TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU
BAB 30B


__ADS_3

"Sudah bangun kembali." Ucap suara berat itu datar saat si om nyebelin sudah masuk ke dalam kamar dan mata kami sempat bersitatap sekilas sambil si om nyebelin membawa nampan berukuran cukup besar berisikan makanan, ia pun melatakkannya di atas meja belajarku.


Aku yang memang sudah terbangun kembali beberapa menit lalu. Namun, masih terbaring lemah di atas ranjang rasanya memang masih lemas dan sedikit pusing. Tapi aku merasa tak bisa memejamkan mataku lebih lama lagi.


"Dudukkan posisimu Alena , ayo sarapan walaupun jam sarapan terbilang sudah telat." Titah si om nyebelin seraya melangkah membawa piring berisi makanan di tambah membawa satu cangkir berbahan batu ke hadapanku.


Aku pun bangkit perlahan dan memposisikan tubuhku untuk duduk bersandar di kepala ranjang.


"Makan sendiri atau perlu saya suapin?" Ih apaan sih aku kan bisa kali ya makan sendiri biar masih lemah dan sedikit pusing, dasar si om nyebelin.


"Makan sendiri aja." Jawabku singkat.


Si om nyebelin pun langsung beranjak dari hadapanku setelah aku menerima sepiring sarapanku yang di sodorkan oleh si om nyebelin. Lalu melihat si om nyebelin ini meletakkan cangkir di atas nakas sebelah sisi ranjangku ini, yang ternyata berisikan teh manis hangat.


Kusantap sarapanku dengan pelan setelah berdoa, terlihat si om nyebelin itu pun nenyantap sarapannya tepat duduk di atas kursi meja belajarku di sebrang sana.


Hening tak ada percakapan hanya suara-suara kecil dari sedok dan garpu yang beradu. Posisi si om nyebelin pun memang membelakangiku, karena meja belajarku tepat berada tak jauh dari sebrangku yang letak meja belajarnya menghadap ke arah ranjang. Itu jelas membuat kursi meja belajarku pun membelakangiku efek kursinya memang di hadapkan ke arah meja belajarku.


Selesai sudah sarapanku begitu juga si om nyebelin itu. Si om nyebelin mengambil piring dan cangkir bekas sarapanku meletakkannya di atas nampan, kemudian membawanya beserta piring dan cangkir bekas sarapannya keluar dari kamar ini.


Sungguh aku kesal dan kecewa si om nyebelin tidak menepati janjinya. Seperti yang ia katakan sebelum kami sah dan resmi menikah. Yang lebih membuatku kecewa lagi dan sangat kecewa kepada kak Fandi kenapa dia begitu tega dan jahat sekali padaku. Apakah kebanyakan lelaki itu hanya pembual janji dan br*engsek.


'CEKLEK'..


Si om nyebelin pun kembali masuk ke kamar dan kali ini dengan membawa segelah air mineral di dalam gelas panjang berkaca bening di tutup oleh tutup gelas almunium, lalu meletakkannya di atas nakas sebelah sisi ranjang yang ku tempati.


"Om." Ucapku pelan sebelum si om nyebelin benar-benar membalikkan badannya untuk melangkah pergi dari hadapanku.


"Heumm." Kedua mata elangnya menatap ke arahku.


"Kenapa kemarin sore om tidak menjemputku di kampus dan kenapa kontak om tidak bisa di hubungi?" Aku bertanya dengan nada sedikit ketus dan perasaan sungguh tak karuan.


"Maafkan saya Alena." Ih nyebelin banget sih si om nyebelin ini, kiranya kata maaf aja cukup gitu aku kan butuh penjelasan juga.


"Kata maaf aja nggak cukup om, apa nggak bisa om jelasin gitu kenapa semalam om tidak menjemputku dan tidak mengabariku malah nomor kontak om tiba-tiba nggak aktif. Om tau kan aku nungguin om cukup lama dan kampus juga sudah mulai sepi, karena sudah tidak jamnya lagi berkuliah. Mana sudah malam dan hujan deras." Ku luapkan unek-unekku rasanya aku sudah cukup menahan diri.


Namun, bukan karena aku takut yang berlebihan saat menunggu lama di kampus. Yang jelas menunggu itu adalah yang paling tidak mengenakkan bukan? Apapun itu situasi dan kondisinya apalagi tanpa kabar dari orang yang sedang kita tunggu.


"Om jahat." Hardikku menatap tajam padanya dengan mata berkaca-kaca.


Ya aku merasa si om nyebelin memang jahat. Karena dia juga yang tidak menjemputku semalam aku hampir di lecehkan oleh kak Fandi dan karena itu juga semalam si om berhasil mendapatkan suatu yang berharga pada diriku satu-satunya.


Tapi ntahlah sungguh aku tidak ingat jelas setelah aku benar-benar tak sadarkan diri, apa yang sebenarnya terjadi semalam kepadaku? Sungguh aku bingung.


Si om balas menatapku dengan tatapan yang berbeda dari sebelumnya, seakan tatapannya mengiba padaku kali ini. Tapi ketajaman matanya tetap terlihat jelas.


"Terus gimana kalau Alena hamil om?"


"Hamil?" Kening si om nyebelin pun terlihat berkerut dengan kedua alisnya bertautan.


Kenapa expresinya seperti keheranan begitu sih? Apa dia tidak sadar kalau perbuatannya semalam itu bisa membuahkan hasil dalam rahimku.


Bisa saja kan aku hamil, walaupun baru melakukannya sekali saja. Apalagi jika aku ternyata sedang difase kesuburan begitu pun si om nyebelin yang bisa jadi memiliki cairan yang tokcer.


"Kenapa om, kok gitu expresinya? Kan bisa saja Alena hamil karena kejadian semalam dan kalau Lena sampai hamil gimana nasib kuliah Lena?" Ucapku sendu merasa was-was jika iya aku akan hamil secepat itu setelah kejadian semalam jelas itu mempengaruhi masa depan kuliahku yang tinggal 2 tahun lagi kurang lebih.


"Om jahat." Hardikku lagi padanya.


"Berarti apa yang pernah om katakan dan janjikan kepada Alena sebelum akad nikah itu semua bohong." Air mataku kini telah lolos dari kelopaknya karena sudah tak dapat ku tahan lagi.


Dahi si om nyebelin semakin berkerut seakan dia sedang berfikir keras dengan apa yang ku lontarkan padanya, sedangkan aku semakin kesal bercampur bingung dengan sikap si om nyebelin yang seakan-akan acuh tak acuh atas setiap lontaranku.


"Kenapa om, kan bener yang Lena katakan?" Ketusku dengan menatapnya tajam tapi di iringi mataku yang terus mengeluarkan air bening yang rasanya asin itu.


"Astagfirullahalazim." Si om nyebelin beristigfar sambil menghela napas pelan. "Apa yang kamu katakan dan fikirkan itu sama sekali nggak bener Alena. Tak pernah terlintas sedikitpun di benak saya akan niatan sekeji itu, apalagi melakukannya tanpa izin kamu dengan keadaan kamu yang tak sadarkan diri seperti semalam."


"Om bohong!!"

__ADS_1


"Apa buktinya jika semalam saya telah melakukan apa yang kamu fikirkan dan tuduhkan kepada saya barusan." Apa-apaan si om nyebelin ini ucapannya barusan malah menuntutku.


"Bukti apa lagi om , jelas tadi saat Lena terbangun om sudah ada di atas ranjang dengan memeluk Lena. Di tambah lagi pakaian Alena sudah berganti dengan piyama ini." Tunjukku ke arah piyama yang kupakai ini di akhir kalimatku, tapi mataku tetap menatap tajam ke arahnya.


Si om nyebelin malah tersenyum ngetir ke arahku, apa maksudnya?


"Jadi kamu lebih merasa kecewa dan marah jika saya sebagai suami yang mengambil mahkota mu dari pada lelaki tengil yang bukan mahram kamu itu?" Cercanya.


"Om dan kak Fandi sama saja, JAHAT." Hardikku lagi dan lagi penuh penekanan.


"Saya tidak sama dengan lelaki tengil itu Lena!" Tegasnya sambil telunjuknya menunjuk ke arah dadanya sendiri, lalu beralih ke arah lain dengan nada penuh penekanan.


Si om nyebelin malah membalikkan tubuhnya melangkah menjauh dari hadapanku. Tangisku pun semakin menjadi, akan tetapi menangis lirih dengan menutup wajahku menggunakan kedua telapak tanganku agar tak terdengar sampai ke lantai bawah.


"Ya Allah begini rupanya punya istri bocah." Aku sedang menangis begini eh si om nyebelin malah makin nyebelin dengan keluhannya barusan.


Lalu sedetik kemudian tubuhku seakan di tarik oleh sebuah tangan kekar yang membawa ku kedalam dekapannya. Jelas aku tau itu ulah siapa, walaupun aku masih menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku sambil masih menangis. Siapa lagi kalau bukan ulah si om nyebelin, dari aroma tubuhnya yang khas dan maskulin itu aku dapat mengetahuinya meski tak melihatnya.


Di usap-usapnya punggungku lembut seakan memberi ketenangan untukku seraya berkata. "Sudah jangan menangis lagi, maafkan saya." Ucapnya datar namun terdengar lembut dan syarat ketulusan.


Aku menjauhkan kedua telapak tanganku dari wajahku yang telah basah oleh air mata, berusaha mengurai dekapannya. Si om pun mengurainya memberi jarak sedikit dan aku malah memukul-mukul dadanya dengan kepalan kedua tanganku secara bertubi-tubi, rasanya kesal sekali aku kepada lelaki di hadapanku ini. Lelaki yang kupulin dadanya hanya bergeming saja tanpa menghentikan pergerakan kedua tanganku dari dada bidangnya.


Akhirnya ku menghentikan kedua tanganku sendiri dari aksi memukul dada bidang si om nyebelin yang tertutup t-shirt polos berwarna hitam. Aku menunduk pada akhirnya setelah itu sambil masih tetap tersedu dalam lirihan tangisku.


Si om nyebelin membungkukan sedikit tubuhnya dan wajahnya mulai mengarah ke wajahku dia raih wajahnya dengan kedua tanganya mendongakan kepalaku agar bisa berhadapan pas di depan wajahnya. Seketika si om nyebelin pun menghapus air mataku lembut dengan kedua jempolnya, karena kedua telapak tangannya sedang memegang tekukku sembari mengapit wajahku.


Otomatis kedua ibu jari dari tangan kanan dan kirinya akan berada tepat di bagian wajahku berada antar pipi dan kedua mataku. Sungguh aku merasa gugup serta merasa berdesir ntah kenapa ini ya Alloh?


"Kenapa kamu itu selalu berfikir negatif kepada saya Alena? Atau lebih tepatnya kamu itu selalu salah faham kepada saya." Ucapnya terdengar lembut di telingaku dengan mata elangnya menatapku lekat.


Aku yang diperlakukan seperti ini jelas membuat detak jantungku tiba-tiba ingin maraton.


"Saya tegaskan kepada kamu Alena. Mahkota kamu masih aman dan kamu tidak akan hamil begitu saja jika tidak dibuahi. Sampai disini kamu faham kan, Alena?" Ucapnya lagi dengan suara lembut namun syarat ketegasan.


Aku berusaha menatap ke manik matanya mencari kebenaran dari ucapannya barusan dengan mataku yang masih berkaca-kaca karena tangisku belum usai sempurna. Tak lama ia membawaku kedalam dekapannya. Wajahku kini menempel tepat di dadanya yang terbilang berbidang.


Sejenak hening untuk beberapa detik dan aku merasakan kenyaman dalam dekapannya , sama seperti saat tadi aku belum terbangun sempurna aku merasakan kenyamanan itu lagi saat ini.


Aku pun mencoba bertanya agar kebigunganku ini terjawab. "Tapi om? Kenapa kita bisa tidur bersama dan piyama ini siapa yang pakaikan?" Aku sungguh bingung dan begitu penasaran akan kejadian semalam setelah aku tak sadarkan diri.


Si om nyebelin malah tersenyum aneh posisi kami masih seperti tadi , ntah mengapa walaupun aku sedang kesal sekali saat ini kepada si om nyebelin ini. Tapi aku enggan melepaskan diri dari dekapannya kini , aroma tubuhnya mengapa serasa memabukan bagiku sama seperti tadi.


Si om nyebelin pun berkata. "Selepas saya sholat subuh tadi kamu tiba-tiba mengigau dengan suara yang cukup kuat, sepertinya kamu berminpi buruk akibat dari kejadian semalam. Itu sebabnya saya mendekat kepada kamu yang berada di atas ranjang untuk membangunkan mu dan menenangkanmu Alena. Tapi kamu masih terus mengigau dan meracau ketakutan dengan kedua mata kamu masih terus tertutup. Hingga akhirnya saya mencoba memeluk kamu dengan maksud ingin memberikan ketenangan kepada kamu dan setelah kamu tenang saya akan bangkit dan menjauh dari kamu.


Namun, saat kamu sudah cukup tenang dan tidak merancau ataupun mengigau lagi kamu malah menahan pergerakan saya yang hendak bangkit dan menjauh dari posisi kamu. Saya mencoba bertahan untuk beberapa menit sampai kamu benar-benar terlelap kembali dan saya bisa menjauh. Akan tetapi saya malah tak sengaja ketiduran bersama kamu di ranjang ini." Terangnya, tumben bisa banyak bicara ne freezer.


Sepertinya si om nyebelin ini memang bisa bersuara panjang lebar sesuai kondisi dan situasinya kali ya.


"Terus siapa yang menggantikan pakaian Lena?" Tanyaku ketar ketir lalu aku melepaskan diri dari dekapannya, ia pun melerainya.


Aku mencoba menatap kedua maniknya serius, untuk memastikan kejujuran dari setiap penjelasannya dan ia pun kembali berucap.


"Awalnya saya ingin membiarkan kamu tidur dengan kemeja dan celana jeans yang sudah kamu pakai hampir seharian ke kampus. Tapi itu jelas akan membuat tak nyaman dan tak baik bagi kamu tidur. Hingga akhirnya tak lama Mama datang ke kamar ini membawa baskom kecil yang isinya ternyata air hangat dan handuk kecil."


Si om nyebelin menjeda sejenak penjelasannya dan aku masih diam sambil menatapnya untuk kembali menyimak setiap kalimat yang ia jelaskan kepadaku.


"Mama juga yang langsung mengambilkan pakaian piyama ini sebagai ganti pakaian kamu Alena." Terangnya lagi sambil matanya menoleh sekilas ke arah piyama yang aku kenakan.


"Disaat Mama sibuk merogoh isi lemari, Mama juga terus berucap kepada saya untuk segera membuka pakaian kamu dan membersihkan tubuh kamu dengan handuk yang telah dibasahi dengan air hangat tersebut. Dengan situasi seperti itu saya tak bisa mengelak atau beralasan lagi."


Dari semua penjelasan yang si om nyebelin paparkan barusan memang semua cukup masuk akal, karena kejadiannya juga semalam aku tidak sadarkan diri. Ntah mengapa aku bisa tak sadarkan diri semalam secara tiba-tiba.


"Apa om yang membawa Alena pulang?" Tanyaku penasaran kembali bagaimana ia bisa tau keberadaanku malam itu di apartement yang kata kak Fandi adalah apartement temannya yang sedang sakit.


"Kenapa kamu bisa ada di apartement itu dengan lelaki yang bukan mahram mu Alena?" Si om nyebelin bukannya menjawab pertanyaanku barusan ia malah balik bertanya dengan pertanyaan lain.


Tapi sekarang aku cukup merasa sadar jika aku juga bersalah kepada si om nyebelin, akhirnya kuceritakan apa adanya. Perihal kenapa aku bisa menerima ajakan kak Fandi yang menawarkan diri untuk mengantarkan ku pulang sampai bisa ada di apartement tersebut.

__ADS_1


Ku jelaskan panjang kali lebar hingga si om pun yang sedari aku menjelaskan hanya menyimak dengan baik, kini ia bersuara lagi. "Kamu kan bisa menghubungi Mama atau Papa atau jika merasa kurang pas atau bagaimana kan ada Vera yang notabene sahabat kamu bisa kamu hubungi dan di mintai tolong atau bisa juga kamu bertanya keberadaan saya kepada Vera." Ya Alloh apa yang dikatakan si om nyebelin bener-bener membuatku merasa bodoh, bahkan sangat bodoh. Ntah kenapa aku bisa tak berfikir begitu sebelumnya?


"Maaf om." Lirihku merasa tak enak hati dan juga malu hingga aku akhirnya menundukan kembali kepalaku seraya berucap lagi "Alena sungguh tidak berfikir begitu saat itu hingga akhirnya kak Fandi datang menghampiri Lena dan menawarkan dirinya untuk mengatarkan Lena pulang. Lena juga tidak menyangka jika kak Fandi semalam ingin berbuat tidak senonoh pada Lena." Keluhku dengan perasaan campur aduk di hadapan si om nyebelin.


"Allah masih melindungi kamu Alena." Ungkapnya penuh kelegaan.


"Maaf dan terima kasih ya om." Ucapku tulus sekilas melirik kearahnya.


"Heumm." Responnya hanya sebuah deheman.


"Terus saat om pulang bagaimana tanggapan Mama dan Papa?"


"Saya hanya masih berkata kalau kamu sedikit kehujanan karena menunggu saya di depan gerbang kampus hingga tak sadarkan diri saat saya tiba."


"Huftt." Hembusan kelegaan ku keluarkan dari bibir mungilku.


"Syukurlah om hanya berkata begitu, Lena nggak mau Mama dan Papa terlalu khawatir. Apalagi jika tau kejadian sebenarnya kalau anak gadis semata wayangnya hampir saja terlecehkan." Ungkapku lirih.


"Kamu fikir saya tidak mengkhawatirkan kamu Alena? Kamu itu istri saya Alena , bagaiamanapun saya akan mengkhawatirkan kamu. Apalagi semalam saya sudah ngebut ke kampus setelah saya menyadari kekhilafan saya yang telat menjemput dan mengabari kamu. Kalau saja teman saya itu tak menghubungi saya , ntah kemana saya harus melajukan kendaraan saya lagi untuk mencari kamu Alena." Ungkapnya sedikit emosi sepertinya si om nyebelin ini menyesali atas kesalahannya tersebut kemarin.


Tapi apa si om nyebelin memang benar-benar mengkhawatirkan diriku?


"Terus kenapa om bisa kelupaan menjemput Lena setelah Lena mengirim pesan, minta di jemput?" Cercaku.


Si om nyebelin pun mulai menerangkan dengan singkat, padat dan jelas mengapa kemarin ia sampai kelupaan untuk menjemput ataupun mengabariku. Aku kira si om nyebelin memang sudah tak mau peduli lagi padaku, apalagi mengkhawatirkan ku. Makanya mungkin ia tak menjemputku dan sengaja mematikan nomor kontaknya agar jika ku hubungi tidak akan bisa.


"Ya sudah dalam perkara ini sebenarnya kita berdua salah, tapi sayalah yang lebih salah. Hingga kelalai saya bisa jadi pemicu kamu dalam bahaya, maaf kan saya Alena."


Aku memerhatikan kembali manik mata elangnya sungguh dari awal aku mencoba mencari kebenaran tersebut memang jelas itu yang selalu terlihat. Mata elangnya selalu berkata jujur dan tulus tak ada tersirat kebohongan, aku jadi merasa benar-benar bersalah selama ini selalu berfikir yang tidak-tidak kepadanya.


Namun , aku juga malu dan masih kesal jika mengingat dan membayangkan bagaimana si om nyebelin ini yang membersihkan badanku serta mengantikan pakaianku semalam saat aku tak sadarkan diri. Ya Alloh malu-malu, malu. Aku refleks menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku menangis kesal bak anak kecil yang tak terima di larang atau di marahi oleh orang tuanya.


Itu reaksi spontanku kini yang merasa malu sekali, sambil mengeleng-gelengkan kepala ku karena menahan malu sekaligus kesal pada diri sendiri dan juga kepada lelaki yang berstatus suamiku di hadapanku ini.


Sungguh ini sangat memalukan menurutku. Seumur hidup aku sejak remaja belum pernah bertelanj*ang sepolos itu dihadapan lelaki, walaupun semalam itu aku dalam keadaan tak sadarkan diri. Jelas aku merasa malu sekali serasa diperlihatkan aib atau borokku.


"Kamu kenapa pakai acara menangis lagi Alena , seperti anak kecil begitu lagi nangisnya." Cercanya, dasar om nyebelin dia enak banget udah lihat tubuh polosku sedangkan aku sudah merasa sangat malu setelah mengetahuinya kini.


Aku coba berhenti dari reaksi spontan tadi mencoba tidak memikirkan apalagi membayangkan hal tersebut kembali.


"Om nggak pergi?"


"Kamu ngusir saya, Alena?" Ucapnya pelan namun mata elangnya seakan kembali mengintimidasi, jika ia meraasa tak suka.


"Bukan loh om, emang om nggak berangkat kerja gitu?"


"Hari ini saya tidak akan kemana-mana saya hanya akan bekerja di rumah saja sambil menjaga kamu." Wah dia kira aku bocah apa? Lagian ngejagainnya nggak gitu juga kali om.


Kalau begini aku akan semakin merasa malu atas kejadian semalam yang si om nyebelin mengantikan pakaianku.


"Loh kok bisa gitu sih Om?" Protesku merasa tak terima dengan ungkapannya barusan.


"Memang kenapa Alena?" Tanyanya sambil menatap tajam ke arahku dengan kedua alisnya yang terangkat ke atas.


"Nggak papa." Ketusku melotot kepadanya.


Toh aku protes juga nggak bakal bisa , ne oom-oom kan setiap perkataannya dan titahnya sukar untuk bisa di bantah.


Si om nyebelin pun bangkit dari duduknya yang dari tadi duduk di sisi ranjang berhadapan denganku. Sambil melangkah ia berucap.


"Lain kali kamu harus lebih berhati-hati lagi Alena karena terkadang pelaku kejahatan bisa jadi orang sekitar kita atau bahkan lebih tak terduga lagi bisa saja adalah orang terdekat atau tercinta kita." Itulah nasehat yang terucap oleh si om nyebelin aku hanya termangu menanggapinya.


Ia pun merogoh tas kerjanya dan laptopnya dan beberapa kertas yang ku yakini adalah berkas-berkas kasus yang akan ia tangani. Kemudian ia memposisikan diri berduduk di karpet berbulu halus yang memang sengaja aku sediakan di kamarku ini.


Si om nyebelin pun membuka laptopnya mulai mengerjakan tugas pekerjaannya selain sibuk wara wiri ke pengadilan, kantor kejaksaan dan juga kantor polisi. Itulah yang ku tau selama menjadi istrinya beberapa bulan ini. Selebihnya masih banyak yang belum ku tau, termasuk bisnis apa yang si om nyebelin itu lakonin selain menjadi seorang yang bekerja dibidang hukum.


🍬🍬🍬

__ADS_1


Bersambung...


Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰


__ADS_2