TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU
BAB 3


__ADS_3

POV Andra


Namaku Liandra Alvian Abraham usiaku terbilang sudah dewasa bahkan matang yaitu 33 tahun, namun belum menikah bahkan pacar saja tidak punya.


Papaku bernama Ahmad Abraham dan mamaku bernama Saputri Rahmawati.


Jujur aku memang tidak pernah pacaran, karena sibuk dan terlalu fokus urusan pendidikanku dan aku pun selalu mendapat nilai yang sangat baik.


Bahkan setelah lulus sekolah dan lulus kuliah serta lulus pendidikan khusus aku malah makin fokus kepada pekerjaanku.


Sehingga aku dengan sadar atau tidak sadar jadi seperti tidak memikirkan urusan percintaanku. Sehingga sampai detik ini di usiaku yang sudah dewasa aku juga belum menikah ataupun dekat dengan seorang perempuan tidak sama sekali.


Aku adalah anak terakhir dari dua bersaudara. Kakakku adalah laki-laki bernama Abizar Azada Abraham berumur 40 tahun.


Kakakku Abizar yang selalu ku panggil mas sudah berumah tangga, istrinya bernama Kemala Putri mereka dikaruniai dua anak yang sudah besar-besar umurnya. Pertama anak laki-laki dan terakhir anak perempuan yaitu Andi Azada dan Vera Azada.


Pekerjaanku adalah seorang advokat di salah satu kantor Law Firm di bagian negara ini.


Advokat sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pengacara.


Seorang advokat ialah seseorang yang memegang izin memberikan jasa hukum di Pengadilan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehakiman serta memiliki wilayah untuk “beracara” di seluruh wilayah Republik Indonesia.


Sedangkan seorang pengacara ialah seseorang yang memegang izin praktek/beracara sesuai dengan surat izin praktek di wilayahnya yang diberikan oleh pengadilan setempat.


Dan apabila seorang pengacara tersebut berniat untuk memberikan jasa hukum di luar wilayah izin prakteknya, maka ia harus memperoleh izin terlebih dahulu dari pengadilan tempat di mana ia akan beracara.


Namun, tugas seorang Advokat bukan untuk mengalahkan atau memenangkan terdakwa. Tapi memberi pendampingan hukum, membela dan memastikan bahwa seorang klien mendapatkan hak-haknya dalam menjalankan proses hukum. Baik di tingkat peradilan maupun tahapan pemeriksaan kepolisian, dan kejaksaan.


Sampai saat ini aku masih betah sebagai seorang advokat.


Tidak semua orang yang menjajaki pendidikan hukum dapat disebut sebagai advokat, karena ada beberapa persyaratan yang diatur dalam UU Advokat yang harus dipenuhi.


Dan menurut Pasal 2 ayat (1) UU Advokat, yang dapat diangkat sebagai advokat adalah sarjana yang berlatar belakang pendidikan tinggi hukum dan setelah mengikuti pendidikan khusus profesi advokat yang dilaksanakan oleh organisasi advokat.


Organisasi advokat yang diakui di Indonesia adalah Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI).


Nah usai menyelesaikan pendidikan khusus profesi advokat, calon advokat wajib melalui ujian terlebih dahulu dan melakukan magang di kantor advokat selama dua tahun berturut-turut.


Jika telah dinyatakan lulus, maka calon advokat akan diambil sumpahnya di Pengadilan Tinggi tempat domisili calon advokat tersebut sebelum ia dapat menjalankan tugasnya.


Walaupun cukup memakan waktu dan juga otak dalam pengambilan profesi advokat ini, tapi aku puas karena profesi ini termasuk pekerjaan yang mulia atas jasa yang diberikannya untuk para pencari keadilan.


Dan aku selalu berusaha amanah dengan profesiku ini.


Selain sebagai advokat untuk ladang penghasilanku, aku juga mengeluti beberapa bisnis yang dibantu oleh beberapa orang kepercayaanku.


Sekarang aku dan kedua orang tua ku baru tiba di Jakarta,


tepatnya di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta.


Kami pun di jemput oleh mas Abizar langsung.


"Assalamu’alaikum. Mah, Pah apa kabar ? kamu juga Ndra apa kabar ? " Ucap mas Abizar sambil menyalami papa dan mamah secara takzim dan akupun menyalami mas abizar takzim.


"Wa’alaikumussalam..Alhamdulillah kami sehat." Ujar sang papa memberi jawaban " Kamu bi sehatkan beserta keluarga kecilmu disini ?." Tanya papa balik pada mas Abizar.

__ADS_1


"Alhamdulillah baik semua pah, gimana kita langsung ke rumah kan? " Serunya mas Abizar tepatnya kepada mama dan papa.


Karena mas Abizar telah ku beritahu jika aku ke kota ini selain urusan pekerjaan untuk beberapa hari kedepan, nah hari ini aku akan langsung tancap untuk menghadiri sebuah undangan.


Ya undangan resepsi salah satu teman masa kuliahku dulu, yang kini sudah menetap di kota ini. Profesi temanku ini


tidak jauh beda dengan ku, ia juga di bidang hukum tepatnya sebagai pengacara. 


"Ya Mama sama Papa langsung ke rumah saja lah Bi." Kali ini mama yang berucap.


"Ya udah ayok , terus kamu Ndra jadi tancap kondangan?" Ujar mas Abizar.


"Ya mas jadi, mobilnya sudah ready kan mas?" Aku berpesan pada Mas Abizar dari kemarin sebelum aku terbang kemari untuk menyiapkan mobilku yang biasa setibanya di kota ini.


"Sipp beres itu, kamu mau nyetir sendiri atau di sopirin sama Tono. Soalnya tadi Tono yang nyetir mobilmu Ndra , Mas nyetir mobil Mas sendiri." Bebernya padaku.


"Nyetir sendiri ajalah Mas." Tukasku.


"Oke nih, mobilnya di parkiran sebelah sana. " Ujarnya lagi sambil menyodorkan kunci mobilku dan telunjuknya mengarah ke bagian parkiran yang mas Abizar maksud.


Mata dan kepalaku refleks mengarah ke arah telunjuk mas Abizar menunjuk.


"Oya, mas koperku biar aku bawa saja dulu yah." Pintaku.


"Atur aja dah." Seru Mas Abizar lagi.


"Kamu hati-hati di jalan Ndra." Suara mama.


" Iya mah, Andra pergi dulu ya mah, pah , mas Abizar." Pamitku seraya berlalu pergi sambil menyeret koperku yang berwana hitam menuju mobilku yang ada di parkiran.


🍬🍬🍬


Ku lihat wanita paruh baya yaitu bi Minah yang merupakan salah satu ART di rumah ini yang membukakan pintu, setelah aku memencet bel.


"Assalamu’alaikum." Salamku saat telah dibukakan pintu utama.


"Wa’alaikumussalam. Den Andra sudah datang toh, apa kabar den ? ." Ucap bi Minah ramah.


"Alhamdulillah baik bi, bibi apa kabar ? " sapaku balik.


"Alhamdulillah baik juga den , mari den masuk." Timpalnya dengan mencoba meraih koperku , namun aku berusaha menepisnya secara halus.


Biar saja seperti biasa aku yang akan membawa koperku ke atas, kasihan juga jika harus bi Minah yang membawanya.


"Sudah bi biar saya saja yang bawa kopernya." Ucapku.


"Tapi den..._ "


Belum sempat bi Minah menyelesaikan ucapannya akupun berucap kembali padanya.


"Nggak apa-apa bi , saya langsung masuk kamar dulu ya bi." Pamitku langsung pada bi Minah.


"Iya den silahkan." Ucap bi Minah ramah.


Aku pun menaiki anak tangga dengan membawa koperku menuju lantai dua, karena kamarku berada di lantai dua rumah ini.

__ADS_1


Ceklek...


Tiba di depan pintu kamar aku pun segera masuk, kamar ini memang setauku tidak di kunci jika tidak ada penghuninya dan itu agar memudahkan ART untuk membersihkan kamar ini setiap harinya.


Ku letakan koperku di sudut kamar ini, nanti saja aku menyusun pakaianku ke dalam lemari.


Rasanya lelah aku ingin bersantai saja dulu di kamar ini,


karena merasa gerah ku buka 2 kancing kemeja ku dan kini 3 kancing kemejaku yang tidak terkancing yang kancing pertama di ujung atas memang dari awal tidak ku kancing.


Aku pun menggulung asal kedua lengan kemejaku hingga siku lenganku, huft lega rasanya.


Ku raih remote ac di tempat biasa bertengernya remote ac dan ku tekan tombol on pada remote ac tersebut.


Drettt...Drettt....


Ponselku bergetar dibalik saku celana keperku yang berwarna hitam.


Kuraih ponselku dari dalam saku celanaku dan ku lihat layarnya ternyata ada pesan masuk dari aplikasi berwarna hijau itu.


Ku dudukan bokongku di atas empuknya ranjang yang cukup besar ini sambil bersandar di kepala ranjang.


Ketika aku sedang asyik memainkan ponselku di kamar ini tepatnya aku sedang membalas pesan wa dari klienku yang akan ku temui besok di kota ini.


Tetiba tanpa ku sadari dari tadi sekarang terdengar suara seseorang seperti suara perempuan memanggilku om.


"Loh om siapa kok ada di kamar ini?" Kalimat tersebut yang terdengar ketelingaku dan itu jelas bukan suara Vera keponakanku.


Lantas suara siapa dan berani sekali masuk tanpa ketuk pintu dulu, biasanya Vera keponakanku selalu sopan ketuk pintu dulu jika tau di kamar ini ada aku yaitu om kandungnya.


Aku pun mulai mengalihkan pandanganku dari ponselku dan mendogakan kepalaku dan pandanganku menuju ke sumber suara tersebut tadi.


Dan aku pun langsung melihat sosok itu yaitu sosok perempuan dengan balutan handuk kimono selutut di tubuhnya dan handuk yang membungkus rambutnya senada handuknya berwarna putih bersih.


Lah siapa perempuan ini kenapa bisa ada disini dengan busananya seperti habis mandi, apa dia habis mandi di kamar mandi yang ada di kamar ini ?


Kenapa bisa perempuan ini mandi di kamar mandi yang ada di kamar ini ? fikirku heran ?


Kamar ini kan kamar yang biasa aku tempati sebagai tempat istirahat dan kerjaku jika aku sedang ke kota ini.


Karena rumah ini juga besar dan cukup memiliki banyak kamar. Jadi jika aku ada urusan di Jakarta selalu menginap di rumah ini, rumah mas Abizar.


Aku memang sudah terbiasa langsung masuk ke kamar ini, karena kamar ini memang sudah seperti kamar keduaku dan juga rumah keduaku sendiri selain rumah orang tuaku yang ada di Surabaya.


Semua orang dirumah ini pun tau hal itu dari dulu termasuk ART dan beberapa pekerja di rumah ini bukan hanya mas Abizar dan keluarga kecilnya saja yang tau hal itu.


Makanya aku santai saja langsung ke kamar ini tanpa bertanya-tanya lagi. Dan si bi Minah juga tadi tidak ada respon apa-apa saat aku berkata akan langsung ke kamar.


Bi Minah pasti sudah faham maksud kamar yang akan ku datangi dan tempati, seperti biasa.


🍬🍬🍬


Bersambung...


Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰

__ADS_1


__ADS_2