TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU
BAB 30A


__ADS_3

Aku merasakan kenyamanan yang berbeda yang memang belum pernah aku alami sejak aku mulai remaja hingga saat inilah aku seakan baru merasakannya.


Sangkin nyamannya aku malah beringsut sampai aku merasakan seperti sebuah lengan kekar mempererat dekapannya kepada tubuhku. Aku malah semakin menikmati kenyamanan ini tanpa fikir panjang dan mata ini masih tetap tertutup rapat.


Dekapannya membuat aku nyaman sekali hingga aku seakan tak ingin lepas atau melepaskan diri dari dekapan ini, bahkan aroma tubuhnya saja membuatku mabuk. Namun , beberapa menit aku jadi penasaran apakah ini mimpi atau nyata?


Pada akhirnya aku mencoba membuka mataku perlahan-lahan masih dengan posisiku yang memeluk dalam dekapannya.


Saat kedua kelopak mataku terbuka sempurna alangkah terkejutnya aku mendapati dada bidang seorang pria yang masih terbungkus t-shirt berwarna putih dan setelahnya ku donggakkan sedikit kepalaku agar aku dapat melihat wajahnya.


Seketika aku langsung berusaha untuk melepaskan diri dari dekapannya setelah aku mengetahui siapa sosok lelaki yang tidur bersamaku. Setelah lepas dari dekapannya aku langsung beralih mengechek kondisi tubuhku.


Ternyata aku masih mengenakan pakaian lengkap tapi aku menyergitkan keningku berfikir, kenapa pakaian ku sudah berganti dengan piyama? Siapakah yang menggantikannya?


"Astagfirullahalazim." Aku menangkupkan kedua telapak tanganku kehadapan bibirku merasa syok. "Apakah si om nyebelin yang telah menggantikan pakaianku atau bahkan lebih dari itu." Aku menggeleng-geleng kuat mencoba mengelak dari fikiranku tersebut dengan perasaan tak karuan.


Ku alihkan pandanganku kepada sosok di sebelahku yang masih terlelap tidur. Sebenarnya pusing di kepalaku yang semalam masih sedikit terasa, aku mencoba mengingat kenapa aku bisa sudah ada di kamarku dan tertidur satu ranjang dengan si om nyebelin ini?


Kuputuskan untuk bangkit dari ranjang ini dan menuju kamar mandi. Namun , saat aku sudah berdiri sempurna di tepi ranjang dan hendak melangkah. Tiba-tiba kepalaku kembali semakin terasa sakitnya walaupun tidak separah dan seberat semalam.


Aku merasa tubuhku masih sedikit lemah dan kepala pun masih sedikit pusing. Akhirnya ku jatuhkan kembali bokongku di tepi ranjang dengan kedua kakiku yang tetap menapak ke ubin.


"Alena kamu sudah bangun ya." Suara itu yang terdengar seperti suara khas orang bangun tidur menyeruak dari balik punggungku, sehingga aku merasa mataku membola dengan perasaan gugup dan juga kesal setengah mati tak karuan.


Akupun merasakan ada pergerakan dari balik punggungku.


"Bagaimana keadaan kamu Alena, apakah sudah lebih membaikkah?" Tanyanya datar dan terdengar ada rasa khawatir dari nada suara yang keluar dari ucapan si om nyebelin barusan.


"Kamu menanggis Alena?" Air mataku ternyata keluar dengan sendirinya dari sarangnya tanpa bisa ku tahan.


Si om nyebelin ternyata sudah berada tepat di hadapanku wajahnya pun tepat berada dihadapan wajahku hingga mata kami saling bertemu. Itu jelas membuatku semakin gugup mataku pun kembali membola karena posisinya tersebut.


"Om jahat." Ucapku penuh kesal dengan air mata yang terus mengalir.


"Maafkan saya Alena."


"Sungguh saya minta maaf, kejadian semalam sungguh tak pernah terfikir oleh saya akan terjadi dan saya akan berusaha semampu saya agar kejadian semalam tidak akan terulang kembali."


Ku lihat si om nyebelin memohon maaf dengan tulus dengan posisi berjongkok dihadapanku sambil kedua tangannya memegang kedua lututku, kami masih saling bertemu tatap. Namun , pada akhirnya aku menundukan pandanganku dari si om nyebelin.


Akupun tak menyahuti perkataan si om nyebelin, karena jelas aku malu dan ada rasa yang aku juga tak tahu rasa seperti apa selain malu yang aku rasakan kini. Setelah kejadian semalam tapi dari rasa yang tak bisa ku tahu jelas itu apa, aku seperti merasa ada rasa kecewa.


Ya kecewa kepada si om nyebelin walaupun mungkin tidak terlalu dalam. Kenapa si om nyebelin mengambil kesempatan seperti ini untuk bisa mendapatkan mahkota berhargaku, di saat aku tak sadarkan diri.

__ADS_1


Aku tau itu haknya sebagai suamiku dan kewajibanku sebagai istrinya. Namun, kenapa harus si om nyebelin lakukan disaat aku sedang tak sadarkan diri seperti semalam.


Sesungguhnya aku masih bingung kenapa aku yang semalam seperti pusing begitu hebatnya sampai pada akhirnya aku tak sadarkan diri dan yang jelas ku ingat terakhir, kalau kak Fandi berusaha membuka kancing kemejaku.


Lalu aku juga sempat mendengar seperti ada suara-suara ribut dan sekilas melihat si om nyebelin muncul di hadapanku, tepat wajahnya berada di hadapanku. Entah itu halusinasi ataukah memang si om nyebelin saat itu nyata ada di hadapanku. Setelah itu aku tak tau apa yang terjadi.


"Minggir om Lena mau mandi dan segera pergi kuliah, waktunya sudah mepet." Ucapku cuek rasanya aku semakin enggan bertemu, apalagi berbicara dengan si om nyebelin setelah peristiwa semalam yang menimpaku.


Mungkin aku juga salah karena dia suamiku tapi hati masih kesal aja, entah lah.


"Kamu tidak perlu kuliah hari ini Lena, saya sudah meminta Vera untuk tolong izin ketidakhadiran kamu hari ini di kampus."


"Loh om kok gitu sih Lena kan mau kuliah hari ini."


"Kamu masih belum benar-benar pulih Lena kamu harus istirahat hari ini, jangan kemana-mana."


"Nggak, Lena mau kuliah. Om nggak bisa ngatur-ngatur Lena ya."


"Keadaan kamu masih membutuhkan istirahat Lena."


"Minggir om, pokoknya Lena mau ke kampus." Ucapku ketus lalu bangkit dari dudukku menyingkir dari si om nyebelin untuk segera mandi dan bersiap.


Tapi si om nyebelin menghadang langkahku yang hendak ke kamar mandi yang berada di ujung kamarku ini. Si om nyebelin berdiri tepat di hadapanku berdiri sambil berkata.


"Iya Lena yakin om." Akhirnya si om menyingkir dari hadapanku memberikan akses agar aku bebas melangkah.


Tapi saat baru beberapa langkah aku merasa kepalaku berdenyut kembali walaupun tidak terlalu sakit apalagi seperti semalam memang tidak, hanya memang cukup terasa berdenyut dan badanku memang benar-benar masih terasa lemah.


Aku hentikan langkahku karena denyutan di kepalaku malah makin terasa. Hingga suara berat itu terdengar lagi.


"Sudah kembalilah lagi ke atas ranjang Alena, kamu jelas masih butuh rehat."


Mau tak mau sepertinya perkataan si om nyebelin memang benar aku masih butuh rehat, dengan ragu dan terpaksa aku kembalikan tubuh ini agar mempermudah aku melangkah menuju ranjang. Si om membantuku dan aku menerimanya dengan pasrah akan perlakuannya.


Si om nyebelin menyodorkanku segelas air mineral yang terletak di atas nakas yang berada di sebelah posisiku yang kini sudah duduk bersandar di atas ranjang. Ia menyuruhku untuk meminumnya dengan gerakkan tubuhnya, akupun menerimanya dan mulai meminumnya.


Kulirik dia memerhatikan ku dengan mata elangnya tanpa berkedip dan akhirnya kedua bola mataku beralih melirik kedalam gelas bening ini. Kuyakin si om nyebelin masih menatap kearahku dengan tatapan yang tak bisa ku mengerti seperti tadi, walaupun manikku tak menatapnya lagi.


Tandas sudah air yang berada di dalam gelas bening ini, dengan perlahan gelas ini di ambil alih oleh si om nyebelin meletakkannya kembali di atas nakas. Si om nyebelin pun bangkit dan berbalik badannya melangkah menuju ujung kamar ini yang disana terdapat kamar mandi.


Aku kembali berfikir dengan bingung kejadian semalam setelah aku tak sadarkan diri, apakah benar mahkotaku telah di ambil oleh si om nyebelin dan aku juga berfikir kenapa kak Fandi tega melakukan hal itu padaku?


🍬🍬🍬

__ADS_1


"Gimana si eneng nak Andra?" Tanyanya Lilis mamanya Alena kepada Andra saat ia sampai di dapur.


"Alhamdulillah Alena sudah baikkan Mah , hanya masih sedikit pusing dan lemas." Jawab Andra apa adanya.


"Terus kenapa tidak turun tuk sarapan mana sudah jam 9, jam seginimah terbilang sarapannya kesiangan atuh." Cerocos Lilis mamah mertua Andra.


"Iya Mah maaf tadi saya ketiduran lagi setelah selesai sholat subuh lalu kebangunnya agak telat." Ucap Andra merasa tak enak.


"Ya udah atuh sebenarnya juga nggak terlalu masalah , hanya sarapan itu bagusnya sebelum jam 9 pagi. Mungkin kamu kelelahan juga untungnya nggak ikutan sakit kayak si eneng. Dia mah memang gitu kadang badannya itu ringkih Ndra alias lemah hehe." Selorohnya mama Alena.


"Ya udah atuh kamu sarapan dulu, mama teh tadi selepas subuh ada bikin nasi uduk sama lauknya biar mama siapkeun atuh."


"Udah Mah biar Andra aja yang ambil sendiri sarapannya sekalian sama sarapannya Alena kami biar makan di kamar saja, bolehkan Mah?" Tanya Andra karena ia merasa ini bukan rumahnya jadi sewajarnya ia meminta izin terlebih dahulu walaupun ini rumah mertuanya.


"Eleh-eleh yang mau berduan aja di kamar sama si eneng kamu nak Andra." Godanya si Mamah mertua dan Andra berusaha tetap datar-datar saja menanggapinya walaupun ada rasa tak enak serta malu dengan godaan yang di lontarkan sang Mamah mertuanya.


"Yakin ambil sendiri kamu nak Ndra, nggak papa?"


"Iya Mah, nggak papa."


"Ya udah atuh tu nasinya mah biasa ada di magicom." Tunjuk si Mamah mertua ke arah dimana ada magicom di sudut meja dapur sana. "Terus lauk-lauknya nih ada semua di dalam tuduk nasi ini ya nak. Oya, ini bakinya mana tau kamu teh perlu." Sang Mamah mertua pun membuka salah satu lemari yang ada di dapur dan merogoh sebuah baki kemudian menyodorkannya dan disambut oleh Andra baki berukuran cukup besar itu dengan tangan kanannya.


"Udah hafalkan tata letak gelas dan piringnya, terus jangan sungkan ya nak. Ini kan rumah orang tua kamu juga." Terang Mamah mertua kepada Andra dengan senyum yang ramah.


"Iya Mah , terima kasih. Oya, papa udah berangkat ke kantor ya Mah?"


"Ya atuh nak udah, ini kan udah siang tuk jam kantor hehe. Ya udah Mamah ke depan dulu ya nak Andra."


"Iya Mah." Lalu si Mamah mertua pun berlalu menghilang dari ruang dapur.


Andra pun segera menyiapkan sarapannya dan juga sarapan untuk sang istri. Tak lupa teh manis hangat tuk sang istri dan dirinya. Kini semua telah siap dan Andra segera menuju lantai atas tepatnya ke kamar Alena yang juga menjadi kamarnya.


Alena yang tadi terlihat kembali tidur saat Andra selesai membersihkan diri dari kamar mandi. Selama ini khususnya selama Andra masih tinggal di rumah mertuanya bareng Alena sang istri. Jelas Alena lah yang selalu menyiapkan semua keperluan Andra hingga melayani makan, hanya melayani dalam hal ranjang saja Alena belum bisa atau tepatnya belum mau melakukannya.


Namun, Andra selama sudah menikahi Alena beberapa bulan ini memang belum pernah menyentuh atau mengajak Alena sang istri untuk melakukan ritual malam pertama.


Tapi entahlah, apakah semalam Andra sungguh sudah melakukan ritual malam pertamanya dengan Alena , di saat Alena dalam keadaan tak sadarkan diri..?


🍬🍬🍬


Bersambung...


Salam sehat selalu ya dari riritambun..🥰

__ADS_1


__ADS_2