TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU
BAB 24


__ADS_3

POV ANDRA.


Hujan deras masih saja turun dan belum mereda, mau tak mau aku dan Alena berjalan sambil sedikit berlari menerobos hujan deras tersebut menuju parkiran mobil. Ku genggam tangan kanannya menerobos hujan deras tersebut.


Kami telah di dalam mobil biarlah basah-basah lah sudah jok mobil ini akibat badan kami yang kembali basah kuyup. Untung tas ranselku berbahan anti air sehingga barang yang ada di dalam tidak akan terkena hujan dan rusak seperti ponsel dan juga kamera digital.


Ku lajukan mobil dengan laju sedang karena hujan jelas jalan licin jadi harus hati-hati, perjalanan kami menuju pulang tidak terlalu jauh tapi lumayan juga sekitar 30 sampai 45 menitan.


Ku lihat Alena sudah mengigil kedinginan lagi aku takut ia akan sakit setelah ini. Hawanya yang memang disana dingik sekali termasuk efek hujan deras. Aku pun sebenarnya kedinginan apalagi beberapa kali menerobos hujan dan pakaian di badan selain tipis sudah sangat basah kuyup.


Tapi aku tahan-tahankan dan mungkin memang daya tahan tubuhku yang cukup kuat.


"Kamu tidak apa-apa kan Alena?" Tanyaku padanya , walaupun sebenarnya tak perlu kutanyakan jelas aku melihat Alena dan tau ia sedang mengigil kedinginan.


Alena hanya diam saja tak berkata ku lirik sekilas wajahnya sudah pucat dan bibirnya sudah sangat membiru layaknya orang kedinginan.


Tubuhnya pun ku lihat bergetar akibat kedinginan, sambil aku masih terus menyetir dengan kecepatan sedang. Karena hujan memang masih sangat deras dan jalanan begitu licin aku harus berhati-hati dalam menyetir kendaraan. Sesekali melirik ke arahnya untuk melihat keadaannya.


Jujur aku khawatir takut Alena kenapa-kenapa atau pingsan. Perjalanan kami belum sampai setengah jalan menuju pulang ke rumah.


Akhirnya ku tepikan mobil di sisi jalan , jalan yang kami lalui sepi karena pun hujan deras pasti banyak orang tidak mau dan tidak bisa keluar rumah.


Ku buka seatbelt ku dan juga seatbelt Alena , ia pun bergeming saja tanpa bertanya. Kenapa tiba-tiba aku menghentikan mobil di sisi jalan dan membuka seatbelt kita masing-masing. Dia menatap ku saat aku menatapnya dengan jarak cukup dekat.


Matanya mengisyaratkan rasa was-was tapi ia tetap bergeming. Tanpa aba-aba aku membuka jaketku yang ia kenakan dan meleparnya asal ke belakang lalu aku memeluknya dengan erat mencoba memberi kehangatan.


Ku usap-usap punggungnya Alena pun membalas pelukanku, kurasa itu karena ia sudah tak tahan kedinginan. Untuk beberapa menit kami berpelukan dengan erat mencoba saling memberi kehangatan. Hingga akhirnya lepas pelukanku pada Alena ku lihat dan kurasa Alena masih mengigil karena kedinginan.


Aku ingin melakukan hal atau cara lain untuk mencoba menghangatkannya lagi. Namun aku ragu karena aku tak mau mencuri kesempatan dalam situasi seperti ini, walaupun kami ini sudah sah sebagai pasangan suami istri.


Tapi melihat Alena yang mengigil kedinginan seperti saat ini rasanya aku harus melakukannya. Tapi aku masih ragu dan tak niat ingin melakukannya. Aku masih berfikir keras haruskah aku mencium bibirnya untuk memberikan sedikit kehangatan pada dirinya.


Arrggg rasanya seperti memakan buah simalakama menghadapi perkara seperti ini.


Aku masih tak bisa melakukan hal lebih dari ini, makanya ku coba hal ini lagi saja sebisa mungkin agar Alena tidak terlalu mengigil karena kedinginan.


Akhirnya aku mencoba memeluk Alena kembali dengan erat mengusap-usap punggungnya dan aku berharap hal ini sudah cukup memberi sedikit perubahan agar Alena tak terlalu mengigil efek kedinginan.


Syukurlah setelah lebih lama aku memeluk Alena, ia sedikit lebih baik dari sebelumnya. Jadi aku tak perlu melakukan hal yang lebih dari ini. Ku jauhkan tubuhku dari tubuhnya melepas pelukan kami. Ku pasangkan seatbeltnya kemudian aku pun kembali memasang seatbelt ku.


Ku nyalakan mesin mobil dan mulai menjalankannya kembali menuju pulang ke rumah. Agar Alena bisa ganti baju dan segera beristirahat di kamar dengan nyaman.


Akhirnya tiba juga kami di rumah, segera ku masukan mobil ini ke basement dan ku parkirkan dengan benar. Saat setelah melepas seatbelt ku lihat Alena ternyata sudah tertidur, saat di perjalanan tadi aku tidak terlalu melihatnya karena fokus menyetir agar segera sampai rumah.


Hujan pun sudah cukup mereda walaupun masih belum sepenuhnya reda tapi tidak sederas tadi hujannya.


Tanpa membangunkannya aku langsung saja keluar dari mobil bejalan memutari mobil hingga sampai ke pintu dimana Alena duduk. Ku buka pintunya dan langsung ku gendong Alena ala bridal style membawanya masuk ke dalam rumah.


"Ya Alloh den kehujanan, non Alena kenapa den pingsan?" Tanya bik Ijah saat berpapasan di ruang tengah menuju tangga, ku lihat bik Ijah khawatir pada Alena.


"Iya bik kami kehujanan tadi disana , Alena ketiduran bik. Saya naik dulu ya bik" Terangku singkat.

__ADS_1


Bik Ijah pun hanya manggut-manggut, aku pun langsung pamit menuju kamar di lantai atas.


Sampai di kamar , aku pun meletakkan perlahan Alena di atas ranjang besar tersebut. Ku sentuh keningnya dengan punggung tanganku ternyata Alena demam, wajahnya benar-benar masih pucat dan bibirnya masih membiru.


Pakaian Alena harus segera di buka dan diganti lalu di kompres dengan air hangat agar suhu demamnya kembali normal. Namun aku kembali bingung karena tidak mungkin aku yang membuka dan menganti pakaiannya.


Akhirnya aku keluar kamar dan turun mencari bik Ijah ternyata bik Ijah ada di dapur, ku hampiri bik ijah yang sedang membuat air jahe sepertinya.


"Bik bisa minta tolong?" Tanyaku hati-hati.


"Ya bisa lah den, si Aden Andra ini ada-ada saja. Jadi apa gunakanya bik Ijah di kediaman ini Den." Tuturnya bik Ijah sedikit terkekeh.


"Bik tolong ya gantikan semua pakaiannya Alena sekarang." Ucapku was-was takut-takut bik Ijah curiga atau mikir aneh-aneh atas permintaanku kali ini.


"Loh kenapa nggak Aden saja yang buka dan gantikan pakaian cah ayu Alena? Aden Andra ini kan suami sahnya cah ayu."


Deg..


Aku jadi berasa konyol begini atas ucapan bik Ijah yang seakan tertohok.


"Saya tiba-tiba mules ingin BAB bik, makanya saya langsung turun ke bawah mencari bibik untuk minta bantuan tersebut. Kasihan Alena kalau kelamaan diganti pakaiannya bisa tambah masuk angin." Semoga bik Ijah tidak curiga dengam alasanku barusan.


"Oo ya sudah kalau begitu Den ini saya juga sudah siap bekinin air jahe hangat buat Den Andra. Nanti jangan lupa diminum ya Den setelah selesai BABnya! Untuk non Alena juga sekalian tapi si cah ayu nya masih tidur ya den?."


"Iya bik, Alena masih tertidur nanti saja setelah bangun. Terima kasih ya bik." Ucapku pada akhirnya dan bik Ijah langsung naik ke lantai atas dengan membawa segelas air jahe hangat tadi, begitu juga aku.


'Huft untung saja bik Ijah mau dan tak terlihat curiga sama ku.' Gumamku dalam hati saat manaiki tangga.


"Nggih Den."


Aku pun langsung masuk ke kamar mandi yang selalu ada di dalam kamarku ini. Aku pun langsung melucuti semua pakaianku lalu membasahi seluruh tubuhku dengan shower water heater yang tersedia di kamar mandiku ini.


BAB yang tadi kusebutkan kepada bik Ijah hanya alasanku saja agar bik Ijah tidak terlalu berfikir macam-macam.


🍬🍬🍬


"Ma..ma..mama.."


Ku lihat Alena mengingau memanggil Mamanya kemudian ia tersentak bangun dari tidurnya. Lalu terlihat ia mengedarkan pandangannya keseluruh kamar ini lalu beralih ke apa yang ada di badannya. Seketika ia melihat ke arah tubuhnya sendiri lalu meraba badannya seakan heran dan aneh, dengan mimik wajahnya yang panik.


Dan saat itu juga aku langsung berfikir mungkin Alena panik akan pakaiannya yang sudah berganti menjadi piyama tidurnya yang berbahan kaos. Aku yang tau apa yang ia khawatirkan langsung berucap.


"Kamu tidak perlu cemas Alena karena yang mengantikan pakaian mu adalah bik Ijah." Ku lihat mimik wajahnya yang merasa lega atas peryantaanku barusan.


Aku yang masih berdiri di sebrang ranjang karena baru dari kamar mandi setelah menyelesaikan panggilan alam. Setelahnya aku langsung menuju sisi ranjang dimana Alena berada memposisikannya bersandar di kepala ranjang dengan separuh tubuhnya rebahan di atas ranjang.


"Tadi kamu demam cukup panas dan Alhamdulillah setelah saya kompres demamnya sudah agak menurun dari sebelumnya. Bagaimana apa sekarang kamu sudah lebih baik Alena atau kamu merasa pusing?" Posisiku kini sudah berdiri dengan berhadapan di bagian sisi ranjang dimana Alena berada.


Wajahnya masih terlihat pucat dan kedua matanya megerjap-gerjap seperti merasakan sesuatu.


"Esst, sakit." Tiba-tiba kedua tangannya memegang kepalanya apakah ia merasa pusing.

__ADS_1


"Kamu makan dulu ya lalu minum obat dan istirahat lagi agar demam dan sakit kepalanya segera sembuh." Titahku


pada Alena dan aku pun segera berbalik badan melangkah untuk turun ke dapur.


"Om mau kemana?" Tiba-tiba Alena mengeluarkan suaranya bertanya padaku dengan suara lemah.


Akupun yang sempat sudah berjalan menuju pintu kamar terhenti dan membalikan badanku melihat kearahnya.


"Saya mau ke dapur dulu membawakan makanan dan minuman hangat untuk kamu Alena, agar kamu bisa segera minum obat yang tadi sudah diresepkan dokter untuk kamu."


"Kapan dokter memeriksa Lena Om?" Tanyanya merasa heran.


"Tadi saat kamu masih tertidur saya sengaja memanggil dokter langganan keluarga saya kesini untuk memeriksakan keadaan kamu." Alena pun hanya diam menganggapi jawabanku , namun ia seakan sudah faham.


Aku pun akhirnya langsung berlalu keluar kamar menuju dapur di lantai bawah.


🍬🍬🍬


"Om terima kasih ya." Ucap Alena saat sedang menyantap sarapan di kamar ini.


"Untuk apa?"


"Karena om telah merawat Alena yang sedang sakit ini." Ungkapnya.


"Heumm." Jawabku hanya berdehem


Hari ini adalah hari minggu setelah kemarin hari sabtu kami kehujanan sore harinya di Mangrove Wonorejo saat perahu kami sedang menuju dermaga pertama. Ku lihat Alena sudah tidak terlalu pucat lagi pagi ini.


Namun, aku melarangnya turun untuk sarapan di ruang makan. Karena agar dia bisa istirahat saja di kamar agar kondisinya lebih baik lagi, walaupun ia berkata pusingnya sudah hilang dan demamnya sudah lumayan sangat turun.


Tapi masih sedikit terasa panas keningnya dan tadi ku coba chek lagi suhu tubuhnya menggunakan termometer digital , memang masih sedikit panas. Untung saja ia patuh saja dengan apa yang kukatakan yang juga demi kebaikannya.


"Setelah makan kamu minun lagi semua resep dari dokter untuk pagi ini." Titahku dan ia seakan protes. "Alena sudah baikan om jadi tidak perlu rasanya Alena minum obat lagi." Ujarnya , lah ini kenapa tiba-tiba ia jadi seperti nggak patuh gini.


"Nggak bisa gitu Alena tadi saya udah chek suhu tubuh kamu menggunakan termometer digital dan suhu panas atau demam kamu belum sepenuhnya normal. Jadi kamu tetap harus minum obatnya lagi." Tegasku.


"Tapi om Alena sebenarnya tidak suka minum obat, nggak enak tau obat."


"Makanya jangan sakit kalau tak mau minum obat." Ucapku datar.


"Yei siapa juga yang mau sakit, emang sakit bisa di minta gitu om?"


"Ya bisa aja sakit disengaja, tapi kamu memang bukan sakit di sengaja. Dan minum obat itu perlu jika sudah terlajur sakit, sudah tidak ada bantahan selesaikan makan kamu dan segera minum obatnya." Tegasku pada Alena.


Aku masih memandorinnya menyantap sarapannya agar setelah ia selesai menghabiskan sarapannya ia langsung meminum obatnya tanpa alasan lagi.


🍬🍬🍬


Bersambung...


Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰

__ADS_1


__ADS_2