
"Assalam'mualaikum."
"Wa'alaikumsalam. Eh Den Andra sudah pulang."
"Iya bik, setelah tadi bibik menelepon saya langsung pulang. Jadi Alena di kamar terus dari tadi bik hingga sekarang?"
"Iya Den nggak mau keluar dan nggak mau buka pintu juga. Pas bibik anterin makanannya cah ayu Alena tetep diam dan tak mau membuka pintu kamarnya. Bibik jadi khawatir makanya bibik langsung telepon aden , mana pintu kamarnya di kunci dari dalam Den." Jelas bibik panjang lebar dengan raut wajah khawatirnya.
Andra menghela nafasnya dalam merasa kesal bercampur khawatir atas kelakuan koyol sang istri. Namun, ia berusaha tenang karena rasa khawatirnya jauh lebih mendominasi dari pada rasa kesalnya.
Akan tetapi bagaimana Andra tidak kesal pasalnya Alena dari tadi malam tidak mau makan dan tidak makan sama sekali hingga siang menjelang sore ini.
Alena selalu tak merespon saat di ajak makan bahkan di antarkan makanannya ke kamar pun, malah kini Alena mengunci pintu kamar dan mengurung diri di kamar selain mogok makan.
"Ya sudah saya naik dulu ya bik." Pamit Andra kepada bik Ijah.
"Nggih den." Ucap bik Ijah.
Kini Andra sudah berada tepat di dipan pintu kamarnya yang di dalam sana berada sang istri kecilnya, siapa lagi kalau bukan Alena.
Tanpa aba-aba Andra langsung memegang hendle pintu dan memutarnya kebawah agar terbuka pintu kamarnya.
Namun , ternyata nihil pintu kamarnya benar-benar masih dikunci dari dalam.
Tokk...
Tokk...
"Alena." Panggil Andra dari balik depan pintu kamarnya dengan suara bassnya yang sedikit berteriak agar sang istri kecilnya mendengarnya.
"Alena." Ulangnya lagi.
Nihil tak ada jawaban sama sekali.
"Dasar bocah, beginikah jika memiliki istri masih bocah." Lirihnya masih tepat di depan pintu kamarnya.
Tokk...
Tokk...
"Alena ini saya dan saya tau kamu dengar saya dari tadi memanggil dan mengetuk pintu kamar ini. Buka pintunya Alena!" Titah Andra.
Masih tak ada jawaban atau pun pintu akan dibuka dari dalam kamar tersebut.
Tokk...
Tokk...
"Alena tolong buka pintunya, saya pun mau ganti baju. Kamu jangan seperti anak kecil begini Alena." Andra masih terus berusaha agar Alena membuka pintunya.
Tokk...
Tokk...
Ceklek..
"Apaan sih om berisik banget , ganggu tidur orang aja." Kesal Alena saat telah membuka pintu kamar.
"Kamu yang apaan? Pake mogok makan segala dan mengunci diri di kamar, kayak anak kecil lagi ngambek nggak di kasi main keluar rumah." Sungutnya sambil menatapku dengan tatapan yang tak bisa kuartikan apa itu.
Aku pun tak menghiraukannya dan kembali menaiki ranjang dan tiduran lagi sambil membelakanginya. Rasanya aku lemas banget karena dari semalam aku nggak makan. Untung saja asam lambungku nggak kambuh hanya lemas saja. Moodku udah berantakan sejak semalam hingga selera makanku jadi hilang, tapi perutku sebenarnya lapar.
"Ayok kita makan diluar dan jalan-jalan kamu siap-siap sekarang saya mandi dulu." Titahnya dan ku dengar pintu kamar mandi terbuka lalu tertutup kembali.
Bener-bener nyebelin si om sebiji ini, kan aku maunya JJM bukan JJS dan itu pun semalam bukan hari ini. Apa sih maksudnya si om nyebelin ini ? Kemauan dia aja yang mau dituruti , sedangkan kemauanku dia abaikan. Egois dan mau menang sendiri selain nyebelin.
🍬🍬🍬
__ADS_1
"Alena kenapa kamu belum bersiap-siap?" Suara bass yang khas itu meluncur memenuhi kedua gendang telingaku dari balik selimut yang menutupi tubuhku dari kaki hingga kepala.
"Alena?"
Ih nyebelin banget sih ni si om pake ngeguncangi tubuhku segala agar aku terbangun.
"Apaan sih om? Ganggu aja dari tadi." Sewotku setelah ku sibakan selimutku hingga kepala dan setengah badanku terlihat.
"Kenapa belum siap-siap ayok kita jalan-jalan dan makan di luar, katanya bosen di rumah saja dan di kamar saja."
Ne si om berucap dan mengajak seperti nggak ada rasa bersalah sedikitpun ya sama aku.
"Lena tu maunya JJM bukan JJS dan itu semalam sekarang udah nggak mood , semua udah beraktakan gara-gara om." Omelku benar-benar kesal terhadapnya.
"Ya udah kalau gitu nanti siap sholat magrib kita langsung saja JJM." Ih bener-bener ni si om nyebelin nggak tau malu nggak ada sedikitpun rasa bersalahnya terhadapku, karena ulahnya semalam.
"Udah nggak usah , aku tu maunya semalam bukan hari ini." Ucapku jutek penuh penekanan kesal sekali rasanya.
"Apa bedanya semalam atau hari ini Alena, yang pentingkan intinya jalan-jalan dan makan diluarkan?" Nah si om nyebelin mah bicara enteng banget dah bener-bener tak merasa bersalah atau apa gitu.
"Ya bedalah om semalam kan malam senin masih malam libur pasti rame di luaran orang jalan-jalan malam. Nah ini kan ntar malam, malam selasa. Malam orang istirahat karena besok akan kembali ke rutinitas harian yang padat." Cerocosku tanpa jeda dan mengebu-gebu sangkin keselnya.
"Jadi sekarang mau kamu apa Alena? Apa kamu akan terus-terusan ngambek dan mogok makan seperti ini? Ok, kalau saya salah saya minta maaf. Sekarang lebih baik kamu makan dulu, jangan menyiksa diri kamu dengan terus mogok makan. Kalau sampai kamu sakit dan kambuh lagi asam lambungnya itu bukan salah saya." Si om nyebelin pun akhirnya melangkahkan kakinya ke arah pintu hingga ia keluar dari kamar ini.
Aku nggak nyangka si om akan berkata maaf kepadaku, padahal kalau di fikir-fikir lagi kayaknya aku yang sering buat salah sama dia.
Apa begini ya kalau menikah dengan orang yang jauh lebih tua usianya dari kita, sehingga salah pun kita ujung-ujungnya dia yang minta maaf.
"Bik saya minta tolong lagi sama bibik bisakan?" Ternyata Andra langsung menuju dapur mencari keberadaan bik Ijah yang juga memang pas ada di dapur.
"Ya bisa Den , apa itu Den yang bisa bibik bantu?" Ucap ramah bik Ijah.
"Tolong bawakan makan ke kamar untuk Alena sekarang." Titah Andra.
"Nggih den."
🍬🍬🍬
"Kita makan malam dulu."
"Om udah lapar ya?"
"Belum, kenapa? Kamu udah lapar lagi kan? Karena dari semalam kamu mogok makan dan baru tadi sore kamu membatalkan mogok makan mu itu."
"Nggak juga , Alena masih kenyang om."
Kami baru saja keluar dari dalam masjid Cheng Ho Surabaya yang terletak tidak jauh dari arah sebelah utara gedung Balaikota Surabaya. Kami baru saja menyelesaikan sholat magrib berjamaah di mesjid Cheng Ho ini.
Saat masuk ke Mesjid Cheng Ho Surabaya kita akan di sajikan dengan berbagai ornamen dari segi klaligrafi dan dan aksara China yang menghiasi bagian langit-langit mesjid. Di setiap sudut bangunan mesjid tersebut memiliki makna filosofi seperti atap mesjid yang berbentuk persegi delapan yang menyerupai sarang laba-laba.
Arsitektur Mesjid Cheng Ho Surabaya di ilhami dari Mesjid Niu Jie di Beijing , sedangkan pintu utama Mesjid Cheng Ho ini bernuansa Timur Tengah dan temboknya bernuansa Jawa.
Tadi setelah bik Ijah yang kembali membawakan aku makan dan minum ke kamar, tak lama setelah bik Ijah keluar kamar aku langsung melahap habis semua makanan yang tersedia di atas nampan tersebut.
Setelahnya aku langsung mandi dan bersiap-siap untuk mengajak si om nyebelin JJM dan makan malam di luar. Ku fikir-fikir ada benarnya juga ucapan si om nyebelin tersebut padaku.
Makanya ku akhiri saja ngambek dan mogok makanku yang kubuat sejak semalam.
"Jadi mau langsung JJM dulu setelahnya baru makan?" Si om nyebelin memastikan dan aku menjawab dengan anggukan kepalaku.
Kami pun langsung menghampiri mobil lalu masuk ke dalamnya dan si om nyebelin menghidupkan mesin mobilnya, kemudian tanpa waktu lama mobil pun sudah keluar dari area Masjid Cheng Ho Surabaya.
"Bagus ya om jembatannya apalagi malam hari begini penuh dengan cahaya lampu-lampu warna warni." Mataku berbinar dan senyumpun tak lumput dari bibirku dengan sumringahnya saat melihat serta menelusuri jembatan ini.
"Oya udah berapa kali om ke jembatan ini , cukup sering pasti ya?" Tanya sedikit penasaran.
"Tidak, biasa saja." Jawabnya singkat dan dingin.
__ADS_1
"Oya om, boleh nggak menepikan mobil di jalan jembatan ini barang sebentar?"
"Tidak bisa." Lagi-lagi jawaban singkat dan dingin yang terlontar dari si om nyebelin.
Ya ampyun dia ini irit apa pelit sih dengan suara bassnya yang khas itu.
"Bakal kena sanksi om kalau menepikan mobil di sisi jembatan ini?"
"Kenapa harus bertanya jika kamu merasa cukup tau jawabannya, Alena." Tegasnya dengan pandangan masih terus fokus ke depan sambil terus menyetir menelurusi jalan disekitaran jembatan ini.
Sebenarnya aku cukup tau kalau nggak boleh menepikan kendaraan di sisi jembatan ini dan jika dilakukan jelas bisa mendapat sanksi hukum. Si om nyebelin ini pasti tau akan hal tersebut, dia kan orang hukum mana mungkin nggak tau peraturan yang sesepeli itu.
Sengaja aja aku bertanya begitu walau jelas aku cukup tau jawabannya. Aku pengen tau reaksi si om nyebelin ini aja, eh ternyata tetep dingin dasar nyebelin.
Aku hanya mengerucutkan bibirku ke depan, lalu ku gerakan ke kanan dan kiri sebagai pelampiasan kekesalanku atas reaksi dan jawaban si om nyebelin ini barusan. Sambil mataku masih melihat ke arah depan diselingi ke arah jendela mobil menelusuri apa yang tampak di luar jalanan ini dari dalam mobil.
Kami sedang menelurusi jembatan Suramadu jembatan yang cukup terkenal di kota Surabaya ini dan merupakan salah satu tempat wisata iconic. Yang merupaka jembatan penghubung Surabaya dengan Madura. Jembatan Suramadu ini pun terdiri dari tiga bagian yaitu jalan layang, jembatan penghubung dan jembatan utama.
🍬🍬🍬
"Enak banget om nasi bebeknya daging bebeknya juga empuk." Ucapku seraya memasukan suapan kesekian ke dalam mulut kecilku.
"Ternyata om doyan bebek juga ya? Kirain hanya doyan seafood-seafood-an aja seperti yang oma bilang waktu itu." Aku masih bercerocos dengan terus menyuapkan nasi bebekku ke rongga di mukaku yaitu tempat gigi dan lidah.
"Lagi makan itu jangan banyak nyerocos nanti bisa tersedak." Idih lagi-lagi ucapannya bernada dingin tapi ada benernya sih.
Kami sekarang telah duduk manis sambil menyantap nasi Bebek Wachid Hasyim salah satu tempat makan enak di Surabaya dengan harga yang terbilang cukup terjangkau, tapi rasa berkwalitas. Tempatnya seperti rumah makan yang cukup luas di dalamnya , nyaman , santai dan tidak terlalu ramai.
Akhirnya selesai juga ku tandaskan sudah dua porsi nasi bebek beserta orange jus dingin 2 gelas plus 1 botol sedang air mineral. Kalian tau aku ini sebenarnya kalau sudah makan atau berkulineran bisa-bisa pesananku itu double atau malah triple, baik itu makanannya maupun minumannya.
Akan tetapi bodyku dan perutku ini nggak melar-melar atau nggal endut sama sekali, aneh bukan. Tapi aku bersyukur berarti tidak perlu diet atau olahraga ekstrim untuk menurunkan berat badan ataupun mengecilkan perut yang membuncit. Karena tubuhku cukup langsing ideal walaupun tinggi badanku standart untuk ukuran perempuan.
Aku juga tak peduli anggapan si om nyebelin yang sudah berstatus suami sah ku ini tentang porsi makanku kali ini yang terbilang lebih banyak dari biasanya. Apalagi semalam aku kan melakukan aksi mogok makan sampai tadi sore, jelas dong cacingku malam ini meronta-ronta minta asupan lebih dari biasanya.
"Alhamdulillah akhirnya anak cacing mamah udah kenyang." Ku usap-usap perutku dari balik blouseku yang berwarna salem pastel, yang tetap terlihat rata walaupun aku sudah makan dan minum cukup banyak malam ini.
Tak peduli apa yang akan di fikirkan si om nyebelin ini atas celotehanku barusan.
"Sudah makannya nggak mau nambah lagi kamu?" Tanya si om nyebelin tetap dengan mode dinginnya, tapi seakan mengejekku dengan pertanyaan semacam itu.
Jelas-jelas aku sudah menghabiskan dua porsi nasi bebek berserta dua gelas jus jeruk dingin dan satu botol air mineral.
Yang dia fikirnya perutku ini tong sampah , serakus-rakusnya aku kan perutku juga harus di jeda masa harus makan satu kilo nasi dan puluhan potong bebek sekaligus di tambah bergalon-galon air minum gitu. Udah kayak orang kerasukkan aja makan modelan banyak-banyak nggak karuan kayak gitu menurutku mah.
"Om nggak usah mengejek, om kira perut Alena ini tong sampah apa?" Cebikku kesal.
"Ya mana tau kamu masih mau nambah karena lapar. Soalnya tadi saya lihat kamu makan banyak gitu serasa balas dendam." Ejeknya masih tetap dengan mode dinginnya.
"Serah om aja dah mau mikir apa, sa bodo teuing saya mah." Mana peduli lagi aku dah sama pemikiran si om nyebelin yang penting malam ini aku senang dan kenyang.
"Jadi sekarang masih mau JJM lagi atau langsung pulang?"
"Cie si om udah tau JJM sekarang mah ya om?" Ejekku dengan senyuman cengirku.
"Jangan lain yang di tanya lain juga yang di jawab Alena." Sewot si om nyebelin, hahaha mukanya lucu banget pas sewot begitu biarpun datar n dingin begitu.
"Pulang aja deh om rasanya udah cukup untuk malam ini JJM-nya." Ku putuskan untuk pulang saja rasanya cukup sampai disini JJM malam hari ini.
Aku ingin merebahkan segera tubuhku setelah nanti tiba di rumah dan selesai menunaikan ibadah sholat isya.
Kami pun akhirnya keluar Depot Rumah Makan H. Wachid Hasyim Surabaya , setelah si om nyebelin ini membayar bill dari semua pesanan makanan dan minuman kami.
🍬🍬🍬
Bersambung...
Salam sehat selalu ya dari riritambun 🥰
__ADS_1