
Hari ini adalah hari dimana akan di selenggarakannya acara resepsi pernikahanku dengan si om nyebelin itu.
Acaranya di selenggarakan di salah satu hotel berbintang 5 yang ada di kota ini.
Aku masih di rias oleh MUA profesional yang juga meriasku saat akad nikahku waktu itu. Aku hanya ingin riasan yang minimalis tidak mau terlalu mencolok apalagi menor.
Kami memakai konsep internasional jadi hanya memakai sekitaran 2-3 pakaian pengantin saja dan hanya berlangsung mulai dari pagi pukul 10 :00 sampai sore pukul 17 :00.
"Duh tante muda gue ini cantiknya natural banget dah, pasti om gue bakal bener-bener jatuh cintrong neh sama si tante muda gue ini." Aku melirik ke arah suara yang bercerocos itu siapa lagi kalau bukan Vera sahabatku merangkap keponakan si om nyebelin itu yang kini telah sah menjadi suamiku.
Selesai juga aku di rias dan beberapa menit lagi aku akan segera ke atas pelaminan bersanding dengan si om nyebelin itu.
Aku bukan hanya meminta riasan yang natural tapi juga gaun pengantin yang simple dan tanpa ribet. Malas rasanya harus ribet-ribetan apalagi kan aku menikah juga ini karena terpaksa. Udah untung aku masih mau tersenyum walau tersenyum apa adanya.
"Len gue tau kalau keper*w*nan elo masih utuh walaupun lo nggak mau bercerita ke gue , gue maklum aja. Tapi sayang loh secara om gue kan perjaka ting-ting yang tampan. Gue yakin suatu saat kalian berdua bakal bener-bener saling jatuh cinta. " Cerocos Vera pelan di sampingku kok bisa juga ne anak tau kalau aku masih peraw*n saat aku sudah sah menjadi seorang istri dari pamannya itu sejak sebulanan lalu, fikirku.
"Maaf ya Ver." Lirihku.
"Kok minta maaf ke gue sih Len , gue jadi nggak enak hati ni. Niat gue tadi cuma mau ingatkan kalau pernikahan itu bukan mainan jadi gue harap elo jangan sampai stress dan bisa memberi yang terbaik buat suami lo. Gue bicara begini bukan belain om gue hanya saling memberi saran terbaik aja." Ucap Vera dengan nada lebih serius dari sebelumnya.
"Ya maaf karena gue nggak cerita hal itu ke alo gue serba salah rasanya dan maaf kalau gue nggak cinta sama om elu itu." Aku menundukan kepalaku rasanya ini bisa tidak enak di dengar oleh Vera atas pengakuanku ini.
"Gue cukup ngerti elo belum siap dan nggak cinta sama om gue tepatnya sih menurut gue belum cinta. Apalagi kalian baru ketemu saat kesalahpahaman di kamar itu. Gue harap sih ntar elo dan om gue bisa saling cinta dan sayang serta hidup bahagia hingga kakek nenek."
"Tapi apa om gue bakal tahan menahan hasratnya bisa jadi kan setelah memiliki istri yang jelas-jelas sah dia jadi nggak bisa nahan hasratnya. Namun, elo Len malah menahannya kan kasian juga om gue. Kalian dua itu sama-sama orang terdekat gue dan sama-sama bakal gue bela bagaimanapun." Terang Vera panjang kali lebar.
Aku hanya bisa semakin menunduk rasanya serba salah apalagi mama juga sudah cukup menginggatkan soalan istri itu harus bisa melayani suaminya kapan saja.
"Ada yang belum gue ceritain ke elo Ver." Rasanya aku harus ceritakan saja soalan yang pernah dikatakan si om nyebelin itu kepadaku jauh sebelum akad nikah terjadi.
"Apa itu? Tapi jika elo belum siap atau nggak mau cerita hal yang satu itu ke gue , gue nggak masalah kok beneran deh." Vera mengangkat tangan kanannya jarinya seakan mengkode tanda piss kepadaku.
"Jauh sebelum akad nikah om elo ada berkata kalau dia nggak akan menyentuh gue minimal setelah gue lulus kuliah dan maksimal sampai kami saling jatuh cinta." Jelasku ke Vera langsung pada inti ucapan si om nyebelin itu padaku waktu itu.
"Serius om gue bilang gitu? Duh sweet banget ya ternyata om gue diem-diem ahh. Ya tapi apa salah satu dari kalian beneran bisa berkomitmen akan hal itu selama itu , secara kita baru bisa lulus kuliah sekitaran 2 tahun lagi. Kasian dong om gue hahaha." Ucap Vera panjang kali lebar dan malah di akhiri kekehan ringan seakan lucu akan hal ini.
"Ntah lah Ver." Jawabku sekenanya.
"Ya sudah jalani saja sebaik mungkin dan seperti air mengalir aja deh Len. Jangan jadi beban lagian om gue bukan orang jahat atau suami jahat kek cerita-cerita novel yang di cerbung-cerbung itu." Jelasnya lagi sok bijak dan ia pun berlalu permisi hendak ke toilet.
"Ntar ya gue ke toilet dulu tetiba gue jadi kebelet pipis nih hehe." Dasar Vera suka banget rasanya ne anak kebelet.
"Neng gimana udah siapa kepelaminannya ?" Mama memegang bahuku dari belakang kami saling pandang melalui pantulan cermin dihadapan kami.
Aku yang masih duduk di kursi meja rias di hadapan cermin meja rias dan mama berdiri tepat dibelakangku yang jelas juga menghadap ke cermin meja rias dengan senyum bahagianya.
"Insya Allah Mah." Jawabku sebenarnya ragu dengan senyum dibuat semanis mungkin.
"Nah eta si aa atos dongkap." [ Itu si abang sudah datang ]. Celetuk mama.
Aku melihat bayangan si om nyebelin itu masuk melalui pantulan cermin di hadapanku.
Tanpa disangka mata kami bersitubruk sekian detik lewat pantulan cermin di hadapanku. Namun, akhirnya kami berdua mengalihkan padangan kami bersamaan ke arah lain.
Ku lihat si om nyebelin ini begitu tampan dengan stelan tuxedo hitamnya. Lagi-lagi aku membatin mengatakan kalau si om nyebelin ini tampan.
"Yuk kita kepelaminan tamu-tamu undangan sudah lumayan berdatangan, Andra kamu ajak istrimu sana ke pelaminan sekarang." Si nenek fashionable yang telah menjadi mertuaku pun segera berlalu menuju panggung pelaminan di ikuti suaminya dan kedua orang tuaku.
Lalu si om nyebelin ini pun mengajakku menuju singgasana.
__ADS_1
"Ayok Alena." Ajak si om nyebelin ini dengan datarnya sedatar papan tripleks.
Aku hanya menganggukkan kepala sebagai respon kemudian melangkah mengikuti si om nyebelin ini dari belakang.
🍬🍬🍬
Sudah selang beberapa jam aku dan si om nyebelin ini di atas singgasana pelaminan. Hingga permisi break untuk sholat dzuhur dan makan siang serta ganti pakaian pengantin season 2 lalu kembali lagi ke singgasana.
Selepas bada dzuhur tamu undangan semakin ramai berdatangan sebelumnya sudah cukup ramai para teman-teman dan para dosen berdatangan dan menyalami aku dan si om nyebelin ini di singgasana ini.
Aku berusaha selalu terlihat tersenyum padahal aku sebenarnya enggan ntah kenapa rasanya hati ini belum benar-benar bisa menerima pernikahan ini. Ntahlah jika dengan si om nyebelin ini nggak tau gimana ?
Expresi dan sikap si om nyebelin ini selalu datar-datar saja aku belum pernah benar-benar melihat ne orang ketawa apalagi ketawa lepas.
"Selamat ya Alena dan suaminya." Ucap bu Fatwa saat menyalami kami di singgasana yang ternyata baru datang bersama suaminya.
"Terima kasih ya bu dan bapak sudah datang" Balasku kepada bu Fatwa dan suaminya dengan ramah, si om nyebelin ini hanya membalas dengan anggukan saja dan seutas senyum tipis.
Pelit apa irit sih itu suara sama senyumnya.
"Selamat ya semoga kalian menjadi keluarga SAMAWA ya nak Alena dan nak Andra." Ucapan dan doa itu terlontar dari bibir bu Darlina salah satu dosen tertua di fakultasku.
Bu Darlina datang bersama anak perempuannya yang bungsu yang juga berkuliah di kampus tempatku belajar dan tempat bu Darlina pun mengajar, suami bu Darlina sudah meninggal setahun yang lalu akibat sakit yang di deritanya.
"Terima kasih ya bu dan juga Adelia sudah mau datang." Ucapku dengan senyuman manis dan si om nyebelin ini hanya merespon dengan senyum tipis sekali malah kadang hanya anggukan tanpa expresi.
Jadi berasa aku-aku aja yang harus berusaha ramah dan baik-baik sajalah dalam situasi ini dan takdir ini. Bener-bener nyebelin ini si om om.
Selepas bu Fatwa dan bu Darlina tadi sudah datang tak lama datanglah Siska dan beberapa teman-temanku yang lain. Siska dan teman-temanku lainnya yang di jam ini baru datang hendak bersalaman dengan ku dan si om nyebelin ini ke singgasana dan kali ini Vera ikut bergabung dalam gerombolan mereka dan mengantarkannya ke singgasana.
Mereka ada sekitaran 9 orang itu sudah termasuk Vera di dalamnya, 9 orang itu semua teman sekelasku 4 lelaki dan 5 perempuan.
4 teman lelaki yang terdiri dari Reno, Handy , Danu dan Suswanto sedangkan 5 yang perempuannya terdiri dari Siska , Santi , Wina , Nita dan tak ketinggalan Vera.
Apalagi Suswanto dan Danu selalu saja berdebat hal-hal yang unfaedah.
"Selamat ya Alena semoga jadi keluarga yang SAMAWA ya." Ucap mereka serempak.
"Iya terima kasih ya kalian udah pada datang ke acara resepsi gue." Balasku dengan senyuman ramah.
"Nggak nyangka Ver om om elu jodohnya si Alena teman kita." Celetuk Wina.
"Udah yang jomblo jangan ngiri belajar aja dulu yang bener sampai lulus dan jadi sarjana kalau jodoh mah nggak kemana." Sungut si Nita.
"Len jadi yang waktu itu antar kamu naik mobil Pajero Sport hitam itu ternyata suami elo yang benerkan kata gue ganteng begini. Pantes aja elo mau biar om sahabat sendiri ya Len." Aku melirik tajam Siska dasar beonya itu, ntar di kira si om nyebelin ini aku beneran suka sama dia.
Mereka masih sibuk di atas singgasanaku berhubung belum ada tetamu undangan yang akan naik menghampiriku dan si om nyebelin ini di singgasana ini.
"Lo ya Ver punya om ganteng begini kagak bilang-bilang , jangan-jangan lo sengaja ya Ver umpetin om lo yang ganteng ini untuk di coblangin ke Alena." Celetuk Wina lagi pada Vera menelisik " Iya nech , hayo ngaku lo Ver ?" Timpal Santi.
"Yei yang coblangin mereka ini eyang gue tau bukan gue." Bebernya Vera kepada mereka.
Tapi lebih bagus begitu deh Vera berkata dari pada ia berkata kalau aku dan si om nyebelin ini kena ngerebek jadi terpaksa menikah kan lebih lucu jadinya.
Walaupun ya sebenarnya kami tidak berbuat macem-macem hanya kesalahpahaman saja.
"Woi udah ngerusuh mantennya itu udah mulai ada yang mau naik nih mau menyalami pengantinnya." Peringatan Suswanto kepada mereka si teman-teman yang super heboh kadang.
"Ya tapi kita foto bareng-bareng dulu dong sama pengantinnya masa nggak sih." Celetuk si Handy dia teman lelaki yang tubuhnya tambun.
__ADS_1
"Yaelah selow bro pasti kita bakal foto kok , ya udah buruan susun posisi woi." Seru Danu tak mau kalah.
Ku lihat hanya Reno yang dari tadi sampai sekarang hanya diam tanpa suara dan ku lihat dia seperti kurang bersemangat.
Apa Reno sedang tak enak badan atau hanya perasaanku saja. Biasanya sediam-diamnya Reno dia masih mau senyum dan tertawa jika sudah berkumpul dengan para biang rese ini.
1
2
3
Cekrekk...📸
Kami pun telah berfoto bersama sebanyak 2 kali dengan pose mereka yang ngasal dan suka-suka. Setelahnya merekapun turun dari singgasana.
Si om nyebelin ini hebat juga ya expresinya itu bener-bener datar sedatar papan tripleks nggak ada senyum-sunyumnya apalagi ketawa. Padahal sebenarnya mereka-mereka tadi cukup ngelawak receh sejak kehadiran mereka datang ke resepsi ini sampai tiba ke singgasana ini.
Rasanya aku sudah pegel banget berlama-lama di singgasana ini ingin rasanya acara ini segera berakhir dan merebahkan tubuh ini ke atas ranjang yang empuk.
"Selamat ya bro atas pernikahannya semoga langgeng sampai maut memisahkan." Ucapan itu terlontar dari seorang pria yang berwajah tampan saat menyalami tangan si om nyebelin ini dengan ala berjabatannya pria.
"Aamiin. Terima kasih ya Za." Balas si om nyebelin ini dengan seutas senyum cukup lebar pada temanya ini.
Ntah siapa namanya aku juga tak tau pasti yang aku tau pria ini adalah temannya si om nyebelin ini yang waktu itu aku dan si om nyebelin ini temui di hotel yang cukup elite.
Dia datang seorang diri apakah dia seorang jomblo makanya dia datang ke acara semacam ini sendiri PD juga fikirku, padahal dia juga tampan 11 , 12 tampannya dengan si om nyebelin ini.
Ya kali si om nyebelin ini juga kalau nggak karena kesalahpahaman ini pasti ia juga bakal masih jomblo kali ya.
Ih apaan si aku ini kok tiba-tiba malah mikirin si om nyebelin ini dan temannya ini. Jujur aku masih kepo dan penasaran apa seh yang di kasih pria ini ke si om nyebelin ini waktu itu yang di dalam amplop besar berwarna coklat itu.
🍬🍬🍬
"Om sakit." Rintihku.
"Tahan dulu ya Alena." Aku melirik ke arah si om nyebelin ini yang sudah dekat sekali denganku.
"Duh nggak tahan om sakit beneran ini. Auww.. Om makin sakit." Rintihku lagi rasanya bener-bener sakit apakah harus seperti ini malam pertamaku.
"Saya mohon sabar dulu ya, ini sebentar lagi kok." Mohonnya.
"Tapi Alena sudah nggak tahan lagi om sakit banget dan perih banget om." Rasanya keringat dingin sudah menjalar di tubuhku , karena aku terus menahan sakit dan perih ini.
Dan si om ini masih terus menyuruhku untuk bertahan.
"Duh gimana ini? Kan baru juga?" Si om nyebelin ini merasa bingung karena rasa kesakitanku hingga dia sepertinya mengantungkan kalimat terkahirnya.
"Ya udah cepetan dong! Jangan lama-lama Alena udah nggak tahan ni sakit sama perihnya om." Paksaku padanya aku sungguh sudah tak tahan menahannya, berharap cepat berakhir kesakitan ini.
"Sabar ya Alena saya usahakan kamu nggak akan kesakitan lagi. Tapi kamu harus mau sabar menahannya dulu barang beberapa menit mungkin. Ini juga saya masih mencoba agar kamu tidak merasa sakit lagi melainkan nyaman dan enakan." Bujuk si om nyebelin ini padaku masih terus berusaha.
Rasanya mataku sudah berair di pelupuk mata.
Harusnya aku sudah bisa merebahkan tubuhku dengan nyaman di ranjang empuk ini usai berakhirnya acara resepsi pernikahan ini.
Tapi malah aku harus mengalami hal semacam ini. Ini semua gara-gara si om nyebelin ini makanya juga aku harus kesakitan seperti ini di malam pertamaku.
🍬🍬🍬
__ADS_1
Bersambung...
Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰