Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
23~S3 Istriku. Gadis Kecilku Selamat pagi & selamat berbohong


__ADS_3

H A P P Y R E A D I N G


Hari begitu sendu, mendung menutupi awan. Tiada cahaya bersinar. Gerimis turun tiada henti. Semenjak tadi malam, tiada kehangatan, hanya dingin mencekam. Kelvin terbangun, ia melihat sang istri berada di sampingnya. Awal pertama mereka tidur bersama. Namun, hanya tidur tidak lebih. Hawa dingin membawa tubuhnya untuk kembali masuk kedalam selimut sambil terus menatap wajah imut istrinya.


Viora perlahan terbangun, ia mengucek matanya sambil mencoba menatap Kelvin yang sedari tadi tersenyum melihat dirinya.


“Good morning, my little wife,” ucap Kelvin sambil dirinya mencoba lebih mendekat.


“Good morning too, my prince,” sahut Viora seraya menguap.


Viora lalu melirik jam dinding, ia lalu menepuk pundak suaminya untuk tidak kembali tertidur.


“Pangeran, ayo bangun ... kita harus kerja,” ucap Viora.


“Bentar lagi, gadis kecil. Pagi ini sangat dingin aku juga sedikit mengantuk, ayolah kita tidur lagi jangan terlalu rajin bekerja sayang,” sahut Kelvin tanpa dari dalam selimutnya.


“Isss kamu nih, udah ayo cepetan!” paksa Viora sambil menarik selimutnya.


Kelvin benar-benar kedinginan apalagi saat selimutnya sudah di lepas oleh sang istriku. Ia lalu memeluk Viora dengan cepat sambil menarik selimut kembali.


“Jangan bandel, ayo bangun,” ungkap Viora terus-menerus.


Kelvin tidak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya dari dalam pelukan Viora. Dengan sekuat tenaga mengajak Kelvin, akhirnya suaminya itu mau untuk bangun. Mereka akhirnya bergegas hingga sarapan yang sudah tersaji oleh pelayan lalu langsung menancap gas untuk kembali bekerja.


......................


(Di perusahaan)


Seperti biasa Kelvin bersama Viora memasuki perusahaan dengan berbarengan. Lalu mereka akhirnya berpisah di depan ruangan masing-masing dengan lambaian tangan oleh keduanya. Jauh dari tempat itu seorang wanita melihat kedatangan mereka. Sedikit mengintip agar tidak ketahuan oleh Bos.


‘Pas sekali lagi nggak ada Mony sama Deva, aku harus bersikap sok baik dengan wanita murahan itu. Dan nanti gaji dua kali lipat akan kudapatkan,’ batin Alice.

__ADS_1


Alice berjalan dengan membawa sebuah map untuk tidak di permasalahkan bagi orang jika ada yang melihatnya. Lalu dirinya langsung memasuki ruangan Viora dengan tidak lupa mengetuk pintu.


“Hay, Viora,” sapa Alice dengan bersikap ramah.


“H-hay kok kamu kesini?” tanya Viora penasaran.


Air mata mengalir, lalu Alice langsung berlari dan berlutut di hadapan Viora. Ia menangis dengan tersedu-sedu.


“Vi-Viora, aku ingin minta maaf denganmu atas sikapku yang waktu itu sampai menjelekkan mu, bahkan menjambak rambutmu. Sungguh waktu itu aku hanya sedang terbawa emosi karena aku melihat kamu di terima bekerja dengan begitu mudah. Namun, sekarang aku tahu kalau itu memang murni karena kepintaran mu hingga kamu bisa mendapatkan tempat duduk yang bagus seperti ini. Ku mohon ... Maafkanlah aku, atau jika perlu aku terima kamu membalas jambak 'kan di rambutku juga,” ungkap Alice yang masih menunduk.


‘Dia terlihat aneh tapi, mungkinkah ini benar. Baiklah aku akan mengetesnya dengan menjambak rambutnya kembali,’ batin Viora dengan tersenyum.


“Rasakan ini,” ungkap Viora.


Dengan kuat Viora menarik rambut Alice sampai beberapa helai rambut tercabut di tangannya. Lagi dan lagi ia membuatnya begitu keras sampai Alice teriak kesakitan. Viora masih menjambak rambutnya sampai memutarnya dengan kepala. Merasa puas di bagian rambut, ia memegang wajah Alice lalu menamparnya dengan begitu keras bahkan berkali-kali hingga pipinya memerah.


‘Wanita ini benar-benar melakukan semua itu bahkan menamparku, jelas-jelas aku tidak menyuruhnya tapi, ini sangat sakit. Demi uang yah demi uang harus tahan,’ batin Alice mencoba menahan.


Viora kemudian mencubit lengan Alice sampai bahunya meninggalkan bekas cubitan. Tiga balasan ia lakukan meski Alice tidak memintanya. Namun, itu balasan atas kesalahan kedua temannya yang lain. Merasa puas hingga Viora tersenyum.


“Ba-baiklah tidak masalah lagipula ini hanya sedikit sakit,” sahut Alice terus mencoba menahan rasa sakit.


“Baiklah, jika itu tidak terasa sakit, apa kamu mau lagi?” tanya Viora seraya.


“Eh tidak-tidak! Ini sudah sangat sakit, sungguh!” jawab Alice dengan jujur.


Viora tersenyum kikuk. “Alice, di mana kedua temanmu itu. Apa mereka tidak ikutan meminta maaf denganku?”


“Aku tidak tahu sebab aku kesini dengan niatku sendiri tanpa menunggu persetujuan mereka. Oh ya, apa kamu sudah memaafkanku, Viora?” tanya Alice menyakinkan.


“Tentu saja, apalagi melihat kamu sanggup menahan sakit seperti tadi jelas aku tidak tega jika tidak memaafkan mu. Oh ya, sebentar aku panggilkan cleaning servis untuk menyiapkan minuman untuk kita,” ucap Viora ingin beranjak pergi.

__ADS_1


Namun, dengan cepat Alice menahannya. “Ngga perlu, lagipula aku kesini cuma mau minta maaf kok. Kalau pun kita ngopi-ngopi mendingan nanti aja jangan sekarang yang ada aku di amuk Bos lagi karena keluyuran.”


“Benar juga ya. Ya udahlah kalau gitu,” sahut Viora mengiyakan.


“Jadi sekarang apa kita berteman, Viora?” tanya Alice dengan ceria.


“Tentu saja kita akan berteman,” jawab Viora semangat.


Alice lalu bangun dan memeluk Viora. Begitupun sebaliknya membalas pelukan.


“Terimakasih teman, ah ya sepertinya aku harus keluar ngga enak lama-lama di sini nanti di tegur Bos lagi. Oh ya kalau kamu perlu sesuatu jangan sungkan panggil aku,” ungkap Alice.


“Baiklah,” sahut Viora.


Viora melihat Alice keluar dari ruangannya. Ia masih sedikit heran meskipun didepan dia sudah memaafkan.


‘Aneh! Alice tiba-tiba meminta maaf denganku tapi, teman-temannya yang lain tidak datang. Sepertinya aku harus sedikit waspada seperti yang sudah di katakan Kelvin. Was-was terhadap siapapun,’ batin Viora lalu kembali melanjutkan tugasnya yang sempat tertunda.


Di luar ruangan Alice keluar dengan meringis kesakitan. Ia terus berjalan untuk memasuki ruangannya. Namun, kedua teman justru melihat tingkah aneh dari Alice. Mony bersama dengan Deva langsung mengikutinya. Mereka bahkan masuk kedalam ruangan tanpa mengetuk pintu lagi.


“Loh! Habis berantem?” tanya Mony penasaran.


“Nggak kok, tadi aku jatuh di toilet jadinya memar gini deh,” sahut Alice berbohong.


‘Aku tidak bisa memberitahukan pada mereka yang sebenarnya jika tidak maka rencana ku pasti akan gagal dan uang akan melayang,’ batin Alice.


“Ada-ada aja sampai jatuh segala. Eh bentar deh,” ucap Mony tanpa terlalu mempermasalahkan lalu ia menarik Alice untuk duduk di tengah.


“Bentar kenapa? Sakit tahu jangan tarik sembarangan!” geram Alice.


“Iya-iya. Kemarin saat di pantai kamu pergi sama Alvero dengan pakai b*kini doang terus kalian nggak balik-balik sampai kami capek nungguin,” ungkap Mony dengan kesal.

__ADS_1


“Yah salah sendiri ngapain di tunggu. Waktu itu aku ada sedikit pekerjaan dengan dia,” sahut Alice berbohong.


“Pekerjaan? Pekerjaan macam apa cuma pakai b*kini gitu?” tanya Mony penasaran.


__ADS_2