TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU
BAB 42


__ADS_3

Saat setelah jenazah si om telah menyatu dengan tanah ,di saat itu juga aku merasa kepalaku tiba-tiba begitu sakit dan mataku berkunang-kunang. Tanpa terasa tubuhku limbung dan aku terjatuh ke bawah lalu semua terasa gelap menyerang.


____


Aku hampir terjatuh dari kursi dimana aku duduk dan tertidur sambil menelungkupkan wajahku di atas tumpuan kedua tanganku di sisi kiri brankar elektrik tempat si om terbaring.


Untungnya sebelum aku benar-benar terjatuh ke samping aku mendadak terbangun dan refleks sebelah tanganku berpeganggan pada sisi bed electric agar tidak benar-benar terjatuh.


"Astagfirullahalazim...Astagfirullahalazim..."


"Astagfirullahalazim..."


Aku menghela napas gusar, sembari telapak tangan kananku mengusap-ngusap dadaku mencoba memberi ketenangan pada diriku sendiri sembari aku masih terduduk di kursi ini. Aku memang lebih sering tidur di kursi ini dari pada tidur di bed khusus untuk satu orang yang memang telah tersedia di kamar ini sebagai tempat istirahat si penunggu pasien, bahkan bed khusus itu pun bersebelahan tak jauh dari bed electric si om.


Tapi aku memang merasa bertanggung jawab untuk tidur di sisi si om lebih dekat. Dengan cara kursi ini ku dekatkan ke sisi kiri bed electric-nya dan bagian pembatasnya yang di sisi kirinya terkadang aku buka dan turunkan ke bawah, agar aku bisa membenamkan wajahku di sisi bed electric tersebut.


"Ya Allah mimpi apa aku tadi, kenapa begitu mengerikannya dan mimpinya seakan nyata." Gumamku sendu dengan keringat masih membasahi dahi dan wajahku.


Segera mataku menatap ke arah si om terbaring bangkit dari dudukku dan mengechek keadaannya. Melihat juga ke arah minitor dan beberapa peralatan lainnya.


"Alhamdulillah ya Allah." Ucapku penuh syukur sambil menghela nafas dan mengusap-usap bagian atas dadaku. Memberi ketenangan pada diriku sendiri dan menyakinkan diri sendiri, bahwa si om masih hidup walaupun dalam keadaan masih tetap koma.


Ku sapu keringatku dengan tisu yang baru saja ku ambil di atas meja yang berhadapan dengan sofa, yang masih membasahi dahi dan wajahku efek mimpiku tadi. Padahal di dalam sini sejuk karena adanya ac.


Aku lirik mataku ke arah jam dinding yang bertengger di disana ternyata sudah pukul 02 : 47 WIB. Aku pun beralih menuju kamar mandi untuk membasuh wajahku lalu mengambil wudhu dan segera melaksankan sholat sunnah Tahajud.


Fikiranku masih tak karuan karena memikirkan mimpi tersebut, dimana di dalam mimpi ku tadi si om Andra alias suamiku meninggal di tambah Mama mertuaku dan juga Vera sahabatku yang menatap penuh kebencian terhadapku. Lebih parahnya lagi Mama mertuaku melontarkan kata-kata tak mengenakkan untukku saat di dalam mimpiku tadi.


Tapi rasanya yang paling mengerikan bagi ku di dalam mimpiku tadi ialah kematian si om, semoga ini bukan bertanda lebih buruk lagi dan semoga hanya mimpi yang kata orang bunga tidur. Sungguh aku tak pernah membayangkan apa yang terjadi di mimpiku barusan.


Aku pun selesai mengambil wudhu dan langsung memakai mukenaku mengamparkan sajadah di atas ubin dingin kamar inap pasien VVIP ini, mulai melaksanakan sholat Tahajud ku.


Selesai aku melaksanakan sholat malam dengan 6 rakaat, aku langsung menyambung dengan membaca Al-qur'an.


Sungguh sejak si om terbaring koma aku semakin rajin dalam beribadah dalam arti yang biasa aku hanya melaksanakan sholat 5 waktu saja, kini aku mulai sering melaksakan sholat sunnah dhuha dan tahajud di tambah sering membaca kitab suci Al-qur'an dan tafsirnya.


"Sadaqallahul azim." Aku baru saja menyelesaikan bacaan Al-qur'anku.


 


Kini waktunya aku kembali berdoa memohon kepada Allah SWT yang terbaik untuk si om dan untukku, khususnya untuk kesadaran si om dari komanya dan kesembuhannya. Ku panjatkan do'a terbaikku kepada Allah dengan penuh kesungguhan, semoga setiap do'a terbaikku di ijabah oleh Allah.


Aku melirik ke arah si om terbaring menatapnya sendu, air mataku masih mengalir deras setelah aku mengakhiri berdo'a ku kepada Allah. Rasanya sedih sekali melihatnya masih terbaring koma di bed electric itu dan semakin pilu saat menginggat mimpiku tadi tentang si Om, hiks hiks.


🍬🍬🍬


"Vera kamu lihat Eyang putri nggak?"


"Nggak tau Eyang, soalnya Vera baru pulang dari bersepeda pagi." Si Eyang Abraham pun hanya ber O ria sambil manggut-manggut.


Abraham baru turun dari lantai atas tepatnya dari kamarnya.


"Coba Eyang tanya Bibik." Saran Vera.


"Ah iya juga."


"Kalau gitu Vera permisi dulu ya Yang mau ke kamar dulu sekalian mandi, udah gerah banget nih." Izinnya sambil diakhiri senyum manisnya kepada sang Eyang.


"Ok, cucu Eyang." Ucapnya dengan senyum yang juga terukir di wajah tampannya. Walaupun sudah berumur dan berambut putih serta sudah mempunyai cucu-cucu yang telah berkuliah lelaki berusiakan 61 tahun itu memang masih terlihat tampan dan gagah.


Itu jelas tak luput dari kegiatan positif dan sehatnya seperti berolahraga, menkonsumsi makanan dan minuman yang bergizi dan sehat serta ibadah yang memadai. Semua hal itu jelas bisa menunjang seseorang agar terlihat segar selalu selain juga fikiran yang tenang dan hati yang bersih.


Abraham pun hendak melangkah ke arah dapur, setelah Vera sang cucu berlalu hilang dari hadapannya. Namun, sebelum sampai tujuan terdengar deru mobil masuk ke halaman rumah yang cukup luas itu.


"Assalamualaikum." Salamnya saat sudah masuk ke dalam.


"Wa'alaikumsalam. Dari mana Ma?" Tanya Abraham lembut.

__ADS_1


Mereka masih berdiri di sekitaran ruang depan atau tamu.


"Eh Papa sudah bangun."


"Iya Ma."


"Papa sudah sarapan?"


"Belum , Papa baru saja turun seusai mandi barusan. Mama dari mana?" Ulangnya bertanya di akhir kalimat dengan nada yang selalu lembut dan santai.


"Oh, Mama dari makam Mas Ewa Pa."


"Oh, tumben pagi-pagi Mama udah pergi ke Makam pula."


"Mama kangen ama Mas Ewa Pa , lagian udah cukup lama Mama nggak nyekar ke makamnya. Tadi Mama sengaja nggak bangunin Papa karena Mama lihat Papa lelap banget, mana Papa juga tadi subuh baru sampai Jakarta. Jadi Mama biarkan Papa istirahat saja." Memang Abraham sudah hampir 1 minggu ini berada di Surabaya, karena urusan penting yang memang membuatnya harus terbang ke sana.


Lagian kan kediaman asli Abraham dan istri memang sudah stay di Surabaya, yang merupakan kampung halaman sang istri.


"Mama udah sarapan belum?"


"Belum juga sih Pa, tadi Mama hanya baru minum teh manis hangat saja sebelum pergi."


"Ya udah kita sarapan sama-sama yukk."


"Heum, tapi Mama ganti baju dulu ya Pa."


"Ok, Papa tunggu di ruang makan biasa ya Ma."


"Iya , Pa."


Saputri sang istri pun segera naik ke atas menuju kamarnya sedangkan Abraham menuju ke arah yang di tuju.


____


"Assalamualaikum." Wanita paruh baya itu masuk ke dalam kamar rawat Andra setelah menutup rapat pintunya.


"Assalamualaikum. Anak bungsu Mama." Ia menyapa putranya itu dengan ucapan salam dan seulas senyum sambil menyentuh dan mengenggam telapak tangan kanan sang putranya.


"Kamu masih betah terbaring dan tertidur seperti ini kah, Nak? Kapan kamu akan bangun dan kembali beraktivitas seperti sedia kala Andra? Mama sangat merindukan saat kamu sibuk dengan segala kegiatan mu, tapi kalau boleh jujur Mama sungguh khawatir sekali pada mu Nak. Dan ternyata ke khawatiran Mama malah jadi kenyataan." Tuturnya dengan sendu sambil terus memegang tangan kanan sang anak bungsunya itu yang tanpa respon sama sekali, matanya pun tak lepas memandang wajah tampan sang putra bungsunya.


"Eh Mama, baru datang ya?" Alena baru saja keluar dari kamar mandi, lalu segera menghampiri Mama mertuanya dan menyalaminya dengan takzim.


Karena ini hari minggu jelas Alena tidak berkuliah dan tadi pagi Mama dan Papanya sudah datang ke RS ini untuk menjengguk Andra sekaligus mengunjungi Alena sang anak semata wayang mereka.


"Iya, Nak."


"Alena habis dari kamar mandi tadi mules dikit." Ungkapnya dengan sedikit sungkan karena perkara mules dengan sedikit senyum.


"Tapi nggak mencretkan, Nak?"


"Alhamdulillah nggak kok Ma."


"Oya, kamu pasti belum makan siang kan? Tuh Mama bawain makanan di makan ya Nak, jangan malas makan. Nanti kamu bisa sakit dan drow, sakit itu selain nggak enak ntar kasihan Andra nggak ada yang temani dan urusin." Matanya sekilas menuju ke arah dimana rantang makanan itu terletak saat sang Mama mertua berucap kata 'tuh' , hal itu refleks di perhatikan oleh Alena dengan mata Alena pun mengarah ke arah dimana terletaknya rantang tersebut.


Sang Mama mertua memang setiap kali datang selalu membawa makanan untuk Alena sang mantu, ia pun berucap begitu bukan karena Alena tak boleh sakit dan wajib selalu menjaga anaknya ini. Melainkan karena ia pun khawatir dan perduli terhadap sang menantunya.


Karena baginya peran istri yang terus mendampingi suami di kala sakit keras seperti ini bahkan tak sadarkan diri begini, adalah salah satu cara terbaik untuk mensupport si penderita sakit tersebut.


"Iya Ma, ntar lagi ya Ma."


"Kamu yang sabar ya dan tetap semangat ya Lena dalam menghadapi cobaan ini dan merawat serta mendampingi putra bungsu Mama." Ucapnya tulus dengan mengenggam lembut telapak tangan kanan sang menantu oleh kedua tangannya, syarat permohonan dan juga menyemangati sang mantu.


"Insha Allah. Terima kasih Mama masih tetap baik kepada Alena." Ntah mengapa aku bisa berucap begitu, seakan-akan pengaruh mimpiku tadi malam.


Yang di dalam mimpiku bahwa si Mama mertua begitu berkata kasar dengan lantangnya dan tatapan kebencian. Berbeda dengan saat ini kenyataannya. Akankah jika mimpi itu menjadi nyata si om tiada saat koma begini, Mama mertuaku akan tetap baik seperti biasanya kepadaku.


'Astagfirullah, mikir apa sih aku ini. Kenapa malah berfikir aneh-aneh.' Pekikku membatin. Aku pun dengan refleks mengeleng kuat beberapa kali.

__ADS_1


"Lah kenapa kamu Alena? Kok geleng-geleng kepala gitu? Kamu pusing?" Tanya Mama mertua dengan tatapan heran.


"Eh nggak Ma , nggak apa-apa. Oya, Mama udah makan siang belum?"


"Mama udah makan siang kok tadi di rumah sebelum berangkat kesini. Kamu makan gih sekarang nanti kelamaan makan malah sakit maag kamu, Nak. Cepet sana makan Nak."


"Iya Ma, kalau gitu Lena makan dulu ya Ma." Aku pun langsung berjalan menuju terletaknya rantang 4 susun itu dan akan segera mengeksekusinya.


"Makan yang banyak ya Alena habiskan." Titah Mama mertua dengan lembut.


"Insha Allah Ma, oya Mama makan lagi aja yuk sekarang bareng Lena." Ajaknya sembari tangannya membuka satu persatu isi rantang.


"Mama masih kenyang Nak, kamu makan aja dengan nyaman habisnya kalau bisa. Kamu agak kurusan loh Lena sejak Andra sakit begini. Makanlah yang banyak kamu perlu asupan lebih karena jelas menjaga orang sakit itu tidak mudah, Mama nggak ingin kamu kenapa-kenapa. Suami mu ini tetap butuh terus kamu dampingi, Mama harap kamu selalu sabar ya dan kuat. Semoga Andra segera sadar dari komanya dan segera sembuh total."


"Aamiin. Semoga ya Ma, Mama juga yang sabar dan tetap semangat ya Ma." Ucap Alena di sela-sela kegiatan makannya.


"Iya , Nak."


"Oya, Papa udah pulang kah Ma dari Surabaya?"


"Udah tadi subuh sampainya, nanti Papa juga kemari. Ini tadi Papa lagi pergi hadiri undangan terlebih dahulu, Mama lagi malas ikut. Mau langsung kesini aja jengguk Andra." Terangnya sendu di akhir kalimat, ada rasa sesak menghimpit dada ketika ia sadar akan keadaan Andra sang anak masih terkujur koma di RS ini.


Alena dan Mama mertuanya semakin dekat karena seringnya bertemu untuk saling menjaga Andra. Mama mertuanya juga terbilang suka menginap disini berdua dengan Alena walaupun tak setiap malam.


🍬🍬🍬


Hari terus berganti begitu juga waktu terus berjalan maju dan kini sudah tepat 4 minggu si om masih dalam keadaan koma. Aku pun masih terus menginap di RS ini di kamar ini, kamar rawat inap VVIP ini telah menjadi rumah dan kamar utama berserta si om sejak ia dinyatakan koma pasca operasi dan juga transfusi darah.


Dokter spesialis yang menanggani si om pernah mengatakan koma yang di alami si om dikarenakan efek cidera berat pada kepala dan ternyata setelah di chek ada benturan yang pernah di alami si om pada bagian kepalanya yang terbilang keras. Namun, tidak mengeluarkan darah di luar.


Cidera kepala berat tersebut dapat menyebabkan trauma kepala bahkan bisa berujung pendarahan pada otak. Hal ini biasanya terjadi pada kecelakaan kendaraan, aksi kekerasan atau bahkan karena olahraga yang terlalu berbahaya dan bisa juga karena jatuh dengan kepala membentur tanah atau aspal terlebih dahulu ( benda keras lainnya yang sejenis ).


Itulah yang pernah sang dokter terangkan pada kami tentang mengapa si om bisa jadi koma seperti ini. Dokterpun pernah berkata dalam kasus seperti ini pasiean bisa sembuh total tanpa mengalami kecacatan asal dengan penanganan medis yang baik dan benar serta paling utama kesabaran dan do'a.


Aku jadi berfikir apakah saat perkelahian itu terjadi di malam hujan itu mereka yang menyerang si om ada yang memukul kepalanya dengan keras kah atau si om ada terjatuh saat berkelahi membela diri dan tanpa sadar terjatuh hingga kepalanya membentur aspal dengan kuat. Sehingga pada akhirnya tanpa disadari pula si om mengalami cidera kepala yang parah dan menjadi koma seperti ini.


Malam ini aku kembali menjaga si om sendiri terkadang mertua dan orang tuaku membiarkan aku menjaga sendiri si om, dengan alasan agar ada privasi dan hubungan yang lebih dalam antara suami istri walaupun si om dalam keadaan koma. Rasanya aneh juga ya alasan tersebut dan seperti tidak masuk akal, tapi ya sudah lah aku fine-fine saja menjalaninya.


Bagiku yang terpenting si om bisa segera sembuh, jujur aku rindu saat dia berlaku dingin tapi berwibawa dan perhatian saat aku sakit. Si om memang dingin dna nyebelin tapi ku fikir-fikir lagi dia itu baik dan perduli sebenarnya pas sesuai seperti apa yang aku dengar dari bi Ijah kala itu pernah berkata demikian.


Soal ibadah dan ilmu agama juga si om terbilang mumpungi, aku jadi teringat dia pernah berkata padaku kala itu saat kami masih tinggal di rumah orang tuaku.


"Alena apa tidak bisakah kamu mulai sekarang berusaha menutup aurat mu dengan baik dan benar?"


"Ah, itu ya om?" Jawabku bingung dengan mata mengarah ke segela arah mencoba mengalihkan topis secara halus.


"Iya, kamu itu sudah menjadi istri saya dan tidak menutup kemungkinan jika perilaku bahkan penampilan istri yang tak sesuai ajaran Allah akan membuat sang suami ikut bertanggung jawab kelak di hadapan Allah. Dan saya tidak mau itu terjadi, walaupun pernikahan kita seperti paksaan dna insident. Tapi kenyataannya pernikahan kita ini telah sah secara agama dan hukum negara Lena, jadi bukan main-main seperti pernikahan kontrak. Dan hukumnya istri itu harus patuh kepada suami selagi itu tidak menentang dari ajaran Allah." Tegasnya panjang lebar sambil menatapku dengan sorot mata Elangnya yang tajam.


"Beri Lena waktu ya Om untuk hal dan kewajiban Lena yang satu ini juga selain yang satu itu lagi." Mohonku dengan wajah memelas.


Si om menghela napas berat lalu berucap. "Kalau hal dan kewajiban yang satu itu saya tidak permasalahkan dan akan menunggu sesuai apa yang pernah saya katakan sebelum kita menikah dulu. Insha Allah saya ridho sampai tiba waktunya, tapi untuk hal satu ini saya harap kamu jangan banyak berfikir lama-lama karena itu juga kewajiban setiap wanita muslim, jika sudah baliq." Matanya kini kembali menatapku tajam, seakan secara tak langsung memaksa aku harus mematuhinya sesegera mungkin tanpa ditunda-tunda lagi.


"Iya, om insha Allah." Ucapku merasa tak enak hati tapi juga aku masih belum siap dan mau memakai hijab atau lebih tepatnya menutup auratku dengan benar.


Walaupun pakaianku jarang juga berpakaian pendek-pendek apalagi seksi-seksi, tapi ya memang belum berhijab dan belum menutup sempurna auratku.


Itulah sekilas yang pernah si Om perintahkan kepadaku dengan tegasnya, tapi sejak si om berkata soal perintahnya agar aku menutup auratku dengan baik dan benar sampai detik ini aku yang belum bisa melaksanakannya. Si om pun belum ada bersuara lagi akan hal itu hingga akhirnya kini ia koma.


Akan tetapi kalian belum tau kan di lemari pakaian kami yang ada di apartement, ternyata cukup ada tersedia beberpa baju gamis set lengkap dengan khimar atau yang lebih di kenal orang banyak adalah jilbab. Bahkan ada beberapa kaos kaki wanita juga tersedia sebagai penunjang menutup aurat secara sempurna.


Ulah siapa lagi itu kalau bukan ulah si om yang notabene adalah suamiku, itu semua pasti sengaja ia lakukan agar aku mencoba mengenakannya. Namun, aku masih engan memakainya. Rasanya belum siap dan belum mantap saja. Mungkin suatu hari nanti akan ku coba memakainya.


🍬🍬🍬


Bersambung..


Salam sehat selalu ya @riritambun 🥰

__ADS_1


__ADS_2