TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU
BAB 10


__ADS_3

"Bagaimana nak Alena?" Suara itu keluar lagi dan itu jelas suara si kakek gagah itu dengan nada selow.


Apa aku harus jawab sekarang ya , kok jadi terintimidasi gini sih kesannya.


Duh kenapa tetiba jadi kelu lagi sih ni lidahku setiap berhadapan dengan si nenek fashionable itu.


Ayo Alena kamu bisa untuk berkata sesuai apa yang kamu mau, suara itu sekarang.


"Eyang dan eyang putri Alena min__ "


Mendadak si nenek fashionable itu yang sedang duduk di sebelah kanan kakek gagah itu jatuh pingsan ke pangkuan si kakek gagah itu, sebelum apa yang mau aku katakan dapat terlontar dengan sempurna.


"Mama." Suara kaget serempak terdengar dari kakek gagah itu dan si om nyebelin itu.


Spontan kami yang ada di ruang tamu ini kaget dan khawatir. Apalagi si kakek gagah itu dan si om nyebelin itu terlihat wajah mereka sangat tersirat kekhawatiran.


Mama pun menyuruh kami membawa si nenek fashionable itu ke kamar tamu dengan gerakan cepat si om nyebelin itu langsung mengendong si nenek fashionable itu ala bridal stylis.


Setibanya di kamar si om nyebelin itu membaringkan si nenek fashionable itu di atas tempat tidur yang lumayan besar yang selalu ada di kamar tamu rumah kami ini.


Si kakek gagah itu berusaha menyadarkan si nenek fashionable itu dengan mengusapkan minyak kayu putih di ujung hidung si nenek fashionable itu yang tadi sudah mama sodorkan kepada si kakek gagah itu.


Setelah beberapa menit akhirnya si nenek fashionable itu pun siuman dari pingsannya.


Si nenek fashionable itu membuka matanya perlahan dan mengerjap-genjapkannya serta bola matanya menelisik sekitarnya.


"Alhamdulillah." Ucapan hamdalah kami suarakan karena melihat si nenek fashionable itu sudah siuman.


Hingga akhirnya si nenek fashionable itu pun bergerak perlahan hendak bangun hal itupun di bantu si kakek gagah itu dan si om nyebelin itu agar si nenek fashionable itu dapat duduk di atas tempat tidur ini sambil bersandar di kepala ranjang.


"Ini pak dikasih minum dulu ibunya." Mama menyodorkan satu gelas air bening itu kepada si kakek gagah itu untuk di minum si nenek fashionable tersebut.


"Andra." Suara lemah si nenek fashionable itu memanggil nama si om nyebelin itu setelah si nenek fashionable tersebut meminum air minumnya hingga setengahnya tandas.


Si om nyebelin itu pun langsung menghampiri si nenek fashionable tersebut lebih dekat lagi.


Kini si om nyebelin itu pun berjongkok tepat di sisi kanan si nenek fashionable itu dan tangan kirinya menggenggam telapak tangan kanan si nenek fashionable itu serta tangan kanannya mengusap-usap lembut punggung tangan kanan si nenek fashionable itu


Sedangkan si kakek gagah itu masih duduk baik di pinggiran tempat tidur tepat di depan si nenek fashionable itu yang juga duduk bersandar di kepala tempat tidur.


Aku, Mama dan Papa masih betah berdiri di depan mereka bak penonton yang anteng dan setia.


" Andra " Si nenek fashionable itu menyebut kembali nama si om nyebelin itu masih dengan suara lemah.


"Iya Mah ini Andra." Ucap si om nyebelin itu dengan suara lembut tanpa melepaskan genggamannya dari tangan kanan si nenek fashionable itu.


Tak ada jawaban atau pun suara tiba-tiba saja hening untuk beberapa saat.


Hingga akhirnya si om nyebelin itu bersuara kembali dengan lembutnya.


"Apakah Mama baik-baik saja atau ada yang sakitkah Mah? Bagaimana kalau kita ke rumah sakit saja sekarang atau Andra panggilkan dokter kemari ya untuk memeriksa keadaan mama." Sarannya si om nyebelin itu penuh perhatian dan juga rasa khawatirnya.


Si nenek fashionable itu pun menggelengkan kepalanya tanda tak mau dan berucap.


"Insya Allah mama nggak apa-apa." Ucap si nenek fashionable itu dengan suara lemah.


"Tapi mah alangkah baiknya kita periksakan dulu keadaan mama Andra khawatir karena mama sampai pingsan begini tadi." Tawar si om nyebelin itu masih dengan suara lembut namun rasa khawatir itu memang terlihat dari expresi dan nada suaranya.


"Iya mah kita periksakan dulu ya keadaan mama?" Suara si kakek gagah itu mencoba membujuk.


Lagi-lagi si nenek fashionable itu menggelengkan kepalanya tanda tidak mau hingga pada akhirnya si nenek fashionable itu malah memanggilku.


"Nak Alena." Panggilnya namaku dengan lembut tapi nada suaranya lemah seakan si nenek ini kelelahan .


Semoga si nenek fashionable itu baik-baik saja harapku sedikit cemas.


Aku pun refleks menoleh kepada si nenek fashionable itu dan berkata.


"I..iya eyang putri." Jawabku gugup dan binggung serta was-was.


"Kemarilah nak." Si nenek fashionable itu menyuruhku menghampirinya masih dengan suara lembut dan lemah.


Matanya menatapku lembut dan tangan kirinya melambai ke arahku.

__ADS_1


Aku pun langsung berjalan perlahan menghampiri si nenek fashionable itu dan seketika itu pula si om nyebelin itu dan si kakek gagah itu beranjak dari posisinya memberi akses agar aku bisa leluasa dan nyaman menghampiri dan berhadapan lebih dekat dengan si nenek fashionable itu.


Kini aku telah duduk di pinggir tempat tidur tepat di hadapan si nenek fashionable itu, si nenek fashionable itu menatapku lekat dan lembut kedua tangannya mengapai kedua telapak tanganku yang tergeletak di atas kedua pahaku yang tertutup celana santaiku yang panjang.


Kedua telapak tanganku di genggam erat dan lembut oleh si nenek fashionable itu aku hanya pasrah merasakannya.


Hingga si nenek fashionable ini pun bersuara kembali.


"Bagaimana nak Alena, kamu menerima kan lamaran ini? Kamu mau kan menikah dengan Andra, menjadi istrinya?" Tanya si nenek fashionable itu langsung.


Deg...


Sungguh aku terkejut kembali dengan ucapan si nenek fashionable itu, aku jadi bingung.


Si nenek fashionable itu terus dan terus menatapku, aku tak tau pasti arti dari tatapannya.


Hingga akhirnya aku menundukan kepala ntah apa yang kurasakan yang ada aku binggung tak menentu serta was-was.


Haruskah aku menerimanya dan menikah dengan si om nyebelin itu , menjadi istri si om nyebelin itu ?.


Kan gini nih lidahku selalu kelu jika berhadapan dengan si nenek fashionable ini apalagi saat ini secara langsung dan sedekat ini.


"Nak Alena apakah diam kamu ini tanda kamu menerima lamaran ini kah?" Tanyanya si nenek fashionable itu lagi pada ku tetap dengan suara lembut dan lemahnya.


Namun si nenek fashionable itu seakan memprediksikan semuanya sesuka hatinya seperti yang sebelum-sebelumnya yang terjadi antara aku dan si om nyebelin itu.


Aku mendongak menatap si nenek fashionable itu dengan expresi kembali kanget dengan ucapan-ucapannya barusan.


Namun aku juga malah tak bisa berucap tidak atau pun minimal menggelengkan kepalaku juga tidak bisa, ntah kenapa aku jadi seperti patung dan orang bisu saat ini di hadapan si nenek fashionable itu dengan jarak sedekat ini.


Dan si nenek fashionable itu pun kembali memanggil si om nyebelin itu menyuruhnya untuk menghampiri kami.


"Andra kemarilah." Titah si nenek fashionable itu pada si om nyebelin itu dengan menatap ke arah si om nyebelin itu tanpa melepas genggamannya dari kedua telapak tanganku.


Si om nyebelin itu pun langsung berjalan menghampiri kami , ia pun berjongkok kembali seperti sebelumnya dengan kaki kirinya yang telapak kakinya menapak sempurna lantai sedangkan kaki kanannya di tekuk dengan tumitnya menopang sebelah bokoknya serta lutut kanannya menapak di lantai.


Dan kedua tangannya bertengger di atas kedua pahanya yang terbungkus oleh celana pajangnya yang berwarna hitam dengan posisinya berada di sisi kanan si nenek fashionable itu yang juga berhadapan denganku.


Si kakek gagah itu dan kedua orang tua ku hanya diam di posisi mereka masing-masing bak penonton setia menyaksikan adegan kami yang ada di hadapan mereka.


Aku hanya diam tak bersuara kemudian menundukkan kepalaku dan si om nyebelin itu hanya melihat ke arah si nenek fashionable itu.


"Kalau begitu kita tetapkan saja segera tanggal akad nikahnya dan resepsinya. Bagaimana pak Sutris dan bu Lilis?" Kali ini si kakek gagah itu yang berucap seakan menegaskan jika lamaran ini telah ku terima, walaupun nyatanya aku tidak menjawab iya ataupun tidak.


Jawaban yang sesungguhnya seakan benar hanya berlaku dari mulut si nenek fashionable ini bukan dari diriku.


" Apa tidak terlalu terburu-buru menetapkan tanggal pernikahan mereka, mengingat Alena anak kami masih berkuliah pak Abraham?" Papa mencoba mengingatkan dan memastikan


"Saya rasa tidak juga pak Sutris mereka tetap bisa menikah dan nak Alena juga tetap bisa berkuliah seperti biasa. Sudah cukup ada kok di zaman sekarang berkuliah dengan status menikah." Si nenek fashionable itu yang bersuara kembali menyakinkan papa walaupun masih dengan suara lemahnya.


Sepertinya si nenek fashionable ini memang masih belum cukup baik sejak pingsan tadi. Namun tekadnya ingin menikahkan anaknya yang nyebelin iti denganku tetap ada dan mengebu-gebu.


"Tapi apakah mereka akan siap dengan hal tersebut nantinya?" Papa kembali melontarkan pertanyaan yang seakan papa merasa tak yakin akan hal tersebut.


"Insya Allah mereka siap pak Sutris. Baiknya jangan menunda-nunda hal baik ini, karena pernikahan termasuk ibadah bukan dan untuk penyempurkan agama kita serta supaya mereka tidak pacaran yang takutnya akan berunjung dosa besar." Tukas si kakek gagah itu menegaskan dengan nada santai dan diiringi seutas senyum.


" Kalau begitu kita pulang pa, mama sudah baikan kok." Ujar si nenek fashionable itu sambil berusaha bangun dari duduknya, aku dan si om nyebelin itu pun membantunya.


" Baiklah kalau begitu pak Sutris dan bu Lilis kami pulang dulu , nanti akan saya kabari untuk kita mendiskusikan perihal pernikahan anak kita dan saya mohon maaf jika kedatangan kami yang mendadak ini merepotkan kalian semua di tambah lagi dengan kejadian istri saya yang pingsan tadi." Celoteh pajang kali lebar si kakek gagah itu hendak berpamitan.


"Apakah ibu sudah tidak apa-apa?" Mama pun mencoba menghampiri si nenek fashionable itu yang sudah mulai berjalan menuju pintu kamar hendak keluar dengan di gandeng si om nyebelin itu.


"Insya Allah saya tidak apa-apa bu, terima kasih." Ucapan tersebut disertai seutas senyuman sebagai respon dari si nenek fashionable itu.


Kami pun sampai di ruang tamu dan hampir menuju pintu utama.


"Pak Sutris, bu Lilis dan nak Alena kami pamit pulang ya terima kasih untuk waktunya malam ini." Ucap si kakek gagah itu berpamitan.


"Mari om , tante dan Alena assalamu’alaikum." Ucap suara lirih mungkinpun tak terdengar oleh si om nyebelin itu.


🍬🍬🍬


Hari berganti hari dan waktu seakan berjalan begitu cepatnya. Setelah mendadak kedua eyangnya Vera datang bersama dengan si om nyebelin itu ke rumahku untuk melamarku.

__ADS_1


Beberapa hari kemudian kami pun di undang untuk makan malam bersama di kediaman rumah Vera. Di saat berlangsungnya acara makan malam bersama tersebut di kediaman kedua orang tua Vera.nPara tetua mendiskusikan perihal pernikahanku dan si om nyebelin itu.


Hingga keputusan yang di ambil adalah melaksanakan akad nikah terlebih dahulu secara kekeluargaan saja dan untuk resepsinya akan di selenggarakan setelah aku melaksanakan ujian akhir semester empatku ini.


Ntahlah semua serasa berjalan begitu saja tanpa bisa ku tolak.


Dan persiapan untuk ijab kabul nanti semua sudah di urus oleh om abizar papanya Vera bersama dengan kakek gagah itu siapa lagi kalau bukan eyangnya si Vera.


Namun sebelumnya papa pernah bertanya padaku saat kami selesai makan malam bersama. Dan kala itu juga adalah malam setelah kedua eyangnya Vera dan si om nyebelin itu pulang usai bertamu ke rumahku yang teryata untuk melamarku beberapa hari lalu.


"Alena ayo kita bicara dulu di ruang keluarga." Ucap papa lembut tapi tegas.


Aku pun langsung menurut saja dan setelah papa, mama dan aku duduk di sofa ruang keluarga papa pun kembali berucap.


" Alena bagaimana kamu bisa kenal dan berhubungan dengan Andra hingga akhirnya Andra itu datang kemari bersama kedua orang tuanya untuk melamar kamu nak?" Aku pun langsung di cercai berbagai pertanyaan tersebut oleh papa dengan nada seriusnya.


Hening seketika asli aku tak tau harus menjawab apa dan bagaimana ?


Aku menundukkan kepala ku memandang ke arah lantai dimana terlihat jelas jari-jari dan kedua kakiku menapak di atas lantai ruangan ini.


Aku masih membisu berfikir sejenak untuk dapat menjawab cercaan dari pertanyaan papa taid smeua kepadaku.


"Kamu tidak sedang hamil di luar nikahkan Alena?"


DEG...


Kalimat itu dan pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir papa sebelum aku hendak mengeluarkan suara untuk menjawab cercaan dari pertanyaan-pertanyaan papa sebelumnya.


Kenapa papa bisa berfikir seburuk itu padaku apakah gelagatku terlihat seperti yang papa tuduhkan barusan?


Pacaran saja aku tidak pernah bahkan teman lelakipun aku tidak ada yang terlalu dekat.


"Huss Papa jangan bicara aneh-aneh tentang si eneng atuh?" Cerca mama merasa tak terima akan ucapan papa barusan.


" Ya gimana papa nggak berfikir aneh dan berucap aneh juga, papa curiga soalnya lamaran barusan itu mendadak sekali ma di tambah lagi yang melamar anak kita itu ternyata om kandungnya Vera sahabatnya anak kita dan lamaran itu datang setelah anak kita ini kita izinkan menginap di rumah sahabatnya itu."


" Apa jangan-jangan waktu kamu menginap di rumah Vera kamu melakukan hal tidak senonoh bersama Andra omnya sahabat kamu itu ? Sehingga kalian di paksa menikah karena sudah ketangkap basah oleh keluarganya?"


Semua cercaan yang lebih dominan tidak benar itu barusan keluar begitu saja dari mulut papa tanpa di rem ataupun di saring.


Ya Allah ini apalagi kenapa semua cercaan papa barusan berasa copyan dari tuduhan si nenek fashionable itu.


"Nah kamu kenapa diem aja Alena , pasti apa yang papa ucapkan itu semua barusan benar kan dan kamu nggak bisa menjawab atau menyangkalnya karena itu bemar adanya bukan?" Papa terus mencercaku dengan tuduhan-tuduhan yang tak jauh beda seperti yang di prediksikan dan lontarkan si nenek fashionable itu padaku termasuk pada si om nyebelin itu.


Papa sama si nenek fashionable itu kenapa fikirannya sebegitunya seh sama anaknya sendiri.


"Papa naha kitu pisan ngomongna sama mikirna , rasanya nggak mungkin nak Andra itu lelaki bej*t yang mau berbuat tidak senonoh. Da ari di lihat-lihat biar baru pertama kali bertemu mama teh bisa menilai kalau si nak Andra eta teh terbilang lelaki sholeh pan papa juga udah ketemu duluan pertama kali di mesjid saat si nak Andra itu sholat di mesjid kompleks kita dan eta si nak Andra juga pan yang sudah membantu menemukan kunci motor papa." Jelas si mama panjang kali lebar kepada pada merasa tak terima dengan cercaan buruk papa kepadaku termasuk kepada si om nyebelin itu.


Papa tak menjawab malah seketika diam membisu mungkin papa merasa apa yang mama jelaskan barusan cukup masuk akal bagi papa dan itu bukan hanya cukup masuk akal melainkan memang itu faktanya.


Kalau aku dan om nyebelin itu tidak berbuat aneh-aneh apalagi perbuatan tidak senonoh jelas tidak sama sekali.


"Neng kamu teh jangan diam aja atuh, coba jelaskan secara singkat saja bagaimana kamu bisa mengenal omnya Vera hingga si omnya itu melamar kamu neng?" Mama sepertinya penasaran.


"Ya bisa atuh ma Lena kenal dengan omnya Vera pan Lena cukup sering main ke rumah Vera walaupun selama ini tidak pernah sampai menginap di rumah Vera. Dan satu lagi Lena tidak berbuat macem-macem apalagi sampai hamil di luar nikah tidak sama sekali." Sebagian besar dari apa yang ku paparkan barusan ini kepada mama sekaligus papa kan memang itu kenyataannya.


Walaupun selama ini aku memang cukup sering main ke rumahnya Vera sahabatku tapi memang selama itu juga baru kali ini aku bisa menginap di rumah Vera, lebih tepatnya baru di izinkan menginap di rumah orang lain.


Itu juga karena di rumah Vera sahabatku yang kedua orang tua ku sudah cukup mengenal Vera dan kedua orang tua Vera serta kembarannya Vera si Andi.


Namun jujur selama ini pun walau aku cukup sering main ke rumah sahabatku si Vera, tapi selama itu juga setiap aku main ke rumah Vera memang aku tidak pernah bertemu atau melihat omnya Vera tersebut dan selama itu juga Vera tidak cerita soal omnya itu.


Jadi aku jelas tidak tau seperti apa omnya si Vera itu dan siapa namanya juga aku tidak tahu dan begitu juga sebaliknya.


Hingga kejadian tak mengenakkan itu pun malah terjadi tanpa di duga.


Mama pun hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali sebagai respon atas penjelasan dan penegaskan singkatku tadi.


" Sudah atuh pa mungkin jodoh si eneng memang sudah waktunya sekarang datang , mama rasa tak ada yang salah." Ucap mama lagi menenangkan papa dan papa hanya diam tanpa menjawab.


🍬🍬🍬


Bersambung..

__ADS_1


Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰


__ADS_2