TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU
BAB 51A


__ADS_3

POV ANDRA.


Flashback On.


___


Brakk..


"Ayo sekarang giliran geledah semua yang ada di kamar ini." Ucap tegas ustadz Thoriq saat sudah masuk dan masih berapa di sisi pintu kamar yang tadi ia buka dengan kasar dan paksa.


Kami pun yang berada di dalam kamar yang ada 5 orang termasuk aku pun terkejut.


"Ada apa Tadz, kenapa di geledah." Tanya ku sambil menghampiri sang ustadz dengan terheran-heran.


"Ada pencuri di pondok pesantren kita ini." Ucap sang ustadz dengan lantangnya, terlihat wajahnya memerah karena menahan amarah.


Ustadz Thoriq memang terkenal garang, tegas bahkan ringan tangan jika ada santriwan yang melakukan kesalahan apalagi kesalahan besar.


Spontan aku terkejut mendengar ungkapan ustadz Thoriq. Ricuh diluar sana di depan pintu ramai para santriwan mengintip ke kamar dan berasumsi. Kira-kira siapa pencurinya dan mengapa mencuri.


Dua orang santriwan suruhan ustadz Thoriq pun sibuk memulai pengeledahan, mereka pun dengan sigap dan teliti mengeledah segala sudut dan isi barang yang ada di kamar ini satu persatu tanpa terkecuali.


"Ustadz..." Lantang salah seorang santriwan yang menjadi orang suruhan ustadz Thoriq, tepat saat ia mengeledah isi lemariku yaitu Ridho.


"Ana menemukan dompet yang di maksud hilang itu Tadz." Serunya membuat aku kaget begitu juga ustadz Thoriq dan lainnya yang ada disini.


Dengan langkah tergesa-gesa ustadz Thoriq menghampiri santriwan tersebut yang kini masih tepat berada di hadapan lemari pakaianku. Aku pun penasaran dan perlahan megikuti secara random dari belakang.


Kemudian ustadz Thoriq mengambil 2 buah dompet yang terselip di bawah lipatan-lipatan pakaianku yang ada di dalam lemariku. Aku terkejut dengan mata terbelalak sejak kapan dan siapa yang menaruh 2 dompet itu di sana. Sedangkan sekitar 1 jam lalu aku baru saja merapikan lemariku meletakkan pakaian-pakaian ku yang sudah ku setrika disana.


Helaan nafas berat keluar dari bibir sang ustadz Thoriq dengan mata berapi-api. "Antum mencuri Liandra?" Hardik ustadz Thoriq dengan nada tinggi dan mata menyala karena marah, tangan kanannya di angkat ke hadapanku menunjukkan ia yang memegang 2 buah dompet satu berwarna hitam dan satunya berwarna army.


Aku mengeleng cepat dan kuat, menyangkal apa yang di dituduhkan oleh ustadz Thoriq padaku.


"Tidak ustadz." Ucapku.


"Lantas apa ini?" Bentak ustadz Thoriq dengan tatapan tajamnya dan tangan kanannya masih terangkat mengarah padaku dengan memegang 2 dompet tersebut.


"Demi Allah saya tidak mencuri, Tadz." Seruku jujur.


"Jangan kamu bermain kata sumpah sembarangan dengan menyebut nama Allah Lian. Itu hanya akan menambah dosa mu." Latangnya lagi padaku.


"Ahmed." Panggil ustadz Thoriq kepada salah satu santriwan.


"Ana Tadz." Yang di panggilpun segera datang.


"Panggilkan mereka para korban pencurian dompet ini." Titah ustadz Thoriq.


"Injih Tadz." Ahmed pun segera kelaur dari ruang kamar ini untuk memanggil orang-orang yang dikata ustadz Thoriq sebagai korban.


"Assalamualaikum." Seruan salam yang terdengar dari beberapa orang yang baru datang.


"Wa’alaikumsalam..Warahmatullahi..Wabarakatuh.." Seru ustadz Thoriq bersamaan dengan ku dan beberapa orang/ santriwan yang berada dalam kamar ini.


Mata ku dan mata ustadz Thoriq beserta yang lainnya yang ada disini pun menoleh kemereka yang baru datang, yaitu Ahmed dan 2 orang santriwan yang tak lain adalah Davin dan Fatih.


"Apakah mereka berdua yang menjadi korban kehilangan dompet ini." Seruku dalam hati, dengan dahiku berkerut terheran sambil sedikit berfikir.


"Davin dan Fatih apa ini dompet kalian yang hilang saat usai sholat dzuhur berjamaah di mesjid tadi?" Pertanyaan sekaligus seperti pernyataan yang terlontar dari suara ustadz Thoriq barusan.


"Iya Tadz." Seru mereka berdua lantang setelah mereka melihat dua dompet tersebut dari tangan ustadz Thoriq.


"Ini punya antum bukan Muhammad Davin yang tadi antum bilang berwarna hitam." Ujar ustadz Thoriq sambil memberikan Davin dompet berwarna hitam itu padanya.


"Dan ini punya mu kan Al Fatih." Ujar ustadz Thoriq lagi kali ini ia mengulurkan dompet berwarna army itu kepada Fatih.


"Terima kasih ustadz." Seru Davin dan Fatih bersamaan setelah keduanya memegang dompet mereka.


"Coba chek dulu apakah isi di dalamnya seperti uangnya yang kalian sebut tadi masih ada dan utuh atau sebaliknya." Titah ustadz Thoriq pada mereka.


Mereka berdua pun Davin dan Fatih langsung membuka dan mngechek isi dompet mereka masing-masing.


"Alhamdulillah, Tadz masih utuh." Ujar Fatih memberi tahukan sambil membuka dan memperlihatkan isi dompetnya yang disana terlihat jelas lembaran uang 50 ribuan 10 lembar.


"Syukurlah, lalu kamu Davin bagaimana?" Timpal ustadz Thoriq pada Davin.


Aku memerhatikan ke arahnya yang terlihat kebingungan, ada apa gerangan.


"Tidak utuh lagi Tadz." Tuturnya dengan mimik wajah yang terlihat tidak enak.


Sedangkan ustadz Thoriq yang melihat dan mendengar terlihat membeliakkan kedua bola matanya.


"Tinggal berapa di dalamnya Davin?" Tanya ustadz Thoriq.


"Sebelumnya di dalam sini ada 1 juta rupiah Tadz dengan uang lembaran 50 ribuan semua, tapi ini hanya tertinggal 300 ribu saja." Terang Davin kepada ustadz Thoriq sambil membuka dan memperlihatkan isi dompetnya yang memang terlihat disana hanya ada 6 lembar uang pecahan 50ribuan.


Ustadz Thoriq pun menoleh ke arahku dengan tatapan sangarnya.


"Kemana sisanya kamu pakai Lian?" Tanya ustadz Thoriq dengan nada tinggi dan penuh amarah terlihat dari wajahnya yang makin memerah lagi.


"Demi Allah ustadz saya tidak tau dan bukan saya pencurinya." Tegasku.


"Sudah jelas kedua dompet ini tadi berada di dalam lemari kamu Lian." Lantang ustadz Thoriq.


"Sungguh saya juga baru tau dan terkejut mengapa dan siapa yang membuat kedua dompet tersebut biasa berada di dalam lemari saya ustadz." Tuturku.


"Sudah ada buktinya masih saja kamu mengelak Liandra."


Ustadz Thoriq menarik sebelah tangan ku kuat dan menyeret ku keluar dari kamar ini secara paksa dan kasar.


Semua santriwan yang ada disana memerhatikan dan mengikuti langakah kami, termasuk Davin dan Fatih.


"Abdul." Panggilnya kepada salah seorang santriwan disana.


"Ana Tadz." Jawab Abdul sambil menundukkan kepalanya.


"Ambil dan bawa kemari bilah rotan di ruangan saya sekarang." Titahnya lantang.


"Injih Tadz." Abdul pun segera melaksanakan perintah ustadz Thoriq dengan berlari menuju ke ruangan ustadz Thoriq.


Tak lama datanglah Abdul dengan membawa apa yang di minta ustadz Thoriq tadi.


"Iki Tadz." Mengulurkan benda cukup panjang itu ke arah ustadz Thoriq.


"Heumm." Seru ustadz Thoriq setelah menerimanya.


Ustadz Thoriq memainkan bilah rotan itu dengan tangan kanannya memegang bilah rotan tersebut lalu menepuk-nepuk ulang ke telapak tangan bagian dalam dari tangan kirinya dengan menatap tajam ke arah ku dan wajah memerah karena amarahnya.


Di luar sini dengan ukuran halamannya yang cukup luas ramai sekali sentriwan waluapun tidak semua dari santriwan keluar berdatangan kemari.


"Ustadz saya yakin bukan Lian pelakunya." Seru Yusup salah satu teman sekamarku di pondok ini.


"Diam antum." Lantang ustadz Thoriq dengan raut marahnya.

__ADS_1


"Ustadz sungguh saya tidak mencuri." Seruku lagi.


Ustadz Thoriq tidak mengharaukan ucapanku dia menyruhku merentangkan atau tepatnya mentengadahkan kedua telapak tanganku.


"Buka kedua telapak tangan mu dan hadapkan ke depan." Titahnya lantang sekali.


Mau tak mau aku melakukan apa yang ustadz Thoriq katakan padaku. Tanpa aba-aba ustadz Thoriq mehantamkan bilah rotan tersebut ke atas kedua telapak tangan ku bagian dalam dengan sangat kuat.


"Prakk...Prakk...Prakk." Suara rotan yang menghantam kedua telapak tanganku yang bagian dalam.


Aku memejamkan kedua mataku menahan sakit atas tindakan ustadz Thoriq terhadapku, mereka semua jelas menyaksikannya yang berada disini.


"Prakk...Prakk...Prakk." Suara rotan yang menghantam kedua telapak tanganku yang bagian dalam.


Perih dan panas yang terasa di kulit tangan ku, aku rasa tanganku mulai memerah bahkan berdarah. Aku masih terus memejamkan kedua mataku sambil menahan perih dan panas di area telapak kedua telapak tanganku.


Saat memukul tadi ustadz Thoriq menghitungnya dengan suara lantangnya, menggunakan bahasa arab mulai dari angka 1 hingga tak terasa ke angka pukulan 100.


"Tsamaaniyatun wa tis’uuna ( 98 ) , prakk."


"Tis’atun wa tis’uuna ( 99 ), prakk."


"Mi-ah ( 100 ) , prakk." Hening dan tak ada pukulan lagi yang kurasakan.


Terdengar napas engos-engosan ustadz Thoriq sekilas aku melirik dari celah mataku yang masih ku pejamkan terlihat wajah ustadz Thoriq bercucuran keringan.


Dia saja yang memukulku merasa lelah begitu di tambah emosi amarahnya, bagaimana dengan ku yang menerima pukulan tersebut hingga 100 pukulan.


Tubuhnya terasa lemas lututku seakan semakin melemas tapi aku coba tetap bertahan dengan posisi berdiriku.


"Hukumanmu belum berakhir Lian." Lantangnya masih terdengar sedikit suara engos-engosan nya ustadz Thoriq.


Aku pun mendengar itu langsung membuka kedua mataku dengan tatapan membeliak, dengan mata sudah memanas dan memerah yang bercampur dengan air mata.


"Sekarang ayokk ikut saya ke lapangan sepak bola." Ujar ustadz Thoriq sambil menarik lengan kananku kuat.


"Ustadz cukup ustadz." Aku mendegar dan melihat 3 teman sekamarku berteriak mencoba mencegah, tapi ustadz Thoriq mengabaikan mereka dengan terus menyeretku ke arah lapangan sepak bola yang berada di seberang pondok pesantren ini.


"Jangan ada yang ikut kecuali Abdul, Ahmed dan Ridho." Seru ustadz Thoriq pada akhrinya.


Mereka bertiga yang di sebut oleh namanya oleh ustadz Thoriq adalah santriwan yang sering jadi santriwan suruhan ustadz Thoriq.


Kami telah berada di tengah tanah lapang dari sebuah lapangan sepak bola milik pondok pesantren ini, yang lausnya terbilang luas dan lebar.


"Sekarang kamu berkililing lapangan ini sebanyak 10 kali putaran tanpa henti. Jika berhenti di tengah jalan sebelum genap 10 putaran, maka kamu harus mengelilinginya kembali dari awal sampai 10 putaran tanpa henti." Tutur ustadz Thoriq dengan lantangnya, sungguh aku tak menyangka akan di beri hukuman sebanyak dan separah ini.


Kedua telapak tanganku saja masih terasa sangat panas dan perih bahkan masih berdarah dan memerah, tapi hukuman malah di tambah. Matahari siang ini pun begitu cerah kecerahannya begitu menyengat dan terik sekali.


"Ya Allah semoga aku sanggup menerima hukuman ini." Harapku dalam hati.


"Ayok segera antum laksanakan hukuman kedua antum Liandra Alvian Abraham." Lantang ustadz Thoriq dengan tatapan yang tak berhenti menyala tajam saat menatapku.


"Tapi ustadz apa tidak terlalu berat hukumannya, kan dia sudah di pukul hingga 100 pukulan tadi." Ahmed berucap, dari tatapannya ku lihat ia seakan ingin membantuku.


"Itu sudah menjadi resiko dan balasan bagi seorang pencurinya sepertinya. Hukuman-hukuman ini masih belum seberapa jika dibandingkan hukuman di arab sana yang sesuai syariat." Terang ustadz Thoriq dengan berapi-api lalu menjeda kalimatnya sejenak.


"Kalian tau mencuri itu termasuk dosa besar dan telah di terangkan dalam AL Qur'an dalam surah Al Baqarah


ayat 188, yang bunyinya :


وَلَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوْا بِهَآ اِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوْا فَرِيْقًا مِّنْ اَمْوَالِ النَّاسِ بِالْاِثْمِ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ ࣖ


'Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui.'


ayat 38 yaitu :


وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوْٓا اَيْدِيَهُمَا جَزَاۤءًۢ بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِّنَ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ


'Laki-laki maupun perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) balasan atas perbuatan yang mereka lakukan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha perkasa lagi Maha bijaksana.'


Karena ini bukan di arab tapi di pondok pesantren yang terbilang tempat menuntut ilmu agama, maka dari itu kalian sudah cukup faham dan tahu bukan hukuman-hukuman yang akan di dapat bagi para pelaku dosa atau perbuatan tercela yang termasuk perbuatan mencuri." Terang ustadz Thoriq panjang lebar dengan tegas dan jelas beserta dalilnya.


"Tapi Tadz, saya tidak yakin jika itu bukan perbuatan Lian. Yang kita tahu Lian anak sholeh rajin dan berprestasi di pondok ini. Bisa jadi Lian sedang di jebak dan di fitnah." Ahmed mencoba kembali bersuara dan kedua dari yang lainnya manggut-manggut seakan sepemikiran.


"Kalian jangan terkecoh dengan amalan dan prestasinya selama ini, bisa jadi itu kedoknya saja dan kali ini adalah aslinya dia dan hari ini juga Allah menunjukkannya. Kan sudah jelas dompet-dompet tadi ada di dalam lemarinya. Ustadz Thoriq tak yakin dengan ucapan mereka tadi.


"Ayo Lian kamu segera laksanakan perintah saya tadi!" Ujar ustadz Thoriq dengan nada tinggi dan tatapan sangarnya, tak lupa bilah rotannya yang tadi ia gunakan untuk memukulku ia arahkan ke arah lapangan yang luas dan lebar ini.


Mau tak mau aku kembali melakukan apa yang di titahkan ustadz Thoriq padaku, karena menolakpun jelas tak kan bisa. Aku pun mulai berlari mengelilingi lapangan sepak bola yang luas ini, terus berlari pelan hingga kecepatan maksimal agar segera selesai. Lagian ustadz Thoriq pun akan marah jika aku berlari lambat apalagi berhenti, jika berhenti sejenak saja yang ada aju harus mengulang dari awal lagi. Seperti yang telah di intruksikan ustadz Thoriq tadi.


Aku jelas tak mau mengulang dari awal lagi yang akan membuatku bisa melebihi berlari dari 10 kali putaran jika harus mengulang lagi, maka aku terus lanjutkan lari ku mengitari lapangan sepak bola ini dari ujung sampai ujung lagi hingga 10 kali putaran tanpa jeda.


Kini aku sudah hampir menyelesaikan 10 kali putaran ku, dengan nafas yang sangat engos-engosan aku berlari menuju titik akhir. Setibanya disana aku pun langsung berdiam sambil mengatur napasku yang masih engos-engosan.


"Bagus antum telah menyelesaikan hukuman kedua antum dengan baik dan sempurna. Sekarang ayo kembali ke pondok." Seru ustadz Thoriq tegas dengan wajah datarnya.


Sang ustadz pun berjalan duluan kemudian di susul oleh Ahmed, Abdul dan Ridho lalu yang terakhir di belakang adalah aku dengan langkah gontai sekali dan napas yang masih belum teratur. Aku berusaha berjalan walaupun kaki ini sungguh terasa sakit dan pegal sekali akibat berlari 10 putaran tadi.


Setelah kejadian itu aku tetap mengikuti kegiatan di pondok sungguh setelah dari lapangan, ustadz Thoriq tak memberikan rehat sama sekali. Aku yang mengikuti sholat berjamaah di mesjid pondokpun jadi sorotan tajam dan bahan gunjingan mereka-mereka para santriwan.


"Ih kok bisa ya yang terlihat alim dan berprestasi melakukan pencurian di pondok ini. Padahal kan dia anak orang kaya buat apa pake nyuri." Terdengar jelas secerca sindiran itu ke telinga ku tapi aku hanya diam saja, memasang telinga yang seakan tulis saja sejak kejadian 2 dompet itu di temukan di dalam lemariku.


Sindiran-sindiran itu terus teedengar dari berbagai mulut mereka para santriwan di pondok ini. Aku bukan pelaku pencuri yang sesungguhnya dan sampai detik ini aku masih terus berfikir siapa gerangan yang melakukan hal keji itu terhadapku dan apa motifnya.


Keesokkan harinya setelah kejadian itu aku malah mengalami deman tinggi yang tak kunjung reda hingga aku harus di larikan ke RS terdekat. Pihak pondok juga menghubungi orang tuaku atas sakit yang ku alami.


Jelas orang tuaku terkejut mendengar kabar ku sakit sampai harus di bawa dan dirawat di RS. Karena aku memang anak yang terbilang kuat dan jarang sekali sakit, dan selama sudah mondok selama 2 tahun ini di pondok pesantren ini aku baru sakit 2 kali. Ini lah sakit yang kedua selama aku mondok disini dan ini lah pertama kali aku sakit sampai di bawa ke RS segala, sejak mondok di pesantren ini.


Orang tuaku protes setelah tau keadaanku apalagi sakit deman tinggiku akibat dari 2 hukuman yang terbilang berat itu yang aku terima sebelumnya. Kedua telapak tanganku juga sejak di bawa ke RS baru benar-benar di obati dan di perban dengan baik dan benar sesuai pengobatan, karena selama ini aku sendirilah yang mengobatinya seadanya dan sebisaku.


Namun, ternyata kedua telapak tanganku mengalami gangguan efek dari pukulan yang sangat kuat dan banyak itu menggunakan bilah rotan. Terkadang memang suka bergetar kuat dengan tiba-tiba kedua telapak tanganku sampai aku merasa ketakutan dan menahan perih dan panasnya bekas dari hukuman pukulan itu.


Mama setelah sampai langsung membawaku pindah RS ke RS Surabaya yang lebih baik dan bagus dari ini. Tanganku juga harus melakukan therapy khusus agar kembali normal dan segera sembuh total. Mama tetap tak percaya atas laporan yang mengatakan aku mencuri hingga di hukum sedemikian berat, serta Mama tetap tak terima atas cara ustadz Thoriq memberi hukuman.


Mama hendak membawa hal ini ke jalur hukum tapi aku berusaha untuk membuat Mama tidak melakukannya, walaupun memang bukan aku pelakunya. Tapi Mama meminta ganti dengan memindahkan ku ke pondok pesantren yang lain. Namun, aku pun tak mau karena aku bilang aku tetap mondok disana sampai lulus dan sampai bisa menemukan siapa pelaku sebenarnya.


Karena aku berkata jika aku pergi dari pondok ini itu berarti aku benaran pelakunya, jadi aku harus tetap disini sambil mencari jelas siapa pencuri sebenarnya. Hingga akhirnya aku sudah bisa pulang dari RS dan kembali ke pondok setelah kurang lebih 2 minggu aku di rawat disana sambil therapy kedua tanganku, tapi aku tetep harus melakukan therapy kembali setiap 3 hari sekali sampai satu bulan kedepan lagi kata dokter.


Mama lah nanti yang akan izin dan menjemput ku saat aku ada jadwal therapy. Saat aku sudah kembali ke pondok ternyata ustadz Thoriq sudah di keluarkan dari pondok karena ternyata beliau yang lalai dalam mendidik dan memberi hukuman yang terlalu kejam dan bertubi-tubi dalam satu waktu yang bersamaan kepada fisik seseorang yang terbilang masih labil, karena menurut aturan di pondok ini hukuman yang lebih baik yang mendidik bukan menyiksa. Maka sebab itu pihak pondok pesantren sudah tak bisa mentolerin kelalaian ustadz Thoriq hingga keputusan terkahir tetap harus di keluarkan, dari pada terulang lagi di kemudian hari. Apalagi akibat hukuman yang tidak mendidik itu aku jadi sakit parah hingga di bawa dan di rawat ke RS, jelas membuat pihak pondok pesantren ini semakin tak terima dengan cara didik yang tak mendidik dalam hukuman yang telah di lakukan ustadz Thoriq.


Pihak pondok juga meminta maaf secara resmi dengan surat pernyataan surat bermatrai yang itu semua atas kemauan pihak pondok pesantren, tanpa ada paksaan dari pihak aku dan kedua orang tuaku.


Ternyata faktanya kehilangan itu adalah akal-akalan Davin bahkan dia mengelabui Fatih teman sekamarnya dalam arti dia yang mencuri dengan sengaja dompet fatih lalu menyuruh salah satu dari teman sekamarku dengan imbalan yang cukup mengiurkan bagi Irwan yang bukan dari keluarga yang cukup berada.


Nah Irwan lah yang disuruh Davin agar maletakkan dompet Fatih dan dompet Davin sendiri ke dalam tumpukkan pakaianku yang ada di dalam lemariku. Agar jelas jika aku lah pelaku pencurinya, lalu Davin dan Fatih melaporkan kehilangan dompet.


Tapi Fatih disini juga korban atas akal-akalan Davin si dalang dari kasus pencurian tersebut dengan juga mengatakan uangnya Davin dalam dompetnya hilang sebagian, padahal memang uang di dalam dompet Davin sebenarnya hanya 300ribu. Davin sengaja mengatakan ada 1 juta dan sisanya tinggal 300 ribu agar aksinya lebih meyakinkan dan membuat aku dapat hukuman lebih parah dari pihak pondok.


Dan yang membongkar akal-akalan Davin itu ternyata Irwan sendiri, karena ia merasa bersalah dan tak sanggup membiarkan fitnah ini terus menjadi fakta salah. Davin pun akhirnya di keluar kan dari pondok pesantren, sedangkan Irwan tetap bertahan karena walaupun dia salah tapi ia telah mau mengungkapkan kebenaran yang sesungguhnya.


Hingga akhirnya Irwan meminta maaf secara langsung padaku dan aku pun memaafkannya. Aku memaafkan semuanya. Tapi aku takkan bisa melupakan semua yang mereka perbuat padaku, termasuk perlakuan ustadz Thoriq yang terlalu gegabah dan mengebu-ngebu saat memberi hukuman padaku yang sungguh begitu bertubi-tubi itu. Hal itu pun tanpa sepengetahuan pihak pondok pesantren yang lebih memiliki wewenang atas kejadian tersebut.


Davin memang sudah tak suka padaku sejak awal kami bertemu di pondok ini. Apalagi sejak aku menjadi salah satu idola pondok santriwati yang masih asuhan dan didikkan dari pondok pesantren ini, yang gedungnya juga tak jauh dari gedung pondok pesantren santriwan.

__ADS_1


Gedung pondok pesantren santriwati berada tepat di seberang pondok ini. Aku juga pernah memergoki Davin beberapa kali secara tidak sengaja, yaitu saat Davin diam-diam merokok dan juga diam-diam pacaran ntah dengan perempuan dari mana dan siapa?.


Tapi aku masih diam tidak melaporkan Davin ke pihak pondok. Mau melaporkannya tapi aku malah berfikir, apakah pihak pondok pesantren akan percaya padaku sedangkan aku tidak punya bukti yang jelas. Namun, aku tidak menyangka jika Davin bisa melakukan hal keji itu memfitnah ku. Agar aku bisa keluar dari pondok atau minimal mendapat hukuman berat dari pihak pondok pesantren ini.


Davin memang selalu merasa tersaingi oleh ku dalam segala hal, padahal aku tak pernah beranggapan begitu padanya.


Tokk...


Tokk..


Flashback Off


Ketukan pintu membuatku tersadar dari lamunanku yang tiba-tiba menginggat peristwa tak mengenakan itu zaman aku mondok.


Seorang OB masuk membawakan kopi ke arah ku yang ku pesan tadi lewat intercom, lalu meletakkan kopi tersebut di atas mejaku. Ntah kenapa aku malah bangkit dari kursi kebesaran ku dan melangkah hendak keluar ruangan kerjaku.


Sebelum aku benar-benar melangkah ke ambang pintu dan keluar ruangan ini aku berkata. "Udah kamu minum saja kopinya Jo!" Titahku.


Sekilas ku lihat Parjo dengan ekspresi keheranan dan kebingungan.


"Lah kenapa Pak?" Tanyanya dengan nada heran.


Karena tak biasanya aku melakukan hal semacam ini.


"Saya mau keluar sekarang ada urusan, jadi dari pada mubajir kamu minum aja oke." Tegasku.


Lalu aku melangkah lebar untuk segera keluar dari ruanganku ini sambil mendengar Parjo berucap. "Terima kasih Pak."


Kini aku sudah di dalam mobil melajukan kendaraan roda 4 ku menuju tujuanku yaitu apartement. Ntah mengapa aku tak tenang sekali kali ini fikiranku makin tak karuan, hingga ku putuskan kembali saja ke apartement dan untungnya siang ini kunjungan ke kantor kejaksaan tiba-tiba saja di ganti jadwalnya jadi minggu depan oleh pihak kejaksaan.


Ku lirik sejenak benda yang melingkar di pergelangan tangan kiriku 30 menit lagi adalah jam perkuliahan Alena selesai hari ini. Alena telah kembali masuk di semester barunya yaitu semester 7. Sudah 3 hari Alena usah libur semesternya dan kembali kuliah.


Ku putar arah ke arah kampus dimana Alena kuliah yang tak terlalu jauh dari sini, aku akan menunggunya sampai ia selesai perkuliahannya hari ini. Aku memang selalu minta jadwal-jadwal perkulihannya atau minimal bertanya kembali padanya kapan ia masuk , jam berapa dan selesai jam berapa. Walaupun saat aku tak bisa mengantar jemputnya, jadi aku cukup tau jam-jam dimana ia berada.


Tak terasa aku sudah sampai di sekitaran kampus dimana Alena berkuliah. Aku memarkir roda 4 ku tak jauh di sebelah gerbang kampus yang seringan kosong dan cukup luas tanpa menganggu bagan jalan.


Sambil menunggu aku memainkan iphone ku, tak lama waktu sudah menunjuk jam selesainya perkuliahan Alena hari ini. Aku pun langsung mendial nomor kontak Alena menghubunginya dengan panggilan suara lewat aplikasi berlogo hijau itu.


[ "Assalammualaikum. Lena kamu sudah selesai kuliah hari ini kan?" ]


[ "Wa'alaikumsalam. Iya udah baru aja selesai. Kenapa?" ]


[ "Saya sudah berada di sekitar sebelah gerbang kampus kamu, kita pulang bareng. Bilang sama Vera nggak jadi nebeng saya sudah jemput kamu sekarang, oke."]


Tutt...


Tutt..


Langsung saja ku matikan sepihak panggilan suara yang aku lakukan barusan.


"Ih si om kadang kebiasaan main mati-matiin telepon sepihak secara dadakan kek tadi." Sewot Alena saat sudha masuk ke dalam mobil sambil menatapku kesal, lalu mencium punggung tangan kananku takzim.


Aku tak mempedulikan kesewotannya dan langsung menghidupkan mesin roda 4 ku setelah ku lihat Alena memasang seat beltnya dengan baik. Lalu ku lajukan roda 4 ku menuju apartement.


"Bukannya kata om hari ini ada tugas ke kantor kejaksaan? Kok bisa jemput?" Tanya dengan menatap ku yang fokus menyetir.


"Iya di ganti jadi minggu depan jadwalnya." Jawabku.


"Ooo." Serunya hanya ber O ria.


Sampai juga di apartement kami sudah menuju unit kami. Aku memencet password masuk apartement milik ku lalu masuk dengan mengucap salam dibarengi Alena dari belakang.


___


"Len saya ke gym dulu ya." Pamitkua padanya yang sedang asyik menonton LCD TV di ruang depan yang menayangkan drama korea.


"Ah iya om." Seru Alena yang masih asik dengan tontonannya dan cemilannya.


Akupun langsung melangkah keluar apartement.


Aku memang biasa ngegym di waktu luangku dan aku ngegym juga di tempat fitnes yang ada di apartement ini.


Sebelumnya juga aku jika di Jakarta selalu ngegymnya disini juga, ini jauh sebelum aku membeli unit di gedung apartement ini dan jauh sebelum aku menikah dengan Alena. Makanya aku putuskan membeli salah satu unit apartement disini.


Alena selalu menyediakan infus water di dalam kulkas makanya sejak aku menikah dengannya asal ngegym dan berpergian aku selalu membawa 1 botol infus water. Alena selalu nyetok 2-4 botol dalam sehari dan setiap hari selalu habis dan berganti. Nah itu sejak tau aku juga ikut meminumnya atau membawanya, awalnya Alena hanya menyediakan dan menyetoknya 1-2 botol di kulkas untuk dirinya sendiri.


Awalnya aku iseng meminum infus water yang ada di dalam kulkas yang masih utuh, karena penasaran dengan rasa dan khasiatnya pernah aku baca dan lihat videonya di mensod-mensod. Tapi aku malas membuatnya , eh pas aku coba ternyata rasanya begitu menyegarkan dan memang bagus banget buat tubuh kita.


Kini aku sedang asik dengan kegiatan olahraga ngegymku, dengan ngegym setidaknya bisa merilekskan fikiranku. Selain olahraga ngegym aku juga berenang dan taekwondo, termasuk sky air.


Tapi olahraga itu semua sering aku tekuni dan lakukan saat dulu aku SMA hingga kuliah, setelahnya sangat jarang. Sudah 60 menitan aku berada di tempat fitness ini, kini aku berlanjut ke latihan dengan alat lain.


"Om." Aku menoleh ke sumber suara yang terasa bersumber di sisi kananku, mataku langsung menemukan suara yang amat kukenali itu tepat di sebelah kananku saat aku sedang berlatih iron gym.


"Kamu ngapaen kesini, Alena?" Mataku sekarang semakin heran dan sedikit tebelalak melihat Alena tiba-tiba muncul ke tempat fitness ini dengan stelan sportnya.


Alena mengenakan stelan serba hitam dengan atasan you can see yang bisa dikatakan tanpa lengan dengan bagian dada yang terbuka lebar dan ketat, walaupun tidak menampakkan isi di dalamnya. Baju atasannya juga memperlihatkan perutnya yang mulus dan ramping serta pusarnya, ia pun menggunakan celana shot pendek sekali serta ketat seperti hotpant.


Hal itu memperlihatkan jelas bentuk dan lekuk tubuhnya yang putih bening dan mulus di tambah rambut panjangnya ia ikat satu ke atas memperlihatkan leher jenjangnya. Dengan segera aku menghentikan aktivitas ku yang sedang berlatih menggunakan iron gym. "Kamu ini apa-apaan Alena?" Sewotku.


Lalu menariknya untuk segera keluar dari tempat ini, sebelum keluar aku mengambil koas oblongku tadi yang ku simpan sembarang di atas kursi yang tersedia dan ku pakaikan kepada Alena secara paksa. Ia sedikit meronta, tapi akhirnya pasrah.


Ku ambil botol infus water yang kubawa tadi yang sudah setengahnya habis, lalu ku genggam tangan kanannya Alena dan membawanya segera keluar dari tempat ngegym ini. Aku terpaksa keluar dari tempat ini dalam keadaan bertelanjang di bagian atas tubuhku.


Ku percepat gerak langkahlu dan pererat genggamanku pada tangan Alena agar kami segera menuju pintu utama.


Tempat fitness ini memang di peruntukan untuk laki-laki dan perempuan. Tapi disini lebih sering itu kebanyakan kaum lelaki yang ngegym disini dari pada kaum perempuan yang hanya bisa di hitung oleh jari. Bahkan terkadang sama sekali tak ada kaum perempuannya yang ngegym di sini.


Keluar dari tempat fitness langsung menuju lift, di dalam lift hanya ada kami berdua aku merasa bersyukur. Setidaknya tidak ada laki-laki lain lagi selain aku suaminya yang melihat Alena dalam keadaan seperti ini. Walaupun sudah ku pakaikan kaos oblongku yang cukup kelebaran dan panjangnya di atas lutut Alena, tetap saja aku tak suka ia di pandang dalam keadaan begini.


Ting...


Sampai di lantai 11 dan pintu pun terbuka, suasan sedang sepi dan kembali ku langkahkan kaki dengan cepat.


Titt..Titt..Titt..Titt..


Ceklek.


Kami pun masuk masuk baru ku lepaskan genggaman ku pada tangan Alena. Untung ne perempuan nggak berontak atau bawel saat tadi ku paksa kembali ke apartement.


Alena mengatur napasnya lalu wajahnya seperti prang hendak marah. "Apa-apa sih main tarik dan seret-seret aja?" Ketusnya dengan kesal.


"Lihat pakaian kamu itu? Apa kamu tidak malu?" Cecarku tak kalah kesal dan marah.


"Yeii om aneh deh namanya juga mau olahraga ngegym ya gini lah om stelannya, om sendiri juga itu apa pake nggak pake baju lagi atasannya." Matanya melotot ke arah dadaku dan perut six packku.


"Saya ini lelaki Lena, lagian saya masih pakai celana traning panjang. Kamu perempuan beda, apalagi kamu ini perempuan saya , istri saya. Saya nggak suka istri saya berpakaian terbuka begitu ke luar , apalagi di hadapan kaum lelaki seperti tadi. Kamu juga tumben pake acara ke tempat fitness tadi, heum?" Sebelah alisku terangkat di akhir ucapanku barusan sambil menatap tajam dirinya.


🍬🍬🍬


Bersambung..


Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰

__ADS_1


__ADS_2