
POV ANDRA.
Pertama kali aku melihat dan bertemu seorang Alena Paramita walau dengan hal dan kejadian yang tak terduga jelas dia gadis yang cantik dan gayanya simple tapi mempesona. Kesimplelan gayanya merupakan salah satu daya tarik tersendiri pada dirinya itu menurut pribadiku.
Tapi rasa cinta itu belum bisa langsung muncul di hatiku hingga akad nikah telah ku ikrarkan di hadapan penghulu , papa Alena dan juga para saksi.
Saat setelah akad nikah yang kejadian aku mengecup kening dan hidung Alena sebenarnya bukan niatku ntah kenapa aku tiba-tiba refleks ingin mengecup kening dan hidungnya.
Mungkin karena aku merasa gemas melihat tingkahnya yang konyol saat ia refleks menutup kedua matanya, karena melihatku keluar dari kamar mandi hanya bertelaj*ng dad* dan bisa-bisanya ia terjatuh dan itu tepat di depan kakiku.
Jujur mengecup kening seorang perempuan yang baru ku kenal walaupun ia sudah menjadi istri sah ku itu adalah hal pertama kali yang kulakukan.
Sebelumnya hanya mama dan dulu Vera keponakanku itupun waktu Vera masih kecil aku pernah mengecup keningnya.
Selebihnya aku tak pernah mengecup kening siapapun hingga setelah akad nikahku waktu itu aku mengecup kening istriku.
Aku jadi teringat saat aku memberitahukan soal set perhiasan emas berlian itu kepada Alena sebelum tiba hari akad nikah kami.
"Gimana kamu suka dengan set perhiasannya?" Aku bertanya kepada Alena setelah menyerahkan kotak beludru berwarna merah berukuran sedang itu yang berbentuk hati.
Ia pun membukanya dan menelisik isinya. Kulihat dia cukup terkejut melihat isinya aku rasa mungkin dia tak menyangka kalau aku akan memberi mahar satu set perhiasan emas berlian kepadanya.
"Ini nggak terlalu berlebihan om untuk dijadikan mahar pastikan ini mahal banget. Sayang lo uang om sia-sia ntar. Apalagi kita menikah itu karena terpaksa lebih baik om kasih kepada perempuan yang om cintai." Aku cukup tak menyangka akan mendengar penuturannya barusan.
"Siapapun yang akan saya cintai kelak yang jelas kali ini Allah sudah mengisyaratkan bahwa kamu itu calon istri saya." Tegasku saat kami berada di gazebo halaman belakang rumah mas Abizar.
"Tapi om_" Ucapannya terhenti saat aku langsung berkata.
"Saya tidak mungkin juga memberi mahar asal-asalan Alena apalagi jika saya mampu. Jika saya memberi mahar asal-asalan padahal saya mampu itu sama saja saya merendahkan kamu sebagai perempuan dan itu juga akan kurang baik di pandang oleh pihak keluarga kamu kepada saya dan keluarga saya. Walaupun kamu dan keluarga kamu tidak meminta atau mempermasalahkan hal tersebut." Aku menjelaskan dengan singkat dan tegas kepadanya agar dia tidak merasa tak enak akan hal ini.
Sampai hari ini aku masih sangat sibuk di Surabaya karena aku sedang mendampingi klienku ke kantor polisi dan kantor kejaksaan untuk pemeriksaan atas kasus tuduhan penganiayaan terhadap istrinya yang suaminya tersebut tak lain adalah saudara sepupu dari temanku yang waktu itu aku temui di hotel bersama Alena.
Temanku itu bernama Reza Hendrawan ia tinggal di Surabaya begitu juga sepupunya itu. Namun sore itu ia sedang ada proyek di jakarta dan saat aku menemuinya sore itu bersama Alena di hotel tempat ia menginap karena memang ada hal yang mendesak.
Maka sebab itu aku langsung ke hotel itu bersama Alena setelah kami selesai mengechek kartu undangan dan souvenir untuk acara resepsi pernikahan kami nanti.
Karena malamnya Reza temanku itu akan langsung terbang lagi ke Bali selama 10 hari untuk urusan proyeknya juga.
Sedangkan aku lusa sudah harus kembali lagi ke Surabaya untuk urusan pekerjaanku dan untuk urusan sepupunya Reza yang merupakan klienku juga.
Aku tidak habis fikir sejak pertama kali aku bertemu dengan Alena dia seakan sudah mulai berfikir aneh-aneh kepadaku.
Hingga setelah aku sudah sah menjadi suaminya sampai saat aku membawa ia ke sebuah hotel yang memang dari awal aku mengajak ia ke hotel karena hendak menemui temanku itu yang juga mendadak dan mendesak.
__ADS_1
Ntah kenapa ia bisa befikir aku akan berbuat mes*m pada dirinya dengan membawanya ke sebuah hotel. Lagian apa salahnya seorang suami membawa istri sahnya bahkan resmi secara kenegaraan ke sebuah hotel.
Ditambah lagi setelah aku katakan jika aku akan menemui temanku di hotel tersebut ia malah semakin berfikir aneh-aneh. Berfikir jika aku akan melakukan hal mes*m kepada temanku alias aku di kira sebagai pria penyuka sesama jen*s.
Hal itu memang pernah aku dengar juga dari sebagian orang yang menilaiku lain tapi aku tak pernah mau ambil pusing.
Namun, saat Alena berfikir dan berucap kalau amplop besar berwarna coklat itu sebagai uang suap yang aku terima dari Reza temanku itu. Aku jadi berfikir apakah seburuk itu diriku di matanya hingga dia terus berfikir aneh-aneh semacam itu.
Padahal isi di dalam amplop besar berwarna coklat itu adalah beberapa bukti kalau sepupunya Reza temanku itu tidak melakukan penganiayaan ataupun kekerasan terhadap istrinya.
Istrinya itu ternyata menjebak suaminya tersebut yang tak lain sepupunya Reza temanku. Motifnya telah di ketahui jika si istri tersebut melakukan itu agar bisa menuntut cerai kepada suaminya , karena si istri ternyata tak cinta kepada si suami.
Pernikahan mereka memang berdasarkan perjodohan dari masing-masing orang tua mereka. Itulah yang sebenarnya terjadi dalam kasus sepupunya Reza temanku itu.
Insya Allah aku selama ini selalu berusaha amanah dan tidak menyimpang dari tugasku yang berprofesi sebagai advokat.
Karena profesiku ini tidak mudah banyak tahapan yang harus di jalani baru bisa dinyatakan lulus serta di ambil sumpahnya di pengadilan.
Sejak kejadian itu aku jadi mendiamkannya walaupun memang aku selama ini juga selalu bicara seperlunya kepada Alena, tapi kali ini aku bersikap lebih dingin dari sebelumnya.
Jujur aku kesal dengan setiap pemikiran buruknya padaku.
Tapi bukan maksudku juga ingin mendiamkannya selama ini. Walau memang selama ini juga jika aku keluar kota aku belum pernah melakukan kontak telepon ataupun mengirim pesan melalui aplikasi berwarna hijau itu.
Hari libur yang lebih sering aku dapati di hari sabtu minggu terkadang aku gunakan dengan dokumen-dokumen kasus serta bisnisku selain juga untuk waktu rehatku.
Mungkin karena hal pekerjaanku ini yang membuat aku tak pernah berfikir dan mengurusi urusan pribadiku khususnya menjalin hubungan serius dengan seorang perempuan apalagi menikah.
Makanya disaat aku terus disuruh menikahi Alena karena dorongan mama yang juga kesalahpahamannya. Akhirnya aku pun mengiyakan untuk menikahi Alena sahabat dari keponakanku sendiri.
Keputusan tersebut sudah ku mempertimbangkannya matang-matang, karena aku tak mau mama jadi stress dan membuat penyakit lamanya kambuh seperti dulu lagi.
Walapun ini terkesan egois karena aku jadi tak memperdulikan perasaan Alena. Namun, sekeras apapun aku menolak mama pasti terus berusaha memaksaku dan menuduhku.
Seandainya aku bisa menolak lagi kali ini, tapi aku malah jadi kefikiran kesehatan mama makanya dengan terpaksa menurutinya saja.
Walau begitu aku tak menganggap pernikahan ini main-main karena pernikahan itu adalah hal yang sakral dan juga ibadah, maka suatu hari nanti aku akan pindah atau lebih banyak memilih klien di sekitaran Jakarta saja.
Namun, untuk kali ini jelas aku belum bisa melakukan itu. Karena di kota tempat tinggalku dan juga kedua orang tuaku aku masih memiliki tanggung jawab penuh kepada kantor Law Firm yang selama ini aku naungi dan juga klien-klienku serta beberapa bisnisku juga yang ada di Surabaya walau hanya cabangnya.
Perlahan akan ku selesaikan hingga aku tak harus sering bolak balik atau beralama-lama di Surabaya. Aku pun punya niatan setelah resepsi pernikahanku dan Alena diselenggarakan nanti aku ingin mengajak Alena tinggal bersama di apartement. Karena hanya kami berdua makanya aku akan coba dengan tinggal di apartement saja dulu dan itu juga bertujuan agar kami lebih mandiri sebagai pasangan sah.
Namun, kali ini rasanya cukup tepat aku mendiamkan Alena lebih dari biasanya hingga saat aku hendak berangkat ke Surabaya di senin pagi waktu itu aku tetap diam tak berkata apapun padanya.
__ADS_1
Biar sajalah aku masih kesal juga dengan pemikiran-pemikiran buruknya padaku. Toh ia saja tak meminta maaf sekalipun akan semua pemikiran-pemikiran buruknya padaku waktu itu , yang jelas-jelas itu tidak benar.
Aku jadi ragu kalau ia benar-benar menghormati pernikahan ini apalagi mempertahankannya.
Mungkin ia memiliki pria idaman lain walaupun ia tak pernah pacaran seperti yang pernah kuketahui dari mas Abizar kala itu.
Itu mungkin saja benarkan ? Jika itu memang benar ntahlah aku harus bersikap bagaimana. Walaupun aku belum bisa jatuh cinta kepadanya namun aku berusaha bersikap baik semampuku sebagai seorang suami untuknya.
Membiarkan semua mengalir dan berjalan apa adanya dengan seiring waktu.
🍬🍬🍬
"Den Andra mau bibik buatkan teh atau kopi." Aku menoleh ke sumber suara saat bik Ijah salah satu ART di rumah kami di Surabaya bertanya padaku.
"Teh hangat sajalah bik." Ucapku.
"Baik den." Bik Ijah pun berlalu menuju dapur.
Aku baru saja tiba sore ini di rumah setelah tadi dari kantor kejaksaan dan juga kantor polisi.
Pekerjaanku hampir selesai untuk klien-klienku kali ini jadi aku bisa segera kembali ke Jakarta lagi dan sekitar 10 hari lagi acara resepsi pernikahanku dan Alena akan di selenggarakankan.
Rumah ini tepatnya rumah orang tuaku rumah yang besar dan isinya tak jauh beda dengan rumah mas Abizar di Jakarta.
Sebenarnya rumah yang di Jakarta adalah rumah kedua orang kami. Namun setelah mas Abizar menikah beberapa tahun mama terakhir minta pindah ke Surabaya yang merupakan kampung halaman mama.
Sehingga rumah itu di biarkan di gunakan oleh mas Abizar dan keluarga kecilnya. Namun mas Abizar tidak mau menempati rumah itu secara cuma-cuma maka pada akhirnya mas Abizar lah yang membeli rumah ini dan langsung atas nama mama.
"Ini den tehnya dan ini ada beberapa cemilan kampung tadi ada bik Ijah buat." Bik ijah pun meletakkan teh manis hangatku ditambah singkong gorengnya di atas meja.
"Terima kasih ya bik." Ucapku.
"Sama-sama den." Balasnya ramah dan bik Ijah pun kembali berlalu pergi dari hadapanku.
Kini aku menikmati hidangan sederhana ini di ruang kelaurga/tv sambil menonton siaran berita. Keluargaku memang masih sangat suka dengan makanan serta cemilan-cemilan murah meriah atau tradisional.
Makanya tak jarang di rumah ini ART kami menghidangkan cemilan sederhana / tradisional namun nikmat sekali rasanya bagi kami.
🍬🍬🍬
Bersambung...
Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰
__ADS_1