
Aku berjalan sedikit berlari untuk masuk setelah tiba di depan RS dan mulai mencari dimana keberadaan si om nyebelin itu. Masuk ke ruangan IGD yang ternyata si om nyebelin masih berada disana setelah aku bertanya kepada salah satu perawat yang berjaga di bagian resepsionis.
Perasaanku cemas dan deg degkan, bagaimana keadaan si om nyebelin? Tadi aku mendapat telpon dari nomor tidak di kenal yang merupakan seorang polisi yang mengatakan bahwa, saudara Liandra Alvian Abraham mengalami kecelakaan dan kini sedang berada di RS xxx.
Aku yang mendengar kabar itu jelas terkejut dan panik, tanpa banyak berfikir aku langsung mengambil kardiganku yang ada di dalam lemari. Bergegas aku memakai kardiganku yang berwarna hitam, aku pergi hanya memakai piyama yang seragam dengan celana panjangnya dan memakai sendal jepit. Aku keluar apartement setelah mengunci pintu dan mengambil mobil ku di basement.
Dengan rasa cukup was-was aku beranikan diri mengendarai mobilku sendiri dengan laju yang lebih cepat dari biasanya. Waktu sudah sekitaran jam setengah sebelas lewat malam ini malah terbilang hampir menuju jam 11 malam.
Hujan sudah reda tetapi jalanan cukup licin dan sangat basah. Setelah mencari di bagian depan dalam ruang IGD RS ini ternyata tak menemukan si om nyebelin, aku melangkah menuju tirai paling ujung.
Srettt...
Ku sibakkan tirainya terlihatlah disana pria berbaring di atas brankar aku pun menghampirinya, kini aku berada tepat di sebelah pria yang terbaring dengan kedua matanya tertutup rapat. Ternyata disini si om nyebelin berada, ku lihat ada perban di kening sebelah kirinya yang di timpa oleh plester.
Aku tertengun melihat si om nyebelin tak sadarkan diri, cemas itu sudah pasti di tambah aku masih merasa bingung. Ku tatap intent wajah si om nyebelin, ada rasa sedih tiba-tiba menjalar ke dadaku, mataku juga mulai berkaca-kaca.
"Om bangun Om? Om tidak apa-apa kan?" Lirihku sambil memegang lengan kirinya.
Terlihat juga kerah kemeja putihnya yang sebelah kiri kotor oleh noda merah. Sepertinya darah yang keluar dari luka di kening kirinya menetes hingga mengenai kerah bajunya, hingga mengering begitu saja.
Sebenarnya apa yang terjadi , kenapa si om bisa mengalami kecelakaan?
Apakah si om nyebelin ada luka dalam atau tidak?
Walaupun ku lihat luka luarnya tidak terlalu parah. Hanya aku masih berfikir apakah keningnya terluka parah dan harus di jahit atau tidak? Aku masih menerka-nerka sendiri.
Sungguh aku merasa cemas dan sedih melihat si om seperti ini.
"Om bangun Om. Kenapa Om bisa kecelakaan begini?" Suaraku agak bergetar sepertinya mataku yang berkaca-kaca mulai terasa panas dan ingin mengeluarkan cairan asin itu.
"Maaf apakah nona ini adalah kerabat mas ini?" Tiba-tiba ada sebuah suara mengintruksiku.
Aku menoleh ke sumber suara dan terlihatlah seorang laki-laki tampan tidak tua tidak juga muda, terbilang umur sekitar 28 tahunan terkaku.
Lelaki yang bertanya barusan menggunakan jas putih khas jas dokter gitu, kurasa ya pasti lelaki ini salah satu dokter disini.
"Ah iya." Ucapku dengan mengangguk, aku pun mencoba menghalau agar cairan bening itu tidak keluar begitu saja.
"Saya dokter yang tadi menanggani mas ini." Ungkapnya kemudian.
"Bagaimana keadaannya, dok?" Tanyaku cemas dan penasaran.
Ku lihat dari name tagnya dokter lelaki ini bernama dr. Leo Amarudin, Sp. PD.
"Keadaannya tidak parah, hanya sedikit luka ringan di keningnya. Namun , ada beberapa resep yang harus di tebus. Nanti Nona bisa ke apotek yang buka 24 jam di RS ini." Terangnya panjang lebar , lebar panjang seraya menyerahkan secarik kertas.
Akupun menerimanya dan ya kertas ini adalah resep yang terbaca sekilas oleh ku.
"Alhamdulillah, kalau tidak ada luka parah yang berarti. Tapi memang tidak ada yang parah kan dok dan luka di keningnya tidak di jahit kan dok?" Aku bawel bertanya untuk memastikannya, karena aku masih cemas.
"Insya Allah tidak parah dan tidak ada tindakan jahit menjahit di kening mas ini. Mas ini tidak sadarkan diri karena syok dan itu biasa terjadi , karena mengalami kecelakaan secara mendadak. Insya Allah sebentar lagi akan siuman dan mas ini bisa langsung pulang." Dokter tersebut pun menjelaskan lebih lagi, aku pun jadi merasa cukup lega.
"Maaf apakah adek ini keluarganya Bapak ini?" Tiba-tiba seorang bapak-bapak berseragam polisi datang dan bertanya padaku.
Sebelum menjawab pertanyaan PakPol barusan , mataku sekilas menangkap pergerakan kecil si om nyebelin yang sepertinya ia mulai sadarkan diri. Si om nyebelin mengerjapkan matanya lalu kedua bola matanya terlihat memindai sekitar ruangan ini.
Si om nyebelin pun berusaha bangun, aku membantunya dengan cara memegang lengan kirinya seraya pungungnya.
"Alhamdulillah, akhirnya om sudah sadar." Ucapku lirih tepat di sebelahnya.
"Bagaimana keadaan masnya, apakah merasa pusing di kepala anda?" Tanya dokter muda tersebut.
__ADS_1
Si om nyebelin masih terdiam sambil pandangannya lurus ke depan.
"Saya tidak apa-apa , hanya sedikit pusing." Ucap si om pada akhirnya dengan expresi datarnya itu.
"Nanti masnya bisa minum resepnya setelah makan. Itu resep sebagai pereda sakit di kepala dan badan mas, efek kaget yang cukup kuat saat mobil mas di hantam oleh beda besar dan kepala mas terkena benda berat yang sepertinya terjatuh dari atas. Jangan lupa di minum obatnya sampai habis dalam beberapa hari kedepan." Terang si dokter muda itu dengan sopan dan ramah.
"Terima kasih ya dok." Ucapku pun ramah kepada si dokter muda.
Si dokter muda ini tersemyum dengan anggukan ke arahku, lalu dokter muda itupun pamit dari ruangan ini. "Kalau begitu saya permisi, semoga cepat sembuh ya om nya." Aku hanya nyegir kuda menanggapi kata terakhir yang di ucapkan si dokter muda tersebut.
Si om nyebelin hanya berexpressi datar saja akan ucapan si dokter muda tadi, yang kini telah pergi dari ruangan ini.
"Maaf pak Liandra Alvian Abraham, syukurlah anda sudah sadarkan diri. Apakah bapak bisa kami mintai keterangan atas kejadian yang menimpa bapak?"
Si om nyebelin hanya memberi anggukkan sebagai jawabannya.
"Apakah anda mengingat kejadian yang terjadi di TKP?" Tanya si PakPol.
"Saya hanya ingat jika ada truk yang terus malaju ke arah saya, dan setelahnya truk itu bisa beriringan dengan kendaraan saya bahkan terlalu dekat hingga gerak dan laju kendaraan saya tak seimbang. Hingga saya mau tak mau menabrak pembatas jalan dan truk itu menghantam ke bagian samping mobil saya tepat di kemudi saya hingga saya melihat samar-sama benda berat jatuh menembus kaca pintu mobil yang saya kemudikan. Benda berat itu mengenai bagian kepala saya dan akhirnya semua gelap bagi saya." Si om nyebelin menjelaskan kronologi yang ia ingat.
Aku terkejut sekaligus heran setelah mendengar cerita si om nyebelin atas insident yang ia alami kepada pak polisi tersebut. Aku jadi berfikir apa coba maksudnya si sopir truk itu melakukan hal itu kepada si om nyebelin? Ntah sengaja atau tidak kami pun belum tau.
"Sang sopir truk itu tidak terlihat saat kami telah tiba di TKP, menurut saksi yang berada di sekitar kejadian yang melihat insident tersebut. Bahwa sang sopir melarikan diri setelah insident terjadi. Kami masih menyelidiki dan mencari sopir truk tersebut. Mobil bapak juga bagian depannya cukup rusak parah. Namun, bapak Liandra juga memakai sabung pengaman dan mengemudi sesuai aturan. Jadi ini bisa saja unsur kesengajaan sang sopir truk tersebut." Terang sang pak polisi yang sudah seumuran dengan Papanya Vera sahabatku.
Si om hanya mangut sekilas mendengar pempaparan dari pak polisi ini.
"Tolong adek tuliskan nomor telepon yang bisa kami hubungi di sini!" Pak polisi ini meminta sambil menyodorkan sebuah kertas dan pulpen kepadaku.
Terlihat di atas kertas tersebut tertera data diri si om nyebelin , aku melirik ke si om nyebelin.
"Kamu tulis saja nomor kontak saya." Titah si om nyebelin kepadaku.
Akupun mengeluarkan gawaiku mencari kontak si om nyebelin untuk mecatatnya, karena aku nggak hafal nomor kontak si om nyebelin.
"Saya rasa cukup sekian dulu yang saya tanyakan kepada bapak Liandra, terima kasih atas kerja samanya. Nanti kami akan hubungi lagi jika ada perkembangan." Pamitnya setelah berjabat tangan dengan si om nyebelin.
Dan setelah aku pun mengucapkan terima kasih kepada pak polisi tersebut.
"Om tunggu disini dulu ya Lena mau mengurus administrasi dan menebus resepnya terlebih dahulu sebelum pulang." Eh tunggu keknya aku lupa bawa dompet deh, sangkin panik dan buru-burunya.
Gimana ini , ya masa saat situasi begini aku minta uang sama si om nyebelin. Kasihan juga kan ia lagi sakit karena insident aku malah malak , ih malu juga kali begini kejadiannya.
"Oya, maaf pak Liandra ini dompet dan ponsel bapak tadi karena saya keburu ke kamar mandi karena kebelet saya jadi lupa mengembalikan dompet bapak dan ponsel bapak." Tiba-tiba perawat paruh baya datang menghampiri kami dengan menyerahkan dompet dan gawai si om nyebelin.
"Terima kasih." Ucap si om nyebelin tetep datar.
Si perawat tersebut pun permisi dari hadapan kami.
"Pake ini." Si om nyebelin menyodorkan sebuat card berwarna hitam kepadaku.
"Ah maaf om dompet Lena sepertinya tertinggal efek buru-buru jadi kelupaan." Ucapku merasa nggak enak juga.
"Ya udah sana pinnya kamu tau nggak Lena?" Aku menggeleng pelan.
Kamu inget aja tanggal ijab kabul kita ucapnya pelan tapi jelas terdengar ke daun telingaku.
Tanpa banyak kata aku segera ke bagian administrasi dan apotek RS ini.
____
"Jangan beri tau siapapun atas insident yang saya alami ya Alena, apalagi sama keluarga saya." Titah si om nyebelin tegas.
__ADS_1
"Kenapa gitu om?" Tanyaku heran.
"Saya kan baik-baik saja, jadi tak perlu memberitahu siapun terutama keluarga. Saya hanya tak ingin orang tua saya nantinya khawatir itu saja."
"Oo, gitu." Singkatku.
Oo, jadi itu alasan utama si om. Sepertinya memang nenek fashionable itu bakal heboh x ya kalau tau anak bungsu kesayangannya ini mengalami kecelakaan.
Duh apa kali ya aku ngatain Mama mertua ku seperti itu, tapi memang mama mertua ku masih fashionable walaupun berhijab dan sudah tua hehe.
Kami pun akan segera tidur setelah si om nyebelin meminum obatnya beberapa menit lalu dan sebelumnya tadi setibanya di apartement si om nyebelin pun membersihkan dirinya dan berganti baju lalu melaksanakan sholat isya terlebih dahulu.
🍬🍬🍬
"Gimana nak Alena sudah ada tanda-tanda akan hamil belum?" Aku tersedak saat masih mengunyah makanku.
"Uhukkk..Uhukkk.."
Si om nyebelin yang duduk tepat di sebelahku dengan sigap menyodorkan air mineral ke hadapanku, aku meraihnya dan segera meminumnya lahap. Si om nyebelin pun mengusap-usap punggungku lembut setelah aku mengkandaskan minumanku.
"Hati-hati dong Nak Lena makannya." Kata nenek fashionable itu lembut o'ops maksudnya Mama mertua, aku hanya senyum kikuk sambil mengangguk kecil.
Duh aku jadi ngeri mendengar kata hamil, jangan dulu deh aku masih kuliah jangan sampai hamil dulu. Kalau hamil kan mau tak mau aku harus cuti kuliah dan itu akan berakibat aku semakin lama untuk dapat gelar S1 ku.
"Kamu masih muda Ndra apalagi Alena, harusnya cepat jadi dong pembuahannya. Makanya tiap malam dong buatnya kan udah tinggal berdua aja di apartement lagi, kamunya juga Ndra jangan sibuk urusin kasus-kasus aja kerjanya sama bisnis kamu. Sekarang kamu itu udah punya istri yang cantik dan masih muda, minggu depan bawa istri kamu ini nginep di Vila kita yang ada di Bogor."
Eh busyet ni nenek fashionable ini memang terkesan selalu frontal dah ucapannya di depan banyak orang gini, walaupun keluarga sendiri tetep aja kan yang ada aku yang malu.
Di meja makan ini selain kedua mertua ku jelas ada kedua orang tua Vera dan Vera sahabatku juga ada dimari beserta kakak lelakinya Andi.
"Mama ini ngomongnya ada-ada saja. Lagian untuk apa Ma kami ke Vila? Yang ada ntar kecapekan pulang dari sana mana seninnya kan Alena juga udah kuliah kembali." Kata si om nyebelin menatap ke arah Mamanya sambil masih mengunyah suapannya,
"Ya kalian berdua ke Vila untuk bulan madu sederhana saja dulu, mengingat Alena belum ada jatah libur kuliah lagi dari kampusnya. Kalau di Vila kan suasananya lebih mendukung dan bisa lebih khusyuk kalian bikin anaknya." Yaelah makin frontal aja ni nenek fashionable alias Mama mertuaku.
Ya dikira mau sholat gitu harus khusyuk, hedeh. Kalau begini selalu ucapan dan pembahasan si nenek fashionable kepada ku dan si om nyebelin setiap kali ketemu, yang ada aku malu pake banget. Ini muka ku rasanya udah merah banget kek kepiting rebus kali ya, aku nunduk aja kalau begini mah selain diam saja tak berucap.
"Itu berarti belum rezeky kami Ma. Bukan soal tempat ataupun usia, nggak semua orang yang menikah itu istrinya langsung cepat hamil dan punya anak. Jika Allah belum mengizinkan ya nggak bakal terjadi." Si om nyebelin mencoba memberi penjelasan yang masuk akal.
"Tapi ikhtiar itu tetep perlu Andra, itu lah juga tujuan Mama mengingatkan dan menyemangati. Kamu itu sudah cukup umur untuk memiliki anak, teman-teman kamu juga sudah lumayan yang sudah lama menikah dan tak lama langsung punya anak.
Nah untuk Nak Alena jangan khawatirkan kuliah kamu cukup banyak kok di zaman sekarang wanita yang sudah menikah kemudian hamil tetep bisa kuliah dan lulus kuliah sesuai target awal. Kan cutinya hanya ketika hamil besar saja dan pasca melahirkan tidak terlalu lama hanya sebulan atau dua bulan saja, dan saat cuti juga masih bisa ikuti pelajarannya di rumah. Kan nanti bisa Mama ikut bantu urus bayi kamu dibantu baby sitter selama kamu kuliah kembali pasca sebulan atau dua bulan usai melahirkan." Tutur si nenek fashionable panjang lebar padaku dan si om nyebelin.
"Iya insya Allah Ma , udah jangan bikin Alena terbebani. Alena masih fokus pada study kuliahnya Ma agar cepat lulus sesuai jadwalnya." Si om nyebelin mencoba menutup pembahasan si nenek dengan bijak.
Aku hanya mengangguk saja dengan senyum kikuk kala tadi si nenek fashionable memberi nasehat dan masukannya jika aku hamil nanti. Sebenarnya apa yang di tuturkan si nenek fashionable memang ada benernya juga dan Mama ku juga pasti ikut bantu mengurus bayi ku juga. Jika nanti aku punya anak, secara itu berarti kan cucu perdana Mama dan Papaku mereka pasti antusias sekali.
Walaupun kenyataannya kami dari awal ijab kabul belum ada melakukan ritual malam pertama hingga detik ini.
Aku hanya bisa diam saja menanggapinya , tak tau mau berucap apa, takut salah kata. Lagian udah janji si om nyebelin sendiri nggak bakal nyentuh aku sampai begituan.
Ya aku jelas sangat setuju dengan janjinya itu yang ia ucapkan sebelum kami menyandang status sebagai suami istri yang sah.
"Oke, tapi Mama mohon kamu jangan KB ya Alena. Karena efek KB di awal nikah apalagi belum pernah hamil itu terkadang bisa beresiko susah hamil setelah lepas KB-nya. Mama nggak mau begitu kasihan Andra nantinya malah kelamaan jadi ayah. Mama bukan maksud mendesak kamu Nak Alena begitu juga kamu Ndra, Mama harap kamu ngerti ya maksud Mama." Terang nenek fashionable dengan lembut seraya menggenggam tangan kiri dan menatapku kembali dengan lembut, setelah beberapa detik tadi matanya menoleh ke arah si om nyebelin saat menyebut nama si om nyebelin.
Saat ini kami memang sedang makan siang bersama di kediaman rumah orang tua Vera yang merupakan iparku. Sejak aku dan si om nyebelin menikah si nenek fashionable ini jadi lebih lama tinggal di mari.
Tadi sekitar jam 10 pagi aku dan si om nyebelin memang sudah mulai berangkat kesini. Aku di ajak si om nyebelin untuk berkunjung kemari sambil mengunjungi orang tuanya si om nyebelin. Karena sudah lama juga kira kami tak berkunjung.
Sebelumnya si nenek fashionable dan si kakek gagah alias mertuaku sudah ada datang ke apartement kami. Saat kami sudah masih beberapa hari baru pindah ke apartement begitu juga kedua orang tuaku. Saat itu mereka datang tanpa memberitahukan kami sebelumnya, dan itu sebelum insident si om nyebelin terjadi.
🍬🍬🍬
__ADS_1
Bersambung...
Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰