TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU
BAB 36


__ADS_3

"Pilih Nak, mana yang paling kamu sukai di antara ketiganya!" Di depan ku kini terpampang tiga buah kalung berlian dengan motif dan model yang berbeda.


Aku menatap takjub karena keindahannya kalung yang berkilau walaupun tidak terlalu besar, tapi begitu cantik dan elegant di tambah dengan liontin yang di tiap masing-masing kalung terlihat unik. Meskipun liontinnya juga berukuran sedang.


Pasti mahal sekali kalung-kalung berlian ini. Aku rasa tabunganku akan terkuras habis-habisan jika aku membelinya. Kalaupun masih bersisa tabunganku karena si om nyebelin itu selalu memberi nafkah bulanannya begitu besar menurut ku, bahkan berkali-kali lipat dari uang jatah bulananku dari Papa sebelum aku menikah.


"Ayo Alena pilihlah Nak! Sari coba kamu jelaskan singkat tentang ketiga kalung berlian ini!" Titah Mama mertua lembut tapi tegas.


"Baik bu. Ketiga kalung berlian ini semua adalah limited edition dan yang terbaik desain serta kwalitasnya yang ada di toko perhiasan ini. Semua kalung berlian ini juga adalah edisi khusus yang di produksi di tahun ini dan sengaja mendesainnya dengan gaya simple, namun elegan serta di peruntukan bagi kalangan wanita muda seperti mbak ini contohnya." Mbak pramuniaga yang di panggil Sari oleh mertua ku mencoba menjelasankan sedikit tentang kalung-kalung yang berada di atas meja dimana aku dan Mama mertua duduk, dengan ramahnya.


Aku masih bingung dengan senyuman maksud Mama mertua ini suruh pilih apa aku harus membayarnya sendiri setelah aku memilihnya atau di bayarin olehnya?


"Kenapa Nak? Kamu tidak suka ya kalung berliantnya?"


Aku mengeleng cepat seraya berucap "Ah nggak gitu Ma."


"Terus apa?"


"Kalung-kalung ini semua cantik-cantik banget Ma, tapi untuk apa Alena memilihnya di antara semua ini Ma?" Selidikku.


Jujur aku masih bingung dan nggak mau kePEDE'an karena menganggap akan di belikan lagi sesuatu yang begitu mahal oleh Mama mertuaku.


Mama mertua tersenyum manis ke arahku , walaupun usianya tidak muda lagi akan tetapi itu semakin membuat wanita paruh baya ini semakin cantik.


"Ya untuk kamu dong Nak." What..? Apa aku nggak salah dengar?


"Tapi Ma ini terlalu mahal buat Lena."


"Ya namanya juga berlian asli dan berkualitas pasti mahal."


"Nah karena itu juga Ma Lena nggak akan sanggup membelinya."


"Kamu tenang aja Nak, ini sengaja Mama hadiahkan khusus untuk kamu menantu Mama yang cantik dan baik."


Kok nenek fashionable baik banget dan royal banget sih sama aku khususnya hari ini. Tapi kan ini kalung berlian mahal banget , terus tadi kata mbak pramuniaganya juga limited edition lagi. Aku kan nggak mau bikin tekor Mama mertuaku juga, apalagi jika di anggap begitu.


"Tetep aja ini terlalu mahal, belum lagi belanjaan tadi semuanya." Aku mencoba menolak secara halus jelas aku merasa ini berlebihan, belanjaan yang tadi saja sudah cukup.


Ntar malah anaknya ngira aku beneran matre dan morotin ibunya lagi baru sekali jalan-jalan bareng, harusnya kan kalau bisa aku yang bayarin belanjaan ibunya. Tapi ya gimana tadi mau bayarin makan aja di tolak katanya biar Mama aja Nak Lena. Ya udah mau tak mau aku menurut dari pada di kata sopan atau apalah, kan jadi serba salah juga.


"Udah jangan di fikirin, ayok pilih salah satu di antara kalung berlian itu mana yang paling kamu suka Nak!" Titahnya kembali tanpa mau di bantah tetep dengan seutas senyum kepadaku.


Eh si mbak pramuniaga yang bernama Sari ini juga malah ikut tersenyum ke arahku tapi senyumnya beda dari sebelumnya, yang aku juga nggak tau apa maksudnya.


"Tapi Ma?" Bingung ku.


"Udah jangan tapi-tapi."


Dengan ragu aku memilih salah satu dari ketiga kalung berlian yang memang cantik-cantik itu. Mama mertua pun senyum sumbringah setelah aku memilih sesuai perintahnya. Lalu kalung berlian itu di bawa oleh mbak Sari untuk di kemas/di bungkus sesuai mestinya dan sisanya di bawa oleh pramuniaga lain ke tempat asalnya untuk di jual kembali pastinya.


"Ma, Pak Tono mana?" Tanya Andra yang telah muncul di hadapan Alena dan Mamanya setelah ia kembali dari izin ke toilet tadi.


Perasaannya medadak tak nyaman dan kesal akan kejadian di toilet tadi, efek ulah Mira yang tak pernah Andra sangka-sangka. Andra ingin segera undur diri dari tempat ini. Agar tak melihat Mira lagi dan tidak memicu perasaan Mira, apalagi memicu Mira untuk berbuat hal aneh-aneh lagi seperti tadi.


"Biasa si Tono yang nunggu di mobil atau Mama suruh ngopi aja dulu, nanti Mama susul dia ke parkiran. Kenapa kamu Ndra kok sepertinya sedang kesal?" Tanya sang Mama merasa heran melihat mimik wajah putra bungsunya itu yang berbeda dari sebelum ia permisi ke toilet tadi.


"Nggak ada Ma." Elak Andra berusaha menampilkan mimik semulanya.


"Apa kamu dan Alena mau pulang sekarang?"


"Iya,Ma. Jadi Mama pulang dianter Pak Tono seperti biasa kan? Atau ayok sekalian Andra anter saja Ma?" .

__ADS_1


"Udah Mama pulang dianter Tono aja setelah toko tutup Nak, kamu mau pulang duluan sama Alena ya udah nggak papa. Nanti, Mama bisa minta tolong Mira anter ke parkiran sekalian anter Mira pulang." Terang sang Mama.


Mbak cantik yang brnama Mira pun datang sambil membawa paper bag kecil yang berlogokan nama toko perhiasan ini.


"Ini bu kalungnya sudah di bungkus sesuai mestinya bersama nota resminya." Mbak Mira meletakkannya di meja tepat di hadapan Mama mertuaku dengan ramahnya.


Si om nyebelin masih di posisi berdirinya di hadapan kami setelah ia dari toilet tadi.


"Terima kasih ya Mira." Ucap Mama mertua.


"Iya bu." Balas mbak Mira ramah.


"Ma kalau gitu Andra sama Alena pamit pulang ya Ma." Andra pun menyalami takzim sang Mama.


"Oya udah, kamu hati-hati ya Andra nyetir mobilnya."


"Ngih Ma." Kata si om.


"Ini Nak Lena jangan lupa." Mama menyodorkan paper bag mini yang berlogokan nama toko perhiasan ini kepadaku.


Aku pun meraihnya sedikit sungkan sambil langsung mencium punggung tangan kanannya takzim. "Terima kasih banyak ya Ma." Ucapku tulus saat setelah mencium tangannya takzim berlajut dengan cepika, cepiki.


"Ini juga Nak jangan sampai ketinggalan." Ucap Mama mertua lagi sambil menunjuk beberapa paper bag yang berukuran lumayan besar-besar kepadaku.


Aku pun akan segera meraih beberapa paper bag tersebut yang masih berada di sisi meja, akan tetapi si om malah duluan meraihnya. "Om sini, eh Mas sini biar Lena aja yang bawa." Aku keceplosan, semoga orang di sekitar ku tak menanggapi keceplosan ku barusan.


Aku mencoba merebut para paper bag tersebut dari tangan si om, namun si om mengelaknya seraya berkata. "Udah saya saja yang bawa." Tegasnya.


"Ma terima kasih banyak ya." Ku ucapkan lagi rasa terimakasihku.


"Iya Nak, hati-hati di jalan ya."


"Iya Ma."


"Wa'alaikumsalam. Warahmatullahi. Wabarakatuh." Balas Mama mertua.


🍬🍬🍬


Pagi ini aku dan si om sarapan nasi goreng ala-ala Alena geulis plus teh susu khusus untuk ku karena aku kadang mau dan suka teh susu hangat. Sedangkan si om minum seperti biasa teh manis hangat, cukup berbeda dari kebanyakan pria jika pagi atau sarapan minumannya kopi hangat.


Nah si om malah selalu teh manis hangat, katanya masih terlalu pagi jika perut di siram dengan kopi. Tentunya juga di iringi air mineral. Kadang memperingan diriku si om sengaja menyuruh tukang bersih-bersih unit apartement ini, yaitu ibu-ibu paruh baya yang berseragam khusus pekerja di apartement ini dengan jilbannya.


Kalian tau kan waktu itu aku pernah pake atm si om yg berwarna hitam pas ia di RS kerena terkena insident dan pinnya adalah tanggal ijab qabul kami, lalu pin pintu unit ini juga adalah tanggal resepsi kami. Yang bener saja ne om om pake tanggal itu semua.


Parahnya lagi sejak kami pindah di mari aku dan si om tidur selalu satu ranjang, walaupun memang si om nyebelin ini nggak pernah macem-macem, nggak pernah ngrepe-ngrepe aku ataupun minta haknya itu kepadaku.


Aku sih bersyukur banget, tapi ni si om bisa tahan juga ya fikirku. Aku kadang was-was juga jika si om tetiba nggak tahan terus main embat aku gitu aja.


"Kamu kenapa masih pakaian piyama begitu Alena? Apa hari ini kamu nggak kuliah?" Tanya si om di sela sarapan kami.


Mata elangnya sekilas melirik kearahku menelisik penampilanku yang masih memakai piyana serta rambutku yang di ikat cepol ke atas secara asal.


"Kuliah kok om, tapi mulai sabtu ini jadwalnya di pindahkan. Jadi siang masuk jam 2 dan itu hanya 2 SKS saja." Jawabku detail, si om ya seperti biasa hanya diam dengan datarnya sambil melanjutkan sarapannya.


Setelah beberapa menit hening kembali tak ada percakapan hingga akhirnya sarapan kami selesai. Aku langsung memuguti piring dan gelas sisa sarapan kami lalu membawanya ke westafel cuci pencuci piring, kemudian merapikan meja makan yang hanya muat untuk 4 orang makan saja. Setelahnya baru mencuci perkakas bekas sarapan kami.


Si om sudah siap-siap akan berangkat karena waktu sudah menunjukan pukul 7 pagi.


"Saya pergi dulu nanti saya antar kamu ke kampus. Kemungkinan saya akan pulang sekitar jam 12 siang nanti, setelah urusan saya selesai bersama klien saya di kantor polisi." Aku hanya diam menanggapinya, si om pun langsung menuju pintu utama unit ini setelah aku mencium pungung tangan kanannya takzim.


Tapi inget ya tidak ada adegan cium kening dalam ritual ini dan itu aku syukiri, karena jelas aku akan risih jika itu terjadi.

__ADS_1


____


"Pokoknya kali ini jangan sampai gagal lagi, kalian mengerti dan bermainlah dengan cantik."


"Baik boss."


"Untung saja sopir truk itu tidak membuka mulut dan untungnya lagi si ahli hukum yang sombong itu tidak meneruskan perkara insidentnya kala itu di kantor polisi."


"Iya boss."


"Pokoknya jika kali ini gagal lagi maka saya tidak akan membayar kalian dan jika kalian ketangkap dan mengaku maka keluarga kalian akan dalam bahaya, kalian faham itu ha!?" Tegasnya dari suara lelaki yang usianya tidak muda lagi itu.


"Ok, boss kami faham." Jawab dari 2 orang lelaki yang bertubuh tinggi tegap itu bak preman atau juga tukang pukul.


🍬🍬🍬


Sudah hampir 2 minggu berlalu setelah kejadian dimana Alena dan nenek fashionable sang Mama mertuanya itu pergi jalan-jalan dan shopping.


Drrrt...Drrrt...


"Assalamualaikum. Ada apa Ma?"


" ______"


" Innalillahi wainnailaihi rojiun."


"_____"


"Iya Ma nanti aku akan melayat kesana."


"_____"


"Wa'alaikumsalam."


Andra baru saja mengakhiri panggilan suara dari sang Mama, yang mengabarkan bahwa sepupu lelaki dari Papanya telah meninggal dunia. Itu berarti merupakan om-nya Andra juga yang memang sudah lama tinggal di Jakarta.


Andra yang masih di kantornya kini akan bersiap-siap untuk pergi ke rumah duka untuk melayat siang ini juga.


Namun, Andra baru menyadari jika Alena hari senin ini pulang kampus lebih awal yaitu siang. Jadi ia berniat akan menjemput Alena terlebih dahulu di kampusnya, setelahnya langsung pergi melayat bersama Alena.


_____


"Kami pamit undur diri ya Tan." Izin Andra untuk pulang dari rumah duka dan acara tahlilan almarhum Om-nya yang baru saja meninggal siang tadi dan telah di kebumikan sore tadi selepas bada Ashar.


"Terima kasih ya Andra dan Alena sudah hadir melayat dan ikut tahlilan malam pertama ini." Ucap tulus tante Rika selaku tantenya Andra.


"Iya Tan, tante yang sabar ya." Kali ini Alena yang berucap memberi sedikit ucapan support untuk tante dari suaminya yang sedang berduka.


Kedua wanita beda generasi itu pun bersalaman seraya cepika cepiki lalu berpelukan sebelum Alena benar-benar pulang bersama Andra.


Sebelumnya orang tua Alena juga ikut datang melayat, namun sudah pulang duluan. Sedangkan orang tua Andra akan menginap di rumah duka malam ini.


Mobil Fortuner GR-Sport baru warna black milik Andra mulai meninggalkan rumah duka malam ini di pukul 10 malam. Malam ini pun tiba-tiba turun hujan saat kendaraan roda 4 yang di kemudi Andra serta di tumpangi Alena melaju dengan kecepatan sedang yang masih di sekitaran jalan Jakarta.


Tiba-tiba ada yang mengahadang perjalanan mereka saat masih di pertengahan jalan pulang. Di depan mobil mereka telah ada mobil Jeep Wrangler berhenti mendadak.


🍬🍬🍬


Bersambung...


Terus ikuti ya cerita #terpaksamenikahdenganomnyasahabatku 🙏😊

__ADS_1


Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰


__ADS_2