Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
44~S3 Istriku Gadis Kecilku Pulang honeymoon & Mendapat kabar


__ADS_3

H A P P Y R E A D I N G


“Ya ampun! Ah sial! Bisa-bisanya aku lupa padahal umurku masih sangat muda,” sahut Viora sembari menepuk jidatnya.


“Makanya sayang, jangan terlalu gegabah.”


Kelvin memungut kembali pakaian yang tadi Viora pakai. Ia juga membantu memakainya. Begitupun dengannya yang juga sudah berpakaian. Lalu Kelvin ingin beranjak tapi, dengan cepat Viora menahannya.


“Kenapa, gadis kecil?” tanya Kelvin kebingungan.


“Kamu mau kemana malam-malam begini? Aku ikut ...,” rengek Viora dengan manja yang tidak ingin di tinggal.


“Baiklah kalau begitu. Aku hanya ingin pergi ke tempat petugas hotel ini tapi, setelah kupikir ada baiknya kita menghubungi mereka saja sambil memesan minuman. Apa kamu juga mau?” ucap Kelvin sambil bertanya.


Viora menggelengkan kepalanya. “Aku enggak mau makan apapun nanti bisa-bisa badanku jadi gemuk terus, enggak imut lagi terus, jadinya cantikku hilang terus, aku ah enggak, enggak!”


Kelvin menepuk jidatnya sendiri mendengar ucapan yang keluar dari istrinya. “Gadis kecil, terus-terus aja sampai nanti tahun depan.”


Viora tersenyum lebar saat mendengar sahutan dari Kelvin. Ia pun langsung memberikan pelukan manja sembari mencium pipinya.


Kelvin melakukan apa yang sudah ia niatkan. Mereka menunggu beberapa saat, sebab jika tertidur juga tidak mungkin. Viora bermain game online dalam pangkuan Kelvin. Begitupun Kelvin yang sibuk melihat.


Beberapa saat menunggu sebuah ranjang tidur king bed di bawakan oleh beberapa petugas hotel. Mereka langsung menggantinya namun, saat Kelvin bersama Viora sibuk berduaan para pelayan-pelayan itupun bergosip pelan meskipun Kelvin bisa mendengarnya.


“Lihat deh bisa patah. Ya ampun ... Pasti pria itu gagah perkasa ha ha ha. Aduh aku rasanya mau ngakak,” ucap seorang pelayan dengan suara pelan.


“Nah itu dia. Udah-udah kita lanjut terus,” sahut temannya.


Kelvin mendengarnya, ia bangkit sambil menopang kedua tangannya. “Kalau kerja itu ya kerja aja jangan banyak gosip.”


Pelayan-pelayan itu tidak menjawab. Mereka hanya terdiam sembari menyelesaikan pekerjaannya sampai akhirnya selesai. Lalu mereka meminta maaf atas ketidak nyamanan yang terjadi. Sampai akhirnya Kelvin bersama Viora kembali rebahan di sana.


Kelvin rebahan, sedangkan Viora rebahan di atasnya sambil membelakangi sebab ia masih bermain dengan game online. Sesaat kemudian Viora berbalik untuk berhadapan dengan Kelvin.


“Ada apa, gadis kecil?” tanya Kelvin.


“Um, aku ingin tahu jika tadi kita sudah melakukan adegan itu jadi aku sudah tidak memiliki mmm perawan ‘kan, My dear?” tanya Viora dengan tiba-tiba.


Kelvin mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya sayang, lalu kenapa?”


“Tidak ada, sayang. Aku hanya berpikir jika kita telah melakukannya berarti kamu sudah tidak cocok lagi memanggilku dengan sebutan gadis kecil, benarkan? Lihatlah aku sudah bukan lagi gadis kecil,” ungkap Viora sembari memanyunkan bibirnya.


“Ya ampun ... Apa sebuah panggilan begitu penting, gadis kecil?” tanya Kelvin sambil mengusapkan rambut Viora.


“Ya tentu saja, aku bukan lagi gadis kecil tapi kamu memanggilku dengan sebutan itu. Bagaimana kalau kita buat panggilan yang baru, kau setuju? Sebentar aku akan mencarinya di internet panggilan yang cocok untukmu hehe,” ucap Viora dengan semangat.


Kelvin menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol dari sang istri. “Ya-ya baiklah terserah kamu saja, gadis kecil.”


Beberapa detik mencari akhirnya Viora menemukan panggilan yang cocok. Ia pertama memilih untuk tertawa sebelum memberitahukan kepada Kelvin.


“Hey! Ayo beritahukan, jangan terus tertawa, Gadis kecil.”


“Um, bagaimana jika aku memanggilmu dengan sebutan ... Pookie! Cute banget 'kan? Lalu kamu memanggilku entahlah aku tidak tahu ha ha ha,” ungkap Viora sembari menenggelamkan wajahnya di dada Kelvin.


“Ya ampun ... Kamu ini benar-benar ya, gadis kecil. Aku akan memanggilmu sesuka hatiku Bookie!” sahut Kelvin yang tidak ingin mengalah.


“Bookie? Yah enggak cute banget tapi, sudahlah aku setuju.”


Viora tersenyum sambil merangkul Kelvin di lehernya. Kemudian ia dengan sengaja mendekatkan dirinya lebih dekat. Kelvin yang sudah tahu jika lampu kemenangan berpihak dengannya. Ia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menciumi bibir istrinya. Mereka melakukan penyatuan dengan penuh kelembutan.


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


Tiga hari kemudian. Pasangan pasutri tersebut sudah sampai untuk kembali ke tempat asal. Mereka berdua turun bersamaan dan langsung di sambut oleh keluarga. Berbagai macam barang yang telah mereka kumpulkan hanya untuk di bagi-bagikan kepada keluarga juga sahabat. Viora seperti bayi yang tidak ingin kehilangan induknya. Ia selalu berada di dalam pelukan Kelvin. Entah itu Kelvin sedang makan, menerima telepon, bahkan sampai mengikuti ke toilet. Ia juga ingin ikut. Katanya ia tidak ingin berjauhan sebab sangat menyenangkan berada dalam pelukan suaminya.


Ibunda langsung mendekati menantunya sembari memberi pelukan. Mereka sengaja menunggu kedatangan kepulangan dari sang buah hati mereka. Kelvin yang sejak tadi sedang membagi-bagikan hadiah untuk keluarga sedangkan Viora memilih bersandar di bahu mertuanya sampai akhirnya Kelvin mendekati mereka.


“Jangan terlalu memanjakan Bookie, Bun. Nanti dia terus-menerus dalam pelukanmu,” ungkap Kelvin dengan menahan senyumnya.


“Bilang aja cemburu!” sahut Viora yang tidak ingin mengalah.


“Udah-udah kalian ini ada-ada saja. Jika sudah berikan hadiah maka lebih baik sekarang kalian istirahatlah. Sesudah itu baru berikan hadiah ini untuk Zoya serta keluarga,” saran Bunda.


“Baiklah, Bunda. Kalau begitu kami istirahat dulu. Ayo Bookie.”


“Ya, Pookie. Bunda ... kami ke kamar dulu ya.”


Bunda hanya mengangguk sambil tersenyum. Mereka kemudian langsung menuju ke kamarnya. Tentu saja langsung istirahat sebab telah melewati perjalanan yang sedikit melelahkan.


...----------------...


(Apartemen Alice)


Steven sedang membantu Alice turun dari mobil. Alice sudah bisa pulang meskipun luka di tangannya belum sembuh total tapi, setidaknya sudah sedikit mengering jadi Dokter memperbolehkan dirinya pulang. Steven langsung membawa Alice kedalam kamarnya untuk beristirahat.


“Steven, aku lapar ....”


“Um baiklah aku akan langsung memesannya. Kalau begitu istirahatlah sambil menunggu makanan kita datang,” ucap Steven.


Alice menggelengkan kepalanya. “Aku tidak bisa tidur. Oh ya, bagaimana kalau kita menonton televisi?”


“Baiklah kalau begitu,” sahut Steven mengiyakan.


Steven melakukan apa yang Alice inginkan. Alice bersandar sambil melihat TV. Tidak ada perbincangan yang terjadi hingga membuat Alice penasaran.


“Steven.”


“Tumben sekali kamu diam. Apa ada masalah? Atau kamu sedang memikirkan kekasihmu?” tanya Alice penasaran.


Steven menganggukkan kepalanya namun, ia masih bungkam. Bukan Alice namanya jika dia tidak bisa mendapatkan jawaban. Ia terus memaksa agar Steven mengatakan semuanya. Bahkan Alice menciumi bibir Steven.


“Ayolah katakan padaku apa yang terjadi. Mungkin saja aku bisa membantunya. Bukankah kita sudah tahu satu sama lain? Jadi, ceritakan saja Steven,” ungkap Alice yang terus memaksanya.


“Baiklah kalau begitu. Setelah kita bertemu dengan Claudia di rumah sakit waktu itu entah kenapa sudah tiga hari ini dia tidak mengabari ku bahkan aku menghubunginya juga tidak di jawab padahal ponselnya masih aktif. Apa menurutmu dia sedang marah?” curhat Steven sambil bertanya.


“Mungkin saja. Dia mungkin kesal melihatmu yang waktu itu memilih untuk menemaniku lalu setelah dia kesal dia ingin kamu yang menggodanya, memanjakannya supaya dia bisa menang. Steven, apa kamu akan melakukan hal yang sudah kukatakan ini?” Alice bertanya dengan sengaja.


“Entahlah, aku masih bingung,” sahut Steven.


“Kamu bingung kenapa? Apa kamu bingung dengan hatimu sekarang? Apa kamu sudah mencintaiku? Jika memang begitu aku senang tapi, kamu harus membuatku jatuh cinta padamu terlebih dahulu,” ungkap Alice sembari menyentuh pipi Steven.


“Ha ha ha, ada-ada saja. Jika aku mencintaimu apa aku harus berperang dengan Alvero terlebih dahulu? Alice, sebetulnya aku masih bingung,” ungkap Steven yang mencoba menghibur dirinya.


Alice merasa kasian dengan apa yang sedang di rasakan oleh Steven. Ia kemudian memeluknya erat. Saat sedang memeluk tiba-tiba suara bel berbunyi menandakan ada seseorang tamu yang datang. Steven ingin bangkit tapi, dengan cepat Alice menahannya.


Alice menuju ke pintu, baru sedikit ia membuka pintunya harus makanan langsung tercium tapi, anehnya baunya sangat aneh padahal yang di antar itu pizza yang super enak. Alice menutup pintu dengan keras lalu berlari ke dalam.


“Steven! Aku tidak jadi mengambilnya baunya busuk! Lebih baik kamu saja yang ambil. Aku akan ke dap-”


Ucapannya terhenti sebab ada sesuatu yang ingin keluar dari mulutnya. Steven langsung melangkah menuju ke depan pintu meskipun ia kebingungan melihat tingkah Alice. Setelah membayar semua biaya, Steven langsung menemui Alice sambil membawa makanan itu.


Alice mencium bau pizza semakin dekat, ia kemudian berlari ke dapur lalu kembali muntah-muntah. Merasa sangat aneh dengan tingkah Alice. Steven akhirnya membuang pizza yang sedari tadi sudah sangat ingin ia lahap.


‘Yah ... Padahal gua lagi laper, ya udahlah,’ batin Steven pasrah sambil melihat pizza yang sudah masuk kedalam tong sampah.


Dengan merasa khawatir Steven langsung mendekati Alice yang masih mual-mual dan muntah. Ia mencoba mengusapkan punggung Alice.

__ADS_1


“Sebenarnya kamu kenapa, Alice? Apa sewaktu di rumah sakit kamu makan sesuatu yang tidak aku ketahui?” tanya Steven kebingungan.


Alice menggelengkan kepalanya sambil terus mual-mual. ‘Kenapa aku bisa seperti ini? Ah sudahlah mungkin saja aku masuk angin karena belum sarapan,’ batin Alice.


Setelah beberapa saat, tubuh Alice lemas. Steven dengan cepat membawa Alice istirahat. “Bagaimana kalau kita ke rumah sakit? Mungkin saja kamu benar-benar keracunan makanan?”


“Tidak perlu, Steven. Aku tidak makan apapun yang aneh. Lagipula aku makan juga saat kamu menyuapiku. Sebaiknya aku istirahat sebentar mungkin nanti aku akan kembali pulih. Oh ya, jika kamu lapar makan saja pizza tadi untukmu. Aku sudah tidak mau,” ungkap Alice.


“Um, aku sudah membuangnya,” sahut Steven dengan pelan.


“Kalau begitu pesan lagi. Maafkan aku, Steven.”


“Sudah tidak perlu minta maaf, aku tidak menyalahkan mu. Nanti aku akan memesan makanan untukku tapi, kamu ingin apa? Atau sebaiknya kita langsung ke Dokter saja?”


“Tidak perlu, Steven. Aku akan sembuh setelah istirahat. Sebaiknya temani aku di sini,” ucap Alice sambil mendekati dirinya.


“Begini saja. Aku akan menemanimu tidur setelah kita kerumah sakit jika tidak maka aku tidak tahu harus memberimu makanan apalagi. Sudahlah aku tidak ingin kamu terlalu parah,” ungkap Steven yang lalu membopong tubuh Alice.


Alice yang pasrah hanya bisa mengangguk mengiyakan. Mereka langsung kembali kerumah sakit.


...----------------...


Steven melihat Dokter yang sedang menangani Alice. Ia senantiasa menunggu di sampingnya. Beberapa saat Dokter telah selesai.


“Bagaimana, Dok?” tanya Alice penasaran.


“Apa Anda sudah datang bulan?” tanya Dokter tersebut sambil tersenyum.


“Belum, Dok. Seingat saya sudah telat dua Minggu tapi, belum juga datang bulan. Apa mungkin saya terkena penyakit?” tanya Alice penasaran.


Sedangkan Steven hanya menyimak perbincangan kemudian ia membuka suara.


“Begini, Dok. Jadi tadi sewaktu ingin makan pizza dia langsung muntah-muntah bahkan mengatakan jika itu bau busuk. Apa mungkin dia sedang sakit pada pernapasannya?” curhat Steven sambil bertanya.


“Tidak ada penyakit apapun. Kesehatannya sangat baik tapi, itu wajar di beberapa Ibu yang baru hamil. Saya sarankan jika istri Anda sebaiknya tidak mengonsumsi makanan yang memiliki bau yang menyengat karena dia sangat sensitif dengan itu. Selamat ya, kalian berdua akan menjadi Ayah dan Ibu. Oh ya, dan ini resep obat juga vitamin. Kalau begitu saya tinggal dulu, permisi,” ungkap Dokter dengan jelas sambil tersenyum.


Steven bersama dengan Alice tercengang mendengar apa yang baru saja Dokter katakan. Mereka bahkan saling menatap satu sama lain.


‘Alice hamil? Apa mungkin itu anakku?’ batin Steven.


‘Aku hamil? Tapi, siapa bayi dari anak ini? Apa mungkin Steven atau Alvero? Jika ini anak Steven, aku dengannya belum lama ini berhubungan bahkan baru terjadi beberapa hari jadi mana mungkin aku bisa hamil dengannya secepat itu. Lalu jika ini bukan anak Steven berarti Alvero harus bertanggung jawab dengan semua ini tapi, aku takut jika Alvero tidak mengakui anaknya. Ya ampun ... Aku benar-benar bingung,’ batin Alice yang sangat cemas.


Steven mendekati Alice lebih dekat. “Alice.”


“Apa kamu ingin mengatakan sesuatu, Steven?”


“Ya tapi, aku masih bingung. Apa itu anakku?” tanya Steven.


“Ya ini anakmu,” ungkap Alice.


Steven menarik nafasnya memburu. Ia sadar dengan apa konsekuensi dari semua yang telah ia lakukan. Ia pun memilih terdiam sambil memandangi Alice.


‘Maafkan aku, Steven. Aku harus membohongimu. Aku tidak ingin jika nanti anakku lahir tidak memiliki ayahnya. Pasti saat dia besar kelak semua orang akan mengejeknya,’ batin Alice.


“Maafkan aku, Steven. Aku kembali menambah beban untukmu dengan adanya anak ini tapi, jika kamu tidak ingin mengakuinya maka tidak apa-apa aku akan ikhlas apalagi sekarang kamu sudah memiliki Claudia. Tolong ... Maafkan aku,” ungkap Alice sambil menundukkan kepalanya.


“Sudah cukup jangan salahkan dirimu lagi. Kita berdua membuatnya dengan sadar jadi ini adalah kesalahanku. Aku pasti akan tanggung jawab. Terima kasih, Alice. Kamu akan jadi Ibu sebentar lagi. Ayo pulang kamu harus banyak istirahat. Setelah ini aku akan mencari pelayan yang akan membantumu nanti,” respon Steven dengan baik sambil tersenyum.


“Terima kasih, Steven. Aku senang kamu benar-benar ingin tanggung jawab. Ya sudah ayo pulang tapi, aku mau pulang kalau di gendong ...,” pinta Alice dengan manja.


“Ya-ya baiklah.”


Steven langsung menuruti keinginan Alice. Ia membopong tubuh Alice dengan penuh senyuman tapi, sebetulnya ia gelisah dengan apa yang sedang terjadi. Sampai di dalam mobil, Steven juga tidak banyak berbicara.

__ADS_1


‘Apa mungkin ini takdir yang harus kujalani? Aku harus bertanggung jawab untuk semua yang telah kulakukan. Jika aku harus menikahi Alice lalu bagaimana aku mengatakannya pada Claudia? Ball, semoga kamu mau mengerti keadaanku dan mau menerimaku meskipun kamu harus menjadi istri keduaku,’ batin Steven.


__ADS_2