TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU
BAB 68


__ADS_3

"Kamu mau hadiah apa sayang? Setelah lulus sidang skripsi nanti atau sekalian saja hadiahnya di satukan pas sudah wisuda, nanti?" Ungkap si om suami bertanya sekaligus menawariku.


"Ih mesti banget gitu, pake hadiah-hadiahan segala Mas?" Celetukku.


"Jadi nggak mau hadiah nih?" Ujar si om yang berdiri tepat di sebelahku, sambil melirikku lalu menegak minuman soda kaleng yang ada di tangan kanannya.


Aku berfikir sejenak sambil menimang-nimang kepalaku pelan, dan telunjuk tangan kiriku menepuk-nepuk pelan daguku.


"Emang mau kasih hadiah apa?" Telisikku penasaran, aku menoleh meliriknya.


"Maunya kamu apa sayang? Bilang aja insha Allah Mas kabulkan dan wujudkan." Ucapnya dengan menyungingkan senyuman padaku.


Kami kini sedang berdiri di pagar balkon apartement kami, sore ini cuaca sama seperti kemarin-kemarin cerah. Kami baru saja dari kampus ku, usai aku berkuliah tadi.


Aku mengedikkan bahu binggung harus menjawab apa perihal hadiah itu, walaupun tadi aku sempat berfikir. Lagian rasanya segan jika harus meminta hadiah segala , mestipun itu ada ide dan tawaran sang suami sendiri pada dasarnya bukan kemauanku yang sengaja mengharap atau meminta hadiah.


Sudah cukup banyak hadiah yang berharga baik dari segi bentuk dan harganya dari awal kami menikah hingga kini, kurasa. Pria dewasa nan tampan ini adalah lelaki bertanggung jawab penuh bahkan terbilang loyal dan cukup romantis serta perhatian sebagai seorang suami.


Bahkan ia setia dan cukup sabar menghadapi ku selama ini sebagai istrinya, ia pun tegas dan pemberani serta terbilang sholeh. Pria ini nyaris sempurna menurut pribadiku.


"Ya sudah tidak perlu terburu-buru sayang, fikir saja dulu pelan-pelan. Apakah ada kiranya yang ingin sekali kamu dapatkan, tapi belum kamu dapatkan." Ucapnya diiringi senyuman tipisnya yang manis.


Kini ia memepet diriku dengan menarik dan merangkul pinggang rampingku dari posisi menyamping kami masing-masing.


Kemudian si om suami membisikan sesuatu di sebelah telingaku dengan suara khasnya , suara deep voicenya yang juga selalu membuat aku dan para kaum hawa melenyot. "Mandi bersama yuk sayang."


Rasanya aku jadi merinding disko mendengarnya berbisik dengan kalimat barusan tadi, di tambah terpaan nafasnya yang berhambus ke kulit telingaku dan aroma tubuhnya yang begitu mengoda.


Sungguh si om suami semakin hari semakin pandai menggoda istrinya, fikirku membatin. Aku tertengun saat ia berbisik demikian , lalu tanpa bisa di duga si om suami selalu di luar dugaan.


Seperti sekarang ini ia malah langsung mengendongku ala bridal style, membawa ku langsung menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar kami. Karena kamar mandi disanalah yang lebih besar dan luas serta tersedia bathtub di dalamnya.


Sebelumnya si om suami sudah mengutarakan dan merealisasikan mandi bersama ini. Jadi mandi bersama kali ini bukan pertama kali kami lakukan. Si om suami pun pernah berkata saat perdana kami mandi bersama bahkah satu bathtub saling bermain air.


"Mandi bersama apalagi dalam satu wadah bersama istri/suami sah kita adalah salah satu cara Rasulullah membangun keharmonisan pada istrinya." Itulah yang pernah si om katakan padaku.


Dan jelas kalau sudah mandi bersama kita sebagai pasangan suami istri yang sab pasti tidak hanya sekedar mandi dan main air saja, bukan? Pasti kalian para pasutri sudah tau apa saja yang akan terjadi selain daripada. Hingga pada akhirnya barulah berakhir dengan mandi junud bersama, hehehe.


🍬🍬🍬


Sungguh tidak terasa saat ini aku akan menuju kampus untuk melaksanakan sidang skripsiku. Jujur ini adalah hari yang ku nanti-nanti tapi juga hari yang ku takutkan. Bagaimana aku tidak takut, karena pasti menghadapi dan menjalani sidang meja hijau skripsi bukanlah perkara mudah. Apalagi jika untuk mendapatkan nilai A , seperti yang ku harapkan juga selama ini.


"Banyak berzikir dan berdo'a dalam hati ya sayang, serta jangan gugup. Insha Allah semua berjalan lancar dengan hasil terbaik." Benar kata si om suami aku memang sedang gugup bahkan sangat gugup , menjelang beberapa menit lagi sidang skripsi ku akan di mulai.


Hanya menunggu giliran namaku di panggil oleh dosen bersakutan. Sebelah tanganku di genggam erat oleh suamiku, saat ini ia mendampingiku sampai masuk ke ruangan dihadapan kami. Yang memang ruang yang dibaut untuk pelaksanaan sidang meja hijau skripsi.


"Mas bantu do'a Lena juga ya." Ujarku menatap ke arahnya yang juga ternyata sedang menatapku.


Ia mengangguk pasti sambil berucap. "Iya sayang, tanpa kamu minta pun Mas akan selalu mendo'akan istri tercinta Mas ini yang terbaik." Ucapannya tersebut di akhiri senyuman terbaiknya yang selalu ku suka, tanpa melepas genggaman tangannya dari sebelah tanganku.


Aku pun membalas senyuman suamiku. "Terima kasih ya Mas ku tersayang." Seruku ntah mengapa kali ini aku bisa melontarkan kata itu di akhir kalimat barusan.


Kami saling tatap penuh kasih, dan ini memberi ku semangat lebih lagi dari sebelumnya.


"Salena Paramitha." Kini giliran namaku yang panggil.


Si om suami makin meremas erat jari -jemarinya. "Ingat baca basmalah sebelum memulai apapun itu." Si om memberi petuah singkat yang memang sebelumnya pernah ia berikan untukku, setelahnya ia melepas genggaman kami.


Aku mengangguk pelan kemudian berjalan dengan perasaan deg deg kan menuju ruangan sidang meja hijau skripsi. Kami yang di wajibkan menggunakan stelah putih hitam dan sepatu pantofel/pansus perempuan yang wajib berwarna hitam juga, saat akan melaksanakan sidang skripsi bagi para mahasiswa/i fakultas ekonomi.


____


Aku keluar dari ruang persidangan skripsi , dengan perasaan lega. Karena telah bebas dari persidangan yang cukup menegangkan bagiku. Walaupun aku cukup bisa menguasai dan menjawab semua pertanyaan yang di ajukan pada ku oleh setiap dosen penguji.


Syukurnya aku terbilang tidak terlalu lama di dalam sana dan tidak harus merevisi kembali isi skripsiku. Karena kata dosen pembimbingku dan beberapa dosen penguji ku tadi, semua sudah baik dan tepat susunan serta isinya.


Aku tak melihat si om suami , kemana dia? Aku celigak celiguk mencari si wujud yang selalu tampan paripurna itu.

__ADS_1


"Dimana sih si om suami?" Gumamku lirih, sambil menyandarkan punggungku ke dinding dengan posisi masih berdiri.


Aku mau menghubunginya lewat aplikasi hijau itu. Tapi baru ingat jika benda pipih ku itu kan ada di dalam tasku yang tadi aku titipkan kepada si om suami. Aku putuskan menunggunya saja dulu disini, kini aku menundukkan kepala ku memerhatikan ke bawah sana yang jelas terlihat sepatu pansus wanita berwarna hitam yang sedang ku pakai.


Tiba-tiba saat dari arah bawah wajahku yang saat ini masih menunduk memerhatikan ke lantai dan sepatuku, berubah menjadi sebuah bucket bunga yang simple dan cantik. Aku mengangkat kepalaku ke depan ingin melihat siapakah yang menyodorkan bucket bunga tersebut padaku.


Terlihat di hadapanku kini pria tampan dengan stelan jas yang warnanya senada dengan celana panjangnya, baju kaos berwarna hitam polos dan berkerah lipat di balik dalam jasnya. Siapa lagi kalau bukan omnya sahabatku yang sudah setahun lebih bahkan hampir menuju 2 tahun ini resmi menjadi suami ku.


Aku tersemyum seraya lalu berkata."Ini untuk Lena Mas?" Tanyaku berbasa basi.


"Emang kamu ikhlas jika Mas kasih bucket bunga ini untuk perempuan lain?" Ia malah berbalik bertanya dengan pertanyaan yang tak pernah ku duga, refleks aku memelototinya.


Ia hanya cengir kuda menanggapi pelototanku. Memang lelaki tampan ini selalu saja memberiku kejutan tak terduga, yang bahkan membuatku meleleh dan terkadang salah tingkah sendiri.


Segera aku mengambil alih bucket bunga itu dari tangan si suami. Lalu mencoba menghirup aromanya yang begitu lembut wanginya. Di dalamnya juga terdapat card sebagai ucapan selamat padaku, yang di buat dengan tulisan tangan.


Aku sangat tanda tulisannya sama persis seperti tulisan tangan di memo hadiah ulang tahunku kala itu, yaitu tulisan tangan si om suami yang rapi dan terlihat cantik tulisannya.


"Terima kasih ya Mas ku sayang." Ujarku menatap penuh binar kepadanya yang masih betah berdiri di hadapanku.


"Sama-sama sayang." Sahutnya sambil mengelus lembut rambut di puncuk kepalaku.


"Bagaimana, lancar kan persidangan skripsinya sayang?" Sambungnya si om suami lagi bertanya.


Aku mengangguk. "Alhamdulillah lancar Mas , walaupun tetep bikin dag dig dug dan masih gugup sedikit saat sudah di dalam." Tuturku berbagi cerita secara singkat.


"Alhamdulillah kalau begitu, tinggal menunggu pelaksanaan wisudanya." Ujar si om.


Sebelum pulang aku sempat berfoto-foto sejenak sebagai kenang-kenangan. Oya Vera, ia tidak samaan jadwal persidangan skripsinya dengan ku. Karena Vera pun belum selesai semua babnya dan baru kemarin si Vera di acc dosen pembimbingnya untuk maju ke meja hijau skripsinya.


🍬🍬🍬


Hari ini rasanya badanku pegal-pegal semua dan kurang semangat. Padahal tadi aku sudah mandi dan berendam aroma teraphi di bathtub tadi hingga hampir 30 menitan lebih, untuk menyegarkan dan merilekskan tubuhku. Kemudian rebahan di atas tempat tidur sampai ketiduran setelah aku melaksanakan ibadah sholat dzuhur tadi.


Mungkin ini juga efek semalam, karena beberapa minggu ini hampir setiap malam aku harus melakukan ibadah ranjang bersama si om suami. Bahkan jika sore lelaki yang bergelar suami ku itu pulang cepat , maka ia akan mengangguku dan mebopongku walaupun aku sedang masak di dapur.


Terkadang aku bosan nonton tv di kamar, jadi sesekali nonton di ruang tv yang merangkap ruang tamu jadi satu. Ternyata si om suami punya gairah yang benar-benar di luar dugaan.


Lu lirik benda yang bertenger di sebrang ku tepatnya di atas dinding yang ada di sebrang tempat tidur, waktu sudah menunjukkan pukul 16: 03. Ku putuskan bangkit dari ranjang ini menuju ke kamar mandi untu bersiap-siap sholat ashar, karena setengah jaman lalu kurang lebih adzan ashar sudah berlalu.


"Assalamu’alaikum. Warahmatullah."


"Assalamu’alaikum. Warahmatullah."


Aku baru saja menyelesaikan kan inadah sholat asharku , sebentar lagi biasanya si om suami pulang aku rencana akan membuat camilan untuk ku suguhkan kepada suami tartampanku.


Usai melepaskan mukena dan menyusunnya dengan rapih dan meletakkannya ke tempatnya kembali, aku bergegas keluar kamar dan menuju dapur. Aku berjalan pelan sambil melepas ikatan rambutku untuk aku ikat ulang kembali, karena usai melepas mukena tadi rasanya rambutku mulai kurang pas ikatannya.


Sampai di dapur aku membuka kulkas sambil kira2 ada bahan apa saja yang bisa ju buat, ku tutup kulkas kembali beralih ke kitchen set. Membuka beberapa lemari yang berada di arean kitchen set untuk melihat dan mengchek bahan apa saja yang masih ada yang bisa ku kelolah menjadi sebuah camilan.


Terakhir aku putuskan untuk membuat bola-bola kriuk ubi ungu isi keju mozarila dan coklat. Mumpung aku masih menyimpan ubi ungu, sisa bikin puding ubu ungu beberapa hari lalu.


Pertama-tama setelah di bersihkan dan di potong-potong ubi ungunya lalu di kukus atau di rebus terlebih dahulu, lama mengukus / merebus kurang lebih 30 menitan atau sampai ubi menjadi matang dan empuk pastinya.


Akhirnya selesai juga camilan bola ubi ungu krispy isi mozarila dan coklatnya.


"Assalamu’alaikum." Terdengar suara khas itu mengucapkan salam sampai ke dapur.


Aku menjawab salamnya. "Waalaikumsalam." Sambil masih menata bola-bola ubu krispy yang baru selesai ku goreng.


Suara langkah pelan seperti menghampiri ku. "Kamu sedang apa sayang?" Tanyanya sambil memeluk tubuhku dari belakang , aku sedikit kaget namun kembali santai dan terus meneruskan menyusun camilan ke atas piring cantik berbentuk daun yang lebar.


Tiba-tiba tangan lebar dan kekar itu menyomot satu buah bola-bolq ubi krispy isian itu , yang memang lumayan sudah tidak panas lagi melainkan agak hangat.


Beberapa detik pria yang berada di belakangku memelukku sambil tangan kirinya menempel di perutku, sedangkan tangan kanannya memegang camilan itu bersua. "Enak." Refleks bibirku menyungingkan senyuman senang.


"Ini camilan apa lagi namanya Yank?" Tanyanya sambil kembali tangan kanannya mencomot bola-bola ubi ungu krispy isian itu.

__ADS_1


"Itu namanya bola-bola ubi ungu krispy isian Mas." Jawabku yang telah siap menyusun semua camila itu di atas piring berbentuk daun.


"Istri Mas memang pinter bikin lidah Mas bergoyang." Aku menyikut perutnya merasa rancu dengan kalimat lidah bergoyang yang disebutkannya tadi.


"Auww, kok perut Mas disikut sih sayang. Emang apa salah Mas." Kembali pria tinggi di belakang ku ini menyomot camilan yang sudah kubawa, hendak ku letakkan di atas meka makan minimalis itu.


"Perkataan Mas yag lidah bergoyang itu rancu tau." Sewotku, lalu mulai melangkah menuju meja makan setelah si om suami melepaskan pelukakannya dariku.


"Kan orang makan pasti bergoyang lidah sayang." Ujarnya enteng dan aku telah meletakkan camilannya di atas meja makan.


"Yei ini emang enak atau Mas laper , ampe terus nyomot camilannya." Kekehku.


"Dua-duanya sayang." Cengirnya masih mengunyah camilan.


"Ya udah Lena siapkan air mandi Mas ya sama perlengkapan sholat Mas." Lalu aku mulai berbalik hendak melangkah menuju kamar kami.


🍬🍬🍬


"Mas nanti siang Lena ke rumah Mama boleh ya?" Tanya ku saat menyiapkan sarapan kami.


Sebenarnya kepalaku mulai pusing atau sakit sejak tadi subuh, tapi ku tahan. Rencana habis sarapan ini aku akan meminum obat yang biasa tersedia di kotak obat di sudut kirchen set, di sana cukup aku sediakan beberapa obat yang kiranya di perlukan termasuk tersedia kotak P3K.


"Iya boleh sayang." Ia melirik ke arah ku sambil menyeruput teh manis hangat yang telah kusiapkan.


Kini kami sudah berada berhadapan dalam satu meja makan. Si om suami memicingkan pandangannya ke arah wajahku. "Sayang kamu kok terlihat pucat? Apa kamu sedang kurang sehatkah?" Tanyanya menelisik dan pandangannya tak lepas dari wajahku.


"Ah masa pucat sih Mas, mungkin karena Lena belum mandi kali hehe." Jawabku sambil terkekeh di akhir kalimat.


Tiba-tiba si om suami mengangkat bokongnya lalu membungkuk maju ke arahku yang di batasi meja makan persegi, kemudian pungung tangannya mendarat dan menempel di keningku. "Tidak panas." Serunya lalu menarik tangannya dari keningku, lalu kembali duduk dan menyantap sarapannya.


"Udah Mas Lena nggak apa-apa."


"Ya sudah kamu istirahat aja tidak usah sibuk masak apalagi beberes. Nanti Mas panggilkan bu Tuti yang biasa sering bersih-bersih disini dan perkara masak nanti goodfood aja."


"Iya Mas santai aja, nanti Lena bisa pesan sendiri dari gawai Lena tuk makan siang." Aku pun kembali menyantap sarapanku walaupun rasanya kurang berselera pagi ini.


"Ok, nanti kalau Mas tidak sibuk Mas akan pulang siang harinya."


"Iya, tapi kalau Mas masihbada kerjaan ya udah nggak apa-apa kok. Lena udah besar bahkan udah sudah sidang skripsi loh, serta udah jadi istri bukan anak-anak lagi yang mesti terus di jaga." Ujarku seraya tersenyum menatapnya.


"Iya, sayang. Mas hanya tidak ingin kamu merasa kesepian apalagi di saat kamu sedang tidak enak badan. Karena biasanya jika sedang sakit itu butuh di perhatikan lebih dan di temani, agar cepat sembuh selain makan sehat dan minum obat saja."


Selesai sarapan si om pun akan berangkat kerja. Tapi sebelum ia benar-benar berangkat ia membantu ku membereskan bekas sarapan kami dan mencucinya. Tanpa takut jika pakaian formalnya basah atau kotor akibat mencuci bekas sarapan kami.


Aku sudah mencoba melarangnya dan mengambil alih tugas tersebut, namun ia menolak dan mencegahnya. Menyuruhku patuh dan duduk saja di kursi meja makan.


"Kalau ada apa-apa segera telpon Mas ya, Sayang." Tegasnya, lalu ku cium punggung tangan kanannya takzim sebelum ia melangkah keluar pintu apartement untuk berangkat ke kantornya.


_____


"Huueeekk...Huueeekk." Aku langsung berlari ke kamar mandi yang ada di dalam kamar kami ini, sambil menutup mulutku dengan tangan kananku.


Aku mulai memuntahkan sesuatu yang rasanya ingin keluar dari dalam rongga tenggorokkanku ke westafel.


"Huueeekkk..Hueeekkk.." Keluarlah kini sesuatu yang tak enak di lihat dan tak enak di rasa ke dalam westafel ini.


Ku naikkan keran besi itu agar keluarlah air bersih dari ujung atau bibir keran besi itu. Ku basuh mulut ku dengan air yang mengalir itu menggunakan kedua tanganku.


"Huft..Sepertinya aku masuk angin atau asam lambungku mulai naik dan kambuh lagi kah? Tapi tadi aku makan kok dan selama ini makanku baik dan teratur." Gumamku lirih sambil menatap cermin di hadapanku yang menampakkan pantulan bayanganku disana.


Setelahnya aku melangkah lesu keluar kamar mandi , kini aku akan membawa diriku menuju dapur. Aku akan minum air hangat, tapi ntah kenapa tiba-tiba kepalaku kembali terasa pusing. Padahal sehabis sarapan tadi aku sudah minum obat dan tidur hampir 2 jam lamanya.


Aku tetap melangkah perlahan keluar kamar dan menuju dapur. Si om suami jelas belum pulang ini masih terbilang pagi, sekitar jam 10 pagi.


🍬🍬🍬


Bersambung...

__ADS_1


Salam sehat selalu ya dari riritambun..🥰


__ADS_2