Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
Eps 100 Mengantarkan pulang


__ADS_3

Happy reading.


≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈


“Lalu Kelvin jika itu masalahnya bagaimana kita menghadapi dia? Aku tidak ingin Vin, kamu berada dalam bahaya, jelas-jelas Brian pasti tidak akan diam setelah perceraiannya.” Tentu saja aku begitu khawatir dengan keselamatan Kelvin.


“Itu dia masalahnya Zoe, aku sendiri tidak tahu rekaman itu tersimpan di mana, mungkin saja dia sudah memindahkan ke beberapa salinan, aku sangat bingung.”


Sangat jelas terlihat Kelvin butuh pertolongan tapi aku tidak bisa membantunya terlalu banyak karena diriku saja tidak sanggup untuk melawan itu semua.


“Vin ... apa kita lapor polisi saja mengenai masalah ini?” ide aneh mungkin yang terlintas dalam benakku.


“Tidak bisa Zoe, kita tidak ada bukti lagian itu sama saja membuatku malu jika sampai mereka menemukan bukti itu, ah aku tidak mau, malu Zoe ... malu!” Kelvin langsung menunduk seraya menutup wajahnya.


“Aku juga tidak bisa berkata apapun Vin tapi tenanglah semua keputusanmu aku akan mendukungnya.”


“Terimakasih Zoe, aku sangat senang kamu bis-”


Kringg ... Kringg .... Kringg.


“Eh maaf Vin, sebentar yah.” Tiba-tiba suara ponsel menghentikan ucapan Kelvin. Aku langsung melihat nama yang tertera dilayar ponsel.


‘Tumben sekali Vanny menghubungiku,’ batinku.


“Hallo, ada apa Vanny?” sapaku.


“Ah ini, lagi di mana? Aku udah sampai rumah kamu nih,” tanya Vanny dari balik ponselku.


“Aduh ya udah tunggu bentar yah aku langsung pulang.” Panggilan pun berakhir.


Kelvin sejak dari tadi hanya mengamati ku, ”Siapa yang telepon Zoe? Kayaknya penting banget, Reiner yah?”

__ADS_1


“Ah bukan ... temenku Vanny, dia baru sampai kerumah kayaknya aku harus pulang deh Vin.”


“Ya udah Zoe, ayo aku antar,” ajak Kelvin.


Aku hanya mengangguk mengiyakan. Kami berjalan beriringan keluar dari ruangan tapi tiba-tiba jalan kami terhenti karena Elie masih menunggu Kelvin diluar.


Elie berjalan mendekat, ”Mau kemana Vin? Ah ya ... kita jadi makan siang ngga?”


“Ehmm kayaknya nggak jadi deh, aku harus anterin Zoya pulang dulu tapi kalau emang kamu mau juga makan siang sama aku yaudah tunggu aku balik, gimana?” sahut Kelvin memberikan pilihan untuk Elie.


“Gimana kalau aku ikut anterin Zoya juga, bolehkan plisssss Kelvin ... mau yah?” dengan gaya sok manja Elie membuatku merasa kesal dengannya.


Kelvin tidak menjawab hanya menganggukkan kepalanya, lalu kami bertiga berjalan tapi anehnya Elie sengaja berjalan di tengah dan membuatku harus mengalah. Kelvin hanya melihat tingkah yang dilakukan Elie tentu saja ia tidak bisa berbuat banyak karena ancaman dari Elie justru lebih berbahaya.


Sampai di parkiran mobil, Kelvin pamit denganku tapi tidak dengan Elie, ia lalu pergi mengambil mobilnya dan tinggallah aku bersama Elie sedang berdiri menunggu jemputan dari Kelvin.


Entah apa yang ingin Elie lakukan, ia berusaha mendekatiku sampai sangat dekat. Aku sendiri risih dan ingin menghindar tapi tiba-tiba cengkraman tangannya membuatku tidak bisa pergi.


“Aku dengar kalau Viora sudah menjadi adikmu, heuh! Ternyata kalian berdua sama aja, sama-sama bodoh dan payah lalu kamu sekarang beraninya mendekati Kelvin dan datang langsung ke perusahaannya, ternyata kamu masih tidak takut denganku setelah semua yang kulakukan padamu dan Reiner. Ingat Zoya, aku ... tidak akan segan-segan menyakitimu juga Viora,” ancam Elie saat ia mendekatiku.


Aku hanya diam tanpa peduli dengan ancaman Elie, tidak ada kepanikan yang terlihat dari wajahku. Benar-benar aku berusaha agar terlihat kuat didepannya meskipun aku sebetulnya takut apalagi sedang berbadan tiga seperti saat ini tapi syukurlah Kelvin sudah kembali membawa mobilnya.


Elie langsung masuk dan duduk di kursi depan. Kami langsung menuju ke rumahku.


* * *


Sampai dikediaman keluargaku, Vanny masih menunggu ku pulang tanpa masuk kedalam rumah, aku bisa melihatnya dari kejauhan.


Aku langsung menghampiri Vanny dan memberikan pelukan sapaan untuknya, “Hay Vanny ... duh kenapa nggak langsung masuk aja sih? Ngga enakkan duduk diluar begini.”


“Udah Zoe, ngga apa-apa juga eh itu siapa dalam mobil?” tanya Vanny yang sedari tadi terus memperhatikan mobil Kelvin.

__ADS_1


“Masak kamu nggak tahu, itu Kelvin,” ucapku dengan suara sedikit pelan agar Kelvin tidak mendengar kami.


Kelvin dan Elie akhirnya keluar dari mobil tapi dengan gaya manjanya yang sengaja menggandeng tangan Kelvin sedangkan Kelvin berusaha melepaskan tangannya dari Elie tapi lagi-lagi Elie tidak terima dan terus melakukan hal yang sama.


Aku dan Vanny hanya melihat tapi sedikit tidak suka dengan kelakuan Elie yang sengaja membuat Kelvin tidak nyaman.


“Ehmm! Kelvin ... kenalin ini Vanny, temanku dan Vanny ini Kelvin, dia sahabatku yang selama ini ku ceritakan,” ucapku berusaha memperkenalkan mereka berdua.


‘Vanny? Tunggu, wanita ini sepertinya aku pernah melihatnya di Club, ah ya dia memang benar wanita yang tiba-tiba berbicara denganku, siapa sebenarnya dia? Kenapa Zoya sampai bisa berteman dengannya tanpa cerita denganku,’ batin Kelvin.


Kelvin hanya berdiri mematung tanpa mengeluarkan sepatah katapun meskipun Vanny sedang mengulurkan tangannya. Tiba-tiba Elie menyodorkan tangannya kearah Vanny dengan sedikit manja.


“Oh yah ... eee kalau aqu ithu Elie, pacarnya Kelvin, salam kenal,” sapa Elie dengan gaya manja dibuat-buat olehnya hingga membuat kami yang ada di sana tertawa terbahak-bahak tanpa memperdulikan ia akan malu.


Wajah Elie memerah serta melototkan matanya pertanda kesal tentu saja ia marah karena kami semua menertawakan dirinya. Aku sendiri merasakan suasana tegang dari wajahnya Elie.


“Kelvin ... terimakasih ya sudah mau mengantarku, ah mampir dulu yuk kedalam?”


“Ngga usah Zoe lain kali aja, soalnya juga waktu istirahat sebentar lagi, kalau begitu aku pamit dulu yah,” ucap Kelvin pamit pulang.


“Okay, hati-hati ya di jalan.” Kelvin pun pergi meninggalkan kediamanku.


“Zoe, itukan yang namanya Elie? Kok dia keliatannya centil banget yah, aku nggak terlalu suka,” ucap Vanny saat kami masuk kedalam rumah.


“Tau ah dia emang suk-”


“Zoya...!” Tiba-tiba suara teriakan terdengar saat kami masih berjalan masuk kedalam membuat ucapanku terhenti.


≈≈≈≈≈≈≈≈


Apa aku harus selalu mengambil perhatian darimu agar kamu bisa melihatku di sini? Haruskah jika cinta ini aku sendiri yang merasakannya? Kau tahu bahwa aku di sini sudah begitu sakit saat melihatmu selalu bisa tersenyum dengan orang lain. Ketahuilah bahwa aku di sini selalu menantikan pelukan hangat darimu tanpa paksaan. (Eliezer–Kelvin)

__ADS_1


* * * *


Sertakan kesan kalian untukku yah, terimakasih sudah mendukungku. Jika berkenan boleh datang ke karyaku yang lain.


__ADS_2