
"Kak, Lena tunggu disini aja ya. Kakak bentaran aja kan?"
"Bagus kamu ikut aja Len, gak baik juga perempuan sendiri di dalam mobil di baseman kek gini pula." Bener juga apa yang dikatakan kak Fandi dan nggak ada salahnya juga aku ikut ke atas barang bentaran ini.
Aku dengan sedikit terpaksa mengiyakan ajakan kak Fandi ke apartement temannya yang tadi kak Fandi mendadak ia mendapat pesan dari temannya tersebut, bahwa temannya sedang sakit dan butuh pertolongan kak Fandi. Ya mungkin kak Fandi yang bisa membantunya. Jarak dari cafe tempat makan kami tadi pun tidak terlalu jauh ke apartement ini hanya sekitaran 10 menitan saja sampai.
Kami pun turun dari mobil dan menuju unit apartement temannya kak Fandi yang katanya sedang sakit itu, teman kak Fandi ini katanya tinggal sendiri di Jakarta sejak kuliah dan orang tuanya berada di Bandung.
Kak Fandi menekan password di pintu unit apartement temannya tersebut.
"Yukk Alena masuk." Kak Fandi mempersilahkan aku tuk duluan masuk ke dalam , dengan ragu aku pun melangkah masuk duluan kedalam apartement ini diikuti dari belakang oleh kak Fandi.
"Oya, silahkan duduk Alena anggap aja seperti rumah sendiri jangan canggung ya." Aku pun duduk setelah menganggukkan kepala sekilas tanda responku pada kak Fandi, aku duduk di ruang tamu yang ada di dalam unit apartement ini.
"Kakak tinggal dulu sebentar ya Alena , kakak mau lihat dulu keadaan teman kakak itu di kamarnya." Aku hanya mengangguk pelan kemudian kak Fandi melangkah menuju kamar temannya itu.
Unit apartement ini terlihat bagus dan cukup mewah, tapi tidak terlalu luas. Sepertinya memang pas dan cocok untuk tempat tinggal seorang diri.
Aku duduk dengan perasaan canggung karena ini pertama kali aku ke apartement bersama lelaki yang jelas bukan mahramku, ya ampyun aku sampai lupa untuk mengirim pesan atau menelpon si om nyebelin kalau aku bakal pulang telat. Mana tau nomornya si om nyebelin sudah aktif.
"Yach, gawaiku padam." Gumamku pada diri sendiri saat setelah kuraih benda pipih itu dari dalam tasku.
Mau mengecas gawaipun aku tidak membawa chargernya.
Ah sudahlah toh nanti kak Fandi mengatarkanku sampai rumah dan akan menjelaskannya kepada si om nyebelin, seperti yang sudah kak Fandi janjikan sebelum aku benar-benar mengiyakan tawarannya untuk mengantarkanku pulang.
Kenapa tiba-tiba kepalaku serasa pusing ya? Pandanganku pun sedikit berkunang-kunang , apa ini karena tadi aku sedikit terkena air hujan kah?
"Kak..., kak Fandi." Aku mencoba berdiri dan melangkah mencari keberadaannya.
Dengan langkah perlahan yang seakan sempoyongan aku mencari keberadaan kak Fandi dengan masih memanggilnya dengan suara lirih.
"Kak Fandi..?"
Kepalaku serasa semakin pusing tapi aku masih bisa mendengar dengan jelas ada langkah menuju ke arah ku, aku yakin pasti kak Fandi. Aku berdiri dengan sebelah tanganku bertumpu pada tembok dan sebelahnya lagi memegang kepala ku yang terasa berat dan sakit.
"Kamu kenapa Len?" Tanya kak Fandi saat ia sudah ada di hadapanku.
Aku mengeleng pelan sambil berkata dengan suara lirih "Kepala Lena sakit kak." Aku mencoba menagakkan tubuhku dan kepalaku menatap kak Fandi yang kini sudah memegangi kedua pundakku.
Pandanganku semakin berat untuk tetap terbuka, tapi aku masih berusaha sadar dan membuka mata ini agar tidak tumbang.
"Yuk ke kamar saja dulu istirahat di dalam kamar." Kak Fandi memapahku.
"Nggak kak Lena mau pulang saja, pesankan saja Lena taxi online kak." Pintaku karena jelas aku gak mau sampai disini lama-lama dan kak Fandi harus mengurus temannya yang katanya sedang sakit itu.
"Ya nanti kakak pesankan sebaiknya sekarang ayok ke kamar dulu kamu rebahkan dulu badan kamu disana." Aku sudah tidak sanggup berkata atau mengelak tubuhku serasa lemah dan kepalaku semakin terasa berat.
Aku sekarang sudah berada di dalam kamar dan kak Fandi merebahkan tubuhku di atas ranjang berukuran cukup besar.
"Kak tolong antarkan Lena pulang sekarang." Pintaku lagi dengan suara lemah dan mataku yang seakan sayu dan ingin terpejam rapat.
Ku lihat sekilas kak Fandi hanya manggut-manggut saja atas permintaanku ini. Ntah apa yang terjadi pada diriku, kepalaku terasa sakit dan mataku terasa semakin berat untuk terbuka.
Aku antara sadar dan tidak , tapi tiba-tiba aku merasakan belaian lembut tangan seseorang pada pipiku lalu ke bagian bibirku. Aku berusaha membuka mata walaupun hanya sedikit sekali celah mataku ini dapat terbuka dan melihat bayangan wajah seseorang yang jelas itu terlihat adalah wajah kak Fandi tepat di atas wajahku dengan jari jempolnya membelai lembut bibirku.
Ingin rasanya aku teriak dan bangkit dari posisiku, namun sungguh aku tak berdaya tubuh ini terasa lemah sekali dan kepala ini juga terasa berat sekali. Terasa sakit kepala ini membuat aku berkunang-kunang. Hanya suara-suara yang masih bisa jelas kutangkap indera pendengaranku.
Apa sebenarnya yang akan kak Fandi perbuat padaku? Mengapa ia membelai wajah dan bibirku serta kurasakan tangannya hendak kebagian dadaku seakan aku merasakan ia ingin membuka pengait kancing kemejaku.
"Ya Allah tolong selamatkan aku dari hal buruk apapun itu." Jeritku yang hanya bisa ku teriakkan dalam hati.
Ya Allah sungguh aku tak berdaya, apa aku dalam pengaruh obat? Fikirku membatin sambil terus berdoa berharap ada keajaiban datang menolongku detik ini juga.
Aku merasa satu pengait kancing kemajaku telah terbuka dan jelas itu pasti ulah kak Fandi.
Ting Tong....Ting....Tong....
Terdengar bunyi bell, ku dengar kak Fandi bergerak menjauhiku. Lalu ku juga menangkap suara seperti ia pun keluar dari kamar ini dan menutup pintu kamar secara rapat.
****
"Siapa sih yang bertamu, si Andre kan masih di Bandung nggak mungkin juga kalau dia pulang tekan-tekan bell ini kan apartementnya."
__ADS_1
Dengan langkah lebar dan perasaan sedikit kesal pemuda itu menuju pintu utama dan membukanya.
CEKREK...
"Maaf anda siapa dan mau mencari siapa?" Tanya pemuda itu saat ia sudah membuka pintu dan terlihat seorang pria bertubuh tinggi dan juga tampan tak jauh beda dengannya.
Tanpa basa basi pria asing itu pun menerobos masuk ke dalam apartement tersebut matanya memutari sekitaran yang ada di dalam sana.
"Eh elo mau apa? Main sembarangan masuk apartement orang, nggak punya etika banget gue laporin pihak keamanan baru tau lo." Nyolot pemuda yang ada di apartement itu kepada pria asing yang masih sibuk memindai sekitar apartement tersebut.
Pria asing itu tak menghiraukan ocehan dari pemuda yang di duganya pemilik unit apartement ini. Ia pun melangkah ke arah dimana ia melihat hanya ada 1 kamar disana sana.
Saat ia akan mencapai pintu kamar sang pemuda itu pun mencengahnya.
"Eh elo ya bener-bener nggak sopan mau apa elo masuk ke kamar ini? Mau gue panggil security ya buat usir elo dari sini, pengacau." Hardik pemuda itu.
Pria asing itu masih terus tak menghiraukan ucapan dan ancaman pemuda tersebut. Tanpa basa basi pria Asing itu pun membuka pintu kamar tersebut dan melihat sesuatu yang ternyata seperti dugaannya.
"Vian, Alvian." Teriakan pria asing itu memanggil seseorang dari ambang pintu kamar.
"Ini istri lo ada disini, di kamar ini cepet lo kemari." Teriaknya kembali menggema di dalam unit apartement tersebut.
Tak lama munculan seseorang yang di panggil Alvian oleh pria Asing itu. Pemuda itu pun menjadi gugup dan berwajah pucat. Setelah mendengar teriakan pria asing itu dan melihat Alvian yang ternyata suami Alena.
BUGHH...
Satu bogeman meluncur bebas ke wajah pemuda itu yang tak lain adalah Fandi kakak tingkatnya Alena.
BUGHH...
Bogeman pun kembali meluncur untuk kedua kalinya ke wajah Fandi dari tangan Liandra Alvian Abraham sebelum dapat Fandi bangkit dari tersungkurnya karena bogeman pertama yang datang secara mendadak, apalagi untuk membalasnya.
Fandi mengelap ujung bibirnya yang berdarah menggunakan pungung tangan kirinya, menatap nanar ke arah lantai. Andra pun berlalu langsung menuju sang istri yang terkapar di atas ranjang.
"Alena..." Panggilnya dengan menguncang sedikit tubuh sang istri dan menepuk-nepuk ringan pipi sang istri. "Alena bangun." Titahnya lembut namun syarat kecemasan yang begitu kentara dan dengan sigap Andra mengancingkan satu kancing kemeja Alena yang terbuka.
Untungnya Alena masih mengenakan tangtop di dalamnya hingga tidak terlalu terexpose gundungkan yang terdapat di baliknya tersebut.
"Om." Sahut sang istri lirih dengan mata yang sedikit terbuka tapi sayup sekali dan antara sadar dan tidak, hingga sekejap kemudian sang istri pun kembali memejamkan matanya rapat-rapat. Kembali tak sadarkan diri.
Fandi hanya bisa dan masih terdiam di posisinya tadi tanpa bergeming apalagi melawan, ia seakan telak akan kebodohannya sendiri.
"Cihh , dasar pebinor kurang ajar lo ya." Umpat Reza kepada Fandi dengan tatapan mengintimidasi dan berlalu keluar kamar menyusul sang sahabatnya.
****
POV Andra
Aku langsung mengangkat panggilan suara dari Reza sahabatku tersebut setelah beberapa detik.
[ "Halo.. Assalamualaikum. Ya Za ad__" ] sebelum ucapanku selesai Reza memotongnya dengan cepat dari seberang panggilan.
[ "Wa'alaikumsalam. Vian lo cepat kemari sekarang, gue ada lihat cowok kek bawa cewek yang mirip banget kek istri lo. Pokoknya cepetan lo kemari gue kirim sharlok sekarang juga dan lo cepetan langsung kemari gak pake lama."]
[ "Oke gue segera kesana sekarang." ]
Tutt...Tutt...Tutt...
Aku pun segera menghidupkan mesin mobil dan gegas ke lokasi yang sudah Reza kirim barusan ke aplikasi hijau tersebut. Ku lihat Reza mengirim lokasi yang merupakan sebuah nama apartement cukup elite di kota ini.
Aku tidak mau berfikir aneh-aneh sebelum tau jelas apa yang terjadi, ku lajukan kendaraan roda 4 ku dengan cepat walaupun jalanan licin dan masih tetap di guyur gerimis pada malam hari ini.
"Vian." Sapa Reza padaku saat ia sudah menghampiriku yang telah tiba di depan apartement yang dimaksud tadi.
"Sebenarnya ada apa Za?" Tanyaku langsung.
"Udah ikut gue sekarang." Titahnya melangkah yang kurasa menuju dalam gedung megah ini. Aku pun mengekorinya saja langsung.
"Tadi pas gue mau keluar dari unit gue mau keluar cari makan gue berpapasan sama cewek dan cowok yang gue yakini itu istri lo deh Vian."
"Jadi gue ikuti diam-diam sangkin gue keponya dan ya jelas gue lihat wajahnya itu istri lo si Alena, di tambah lagi yang terdengar dari pendengaran gue. Tu cowok ada sebut nama tu cewek dengan sebutan Alena." Celotehnya menjelaskan sambil kami terus berjalan menuju tempat yang di maksudnya.
"So kenapa lo ada disini Za?" Tanyaku sedikit bingung pasalnya setau ku Reza ini kalau ada proyek di luar kota atau Jakarta selalu menginap di hotel elite saja tidak apartement.
__ADS_1
"Oya lo belum tau sekarang gue udah beli satu unit apartement dimari. Jadi kalau gue ke Jakarta gue gak harus nginep di hotel lagi, karena gue bakal sering-sering ke Jakarta atau mungkin lama di mari urusan proyek lah biasa. Hehe."
"Nah ini dia tadi gue lihat istri lo itu dibawa masuk ke dalam unit ini." Bebernya lagi dengan menunjuk pintu utama dari salah satu unit yang di sebutkan Reza barusan.
"Terus maksud lo kita mau gerebek kek satpol PP gitu?" Tanyaku to the point si kawan hanya menganggukan kepalanya mantap seraya menatapku serius.
"Za lo jangan asal bertingkah deh gue ingetin. Salah-salah ntar kita yang bisa kena pasal lo ngerti maksud gue kan." Terangku singkat dan jelas.
"Udah kalau gitu lo menepi aja dulu, biar gue yang chek dl ntar udah jelas gue langsung panggil lo. OKE." Titahnya tanpa mau di bantah.
"Dasar jomblo akut." Ejekku, lalu aku pun menepi menunggu di bagian lain yang tak jauh dari unit tersebut hanya berjarak beberapa langkah dari sana.
Reza pun langsung menekan tombol bell dan tak butuh waktu lama pintu pun terbuka menunjukkan seorang pemuda tinggi dan tampan berkulit putih.
Pemuda yang jelas aku tak tau dia siapa dia bertanya dengan sopan kepada Reza. Namun , Reza tanpa bag big bug bukannya menjawab malah menerobos masuk ke dalam unit apartement tersebut. Aku masih memerhatikan dengan seksama dari seberang pintu yang jaraknya jelas tidak terlalu jauh dari sana.
Aku tidak tau jelas apa yang di perbuat Reza di dalam sana ku lihat pemuda itu pun menyusul langkah Reza dan pintunya masih tetap di biarkan terbuka begitu saja.
Aku pun langsung menghapiri pintu unit apartement tersebut secara perlahan tapi pasti, masih memerhatikan dari ambang pintu apa yang terjadi. Pemuda tersebut masih fokus kepada Reza yang sibuk memindai seisi ruangan di dalamnya, mencari sosok yang ia duga adalah Alena istriku.
Pemuda tampan tersebut masih belum menyadari akan keberadaanku. Aku pun tak tau apakah pemuda itu mengenalku atau tidak? Ntahlah.
Suara teriakan cukup kuat terdengar dari dalam, aku kenal suara itu dan itu membuatku terkejut saat Reza berucap.
"Vian, Alvian."
"Ini istri lo ada disini, di kamar ini cepet lo kemari." Teriaknya kembali menggema dari dalam unit apartement tersebut.
Aku pun langsung saja menerobos masuk menuju kamar yang di maksud Reza. Terlihat jelas dari ambang pintu kamar tergeletak tubuh mungil yang jelas aku mengenalnya. Ku lihat pemuda itu pun menjadi gugup dan berwajah pucat setelah melihatku.
BUGHH...
Satu tinju ku daratkan langsung ke pemuda itu lalu.
BUGHH...
Kembali ku layangkan tinju sekali lagi ke wajahnya sebelum ia bangkit dari tersungkurnya, ntah setelah ini ia akan membalas tinjuku atau tidak aku belum tau. Yang jelas aku langsung menuju tempat terbaringnya Alena menghapirinya lebih dekat melihat dengan seksama apa yang ia alami hingga ia bisa terbaring lemah di ranjang terkutuk ini.
Sungguh aku cemas melihat keadaan Alena sepertinya ia dalam pengaruh obat yang tidak baik. Sungguh brengsek pemuda ini, dia ingin merusak Alena dengan cara terkejinya.
Langsung ku bawa Alena keluar dari tempat terkutuk ini, ku lihat pemuda brengsek itu masih berada di posisinya. Soal Reza aku tak tau jelas apa yang di lakukan Reza kepada pemuda brengsek itu , aku sudah tak perduli lagi. Fokusku kini hanya pada Alena keadaan Alena , ntah apa yang membawanya bisa sampai disini dengan keadaan seperti ini.
Sesampainya aku letakkan dengan hati-hati tubuh mungil Alena di bangku penumpang depan dengan tak lupa ku rendahkan bangkunya dan memasangkannya sabuk pengaman sebaik mungkin. Jelas pintu mobil di bantu buka sebelumnya oleh Reza untuk lebih mempermudah aku segera mengamankan Alena ke dalam mobil.
"Keknya istri lo di cekokin 'abusing drug' deh." Tebak Reza dengan apa yang di alami Alena saat ini.
"Terkaku juga begitu Za, karena gejalanya menyerupai." Sahutku.
"Untung aja Dewi Fortuna masih berpihak pada lo. Jadi istri lo belum sempat di *****-***** sama tuk bocah tengil." Sambung Reza lagi.
"Makasi banyak ya Za." Ucapku sungguh tulus rasanya kalau Allah tidak menunjuk Reza sebagai perantara, akankah musibah ini dapat terelakkan. Hanya Tuhan yang tau.
"Ya udah biasa aja kali bro, kayak siapa aja gue ini. Mungkin Allah udah menunjukkan kuasanya dengan gue bisa ngebantu elo semampunya akan hal ini. Udah sana bawa balik istri lo dan jaga dia baik-baik. Lo kan udah tua jangan ntar baru manten baru udah menduda hahaha." Ejeknya di akhir kalimat, anak ini memang kadang omongannya nggak di filter dulu.
"Makanya cepetan nikah Za, jangan kelamaan move on." Sugutku agak jengkel karena kalimat terakhirnya.
"Yaelah elo Vian-Vian kek gue nggak tau aja sejarah pernikahan elo hehehe." Timpalnya dengan kekehan.
Sebelum acara resepsi aku dan Alena di gelar dan saat itu aku yang masih berada di Surabaya mengantarkan kartu undangan resepsi kami yang akan di selenggarakan di Jakarta kepada Reza.
Kala itu aku dan Reza temu janji di cafe milikku yang berada di Surabaya dan sempat bercerita akan hal tersebut. Itu juga karena Reza yang tiba-tiba melontarkan kalimat yang tak pernah sempat terfikir olehku.
"Jangan-jangan elo udah menghamili anak gadis orang duluan ya Vian makanya mendadak nikah begini." Tudingnya si Reza tanpa tedeng aling-aling.
"Astagfirullah. Sebobrok itukah Za lo menilai gue?" Keluhku dengan tatapan tajam padanya , datang si kawan ne hanya acuh sambil mengedipkan kedua bahunya dan tanpa rasa bersalah akan tudingannya tersebut.
Maka dari itu dengan sukarela aku menceritakan apa adanya kejadian dan latar belakang yang sesungguhnya terjadi antara aku dan Alena hingga kami berakhir menjadi pasangan suami istri yang sah.
Reza juga cukup tau kalau Alena sampai detik ini masih bersegel , itu juga karena aku cukup terbuka kepada Reza sebagai sahabatku satu-satunya yang ku percayai akan hal tersebut.
🍬🍬🍬
Bersambung...
__ADS_1
Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰