik dan sesuai yang di ajarkan Allah."


Alena hanya manggut-manggut saja setelah menyimak penjelasan dari Andra yang bak kereta api. Tapi dalam hatinya Alena merasa kagum akan ilmu agama Andra yang menurutnya cukup mumpungi bukan hanya ibadahnya saja yang rajin.


Flashback off.


Itulah penuturan yang pernah di jelaskan si om padaku agar aku rajin membaca Al-qur'an dan salah satunya adalah rajin mengamalkan surah Al Mulk.


Sebenarnya banyak hal-hal baik yang baru aku ketahui dan sadari setelah menjadi istri dari om sahabatku, yang awalnya aku mengganggap ia itu hanya makhluk menyebalkan sekali bagiku.


Aku pun kini kembali menengadahkan kedua telapak tanganku untuk berdo'a. Memohon ampun dan juga memohon yang baik-baik kepada Allah khususnya berulang-ulang aku memohon kepada Allah untuk kesembuhan si om yang notabenenya adalah suamiku.


Bait demi bait dan kalimat demi kalimat teurai melalui lisanku meminta yang terbaik kepada Allah untuk hidupku dan juga hidup si om, serta keluarga kami.


Di tengah-tengah aku berdo'a air mataku terkadang kembali jatuh dan membasahi area wajahku tanpa diminta dan di bendung.


"Ya Allah ya Rabbi sang maha pengampun dan maha pengasih, semua yang terjadi adalah atas izin dan kehendakMu. Hamba berharap ampunan Mu dan juga kesembuhan si om suami hamba dari sakit koma yang sedang ia alami. Maka izinkanlah si om suami hamba dapat segera siuman dan sehat kembali seperti sedia kala. Karena seberusaha apapun kami jika Engkau tak menghendaki maka tak akan terjadi, hamba memohon ya Allah dengan kerendahan hati hamba izinkanlah si om suami hamba dapat segera sembuh dengan kesembuhan yang tiada sakit selepasnya. Aamiin...Aamiin ya Rabbal alamiin.."


Ku sapu wajahku dengan kedua telapak tanganku tanda aku telah mengakhiri do'a dan berharap setiap do'a yang ku panjatkan dapat terijabah oleh Allah.


Kemudian ku hapus air mataku yang masih mengalir ke dasar pipiku dengan jemari-jemari tanganku. Lalu ku buka mukenaku dan melipatnya kembali dengan rapih begitu pun sajadahnya ku lipat rapih setelah aku memindahkan rekal ( meja lipat tempat baca Al'qur'an ) ke sisi lain.


Akupun menyimpan semua perlengkapan sholatku pada tempatnya dengan baik, lalu beralih menuju dispenser untuk mengambil minum karena rasanya begitu haus setelah membaca qur'an dan menangis tadi. Walaupun hanya beberapa menit saja tidak sampai berjam-jam lamanya.


"Al...Alena..?"


Saat aku sedang meneguk air minumku samar-samar aku mendengar suara yang sepertinya menyebut dan memanggil namaku..?


Sejenak aku menghentikan tegukkanku mencoba memfokuskan pendengaranku.


"Alena..Alena..?"


Suara itu jelas terdengar walaupun pelan dan samar-samar. Sungguh suaranya tidak begitu jelas tapi seakan suara itu tidak asing..


Ku lanjutkan meneguk minumanku yang memang tadi sengaja ku jeda, kini ku langsung tandaskan saja air yang ada didalam gelas bening berukuran panjang ini. Lalu menuju ke arah bed electric dimana tempat terbaringnya si om, mata ku langsung menuju bagian tangannya dan aku melihat telunjuk dari tangan kanannya bergerak walaupun pelan bahkan sangat pelan.


Tapi itu nyata aku melihatnya bergerak dan bibirnya pun bergerak walaupun sama pelan dan matanya masih tertutup. Aku pun dengan segera menekan tombol nurse call.


šŸ¬šŸ¬šŸ¬


Bersambung...

__ADS_1


Salam sehat selalu ya dari riritambun 🄰


__ADS_2