TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU
BAB 31


__ADS_3

POV FANDI.


Sebenarnya aku tak berniat ingin melakukan hal keji seperti itu kepada Alena. Namun, entah setan dan iblis dari mana merasuki ku hingga aku benar-benar mencoba melakukannya.


Saat itu aku benar-benar tak merencanakan untuk melecehkan Alena, niatan ku adalah hanya mengantarkannya pulang ke rumahnya.


Tapi dorongan untuk melakukan hal keji itu sungguh tiba-tiba diluar kendaliku dan aku malah di kendalikan oleh rasa kecewaku sendiri, agar aku melakukan hal keji itu.


Kecewa ku pada diriku sendiri itu karena telah dan tidak bersungguh-sungguh segera menyatakan dan melamar Alena. Sehingga kini Alena telah dilamar dan menjadi istri lelaki lain yang tak lain ternyata adalah omnya sahabatnya sendiri.


Sebelum aku mengantarkan Alena pulang aku mencoba mengajaknya makan dengan begitu aku memiliki waktu lebih lama bersamanya, karena sejujurnya aku sangat merindukannya. Tanpa ku duga juga ternyata Alena mengiyakan ajakan ku untuk mampir makan malam sejenak.


Saat aku dan Alena sudah berada di cafe dan memesan makan dan minum, Alena pun izin hendak ke toilet. Disitulah aku merasa benar-benar dikendalikan oleh iblis yang membuatku ingin melakukan perbuatan keji itu.


Nah saat Alena masih di toilet dan belum kembali ke meja kami. Saat itu juga pesanan kami telah datang. Tanpa fikir panjang aku pun diam-diam dan berhati-hati mencampurkan obat khusus ke dalam minuman Alena.


Obat tersebut dikenal dengan sebutan abusing drug atau juga roofie drug. Obat tersebut sangat simple pemakaiannya hanya di campurkan saja ke dalam minuman akan larut.


Obat tersebut juga jika di campurkan ke minuman apapun termasuk air mineral tidak akan berwarna ( tidak merubah warna asli minumannya ) serta tidak berbau dan tanpa rasa. Jadi minumannya tetep seperti rasa aslinya walaupun sudah di campurkan dengan obat tersebut.


Efek dari obat tersebut si korban yang meminumnya akan mengalami kehilangan kemampuan untuk mengendalikan dirinya seperti dia tidak sadarkan diri yang memicu seperti orang yang sedang berhalusinasi, kehilangan kemampuan untuk mengendalikan uratnya, kebingungan, mabuk , mengantuk serta pusing bahkan amnesia ( tidak akan mengingat jelas apa yang terjadi dan dialaminya selama obat itu di fase reaksinya ). Reaksi obat tersebut mulai terasa kurang lebih sekitar 20-30 menit kemudian setelah si korban meminumnya.


Kalian pasti heran dari mana aku tau dan mendapatkan obat semacam itu. Apalagi aku pada dasarnya bukanlah seorang yang suka bergaul dengan hal-hal semacam atau sejenis itu. Aku memang ramah dan baik kepada siapa saja, tapi aku cukup membentengi diri dari pergaulan yang tidak sehat dan tidak baik.


Namun, sejak aku patah hati dengan Alena itu malah membuatku semakin terpuruk dan bergaul dengan hal-hal buruk. Padahal sebelumnya aku pun pernah patah hati, tapi tak sesakit dan tak seterpuruk ini. Hal-hal buruk yang aku lakukan seakan sebagai pelampiasan rasa sakit dan kecewaku khususnya pada diriku sendiri.


Aku mendapatkan obat itu dari temanku yang baru aku kenal di club , entah apa maksudnya tiba-tiba saja kala itu ia memberi ku obat aneh itu sambil berkata.


"Bro ini obat mantul, lo bisa pakai obat ini sesimple banget. Tapi lo bakal mendapat hal yang luar biasa tanpa jejak." Aku megerutkan dahi dengan kedua alisku bertautan.


Jelas aku merasa tak mengerti sekaligus heran. Apa maksud lelaki kurus di hadapanku yang jelas baru ku kenal sejak aku mulai sering menghabiskan malam-malamku di salah satu club.


"Apa ini?" Tanya penasaran , jelas memang aku tak tau obat apa yang lelaki kurus itu sodorkan. Karena aku tak pernah menggunakannya.


"Suatu saat lo pasti butuh tu obat, gue suka pake tu obat tuk jerat cewek-cewek inceran gue. Tinggal campurkan ke dalam minuman tu cewek udah beberapa menit si cewek itu bakal bisa gue garap tanpa ia sadari, yang ada malah bisa keenakan tu ceweknya juga. Hahaha." Terangnya tanpa ragu dengan gaya urakannya.


Aku yakini lelaki kurus itu sudah sedikit mabuk dan sinti*ng, hingga akhirnya akupun jadi benar-benar sinti*ng karena sugesti dna hasutannya yang halus. Namun , sungguh berdapak nyata pada diriku. Sampai bisa-bisanya aku mencoba melakukan itu kepada Alena.


Seminggu sudah berlalu dari kejadian


Aku tak tau apa jadinya jika aku tak tertangkap basah oleh lelaki tak ku kenal yang tiba-tiba datang ke apartement. Kemudian disusul oleh lelaki lainnya yang ternyata suaminya Alena.

__ADS_1


Jika aku jadi benar-benar melakukan pelecehan itu terhadap Alena, ku rasa penyesalanku akan jauh lebih dalam dari ini. Sejak kejadian itu aku terus menghubungi dan mengirim pesan kepada Alena meminta maaf dan mencoba menjelaskan sebisa mungkin agar Alena mau memaafkanku.


Namun, tak satu pun Alena angkat panggilan teleponku dan tak membalas sekalipun pesan teks bahkan pesan suara yang aku kirim kepadanya melalui aplikasi berlogo hijau itu, yang jelas laporannya sudah terbuka dan terbaca. Hingga akhirnya malah nomor kontakku di blokir Alena.


Ku coba cari di kampus juga namun entah mengapa selalu tak bisa. Asal ke ruang kelasnya selalu dia sudah tak ada, ku coba tanya pada temannya yang ada jawabannya selalu sudah pulang katanya.


Dan hari ini setelah satu minggu berlalu dari kejadian itu. Serta entah bagaimana nasib mempertemukan aku lagi dengan Alena di kampus kami ini, aku dengan cepat berjalan sedikit berlari menuju arah dimana aku melihat keberadaan Alena.


"Alena." Kini aku sudah tepat berada di sebelahnya.


Alena berusaha ingin pergi menjauh dariku tanpa berkata dan aku langsung mencekal sebelah tangannya.


"Tunggu, Len!"


Dengan cepat ia berusaha menepis cekalanku seraya berkata "Jangan sentuh Lena Kak!" Bentaknya.


Baru kali ini aku mendengar seorang Alena berkata selantang itu kepada seseorang dan ia pun menatapku tajam ada kebencian dan juga kekecewaan yang jelas kini ku lihat di matanya yang indah itu.


Alena masih mencoba menepis cekalanku yang tadi ternyata tak bisa ia elakkan , aku pun berusaha tetap memegang pergelangan tangannya dengan kuat.


"Kak tolong lepasin, isstt." Alena berucap pelan kali ini seperti biasa , ada nada meringis dalam ucapannya. Sepertinya ia kesakitan.


Alena pun mengangguk pasrah sambil tetap menatap tajam ke arahku. Aku pun melepas cekalanku , sungguh bukan mauku berlaku kasar. Tapi aku sudah sangat frustasi bahkan tambah frustasi karena ulah dan kebodohanku sendiri.


Hening sejenak kini kami sudah saling berhadapan dalam posisi masih berdiri di salah satu lorong kampus yang kali ini tampak sedang sepi. Aku mengatur nafas dan perasaan serta emosiku sebelum aku berucap, aku manatap kearahnya lembut.


"Maafkan kakak Alena!"


"Maafkan kakak! Kakak sungguh khilaf saat itu, semua diluar kendali kakak. Seperti yang sudah ada kakak jelaskan di pesan wa waktu itu. Kalau itu bukan niat kakak dan bukan tujuan kakak untuk melakukan hal buruk itu kepada kamu Lena. Entah iblis dari mana merasuki diri ini. Tolong maafkan kakak Alena, kakak menyesal!" Terangku memelas dan berkata sungguh-sungguh, karena memang bukan itu niatku begitu.


"Sudahlah kak tidak usah di bahas lagi." Ucapnya terus menatapku tajam, lalu hendak beranjak dari hadapanku.


Aku kembali mecekal sebelah tangannya dan membawanya ke dalam dekapanku. Ku peluk Alena dengan erat ntah iblis dari mana lagi merasukiku hingga aku berani memeluknya.


"Lepasin kak, Alena mohon jangan sentuh Alena seperti ini kak. Ini sangat tidak pantas." Bentaknya lagi sambil terus meronta untuk melepaskan diri dari dekapanku.


"Lena benci kakak, lepasin!" Tak ku tanggapi ocehannya aku terus memeluknya erat sambil berkata.


"Maafkan kakak Alena, sejujurnya kakak mencintaimu Alena ini lah perasaan yang sesungguhnya. Namun, semua sudah sia-sia kakak sudah sangat telat mengakui ini langsung kepada mu Alena. Hingga iblis merasuki kakak karena kekecewaan kakak pada diri kakak sendiri. Maafkan kakak Alena , maafkan!" Akhirnya aku mengungkapkan perasaanku yang selama ini kupendam dengan meneteskan air mata, sudah tak ada lagi harga diri ini.


Hingga rasa malu pun tak ku hiraukan air mata ini malah jatuh saat setelah aku mengungkapkannya. Ntah mengapa patah hati ku kali ini membuat ku menjadi pria cengeng, rapuh bahkan yang lebih parah dari itu. Apalagi kalau bukan brengs*ek.

__ADS_1


Walaupun bukan niatku tapi jelas kelakuanku sekarang telah seperti itu secara tak langsung. Rasanya kecewa ku akan kebodohanku ini membuatku semakin tak karuan dan membuat orang yang kucintai mungkin akan semakin membenciku selamanya.


Alena terdiam sejenak saat aku mengungkapkan perasaanku, mungkin ia tak percaya atas pengakuanku barusan. Alena kembali berontak berusaha melepaskan diri dari dekapanku.


"Lepasin!"


"Please! Biarkan seperti ini dulu Len!" Sungguh aku tak tau malu malah memeluk erat yang bukan mahramku bahkan sudah berstatus istri orang.


Alena masih terus meronta berusaha melepaskan dirinya dari eratnya dekapanku.


"Eh lo gila ya." Tiba-tiba ada yang berucap sambil menarik tubuhku secara paksa dari dan kasar dari arah belakangku.


"Lepasin Alena! Dasar cowok aneh , istri orang di embat juga." Ucapnya nyalang lalu tanpa aba-aba BUGGH satu hantaman mendarat ke salah satu pipi ku yang mengenai sudut bibirku.


Aku hampir saja terhuyung ke lantai lalu lelaki yang memukul ku kembali berucap "Kakak tingkat macam apa lo kasi contoh nggak bener dan berlaku nggak bener sama adek tingkatnya yang jelas sudah jadi istri orang." Ucapannya bener-bener membentak wajahnya memerah tatapan nyalang sekali padaku.


Lelaki itu dan Alena masih menatap ke arah ku , aku meyeka sudut bibirku yang terasa perih dan sedikit berdarah dengan punggung tangan kananku. Sakit ini sebenarnya tak seberapa di bandingkan sakit kehilangan Alena.


Lelaki itu hendak memberi bongemannya kembali kepada ku , akan tetapi Alena mencegahnya mencoba menahan pergerakan lelaki itu sambil berucap. "Udah Ren udah."


Ya lelaki yang memberi bogeman pada ku tadi adalah Reno yang juga anak kampus sini dan satu kelas dengan Alena, bahkan mereka terbilang satu gabungan jika berkumpul dengan beberapa teman mereka yang lain.


"Ada apa sih?" Lorong ini tiba-tiba ramai dengan berbagai tanya dari celotehan mereka akan kejadian yang terjadi cukup terdengar. Mata mereka memandang ke arah kami bertiga.


"Awas lo ya macem-macem lagi sama Alena habis lo, gue nggak perduli lo kating gue atau apalah. Kalau lo berbuat nggak senonoh lagi apalagi sama sahabat gue Alena, siap-siap lo habis di tangan gue." Ancam Reno dengan nyalang ke arah ku.


"Udah Ren yuk kita pergi dari sini!" Seru Alena mengajak Reno sambil hendak berlalu dari sini.


"Alena tunggu." Ucapku, sungguh aku tak tau harus berbuat apalagi agar Alena memaafkan aku dan tidak membenciku.


Alena terus berlalu bersama Reno tanpa menghiraukan seruanku. Aku pasrah , aku faham aku salah besar dan fatal. Ntah mengapa otak , hati dan prilaku ku tak bisa singkron. Apa ini efek dari aku yang kini suka minum minuman haram itu yang kadang aku sampai mabuk.


Makanya otakku dan prilakuku jadi kacau dan tak bermoral seperti ini. Ya Allah maafkan aku , tapi kecewa ini sungguh perih sekali. Apa yang harus ku lakukan agar aku bisa kembali normal. Bahkan skripsi ku sudah cukup terbengkalai prestasiku pasti bisa hancur atau bisa-bisa aku tak bisa lulus dan wisuda tahun ini.


Akibat kebodohan ku ini, bodoh...bodoh...bodoh. Aku mengukuti diriku sendiri.


🍬🍬🍬


Bersambung...


Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰

__ADS_1


__ADS_2