
"Eyang, o'ops Mama maksud Lena." Aku terkadang masih silap atau salah memanggil Mama mertuaku dengan sebutan Eyang.
Habis memang usia kami juga sangat terpaut jauh walaupun Mama mertuaku ini tidak terlihat sekali seperti nenek pada umumnya. Karena masih terlihat cantik dan jelas penampilannya juga masih modis di usianya yang sudah lebih dari setengah abad.
Makanya aku masih sering menyebutnya dalam hati dengan sebutan nenek fashionable hehe.
"Iya, kenapa Nak?" Ucap Mama mertua dengan lembut.
"Nggak papa Ma, cuma kok Mama yang jemput Lena di kampus kali ini?" Aku sedikit heran dan penasaran.
Kenapa nenek fashionable tadi tiba-tiba nelpon dan mengatakan sudah menunggu di depan gerbang kampus, setelah aku keluar ruang kelas karena kuliahku hari ini telah usai.
"Tadi Mama udah izin sama Andra mau ajak kamu jalan-jalan dan shopping setelah kamu pulang kuliah, maka sebab itu Mama langsung jemput saja kamu di kampus mu Nak." Aku manggut saja sambil ber oh ria mendengar penjelasan nenek fashionable barusan.
"Emang kita mau jalan-jalan kemana Ma?"
"Kita ke salah satu Mall di yang ada di kota ini yuk, kamu mau kan Nak?"
"Iya mau Ma , Lena ikut aja."
"Sebenernya sudah lama Mama ingin mengajak Nak Lena
jalan-jalan berdua seperti ini, tapi waktunya aja belum sempat dan Mama takut menganggu aktifitas kuliah kamu dan waktu kebersamaan kamu bersama Andra. Apalagi kalian kan kala itu masih manten baru banget dan Andra juga masih saja sibuk dengan pekerjaannya. Jadi Mama berfikir juga pasti Andra sangat jarang sekali mempunyai waktu untuk kamu istrinya.
Mama harap kamu tetap mau bersabar ya dengan sikap Andra yang selalu sibuk dengan pekerjaannya serta sikapnya yang memang dingin. Namun, pada dasarnya Andra itu orang yang baik dan pedulian. Apalagi dengan keluarga dan orang sekitarnya akan tetapi caranya saja berbeda dari kebanyakan orang." Terang nenek fashionable dengan lembut ia memang selalu lembut saat berbicara padaku tatapnya terlihat seperti ia menyayangi ku seperti anaknya sendiri.
Itulah yang ku rasakan jika ia sudah berhadapan langsung seperti ini, aku jadi teringat saat jariku terluka dan di obati olehnya kala itu.
Aku hanya bisa tersenyum menanggapinya, aku masih merasa canggung sebenarnya jika berhadapan langsung dengan Mama mertuaku seperti ini.
"Tono kamu jalan-jalan saja dulu atau ini buat kamu ngopi di coffee shop, nanti saya wa kamu jika saya dan menantu saya ini sudah siap oke." Ucap nenek fashionable sambil tadi menyodorkan sesuatu yang rasa beberapa lembar uang yang di selipkan ke telapak tangan kanan sang sopir.
"Suwun ya Bu." Ucap pak Tono sang sopir.
"Yo wes santai wae Ton." Nenek fashionable pun mengajak ku turun dari mobilnya.
Kami mamasuki Mall yang megah yang ada di pusat kota Jakarta. Nenek fashionable mengapit lengan kanan ku dengan lembut berjalan beriringan. Kali ini moment adalah pertamaku di sore hari, setelah pulang ngampus langsung jalan bareng Mama mertuaku.
"Oya kita makan dulu atau belanja dulu nih Nak Lena?" Tanya sang nenek fashionable.
"Maaf Ma , kalau Alena mau sholat dulu blh? Soalnya tadi Lena blm sempat sholat Ashar di Mushola kampus." Jujurku.
Soalnya aku fikir tadi kan seperti biasa si om nyebelin yang bakal jemput aku dan langsung ke apartement, jadi sholatnya di apartement aja sekalian.
"Oo, ya udah yukk ke Musholla Mama temani dan tungguin. Mama sudah sholat Ashar tadi di rumah sebelum jemput kamu Nak." Sore ini sudah pukul 16 :15 WIB masih cukup ada waktu untuk melaksanakan sholat Ashar.
Setelah beberapa menit aku selesai sholat Ashar aku dan nenek fashionable langsung saja menuju salah satu cafe yang ada di Mall ini.
Kamipun masuk ke cafe yang terlihat ramai di dalamnya walau ini masih terbilang hari kerja bukan hari libur atau weekend. Cafenya juga terlihat bagus desainnya simple tapi indah di pandang bahkan ada juga tempat bermain untuk anak-anak di bagian sudut kiri dalam cafe ini.
Cafe ini ternyata bukan hanya bisa tuk anak muda saja melainkan bisa juga tuk tempat makan dan berkumpulnya keluarga kecil, ukurannya juga terbilang luas untuk cafe yang barada di dalam Mall.
"Selamat sore silahkan mau pesan apa?" Ucap pramuniaga dengan sopan dan ramahnya setelah kami sudah duduk di kursi sofa yang terletak di ujung cafe ini.
"Ah maaf , ternyata ibu yang datang ke cafe ini. Apa kabar bu? Silahkan ibu dan kakak mau pesan apa?" Ucapnya ramah dan sopan tanpa lepas senyum dibibirnya setiap pramuniaga berucap kepada kami.
Bahkan senyumnya semakin ramah setelah ia berucap seakan sedikit heran atas kedatangan nenek fashionable alias Mama mertuaku. Sepertinya Mama mertua langanan di cafe ini, makanya si pramuniaga cafe ini menyapanya dengan begitu ramahnya seraya menanyakan kabar pula.
"Alhamdulillah saya baik dan sehat, Ran." Senyum terukir ramah saat Mama mertuaku menjawab pertanyaan tentang kabarnya kepada pramuniaga yang di panggilnya Ran.
"Kamu pesan apa Nak?"
"Ini dan ini saja Ma." Jawabku langsung karena tadi aku sudah melihat dan membaca daftar menunya yang terdapat di atas meja kami.
"Oke, kalau begitu Ran ini dan ini dan ini ya pesanan kami." Tutur Mama mertua kepada pramuniaga di hadapan meja kami ini.
__ADS_1
"Baik bu. Saya ulangi lagi ya pesanananya ibu dan kakak." Lalu sang pramuniaga pun bembaca dengan singkat dan benar setiap pesanan kami lalu undur diri dengan sopan dari hadapan meja kami.
"Mohon menunggu untuk pesanannya, terima kasih." Sang pramuniaga mengantupkan kedua telapak tangannya di depan dadanya dengan sopan dan ramah lalu pergi.
"Habis dari sini kita shooping ya Nak." Aku hanya mengangguk seraya senyum.
Kemudian pesanan kami pun datang kami melahap dengan nikmat sambil sesekali berceloteh kecil. Mama mertus bercerita lagi sedikit tentang si om nyebelin yang kerjanya dari dulu hanya fokus ke sekolah dan karir atau pekerjaannya. Sampai nenek fashionable berucap.
"Kamu tau nggak Lena? Andra itu setiap di dekati cewek ogah-ogahan, bahkan dia nggak pernah pacaran sama sekali. Makanya Mama terkejut kalau waktu itu ada cewek dalam kamarnya yang ternyata itu kamu Nak. Tapi Mama mikir berarti Andra masih normal tidak seperti yang beberapa orang prediksikan tentangnya. Makanya Mama nggak mau kalian lama-lama menikah dan menyuruh Andra segera menikahi kamu Alena."
Si nenek fashionable nggak tau aja kalau aku lebih terkejut, kenapa bisa ada si om yang nyebelin itu ada di kamar itu. Kami aslinya nggak ngapaen-ngapaen bahkan sampai detik ini belum sama sekali. Karena prediksinya nenek fashionable ini hidupku terpaksa menikah muda dan terpaksa menikah dengan omnya sahabatku, lucu dan aneh bukan?
Lagi-lagi aku hanya senyum menanggapi celotehan dan cerita Mama mertuaku yang fashionable ini.
____
Tak terasa waktu makan dan berbelanja selesai di Mall ini, tadi sebelum Mama mertua mengajakku berbelanja kami ke Musholla Mall ini lagi untuk melaksanakan 3 rakaat yang sudah tiba. Mama mertua tadi membelikan ku sebuah tas branded yang cantik. Awalnya aku menolak halus karena memang aku tak membutuhkannya masih ada tas yang ku punya dan masih cantik walaupun tak semua bermerk mahal seperti ini.
Tapi kata Mama mertua sekali-kali belikan menantu kan nggak masalah sekalian tadi Mama membelikan ku sepadang sapatu wanita yang berhak cukup tinggi yang cantik dan elegan. Ada lagi yang di belikan nenek fashionable ini yang seharusnya lebih tak penting dari sepatu dan tas brended ini.
Kalian tau apa? Masa aku di belikan lengeri sampai 3 pasang dengan warna berbeda , yaitu warna merah, hitam dan warna baby pink. Yang benar saja, untuk apa pakaian haram ini coba dipakai oleh ku. Yang ada aku bergidik ngeri melihatnya dan membayangkannya menempel di tubuh mungilku yang putih mulus ini.
Sepertinya nenek fashionable ini udah sangat ngebet banget pengen punya cucu baru, hedeh. Aku belum mau buka sengel Nek apalagi hamil. Mau menolak lengeri tersebut jelas nggak mungkin. Ya sudah paling aku simpan aja nanti tibanya di apartement.
"Kita singgah dulu ya kesini Nak Lena." Ucapnya setelah kami hendak masuk ke sebuah toko perhiasan yang terlihat mewah dan aku baru sadar kalau ini adalah toko perhiasan dimana si om nyebelin mengajakku memesan cincin pernikahan kami di toko ini.
"Ibu, selamat malam." Ucap perempuan cantik berpenampilan cukup formal dengan lembut dan ramah sambil menyalami takzim punggung tangan kanan nenek fashionable ini.
"Mari masuk dan silahkan duduk bu." Ucapnya lagi setelah kami tiba di sebuah sofa yang dulu aku juga pernah duduki saat kesini dengan si om nyebelin.
"Ayo Nak duduk." Titah nenek fashionable lembut padaku.
"Iya Ma."
"Ibu apa kabar?" Tanya mbak cantik itu ramah dan lembut.
"Alhamdulillah sehat bu. Oya mau minum apa ibu dan mbaknya?" Mbak cantik itu melirikku sekilas dengan senyuman.
"Lemon tea hangat saja untuk saya, kalau kamu Nak Lena?"
"Samain aja Ma."
"Lemon tea hangat saja 2 ya Mira."
"Baik bu, tunggu sebentar ya bu saya pesankan dulu."
"Iya Mira."
Nenek fashionable menjawab dan mbak cantik itu pun berlalu dari hadapan kami. Sekarang sudah pukul 21:00 WIB ternyata cukup lama juga aku membersamai berjalan-jalan dengan Mama mertua yang fashionable ini.
"Kamu lapar lagi nggak Alena?"
"Alhamdulillah masih kenyang Ma makan sore tadi."
"Bener nih? Kata Vera kamu biar terlihat langsing tapi doyan makan juga hehe." Ucap Mama mertua dengan kekehan.
"Hehe..gitu ya Ma kata Vera."
"Hooh."
"Ih Alena jadi malu, Vera suka bongkar rahasia aja." Gumamku pelan tak sadar.
"Udah ngapaen malu sama Mama ini, toh body kamu tetep stabil juga biar doyan makan. Itu lebih nggak masalah." Yaelah rupanya gumamanku tadi di dengar si Mama mertua.
"Assalamualaikum." Tiba-tiba ada suara bass mengucap salam sambil mengambil dan mencium takzim tangan kanan Mamer ( Mama mertua ).
__ADS_1
"Wa’alaikumsalam. Warahmatullahi. Wabarakatuh." balas Mama mertua dengan salam lengkap.
"Kamu langsung dari kantor Ndra kesininya?"
"Iya Ma."
"Jangan suka pulang kerja malam-malam Ndra kasihan Alena di apartement sendiri."
"Bukan suka tapi memang belum kelar kerjaannya dan terkadang ada jadwal malam Andra harus ke kantor polisi untuk mendampingi klien Andra. Mama kan tau sendiri juga selama ini."
"Karena Mama sudah sangat tau makanya kamu coba kurangi dong menangani kasusnya, jangan selalu menerima setiap ada orang meminta jasa hukum dari kamu. Atau kamu kan bisa limpahkan ke tim kamu di kantor kan banyak juga tim kamu."
"Iya Ma insya Allah." Jawab singkat si om yang duduk santai di single sofa di sebelah mengarah sedikit ke hadapan kami posisinya.
"Silahkan di minum bu dan mbaknya."
"Ada pak Andra ternyata, Pak Andra mau minum apa?" Tanya si mbak cantik dengan ramahnya yang bernama Mira, setelah meletakkan dan mempersilahkan kami minum.
"Tidak usah Mira, terima kasih sebentar lagi juga pulang. Saya hanya mau menjemput istri saya saja." Tutur si om.
"Oo, kalau begitu saya permisi dulu Bu, pak Andra dan mbaknya." Mbak cantik itu pun lenyap dari hadapan kami.
"Tadi Mama yang nge-chat Andra untuk menjemput kamu Lena di sini. Nanti Mama pulang sama sopir aja seperti biasanya juga begitu kalau Papa sedang ada urusan di kantor." Terang sang Mamer.
"Iya Ma." Singkatku dengan senyum.
"Ma Andra permisi ke toilet dulu ya."
Si om pun langsung beranjak dari duduknya dan melangkah menuju yang akan dituju.
"Ada toiletnya kah di dalam toko ini?" Gumamku lirih habis aku melihat si om sekilas masuk ke ujung dari dalam toko ini setelah beranjak dari duduknya tadi.
Gemericik air dari westafel saat Andra sedang mencuci tangannya, setelah Andra mengeluarkan hajat kecilnya.
"Eh ada Pak Andra." Ucap Mira saat melihat Andra sedang mencuci tangannya di westafel.
Andra masih fokus dengan kegiatannya hingga akhirnya tanpa sadar Mira memeluknya dari belakang. Andra yang sudah menyadari akan hal itu langsung melepaskan tangan Mira dari perutnya dengan kasar dan cepat.
"Kamu apa-apaan Mira?" Bentak Andra.
Lalu Andra membalik tubuhnya akan tetapi Mira malah kembali memepet Andra tepat dihadapannya dengan tiba-tiba kembali, dengan sigap juga Andra mendorong tubuh Mira sedikit kasar.
"Kamu ini kenapa Mira? Apa maksud kamu bersikap begitu kepada saya." Bentak Andra lagi dengan menatap marah kepada Mira.
"Saya mencintai anda Pak Andra."
Degg...
Pernyataan macam apa ini ?
Andra pun terdiam kanget dengan kedua bola matanya membeliak atas pernyataan yang barusan ia dengar dari Mira.
"Jangan omong kosong kamu Mira!"
"Sungguh ini bukan omong kosong. Sejak pertama kali saya melihat dan bertemu anda, saya sudah mengagumi dan jatuh hati kepada anda Pak Andra." Ungkapnya Mira tanpa ragu dan malu.
"Buang jauh-jauh perasaan itu mulai detik ini! Kamu kan tau saya sudah mempunyai istri. Anggap kejadian dan pengakuan mu barusan tidak pernah ada, kau faham itu Mira!" Tegas Andra sambil manatap Mira dengan sorot mata yang mengintimidasi, berharap itu membuat Mira tidak melakukan hal semacam ini lagi di kemudian hari.
Andra pun segera berlalu pergi dari ruangan tersebut meninggalkan Mira yang masih tertengun dengan sikap dan ucapan Andra kepadanya tadi.
Air mata tak terasa mengalir membasahi pipi Mira dengan kedua telapak tangannya yang mengepal kuat, efek rasa sesak yang ia rasakan. Cintanya kepada Andra selama ini jelas tak pernah tersampaikan, ia pun cukup sadar diri akan statusnya selama ini. Sampai kali ini ia baru mengungkapkannya tanpa ragu dan malu.
🍬🍬🍬
Bersambung...
__ADS_1
Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰