
"Kamu suka nggak kadonya?" Tanya si om dengan nada dingin dan tanpa menoleh ke arahku ,saat ia mulai menarik kursi yang ada di balik meja makan. Jangan lupa dengan wajah datarnya seperti biasa.
Ia pun menjatuhkan bokoknya ke kursi tersebut. "Maaf jika kadonya mungkin tidak sesuai harapan kamu, saya tidak pandai dalam memilih apalagi memberi kado." Timpalnya lagi.
Eh si om lagi curcol apa gimana tadi katanya kok aku dengarnya ia kek lagi curhat colongan atau tepatnya berkata jujur kah?
Aku pun meletakkan kan 2 cangkir teh manis hangat ke atas meja makan kami, setelah sebelumnya menu sarapan kami sudah aku hidangkan di atas meja makan kami. Aku pun lalu duduk di kursiku yang berhadapan dengan si om.
"Terima kasih banyak ya om, Lena suka banget sama kadonya. Kadonya bagus banget, ternyata selera om cukup fashionable dan om cukup pandai dalam memilih sesuatu untuk dijadikan kado." Jujurku karena kadonya sungguh simple tapi juga sungguh elegant dan aku benar-benar suka.
"Syukurlah jika kamu menyukainya, awalnya saya ragu jika kamu bakal suka dengan kadonya." Ucapnya sambil sekilas melirik ke arah ku.
"Apa om yang memilihnya sendiri?" Tanyaku penasaran.
Kami pun mulai menyantap sarapan kami, pagi ini aku menghidangkan sarapan kebab yang memang ku buat sendiri kemarin sore dan aku stok beberapa di freezer untuk sesekali bisa jadi cemilan juga selain sebagai sarapan. Hanya tinggal di masak saja di happy call atau teflon yang sudah di panaskan di atas nyala api kompor beberapa menit, lalu siap di santap.
"Heumm." Jawabnya singkat dan masih ke mode tanpa menoleh ke arah ku.
"Tapi om tau dari mana tanggal ulang tahun Lena?" Sebenarnya dari semalam aku sudah penasaran akan hal ini, setelah aku menemukan kado dan ucapan selamat ulang tahun untukku yang ternyata dari si om, suamiku.
"Itu hal yang tidak sulit Alena."
"Ya jelas pasti om nanya sama Vera atau Mama, atau Papa Lena kan?" Cerocosku menebak, pasti benar.
"Tanpa bertanya pada mereka pun saya sudah bisa tau sendiri." Ucapnya acuh.
Dahiku berkerut dan bibirku mengerucut kecil serta mataku pun melirik serius kepada si om.
Si om melirik sekilas seraya berkata "Kenapa kamu heran begitu?" Dengan alisnya yang terangkat sebelah.
"Bagaimana bisa? Om sa__"
"Ya bisa , kan di setiap buku nikah yang kita pegang masing-masing tertera tanggal lahir kita masing-masing di sana." Potongnya telak dan itu benar.
Aku hanya bisa cenggok dengan jawabannya, apakah lelaki mature ini sepeduli itukah padaku sampai bisa dia melihat tanggal lahirnya dengan jelas di buku nikah kami. Namun aku yakin kepeduliannya bukanlah cinta padaku, hanya sebatas kewajibannya sebagai suami yang baik terhadap istrinya.
It's ok aku rasa itu jauh lebih baik karena bagi ku cinta itu juga tidak ada untuknya dari ku, walaupun ia ganteng dan sebening aktor korea dan baik. Tapi oon banget sih aku kok bisa dia tau tanggal lahirku lewat buku nikah kami. Sedangkan aku malah tidak terfikir sedikit pun kesitu untuk ingin tau tanggal lahirnya.
"Tapi apa kado tersebut tidak terlalu berlebihan om?"
"Berlebihan bagaimana maksud kamu, Alena?" Telisiknya menatap kambali sekilas kepadaku.
Aku mengunyah sarapanku seraya berkata. "Ya itu kan harganya mahal banget, Alena cukup tau dari mereknya saja. Apalagi Alena juga belum pernah pakai jam tangan dengan brand dan harga semahal itu. Kan sayang banget om buang-buang uang sebanyak itu hanya untuk perempuan yang tidak om cintai bahkan di nikahi karena terpaksa."
"Tidak ada yang mahal jika saya mampu dan itu untuk menyenangkan hati istri saya. Lagian apa harus memiliki rasa cinta lebih dulu baru boleh memberi, lantas bagi mereka yang datang ke acara ulang tahun lalu memberi kado kepada yang berulang tahun. Apa mereka itu harus memilikk rasa cinta terlebih dulu, baru boleh memberi kado." Wow jawaban yang di luar dugaanku, si om berucap setelah ia menyeruput teh hangatnya dan meletakkannya di atas meja kembali.
Sedangkan aku hanya membisu mendengar kalimatnya tadi yang cukup panjang tapi telak sekali kepadaku. Hening kembali seperti biasanya hanya pembicaraan seperlunya saja yang akan terjadi. Begitulah selama ini kami tinggal bersama intinya saat hanya kami berdua.
Aku mengunyah sarapan kebab ku lalu melirik ke arah si om yang sibuk juga melahap kebabnya , tapi ia makan menggunakan pisau dan garpu. Sedangkan aku langsung saja dengan tangan telanjang malahap kebab ku.
"Om Lena boleh izin? Nanti sore selepas pulang kuliah Lena mau ke cafe kumpul bareng teman-temen genk, Vera juga ikut kok." Tuturku menjelaskan dengan singkat.
"Emang kalau ada Vera kenapa?" Tanya si om tanpa menoleh ke arahku, ia hanya sibuk dengan sarapannya.
"Maksud om?" Tanya ku balik karena tak faham pertanyaan si om.
"Teman-teman kamu itu yang bakal nanti kumpul perempuan semua atau ada lelakinya juga?" Tanya kembali tanpa menjawab pertanyaan ku tadi dan kembali tanpa menoleh ke arah ku.
"Ya ada cewek dan cowok juga genk kami, kan nggak apa sih om kami cuma makan-makan aja kok sambil ngobrol-ngobrol di cafe. Om kayak nggak pernah muda aja sih." Cerocosku sedikit kesal.
"Kalian berapa orang?" Tanyanya selalu datar dan seringan tanpa menoleh ke lawan bicaranya, mode nyebelinnya selalu cenderung muncul.
"Ada 10 orang sudah termasuk Lena." Jawabku cepat.
"Berapa orang lelakinya?"
'Ih kok kali ini bawel amat sih si om.' Decihku dalam hati.
"4 orang." Jawabku lagi dengan cepat.
Si om menghentikan kunyahannya lalu menatap ke arah ku. "Apa mereka ada hadir di acara resepsi pernikahan kita waktu itu?" Ih apa-apaan sih si om ini? Kok malah kek interogasi gini.
"Iya ada loh om, om ingat nggak yang pas rame-rame waktu itu mereka datang ke atas pelaminan kita menyalami kita bahkan foto bersama kita rame-rame." Terangku menginggatkan.
Si om hanya diam tanpa komentar lagi atau bertanya lagi. Kami pun telah menyelesaikan sesi sarapan kami, aku bangkit dari dudukku mengambil piring bekas sarapannya menumpuknya di atas piring bekas sarapanku lalu membawanya ke westafel dapur yang tak jauh dari meja makan kami.
Beralih mengambil cangkir ku dan cangkirnya bekas minum teh hangat kami masing-masing lanjut seperti tadi membawanya ke westafel lalu mencucinya dan meletakkan di atas rak khusus yang berada tepat di atas depan sisi kanan westafel. Rak khusus untuk menyimpan sementara perabot dapur/masak yang sudah di cuci sebelum nanti di letakkan di tempatnya masing-masing setelah kering dengan sendirinya.
Setelahnya ku hampiri si om berdiri beberapa jarak dari hadapannya. "Jadi gimana ? Om ngizinin kan?" Tanyaku penuh harap.
Si om malah bangkit dari duduknya lalu melangkah meninggalkan ruang makan yang menyatu dengan dapur. Aku pun melangkah mengejarkan dengan langkah lebar.
__ADS_1
"Om kok nggak jawab sih?" Sewotku, habis aku kan butuh jawaban kasi ya kasi nggak ya nggak.
Tapi harapku ya di izinin kan cuma kumpul barmeg temen-temen kampus dan itu kan tidak sering ku lakukan juga, masa kalau begitu aja nggak boleh kan rasanya bagi ku itu aneh.
Si om menghentikan langkahnya saat akan menuju kamar kami , aku pun dengan refleks menghentikan langkahku tepat di belakangnya. Si om pun berbalik badan dan kini kami berdiri berhadapan tepat di depan pintu kamar kami.
"Ok saya izinkan, pulangnya jangan lama-lama apalagi pulang terlalu malam. Nanti kamu kabari saja ke saya dimana dan jam berapa pulang. Agar nanti saya yang jemput kamu." Terangnya lalu berbalik lagi dan melangkah masuk ke kamar kami.
Aku mematung sejenak sampai si om telah masuk dan tak terlihat lagi di hadapanku.
____
Sore ini aku sedang bersama teman-teman sepermainanku ada Vera , Nita , Wina, Santi, Siska, Handy , Danu , Reno dan Suswanto. Kami baru saja sampai dan berkumpul di sebuah cafe yang tidak terlalu jauh dari kampus dan seperti tahun lalu kami selalu merayakan hari kelahiran kami dengan bergantian saling mentraktir bagi yang sedang berulang tahun.
Kali ini adalah giliran ku yang berulang tahun jadi seperti kesepakatan bersama sebelumnya hari ini di hari dan tanggal ulang tahunku aku lah yang mentraktir mereka teman-teman terbaik dan lucu-lucu ku hehe.
Kini kami sudah duduk di kursi kami masing-masing dalam 3 meja yang sudah kami susun jadi satu agar kami bisa tetap bersama-sama menikmati menu pesanan kami nanti bersama-sama. Tau sendiri donk kadang meja dan kursi di cafe itu berukuran sedang malah cenderung kecil dengan 4 kursi yang di susun saling berhadapan dengan di batas meja.
"Ayo pesan sekarang donk gue udh laper nih, cacing-cacing dalam perut gue udah dangdutan nih minta di kasi asupan." Celoteh Siska.
"Sabar napa sih lo Sis lihat lagi rame, waiternya juga masih sibuk. Kita aja baru sampai." Bacot si Wina.
"Mas mas..?" Aku pun memanggil sang waiter cowok yang kebetulan ku lihat sudah tak terlalu sibuk , biar bacot yang sudah lafar segera mingkem.
"Selamat datang mbak-mbak dan mas-mas. Mau pesan apa, silahkan di lihat." Waiter yang ku panggil tadi datang dengan salam pembuka yang ramah dan menyodorkan 2 buku menu kepada kami.
Kami pun telah memesan menu kami masing-masing dan sang waiter pun pergi dengan sebelumnya mengucapkan.
"Terima kasih dan harap sabar menanti pesanannya datang, permisi." Pamitnya di akhir kalimat.
"Eh Len si om suami lo itu nggak marah lo masih hangout atau nongkrong-nongkrong kek gini?" Siska mulai mulai lagi keponya dari semuanya memang dia teman segenk kami cewek yang suka paling kepo dan blak-blakan.
Tapi ada bagusnya juga sih , kadang omongan dia yang ceplas-ceplos n bar-bar itu ada benernya juga hehe.
"Gue udah izin kok sama suami gue kalau mau kemana-mana tanpa dia dan suami gue udah ngizinin asal jangan-jangan pulang malam-malam." Jawabku apa adanya.
"Berarti suami lo nggak masalah donk Len." Timpal Santi.
"Om si Vera ternyata selain ganteng dan tajir baik lagi ya." Sahut Siska.
"Beruntung lo Len biar om-om tapi tampang ganteng bak anak muda versi dewasa plusnya lagi baik pake banget. Nah tu om suami lo kasih kado aja nggak tanggung-tanggung mehongnya." Sambung Wina.
"Hooh mana kalau nggak salah itu arloji yang elo pake salah satu keluaran terbaru deh dari brand arloji Longines Swiss." Siska tak mau kalah ikut nyambung lagi, dan dia juga cukup tau bahkan sangat mengukuti trend dan branded yang lagi hist dan baru.
"Kan suami lo Len kalau nggak salah inget gue di kartu undangannya dulu sama elo kan gelar suami lo SH? Jadi profesinya jadi pengacara ya ke Hotman-hotman itu bukan sih? Kalau iya pantes donk tajir." Kali ini Suswanto ikut dalam pembahasan ini.
Tiba-tiba pesanan kami pun datang ke meja kami oleh dua orang waiter lelaki. Setelah semua pesanan kami datang dua orang waiter pun kembali pergi, dan salah satunya berucap. "Selamat menikmati." Serunya lalu melangkah menjauh dari kami.
"Gimana Len?" Kini Handy yang ikutan kepo.
Ku sikut lengan Vera yang duduk tepat di sebelahku sambil menatap sekilas ke arah mereka. "Lo jelasin deh Ver gue laper nih mau langsung tancam." Elakku halus karena malas menjelaskannya, takut salah-salah karena memang aku belum begitu tau jelas juga bisnis si om selain menjadi ahli hukum. Tapi jujur aku juga memang sudah lapar ingin segera makan.
"Ih elo Len lakik-lakik lo malah gue harus jelasin udah kek jubir aja gue lo buat." Sewot si Vera, aku hanya cengir kuda saja menanggapinya.
Vera pun menyedot lemon teanya lalu mencoba memulai berucap kembali. "Om gue memang bergelar SH tapi profesi tepatnya bukan pengacara melainkan advokat mirip-mirip juga sih tugas n kerjanya tapi ada bedanya beberapa bagian. Selain itu om gue itu juga memiliki kantor law firm di Jkt ini dan juga beberapa bisnis baik di Jakarta maupun di Surabaya. Cuma pada awalnya di Surabaya nanganin kasus-kasus dari kantor law firm milik orang lain. Keknya juga sesekali om gue itu masih nanganin kasus beberapa yang di Surabaya. Ya nggak Len?" Terang Vera lebar kali panjang dengan di akhir kalimatnya menyebutku.
"Iya kurang lebih gitu deh." Jawabku asal dan sekenanya.
"Emang bisnis apa'an suami elo Len merangkap omnya si Vera?" Keponya si Siska.
Vera menjawab sambil mengunyah pelan makanannya. "Lumayan banyak lah salah satunya kuliner selain batu bara."
Yaela gue istrinya si om elo aja gue baru taunya dari elo Ver barusan beberin.
"Wah daebak." Seru Siska lebay dengan mata mendelik udah kek mau keluar gitu 2 biji matanya.
"Wah bener-bener beruntung banget elo Len, biar kata om-om tapi tampang kek anak muda plus ganteng lagi , tajir lagi ,baik lagi. Mau dong gue kalau ada yang begitu atu lagi." Kali ini malah si Wina ikutan lebay.
"Sayangnya kagak ada lagi weks." Ejek Suswanto di akhiri menjulurkan lidahnya sedikit ke arah Wina.
"Ren elo kok diem aja mana suaranya?" Seru Siswanto sambil melirik ke arah Reno.
Ya Reno malah diem aja dari tadi seinget aku sampai sekarang udah tiba di cafe pun, ntah kenapa anak akhir-akhir ini aku perhatikan lebih banyak diemnya.
___
Di lain tempat.
"Assalamualaikum. Sobat gue yang super ganteng." Seruan salam keluar dari mulut pria tampan yang baru saja masuk ke dalam sebuah ruangan kantor.
"Waalaikumsalam." Jawab si pemilik kantor yang duduk di kursi singasananya dan sedang berkutat dengan laptopnya di atas meja kerjanya.
__ADS_1
Pria tampan yang baru saja masuk ke dalam sebuah ruangan itupun langsung menghampiri temannya, ia pun langsung mendudukan bokoknya di kursi yang ada tepat di hadapan temannya tersebut dengan di batasi meja kerja si pemilik kantor.
"Gimana kabar lo Vian? Sorry gue baru muncul lagi, gue semalam baru sampe Jakarta. Biasa dari Bali selama beberapa hari ini ada proyek lagi gue disana." Tuturnya.
"Alhamdulillah seperti yang elo lihat Za gue udah semakin membaik seperti sedia kala." Terangnya masih sibuk dengan laptopnya tak sedikitpun ia menatap ke arah sobatnya yang ada di hadapannya kini.
"Duh ada tamu kok kagak di kasi minuman kalau bisa cemilan juga sekalian." Sindirnya sambil mengusap-usap pelan lehernya.
Andra pun melirik sekilas ke arah sang sahabat lalu kembali lagi fokus ke layar laptopnya tanpa ada 10 jarinya berhenti bermain di atas keyboard laptop tersebut lalu deep voicenya berucap.
"Yaela Za elo aja baru muncul, ya udah gue suruh karyawan gue buatkan minuman seger buat elo. Elo sabar dong." Andra pun menghentikan aktifitasnya dan langsung meraih intercomnya yang terletak tak jauh di meja kerjanya lalu menghubungi orang yang biasa bisa membuatkan minuman dan mengantarkannya ke ruang kerjanya.
Selang beberapa menit.
Tokk..
Tokk..
"Permisi." Satu orang OB masuk ke dalam ruangan tersebut dengan membawa nampan berisikan 1 gelas panjang milk shark di tambah 1 piring kentang goreng berserta saos sambal dan mayonesnya.
Sang OB pun meletakkannya di atas meja tamu yang tersedia di dalam ruangan kerja Andra, karena kini Andra dan Reza sahabatnya sudah berpindah posisi duduk ke sofa yang memang di sediakan untuk tamu atau klient yang datang ke dalam ruangan kerjanya di kantornya ini.
"Terima kasih ya mas." Ucap Reza ramah, sang OB membalas dengan ramah di sertai ucapan. "Sama-sama pak." Seraya menundungkan badannya sedikit lalu melangkah keluar dari ruangan tersebut.
"Nah udah datang sesajen buat elo Za, silahkan di santap." Seru Andra datar sedangkan Reza menanggapinya dengan senyuman mengembang.
"Nah gini dong kan lumayan buat ganjel perut sixpack gue." Kekehnya sambil mencomot kentang goreng dan mencocolnya ke saos sambal lalu melahapnya perlahan.
"Jadi tujuan lo nyasar ke mari cuma mau minta sajen aja gitu Za?" Kelakar Andra lalu ia menyenderkan punggungnya dan kepalanya ke bagan sofa sambil tangan kanannya menyeder di sudut lengan sofa dan tangan kirinya terlentang di atas kepala sofa.
Cengir Reza sambil terus menlanjutkan memakan sesajennya alias camilannya. "Eh jadi kapan lo bikin anak Vian?"
Andra pun menoleh kan sedikit kepalanya dengan dahi berkerut ke arah Reza yang berada di sisi kirinya dengan posisi lawan bicaranya pun agak berhadapan dengannya.
"Maksudnya apa Za?"
"Ya elo kan udah punya bini Vian ya masa kagak bikin anak, bukannya pernikahan elo dengan Alena juga udah sudah hampir setahun. Emang elo nggak pengen punya keturunan?"
"Ya pengen sih Za, tapi kan elo tau sendiri latar belakang sejarah pernikahan gue dan Alena."
"Yahh apa hubungannya?" Dahi Reza berkerut merasa heran dengan ucapan sahabatnya itu. "Vian kalian itu kan sudah Sah ya fine-fine aja dong."
"Kami tidak saling mencintai Za."
"Hahaha." Tawa Reza membahana di ruang kerjanya.
"Yahh elo kenapa malah ketawa Za, emang ada yang lucu." Mimik wajah keheranan serta kebingungan Andra tercetak jelas disana.
"Lucu banget malah tau lo Vian." Jawab Reza masih dengan tawanya yang membahana, sedangkan Andra malah semakin menampilkan mimik keheranannya dan kebigungannya.
Reza berhenti tertawa lalu menyeruput minumannya sejenak. "Masih zaman nikah terus berhubungan halal harus karena dasar cinta, sedangkan status sudah halal. Salut gue sama lo Vian kalau bisa terus menahan hasrat elo itu di saat elo sudah berstatus suami dengan istri sah lo."
"Ya bagi gue cinta itu perlu dalam melakukan hubungan semacam itu Za, dan gue nggak mungkin juga ngelakuin itu sama Alena yang juga nggak cinta sama gue."
"Eh Vian apa lo yakin elo nggak cinta sama Alena atau minimal suka sama Alena?" Sejenak Reza menjeda ucapannya lalu.
"Elo kan udah hidup selama hampir setahun ini sama dia ya masa selama itu elo nggak ada ketertarikan sama dia yang tiap hari bahkan tiap malam kalian satu kamar walaupun tidak ngapaen-ngapaen lebih tepatnya mungkin belum ngapaen-ngapaen menurut gue."
Andra hanya bisa terdiam tanpa bisa menjawab setiap kalimat yang di sampaikan Reza yang serasa cukup ada benarnya juga.
"Terus apa elo yakin Alena nggak ada rasa sama sekali ke elo setelah sekian lama kalian bersama bahkan dia yang terus mendampingi elo di saat elo koma hampir 2 bulan lamanya, dengan perasaan yang bisa jadi bersalah atau apalah. Coba deh elo pastikan dengan jelas gimana perasaan elo itu ke Alena sekarang ini, bisa jadi tanpa elo sadari elo udah mulai suka sama istri elo itu begitu juga sebaliknya. Namun, mungkin Alena juga nggak nyadar atau juga ia malu mengungkapkannya karena ia perempuan."
Lagi-lagi Andra hanya bisa terdiam tanpa bisa menjawab dengan terus berfikir keras dan mencerna setiap kalimat-kalimat yang barusan sahabatnya tuturkan padanya.
"Jangan terlalu cuek Vian sama perasaan lo, ntar kalau elo terlambat menyadari perasaan elo itu karena terlalu masa bodo yang ada penyesalan seumur hidup elo."
"Maksudnya?" Telisik Andra dengan mimik yang begitu terheran dan menelisik ke arah wajah Reza.
"Yaelah Vian Vian ini nih kalau belum pernah jatuh cinta terus sibuk sama urusan pendidikan dan kasus mulu, untung aja pala lo nggak botak di tengah. Alena itu cantik Vian semua orang juga tau jika melihatnya, secara logika sesuatu yang cantik bakal banyak yang tertarik bahkan menyukainya dan bisa jadi ingin memilikinya. Masa elo nggak nyadar dan nggak faham akan hal itu."
Bagaikan skatmat kata-kata yang baru saja terlotar dari mulut si kawan, akan tetapi Andra memang tak memahami atau mungkin belum memahami bahkan bodohnya Andra memang seakan masa bodo akan hal semacam itu. Baginya perlakuan baik dan tanggung jawab adalah yang terpenting dalam pernikahannya selama ini dari pada sekedar cinta.
Apalagi di benaknya selalu menganggap cinta mungkin tak akan pernah ada antara dirinya dan Alena sang istri. Ntah bagaimana juga Andra bisa berfikir seperti itu, seakan ia tak pernah mengalami jatuh cinta atau atau apalah. Tapi Andra memang belum pernah jatuh cinta selama hidupnya selain kepada Mamanya yang menjadi cinta pertamanya dan selamanya dalam artian cinta seorang anak kepada ibunya.
Jangankan jatuh cinta sebelumnya juga sudah di jelaskan secara singkat kalau Andra dekat dengan perempuan saja ia enggan, apalagi pacaran tidak pernah sama sekali. Tapi ia adalah pria normal pada umumnya hanya saja fokusnya selalu pada pendidikan dan karir atau pekerjaannya, hingga membuat dia lupa dan tak ada hasrat untuk jatuh cinta atau pun sekedar pacaran biasa saja. Dan itupun yang membuatnya juga memang tak ingin pacaran apalagi pacaran sebelum menikah, karena yang ia tau pun pacaran sebelum nikah itu tidak di anjurkan dalam islam.
"Woi Vian udah jangan kebanyakan merenung setelah gue banyak berceloteh hari ini, bagusan gerak sesegera mungkin. Oya, gue cabut dulu thanks ya buat sesajennya." Reza menepuk pelan pundang Andra lalu melangkah keluar ruangan kerja Andra.
Andra pun yang baru tersadar hanya dapat memberi respon senyum kecil sekali di sudut bibirnya kepada sang kawan lalu berkata. "Hati-hati Za." Reza pun menjawab dengan deheman. "Heumm." Lalu menghilang dari balik pintu yang kini telah tertutup kembali.
🍬🍬🍬
__ADS_1
Bersambung...
Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰