
"Ih jahat banget sih tu orang yang nyuling elo sampai elo masuk RS kek gini Len." Celetuk Siska dengan geramnya.
"Iya, gue jadi heran sejak elo menikah kok cobaan hidup elo silih berganti sih Len. Dari suami lo yang kena tembak sampai koma, nah sekarang malah giliran elo masuk RS karena diculik." Kali ini malah Suswanto berceloteh panjang lebar menerawang.
"Namanya juga hidup, apalagi dalam rumah tangga ujiannya berat dan bertubi-tubi. Tapi kalau sabar dan tetap tawakal insha Allah pahala besar yang akan kita raih." Tutur Vera sok bijak.
"Iya ukhti." Guyonan Handy.
"Inggih ustadzah Vera." Kini Siska ikut menimpali dengan candaan.
"Aamiin.." Kembali Vera bersuara mengaminkan ucapan Handy dan Siska barusan padanya.
"Cie-cie calon istri ustadz ne si Vera." Aku pun jadi ikutan menimpali dengan ejekan cie-cie di akhiri kekehanku.
"Aamiin.." Kembali Vera mengaminkan.
Semangat banget ne anak, keknya celetukkanku waktu itu beneran adalah harapan cukup kuat ne anak. Untuk bisa jadi istri ustadz. Nggak salah sih , fikirku.
Di kamar rawar inap VVIP yang sedang aku tempati ini, aku sedang ramai di jenguk oleh para sahabat dan teman segenkku. Gimana nggak ramai kalian tau kan mereka ada 4 lelaki dan 5 perempuan, termasuk Vera.
Mereka memang sahabat-sahabatku yang the best selalu mendukung dan memberi semangat seperti saat ini, sebelumnya juga mereka menjenguk ku saat sakit akibat penjebakkan yang dialami si om suami.
Sedangkan si om suami sedang keluar, mungkin ia sengaja memberi time untukku bersama teman-teman segenkku yang sedang datang menjenguk. Selama sudah 2 hari sama hari aku di rawat di RS ini, selama itu juga si trus menemani dan menjagaku. Hal ini tidak jauh berbeda dari sebelumnya yang sudah-sudah ia lakukan juga selama ini. Selalu menjaga ku dan merawatku jika aku sakit.
🍬🍬🍬
3 hari sudah aku di rawat di RS dan aku sudah kembali beraktivitas seperti biasa, yaitu berkuliah dan aku pun sudah kembali lagi tinggal bersama dengan si om suami di apartementnya, tapi katanya waktu di RS apartement ini adalah apartementku. Karena sejak kami sudah menikah si om suami sudah membuat apartement ini atas namaku.
"Mas kamu nggak balik lagi ke Surabaya?" Tanyaku saat kami sedang menyantap makan malam kami di apartement kami.
Aku akan tetap menyebutnya apartement ini dengan sebutan apartement kami. Karena itu yang yang lebih pantas rasaku. Walaupun apartement ini sudah menjadi milikku atas pemberian si om suami.
"Nggak sayang." Jawabnya dengan terus mengunyah makanannya.
"Bukannya masih belum kelar urusan Mas disana, terutama kasus yang Mas tangani. Apa mereka para klient nggak protes atau mungkin menuntut sama Mas?" Aku takut aja jika karena si om suami memaksakan diri datang ke Jakarta untuk menyelematku, sedangkan ia harus menghadapi masalah baru yang bisa jadi fatal setelah menyelamatkanku.
Jelas aku nggak mau, kasihan juga suamiku ini kan selalu di rudung masalah dan bahaya. Aku jadi begitu menyesali atas keegoisan ku beberapa bulan lalu, karena insident penjebakkan itu.
"Sudah tenang saja insha Allah aman, kasusnya sudah Mas alihkan ke teman Mas yang tidak jauh berkompeten dan jauh lebih baik dari Mas." Seru si om suami dengan seutas senyum tipis pada ku.
Senyumannya walaupun minim dan segaris tipis di bibirnya, tapi itu sudah membuatku menyelot. Ku yakin bukan aku saja sebagai istri satu-satunya dirinya yang merasakan itu, tapi wanita-wanita lain di luar sana juga akan berangapan sama seperti ku.
Malah sikap dingin dan datarnyalah adalah keunikan dan daya tarik paling memesona pada diri suamiku ini, selain visualnya yang memang sempurna bagi seorang lelaki dewasa.
"Eh tumben nggak nyebut diri sendiri saya, sekarang malah pake sebutan Mas." Telisikku dengan senyuman usil.
Si om suami tersenyum kembali tapi kali ini ia menampakkan deretan gigi bagian atasnya yang tersusun rapih dan putih bersih.
"Biar tidak terlalu formal dan kaku saja sesekali." Katanya.
Iya juga fikirku , sebelumnya aku sempat berfikir dan mau berkata pada si om suami. Agar ia jangan menggunakan lagi kata saya, jika berbicara dengan ku. Karena benar itu sebutan itu terlalu formal dan kaku di dengar di telinga ku.
"Mas sudah lama sekali tidak makan masakan istri sendiri. Masakan kamu selalu enak dan pas di lidah Mas." Tuturnya masih kembali menyantap makanannya.
"Masa sih Mas, padahal Lena cuma masak biasa saja." Cetusku.
"Iya, sayang. Kita sudah tinggal terpisah hampir 3 bulan dan baru sekarang kembali bersama." Iya ya aku baru benar-benar menyadari hal itu.
Kali ini aku hanya memasakannya capcay yang di campur ati dan ampela ayam serta tempe goreng tepung biasa saja. Si om suami terus lahap menyantap masakanku, tanpa menimpaliku lagi.
____
Aku merasakan ada sepasang tangan menyusup dari belakang tubuhku, lalu melingkar di perutku yang rata serta hembusan hangat menghampiri ceruk leherku. Aku sudah tau ulah siapa ini, dari aromanya aku sudah bisa menebak tanpa menolehpun.
"Sayang.." Seru si om suami lembut dan lirih dengan menghirup ceruk leherku, sungguh nafasnya yang menerpa kulit leherku serta bibirnya yang menempel-nempel di sana membuatku geli-geli merinding.
"Mas ngapaen sih, kek gitu geli tau." Ketusku, datang si om suami malah mengabaikan protesanku dan terus mengendus-ngedus ceruk leherku.
"Sayang..? Apa boleh Mas melakukan ibadah cinta kembali dengan istri mas tercinta ini?" Ujarnya bertanya to the point.
Aku tak langsung menjawab aku terdiam sambil berfikir. Sebenarnya sebelum ia mengatakan niatnya, aku sudah sedikit ngeh dan was-was dengan ngelagat si om suami saat ini.
Aku menundukkan kepalaku masih dengan posisi si om suami yang memeluku dari belakang di atas ranjang kami. "Mas Lena takut." Ucapku was-was , kedua manikku bergerak-gerak. "Tepatnya , Lena masih takut Mas untuk kita me..melakukan i..itu." Imbuhku lagi dengan nada terbata di akhir kalimatku barusan.
Si om suami memutar tubuhku untuk menghadap padanya, kini posisi tubuh kami sudah berhadapan. Namun, aku masih terus menunduk enggan menatapnya. Karena was-was dengan perasaan dan pemikiran campur aduk tak karuan di sertai kebingungan.
Daguku di angkat lembut oleh telunjuk suamiku, kini mata kami saling bertemu dan mengunci satu sama lain. "Mas akan melakukannya dengan penuh kelembutan dan hati-hati, tidak akan menyakitimu lagi sayang. Mas kan tidak dalam pengaruh obat aneh itu lagi." Tuturnya lembut mencoba meyakinkanku.
Hening tanpa suara untuk beberapa menit dan kami hanya saling menyelami manik yang ada dihadapan kami masing-masing. Lalu si om suami mengecup kening ku lama dan setelahnya ia berkata. "Ya sudah kita tidur saja." Si om suami kini membawaku ke dalam dekapannya.
Kami saling berpelukkan, wajahku bersandar di dada si om suami. Ini salah satu tempat ternyaman dari tubuh si om yang selalu ku suka.
"Mas nggak marah sama Lena?" Tanyaku mencoba menelisik, tapi rasanya tanpa perlu di tanya pasti ada rasa kecewa di hati si om suami sedikit banyaknya padaku karena penolakanku yang secara halus ini.
"Kenapa, Mas harus marah pada istri tercinta Mas ini?" Jawabnya dengan nada lembut, sambil ia terus membelai rambutku.
"Ya biasanya kan suami bisa marah kalau keinginannya bahkan hasratnya kepada istrinya tak tersalurkan." Ih aku ini bodoh atau gimana sih udah tau juga jawabannya kurang lebih, tapi masih di tanya lagi.
"Ya kalau alasannya tidak jelas mungkin suami akan marah. Namun, ini kan jelas alasan istri menolak karena memang belum siap efek sebuah kejadian. Insha Allah Mas Ridho, dan akan menunggu sampai istri Mas ini sudah siap dan tidak takut lagi." Tuturnya lembut tanpa ada nada kecewa sedikitpun yang terdengar dari setiap ucapannya.
Ku dongakkan kepala ku menatap padanya, terlihat wajahnya yang tegas itu yang tak ada raut kecewa tersirat di sana. Tapi ku yakin si om suami pasti menekan semaksimal mungkin keinginan birahinya itu. Apalagi kami sudah hampir 3 bulan tidak melakukannya sejak kejadian penjebakkan tersebut.
Aku sungguh belum siap untuk ibadah cinta atau memadu kasih kembali, walaupun dengan suami sah ku sendiri. Rasa takut dan trauma itu sedikit banyaknya masih ada dan tersimpan di diriku.
"Maafin Alena ya Mas?" Kini aku menundukkan kepalaku kembali.
__ADS_1
Tak ada jawaban hingga beberapa detik, apa si om suami sebenarnya marah hingga ia tak mau berucap lagi padaku. Ku dongakkan kembali kepalaku ke arah wajahnya, eh ternyata ia sudah memejamkan kedua matanya alias tidur.
Malah kini dengkuran halus itu mulai terdengar, dan itu menandakan si om suami sungguh sudah mulai terlelap ke alam mimpi.
🍬🍬🍬
Tak terasa waktu berlalu, hari berganti dan bulan pun berganti kini aku baru saja menyelesaikan ujian hari terakhir di ujian semester akhir semester 7 ku. Skripsiku juga sudah makin maju babnya walaupu masih beberapa bab sebagai bab-bab awal. Sebentar lagi aku akan memasuki semester 8 alias semester akhir, setelah liburan semester 7 nanti selesai yang kurang lebih 2 mingguan lamanya.
Namun, jelas liburan semester kali ini tidak bisa digunakan untuk main-main atau bersantai-santai saja. Karena aku harus memanfaatkan waktu untuk menyusun skripsiku hingga rampung dan setiap babnya di acc, sembari terus berkuliah dan mengikuti matakuliah semester akhir. Baru lah bisa mengikuti sidang meja hijau skripsi dan dinyatakan lulus. Kemudian berlanjut menunggu waktu wisuda sampai pada akhirnya di wisuda.
"Gimana ujian hari terakhir lancar?" Tanya si om suami dengan fokus pandangannya mengarah ke depan sambil menyetir mobil.
Kali ini si om suami mengantar dan menjemputku dengan menggunakan mobilnya kembali, setelah seringan selama ini menggunakan motor sportnya. Aku sih tidak ada masalah mau pake mobil ataupun motor, asal di jemput udah seneng kok hehe.
Ntah kenapa semakin hari perasaanku semakin bertambah dan selalu ingin dekat dengan si om suami. Tapi aku belum mau kembali melakukan hubungan intim itu dengannya, karena rasa terauma dan takut itu sungguh masih ada walaupun tidak terlalu parah.
Si om suami juga sejak kejadian ia kembali meminta haknya, tapi aku belum siap karena alasan takut & masih truama. Maka sejak itu juga si om suami hingga detik ini belum pernah kembali meminta atau pun mengajakku melakukan hubungan pasutri kembali.
Aku mengangguk seraya berkata. "Alhamdulillah lancar Mas, semoga hasilnya juga bagus." Menoleh kepadanya.
"Insha Allah Mas yakin hasilnya pasti bagus, seperti sebelum-sebelumnya." Ujarnya dengan terus fokus menyetir.
"Aamiin." Aku mengaminkannya.
"Mau langsung pulang atau jalan-jalan dulu?" Tanya si Om suami , sejenak ia menoleh ke arah ku lalu kembali lagi pandangannya ke depan.
Aku berfikir sejenak sambil menatap ke depan, dan kini beralih melirik arloji di pergelangan tangan kananku. Kini waktu menunjukkan pukul 15: 10 wib.
"Pulang aja deh Mas, lagian Lena belum masak buat makan malam lagi." Putusku pada akhirnya.
"Kamu ini kayak orang susah aja sih Sayang. Kan makan di luar sesekali juga itu tidak masalah, bagi saya kamu itu nggak wajib masak tiap hari. Ada waktu seorang istri untuk bisa sesekali makan diluar atau pun delivery." Seru si om suami sambil sebelah tangannya memebelai kepalaku lembut.
"Ya sih, tapi lagi malas aja jalan-jalan sore ini. Mau rebahan aja sejenak di rumah." Ujarku melirik ke arahnya dengan senyuman manisku.
"Rebahan bareng nanti kita ya sayang." Tiba-tiba si om suami mengoda ku dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Ih ganjen banget sih sekarang Mas sekarang, pake ngedip-ngedipin sebelah mata segala ke Lena." Cetusku sambil menoleh ke arahnya dan memonyong-monyongkan bibirku sok kesal.
"Ganjen sama istri sendiri itu halal sayang, malah wajib. Dari pada ntar Mas ganjen sama perempuan lain emang rela?" Imbuhnya malah membuatku kesal beneran sambil memelototinya, dan ia pun sejenak menoleh kepadaku saat aku memelototinya.
"Ya jangan dong Mas, awas aja kalau Mas ganjen sama perempuan lain." Sewotku kesal.
"Insha Allah Mas tidak akan ganjen selain sama istri Mas yang cantik ini." Kali ini si om suami malah mencomot dagu ku sekilas seraya memberikan senyuman mematikannya, yang siapapun perempuan melihatnya pasti melenyot karena senyuman tersebut.
Ya walaupun terbilang jarang senyum tapi ya sekali senyum bahkan senyum tipis atau segaris kecil saja dari bibirnya yang sexy itu. Jelas akan membuat aku dan kaum hawa lainnya yang melihatnya terpesona.
"Udah masuk bada ashar kita singgah ke mesjid dulu ya sayang, sholat berjamaah disana dulu kemudian baru kita pulang ke apartement." Ujarnya saat sejenak ia melihat benda mahal dan branded itu melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Aku refleks mengangguk sambil bersua. "Iya Mas."
Tak lama si om membelokkan setir mobilnya mengarah ke jalan yang ku rasa arah dimana terdapat mesjid disana.
____
"Sayang ayo bangun sudah masuk bada maghrib, ayo bangun sayang." Ujarnya terdengar lebih panjang sembari sebelah tangan kekar itu masih terasa menyentuh kulit pipiku.
Aku menggeliat sambil perlahan membuka kedua kelopak mataku dan terpampanglah tepat serta dekat sekali wajah tampan itu di depan wajahku. "Eh Mas , udah jam berapa ini?" Tanyaku dengan suara khas bangun tidur.
"Sudah pukul 17: 34 menit sayang, ayo bangun dan mandilah sebentar lagi adzan maghrib." Kini wajah nan tampan itu mundur dari hadapan wajahku.
Aku pun memposisikan tubuhku agar menjadi duduk, kembali mata ini tertuju pada si om suami. Kini aku baru menyadari ternyata si om memakai handuk yang melilit di pinggang hingga lututnya dan bagian atas tubuhnya bertelanjang dada sambil mengusap-usap rambut kepalanya dengan handuk kecil di kedua tangannya.
"Mas mau ke mesjid kan sholat maghrib seperti biasa disana?" Tanya ku dan berusaha bangkit dari dudukku tadi di atas ranjang , lanjut menuju lemari untuk mengambil pakaian si om suami untuk ke sholat ke mesjid.
Ku buka lemari dan merogo isi di dalamnya, mengambil apa yang memang akan ku ambil. Kemudian meletakkannya di atas ranjang kami. "Ini ya Mas pakaiannya." Ujarku pada sang suami.
"Iya sayang, terima kasih ya." Ucapnya lembut sambil mulai memakai bajunya, tanpa rasa malu atau risih di sini dengan adanya diriku.
Si om suami memang sudah tak risih apalagi malu melajukan itu, tapi memang saat pakai CD nya ia tak melepas handuk yang melilit di pinggangnya hingga selesai memakai celana panjang atau celana pendeknya.
Aku memerhatikan ke wajah dan rambutnya sepertinya ada yang berbeda kali ini, fikirku. "Mas habis potong rambut ya?" Telisikku memicingkan mata ke arah kepala dan rambutnya.
Si om suami yang sedang mengancingkan baju kokonya pun menoleh pada ku dengan senyuman yang selalu ku suka, kemudian mengangguk pelan.
"Kapan Mas potong rambutnya?" Kepoku.
"Tadi saat kamu sedang tidur, Mas tinggal kamu ke salon langganan Mas sebentar untuk potong rambut." Aku langsung berhambur ke arahnya mengacak rambutnya gemas.
"Ih kok pendek gini si Mas, tapi suer ini keren bikin tampilan Mas makin kece dan makin muda." Begitu antusias aku mengunyel-gunyel rambut baru nan pendeknya.
Yang di unyel-unyel rambutnya malah tersenyum manis sekali bikin aku makin melenyot. Ku cubit kedua pipinya gemess sekali ya Alloh.
"Cuamiku kok gemoy banget sih dan makin kece badaii." Beoku dengan suara yang ku buat-buat alay atau lebih tepatnya seperti suara anak kecil.
"Kalau begitu Mas pergi dulu ya ke Mesjid." Tuturnya, sambil mulai berlalu menuju pintu kamar kami.
"Mas udah wudhu belum?" Tanyaku, karena tadi aku sempat memegang pipinya.
"Iya ini Mas mau wudhu di kamar mandi dekat dapur, baru berangkat ke mesjid." Ujarnya saat sudah di ambang pintu.
Aku manggut-manggut lalu berkata. "Hati-hati ya Mas." Ia menjawab dengan berdeheum lalu menutup pintu dan tak terlihat lagi dari pandanganku.
🍬🍬🍬
Satnight kali ini aku dan si om suami kembali di undang ke rumah Papanya Vera untuk makan malam keluarga Abraham. Namun, sebelum tiba malam hari sore ini aku dan si om suami akan pergi menonton ke bioskop di salah satu mall yang ada di kota ini.
__ADS_1
"Mas kenapa nggak mandi dulu dan ganti baju?" Protesku saat kami sudah di dalam mobil yang di kemudi oleh si om suami.
"Kan tadi Mas udah bilang kita udah mau telat, ntar filmnya keburu diputar sayang." Ujarnya tetap fokus ke depan.
Mulutku manyun-manyun tanda kurang terima dengan keadaan ini. Pasalnya si om suami ini masih memakai kostum yang terbilang formal berbanding terbalik dengan kostum yang ku pakai saat ini.
"Kenapa manyun-manyun gitu sih sayang?" Si om suami menoleh sekilas padaku, kemudian kembali fokus pandangannya ke depan. "Apa mau Mas cium nih." Godanya.
Bibirnya senyum-senyum tak karuan, sungguh aku jadi salah tingkah melihat dan mendengar godaannya tadi. Ia kembali menoleh padaku sejenak.
"Ih apaan sih Mas lama-lama Mas kok bicaranya ganjen." Sewotku menutupi tingkahku yang udah salah tingkah ini.
"Keganjenan Mas kan cuma sama kamu sayang, istri mas." Imbuhnya lagi, kembali fokus berkemudi.
Aku kembali manyun-manyun sambil menghadap dan menatap ke arah jendela sebelah tempat dudukku. Masih agak kesal karena nerasa kostum kami tambrak lari. Si om suami tadi habis dari temu klientnya yang memang penting, makanya si om suami memakai stelan kemeja warna hitam yang kini ia gulung lengan kemejanya sebatas siku.
Serta celana panjang berbahan keper yang juga berwarna hitam dan sepatu fantofel yang juga berwarma senada. Walaupun ia tanpa mengenakan jas dan dasi sih, tetep aja sama aku kek nggak pas. Karena aku yang memakai baju kaos agak lebar yang ku masukan sebahagian ke dalam rok span ku yang sebatas lutut.
Tapi roknya tidak ketat melainkan agak longgar dengan sepatu sport dan membawa tas selempang kecil. Kan kesannya tampilan kami asa nggak seimbang, walaupun tetep si om suami memang selalu tampan dan memesona. Apalagi sekarang potongan rambutnya bener-bener bikin ia berwajah lebih fresh dan semakin muda.
Tadi aja aku disuruh nunggu langsung di bawah agar begitu si om suami sampai, agar aku bisa langsung masuk ke mobil dan segera menuju tujuan kami.
Kami kini telah tiba di Mall dan masuk ke dalamnya, setelah mobil si om suami di parkirkan dengan benar dan baik di area parkiran mobil.
Namun, sejujurnya inilah yang terkadang membuatku tak nyaman pada mereka yang selalu memandang penuh telisik kagum kepada om om si sebelahku ini, yang tak lain adalah suamiku sendiri. Susah ya emang punya suami yang super tampan , walaupun cuek dan selalu bermuka dingin. Malah itu yang menambah para kaum hawa semakin terpesona dan kagum pada om om di sebelah ku ini.
"Bentar ya sayang Mas beli popcorn sama soft drinknya dulu. Kamu tunggu sini aja atau mau ikut dengan Mas belinya ke sana." Tunjuk si om dengan dagunya sekilas.
Aku menggeleng. "Lena tunggu disini aja deh Mas." Tanpa berkata lagi si om suami langsung melangkah menuju tempat penjual popcorn.
Perihal tiket nonton bioskop seperti biasa si om suami sudah memesan dan membelinya via online.
____
"Mas kamu duluan aja ke parkiran tiba-tiba Lena mau ke toilet, pengen pipis hehe." Ucapku diakhiri cengiran karena merasa nggak enak padahal udah mau sampai parkiran, eh malah baru terasa ingin pipisnya.
"Ya sudah hati-hati ya." Aku mengangguk dengan senyuman lalu memutar tumitku balik ke dalam Mall, menuju toilet di dalam sana.
"Alvian." Panggil seseorang dari balik seberang pintu sebelah kemudi Andra, dengan mengetuk kaca jendelanya.
Andra yang menoleh karena suara ketukan itu langsung melotot karena kaget, melihat seseorang itu. Perempuan itu kini membuka pintu mobil Andra.
"Vian, kamu lagi apa disini?" Perempuan itu langsung masuk ke dalam mobil tanpa bertanya dan tanpa rasa malu, lalu langsung duduk di kursi sebelah kemudi Andra.
"Kamu ngapaen masuk kesini Ken?" Ujar Andra dingin dengan tatapan elangnya yang tajam.
Mata Niken terus manatap Andra tanpa berkedip dan penuh tatapan memuja. "Kamu kok makin ganteng aja sih Vian, terus kenapa kamu cepat sekali kembali ke Jakarta?" Ujar perempuan itu.
Tapi Andra tidak menghiraukannya dan kini Andra membuka pintu kemudinya, lalu keluar dari sana dengan perasaan kesal.
"Mas, udah yuk kita segera otw ke rumah Vera." Seruku menepuk sebelah pundaknya, setelah aku kembali dari toilet.
Si om tersetak sejenak dan menoleh padaku dengan ekspresi datar. "Ah iya sayang." Ujarnya.
Terdengar suara pintu mobil sebelah kemudi terbuka dan aku mulai melihat penampakan seorang cewek dengan setelah dressnya, terlihat sepatunya yang modis dan pahanya yang mulus itu mulai menampakkan diri keluar dari dalam mobil.
Aku sedikit heran kenapa bisa ada mbak Niken di dalam mobil? Apa sebelumnya saat aku belum kembali dari toilet mereka berduaan di dalam sana? Ingin rasanya aku tidak berfikir atau cemburu nggak jelas begini, karena aku tau mereka berteman.
Tapi kan aneh juga jika benar ada lelaki beristri berduaan dalam mobil bersama perempuan lain, walaupun itu temannya. Mereka kan bukan mahram, si om suami bisa aja ngatain aku saat bersama Om Davin waktu itu.
Padahal aku juga nggak sengaja ketemu sama tu lelaki. Tapi sekarang dia sendiri berduaan tadi bersama mbak Niken yang bukan mahramnya. Bener-bener menyebalkan kembali kan si om ini. Ku coba tidak menampakkan rasa kesalku ini di depan mereka.
"Hai Alena apa kabar?" Sapa mbak Niken dengan senyumannya, ku akui wanita ini memang cantik dan sempurna dibanding aku.
"Sehat mbak." Jawabku singkat dengan senyuman terpaksa.
"Kalian habis makan di dalam sana?" Tanya mbak Niken melirik ke arah pintu masuk belakang Mall ini.
"Kami habis nonton." Suara si om suami menimpali.
Terlihat bola mata mbak Niken sedikit terbelalak mendengar pengakuan si om suami , lalu ia membuatnya normal kembali sembari ber 'O' ria sambil manggut-manggut.
"Ayo sayang kita berangkat." Titah si om suami dengan membukakan pintu sebelah kemudinya untukku.
Aku pun masuk dengan telapak tangan si om suami mengambang diatas kepalaku, menjadi pengaman agar kepalaku tidak terbentur bagian atas mobil honda civicnya ini.
"Loh kalian mau kemana?" Seru mbak Niken sedikit teriak dengan mimik yang tak bisa ku artikan.
Setelah itu si om suami menutup pintunya, lalu memutar mobil dan membuka pintu kemudi dan masuk ke dalamnya. Tanpa menghiraukan mbak Niken. Saat mobil sudah mulai melaju hendak meninggalkan perkiran ini.
Sekilas kulihat dari sudut mataku yabg sedikit curi-curi pandang, mbak Niken menghembuskan nafas kasar sambil mengerutu. Namun, ntah apa yang ia gerutukan aku jelas tak mendegarnya lagi yang sudah di dalam mobil.
"Mbak Niken kenapa bisa ada disana tadi dan duduk di sini Mas?" Tanyaku sambil menatap dirinya yang fokus mengemudi.
"Tidak tau tadi tiba-tiba Niken muncul dan langsung masuk saja, dan saat dia masuk Mas langsung keluar saja." Jawabnya, tetap fokus ke depan.
"Bener begitu?" Telisikku masih belum yakin, sambil mata ini tak lepas melihat kepada si om suami yang jelas masih tetap fokus mengemudi.
Kini si om suami menoleh padaku, kami bertemu pandang. "Bener." Jawabnya tegas masih menatapku, lalu segera kembali menatap ke depan.
Ntah kenapa aku masih belum puas dengan jawaban si om suami yang ku dengar dan ku lihat tadi ke arah maniknya, terasa itu memang benar. "Duh aku jangan jadi istri yang lebay cemburuan nggak jelas dong." Kalimat itu terlontar di dalam hatiku, sambil geleng-geleng kepala.
Akupun kini memfokuskan diri dengan menoleh dan menatap ke arah jendela di sebelahku duduk.
🍬🍬🍬
__ADS_1
Bersambung...
Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰