TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU

TERPAKSA MENIKAH DENGAN OMNYA SAHABATKU
BAB 5


__ADS_3

Di sebuah ruang makan yang cukup luas dengan meja makan yang juga megah dengan kursinya yang berukiran unik telah berkumpul keluarga Abraham sedang menyantap makan malam bersama, disana juga terdapat Alena yang juga ikut makan bersama dengan keluarga kecil Abraham.


"Alena kenapa makannya cuma di aduk-aduk gitu dari tadi tante perhatikan, apa makanannya nggak enak yach?" Cetus tante Kemala mamahnya Vera.


Aku sontak mendogakkan kepalaku yang dari tadi hanya menunduk dan menatap kearah mamahnya Vera dengan senyum kikuk.


"Hehe...Nggak kok tan makanannya enak." Ucapku merasa tak enak hati dan bingung, aku pun berusaha menyuapkan makanan yang ada di piringku ke dalam mulutku walau tetiba aku tak berselera.


Aku jadi badmood karena kejadian tadi sore, hingga selera makanku hilang walaupun sebenarnya aku lapar.


Padahal hidangan-hidangan di atas meja makan ini aslinya enak-enak dan banyak lagi.


"Gimana mau selera makan." Lidah itu berucap lagi.


"Kalau si wedok habis digituin sama si lanangnya." Namun lidah yang berucap bukan lidah tante Kemala melainkan ibu mertuanya, siapa lagi kalau bukan si nenek fashionable tersebut.


"Maksud Mama apa?" Kali ini suara papanya Vera.


"Maksud Mama tu si wedoknya pasti sedih udah di ubek-ubek tapi nggak di nikahi sama si lanangnya."


"Sudah Pah jangan banyak fikir nikahkan saja secepatnya anak bungsu mu ini dengan perempuannya yang cantik ini." Lagi-lagi si nenek fashionable ini gila ingin menikahkan aku dengan anak lelakinya yang sudah oom itu.


"Kalau kelamaan keburu tekdung duluan perempuannya, bisa makin fatal." Ini apalagi sech pake drama aku hamil duluan pulak kata si nenek fashionable tersebut.


"Mamah bicara apa sih, kok makin ngawur." Tetiba si om ganteng tapi nyebelin itu bersuara dengan ketusnya.


"Andra secepatnya kamu harus melamar perempuanmu ini kepada orang tuanya langsung, kalau bisa besok setelah kamu menemui klienmu itu." Sontak aku terbotak-botak oops salah maksudnya terbatuk-batuk hingga mengemburkan sedikit makanan yang tengah ada didalam mulutku.


"Ini minum Len! " Vera pun sigap menyodorkan segelas air bening itu kepadaku.


Aku pun langsung menerimanya dan langsung meneguknya dengan rakus tanpa jeda hingga tandas isinya semua masuk kedalam kerongkonganku.


"Alhamdulillah, makasih ya Ver." Lirihku.


"Heemm." Balasnya Vera.


"Pelan-pelan Nak Lena makannya ya." Itu suara dari mamanya Vera dengan ramah namun ada syarat ke khawatiran yang kulihat sekilas di raut wajahnya.


"Iya tante." Jawabku singkat.


"Lihat tu Ndra dampak ulahmu apa kamu nggak kasihan sama perempuanmu, ampe terbatuk-batuk begitu. Itu tandanya perempuan mu ini sedang membathin karena ulahmu tapi kamu meneng bae." Cerocos si nenek fashionable ni, nggak ada matinya ya terus pembahasannya itu lagi dan itu lagi.


Ya nek aku membathin kalau aku dipaksa menikah dengan anak lelakimu yang bungsu itu.


Lagian aku nggak bakalan tekdung nek karena aku dan anak bungsu mu itu nggak ngapaen-ngapaen apalagi mes*m seperti yang nenek tuduhkan hingga detik ini.


Percayalah padaku kali ini nek, pliss!!.

__ADS_1


Gimana si nenek mau percaya kalau semua yang aku katakan hanya di dalam hatiku, boro-boro percaya dengar juga kagak kalau membathin gini ngomongnya.


'MAKKk...?! Tolongin eneng makkk...' Teriakku dalam hati.


Rasanya kelu lidahku ini setiap kali berhadapan dengan si nenek fashionable ini.


"Bikin selera makan jadi ilang." Si om ganteng tapi nyebelin tersebut pun terlihat menahan marah, sehingga ia pun menarik tubuh jangkungnya yang atletis itu dari kursinya dan beranjak meninggalkan meja makan ini.


Padahal makanannya belum habis sempurna.


Nah loh kenapa jadi samaan gini kita om nggak selera makan, jangan bilang kami jodoh ya readers!


"Pah lihat tu si Andra main kabur aja dari meja makan ini, jelaskan tu anak memang bersalah." Si nenek pun terus menyangka si om itu ngapain-ngapaini aku, padahal jelas faktanya tidak.


"Udah Mah kita lagi pada menikmati makan nggak sopan kalau lagi makan sambil bicara terus." Tegas si kakek gagah itu.


Dan si nenek fashionable itu pun langsung terdiam tak bicara apapun lagi.


Acara makan malam bersama pun telah usai para tetua telah berlalu dari ruang makan yang cukup megah ini.


Sedangkan Vera tetiba menghilang ntah kemana, sudahlah


fikirku nanti juga ketemu ini kan rumahnya.


Lalu aku memunguti satu persatu piring-piring dan


Dan tiba-tiba bi Minah pun datang dan menghentikan pergerakanku.


"Udah non Lena biar bibik saja yang bereskan beserta Susi."


"Eh bi Minah nggak apa kok bi Lena juga sudah biasa di rumah seperti ini kok." Terangku karena memang begitu adanya dan aku merasa segan saja habis makan tak bantu-bantu barang sebentar.


Masa iya aku main diem aja apalagi ini hal mudah dan biasa bagi seorang perempuan bukan.


Aku pun mulai membawa tumpukan piring-piring kotor bekas makan malam bersama tadi menuju dapur dan bi Minah membawa gelas-gelas kotor tadi dengan baki besar.


Sedangkan mbak Susi ART rumah ini juga ia membersihkan meja makan dan membawa sisa-sisa hidangan tadi ke tempatnya yang lain.


"Udah non jangan cuci piring dan gelasnya ini kerjaan bibik." Ucapnya merasa tak enak padaku.


Tiba malah muncul si Vera ntah dari mana tadi dia selepas selesai makan malam bersama.


"Len lo paen pake acara nyupir ( alias nyuci piring ) segala dimari itu udah ada petugasnya dimari." Cerca si Vera.


"Ya nggak apalah nyupir gini aja kok nggak bakal bikin pinggang gue encok." Tukasku pada Vera.


"Yei elo Len jangan nyindir gue dong." Cebiknya si Vera.

__ADS_1


"Lo dari mana Ver kok tadi tetiba ngilang usai makan malam bersama, gue ditinggalin." Ketusku sambil aku masih mencuci piring-piring dan gelas-gelas berserta kawan-kawannya yang masih berserakkan di dalam westafel dapur.


"Ah itu gue tetiba kebelet pup hehe.." Cengernya.


"Pantes bau." Cebikku.


"Udah yuk bagusan kita kerjain lagi tugas makalah kita biar cepat kelar." Ajaknya sambil menarik salah satu tanganku yang masih basah-basah masih membilas piring dan kawan-kawannya.


"Eh tunggu dulu atuh itu belum kelar gue nyupirnya, gimana seh ? " Sewotku.


"Udah biar bi Minah yang lanjutin." Ujarnya santai.


'Emang ne anak ya pas giliran kejadian sama eyangnya ne anak malah nggak bisa di andelin.' Geramku dalam hati.


🍬🍬🍬


"Lena , Alena lo kenapa jadi melamun gini seh nggak biasanya lo belajar atau ngerjain tugas kek gini ? " Herannya si Vera.


"Eh iya Ver napa? " Kangetku.


Membuat lamunanku buyar seketika, aku memang lagi badmood bener tadi nggak selera makan eh sekarang malah jadi nggak fokus ngerjain tugas kuliah.


Ya Allah aku jadi kefikiran selalu tentang ucapan si nenek fashionable itu yang mau menikahkan aku sama si om yang ganteng tapi nyebelin banget.


Jujur aku nggak akan sanggup kalau beneran itu kejadian.


Bener-bener apes banget sih rasanya diriku baru sekali menginap rumah sahabat sendiri malah dituduh kena insident mes*m dimari.


"Maaf lagi deh ni pasti lo masih mikirin kejadian tadi sore ya terutama kata-kata eyang putri gue ya ? " Tebaknya tepat sasaran.


Aku tak menyahut hanya menghela nafas sungguh insident tadi yang sebenarnya sih bukan insident ya tapi tepatnya salah faham atau bisa jadi juga salah kamar.


Ntah lah aku jadi serba salah dan binggung , sebenarnya ini salah gue, atah Vera atau si Om ganteng yang nyebelin itu seh ?


Oh nggak...,nggak....


Ini tepatnya salah si nenek fashionable itu yang tetiba nuduh kami dan keukeuh si nenek fashionable itu atas tuduhannya kepada aku dan si om nyebelin itu


"Len udah dong melamunnya jangan difikirin kali." Sungutnya si Vera.


"Gimana ni Ver ? Pasti eyang putri lo mikirnya rendah banget sama gue karena eyang Putri lo itu udah nganggep gue mes*m sama anaknya yang nyebelin itu." Tebak ku pada Vera.


Akhirnya respon Vera malah diam saja lagi dan aku pun juga sama diam, aku benar-benar badmood dan buntu sudah.


🍬🍬🍬


Bersambung...

__ADS_1


Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰


__ADS_2