Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
53 ~ S3 Kotak terbuka


__ADS_3

H A P P Y R E A D I N G


Kagak! Perlunya nanti pas gue mati, ya sekaranglah!” ketus Alvero.


“Eh! Anu, Tuan. Maaf, ya udah sebentar saya bukain.”


Scurity tersebut langsung memukul gembok kunci dengan begitu keras, berkali-kali ia mencobanya namun, karena sudah karatan jadi sedikit susah hingga pada detik terakhir kotak tersebut pun lepas dari penghalang gembok kunci.


Dengan cepat Alvero langsung mengambilnya tanpa mengucap terima kasih kepada Scurity tersebut. Kemudian ia melangkah pergi menjauh lalu duduk di teras depan rumahnya sendirian.


Alvero belum membuka kotak tersebut, ia masih mengamatinya. “Aneh, kalau dilihat dari bentuknya pasti sudah berpuluh tahun tapi, kenapa Mami sampai menyembunyikannya?”


Dengan rasa penasaran tinggi Alvero pun memutuskan untuk membuka kotak tersebut. Saat ia membukanya terlihat sebuah gambar bayi kecil yang sedang tersenyum lengkap dengan kalung yang berada di leher bayi tersebut. Lalu Alvero juga menemukan selembar kertas yang entah apa isinya itu. Perlahan ia membukanya lalu langsung membacanya.


“Hay suamiku, kau tahu anak kita sekarang sudah lahir. Matanya mirip sekali denganmu, bahkan dia begitu cantik, dia seorang perempuan, juga memiliki tanda lahir hitam di dekat dada kirinya. Ah ya, namanya Audia, aku harus memberikannya langsung karena menunggumu juga tidak akan mungkin tapi, maaf aku tidak bisa membesarkan anak kita sendirian namun, aku akan memberikannya kepadamu. Jika anak kita tinggal denganku maka aku tidak akan bisa membuatnya bahagia. Kehidupanmu sempurna, dia akan lebih aman jika tinggal denganmu. Rawatlah iya dengan baik. Jangan cari aku lagi karena aku tidak ingin membuat rumah tanggamu berantakan, salam cinta Mas, dari Lastri.” Alvero sedang membaca semua isi dari surat ini.


Alvero tercengang dengan isi dari suratnya itu. Ia bahkan tidak mengerti dengan semua yang ada didalamnya.


“Mami pasti tahu dengan semua kebenaran ini. Kalau tidak mana mungkin dia tidak ingin aku melihatnya, aku harus menanyakannya langsung,” gumam Alvero sembari melangkah pergi langsung menuju ke kamar mamanya.


Alvero langsung memasuki kamar mamanya tanpa mengetuk pintu lagi. Meskipun kedua orangtuanya masih tertidur pulas.


“Mami, Papi. Bangun, bangun! Alvero di sini, bangun!” paksa Alvero yang tidak ingin bersabar.


Bersusah payah ia membangunkan kedua orangtuanya hingga akhir mereka terjaga meskipun Papi berusaha untuk tidur kembali.


“Kamu enggak lihat Mami sama Papi lagi tidur?! Udah ah sana keluar Mami masih ngantuk. Malem-malem udah bikin heboh!” omel Mami yang langsung pergi tidur kembali.

__ADS_1


Alvero menarik nafasnya lalu melangkah pergi untuk menghidupkan lampu kamar itu. Maminya kesal setengah mati tapi, Alvero berusaha untuk mendekat.


“Jelaskan semuanya sama aku, apa maksudnya ini?” tanya Alvero sambil menunjukkan isi kotak tersebut yang sudah terbuka.


“Ko-kotak ini, bagaimana kamu bisa menemukannya? Oh jadi diam-diam kamu udah berani masuk ke kamar Mami terus juga ambil barang milik Mami ya.”


“Alvero enggak nanya itu, Mami. Udahlah biar lebih jelas, Papi pasti tahukan dengan isi kotak ini, jadi cepat jelaskan semuanya,” ucap Alvero yang langsung pergi mendekati kearah papinya.


Mami terlihat gelisah, Mami bahkan terduduk tanpa ingin melihat kearah anak dan suaminya. Alvero pun menyadari jika tingkah maminya begitu mencurigakan. Papa pun langsung membaca isi dari surat dalam kotak tersebut begitupun juga Papa melihat gambar sari bayi kecil itu.


Papa menoleh kebelakang melihat Mami dengan tatapan tajam, sampai akhirnya pun Papa memilih mendekati Mami.


“Dek, jelaskan semuanya ini? Apa waktu itu Lastri melahirkan seorang bayi? Lalu kenapa kamu berdiam diri saja? Dan sekarang di mana bayi itu, di mana?!” tanya Papa dengan begitu marah.


“Aku tidak tahu! Jangan bertanya kepadaku. Tanyakan saja kepada pelayan karena mereka yang tahu semuanya,” sahur Mami dengan kesal.


“Jika Alvero tahu mungkin Alvero bisa membantunya jadi cepat katakan terlebih dahulu kepadaku, Mami,” ucap Alvero berniat baik.


“Ini semua karena mu! Saya sengaja meminta Bibi Karin untuk membuang kotak tersebut tapi, ternyata benda itu dia simpan di dalam kamarmu bahkan kamu sangat bodoh membawanya kesini. Apa kamu mau Papa meninggalkan kita?!”


“Meninggalkan kita? Apa maksudnya, Mami?”


“Perempuan bernama Lastri adalah selingkuhan dari papamu. Awas saja kalau sampai papamu meninggalkan Mama, maka Mama tidak akan lagi mau menganggap mu sebagai anakku!” ancam Mama Alvero yang langsung dari kamarnya.


“Astaga! Drama macam apa ini?” Alvero kesal lalu mengikuti mamanya keluar.


Semua orang telah berkumpul, baik dari pelayan atau Alice. Papa berdiri di tengah-tengah semua orang. Namun, Papa langsung menunjuk kearah Bibi Karin untuk maju kedepan.

__ADS_1


“Karin, aku sudah mengenalmu sejak lama bahkan dari mulai Alvero bayi jadi pasti kamu tahu tentang benda ini,” ungkap Papa Alvero sembari memperlihatkan kotak tersebut.


“Sa-sa-saya tidak tahu, Tuan,” sahut Bibi Karin gelagapan sembari menundukkan kepalanya.


“Kamu pasti tahu! Sejak dulu kamu adalah ketua pelayan di sini. Jadi cepat katakan atau kalau tidak maka malam ini juga kamu saya pecat!” geram Papa dengan murka.


Bibi Karin menatap kearah mamanya Alvero, ia bahkan ketakutan saat melihat tatapan tajam yang diperlihatkan. Namun, Papa tahu jika istrinya berusaha mengancam bibi Karin melalui matanya.


“Scrurity! Kunci Nyonya besar di dalam kamar, selesai rapat ini baru lepaskan dia. Jangan membantah atau kalau tidak kalian yang akan saya pecat!” perintah Papa Alvero dengan tegas.


“Mana bisa kamu mengurungku! Hey! Alvero! Tolong hentikan kegilaan papamu!” geram Mama berusaha melawan dari pegangan Scurity yang sedang membawanya.


Alvero tidak peduli karena ia hanya membutuhkan jawaban. Lalu Papa merasa kesal menatap Bibi Karin yang terus saja bungkam. Hingga hasilnya Papa mencekal lengannya dengan keras.


“Aw! Sakit, Tuan. Ampun! Ba-baik, saya akan katakan semuanya tapi, mohon jangan pecat saya apalagi kalau sampai Nyonya mengancam saya lagi,” rengek Bibi Karin sembari menetaskan air matanya.


‘Haduh ... Benar-benar keluarga yang memiliki banyak drama! Tidurku yang malang jadi berantakan,’ batin Alice sembari memutarkan matanya.


Bibi Karin langsung bersujud di depan papanya Alvero. Pelayan yang lain bahkan saling menatap satu sama lain.


“Tuan, maafkan saya karena selama ini saya terpaksa membohongimu, Tuan. Sejujurnya Nyonya 'lah yang meminta saya untuk melakukan semua ini,” ucap bibi Karin sembari terus bersujud.


“Jangan berbelit-belit! Saya hanya ingin kamu mengatakan semuanya. Di luar dari itu saya tidak ingin mendengarnya. Cepat katakan!”


...----------------...


Sambil menunggu yuk guys MTP sudah update juga loh. Langsung klik profil atau cari di pencarian ya! Salam sayang

__ADS_1



__ADS_2