
H A P P Y R E A D I N G
Alice ingin beranjak pergi. Namun, sebuah pesan dari Alvero membuatnya terhenti. Pesan yang berisikan sesuai rencana di kirim melalui email. Dengan senyuman terpancar di wajahnya Alice langsung berjalan ke ruang Viora.
Tok tok tok.
“Masuk!” ungkap Viora dari balik ruangannya.
Alice langsung masuk lalu duduk tanpa di suruh terlebih dahulu. Ia mengamati apa yang sedang di lakukan oleh Viora.
“Hmm, Viora. Apa yang sedang kamu buat?” tanya Alice basa-basi.
“Oh ini laporan keuangan Minggu lalu. Kamu sendiri tidak kerja?” jawab Viora seraya bertanya.
“Kerja kok cuma mood ku lagi berantakan, dan aku memilih untuk kesini. Keluar yuk bosen nih kerja terus kepalaku juga sangat pusing, ingin sekali menghirup udara segar,” ajak Alice dengan semua alasan.
“Yah baiklah tapi, tunggu aku selesai kerja. Bolehkan? Kalau pergi sekarang aku takut kita tegur karena lalai dalam bekerja,” tolak Viora dengan halus.
”Ayolah Viora, pliss! Aku juga ingin curhat denganmu. Gebetanku sampai hari tidak peka sama sekali dengan perasaanku. Jadi, ku pikir dengan aku curhat padamu, hatiku bisa lebih baik. Lagipula kita hanya akan ke taman kantor kok,” ajak Alice yang terus berusaha.
“Iya aku tahu, Alice. Tapi, lihatlah pekerjaannya tanggung kalau di tinggalkan,” sahut Viora terus menolak.
‘Ada-ada aja, masalah gebetan malah sama aku kayak nggak ada teman lain. Asal kamu tahu yah, nggak demen tahu berteman sama kamu,’ batin Viora.
‘Ini anak di ajak susah banget. Padahal perusahaan suami sendiri pakai sok kerja lagi. Dasar! Kalau bukan demi uang dan pencitraan didepan Alvero, ogah aku mau ladenin wanita murahan kaya kamu,’ batin Alice.
Mereka berdua sama-sama bersikap baik didepan busuk di belakang. Sama-sama berwajah manis padahal hati sudah ingin menerkam mangsa. Alice tidak ingin menyerah meskipun Viora terus-menerus tidak mau di ajak jalan tapi, dirinya semakin mencobanya bahkan sampai menarik tangan Viora.
“Jangan tarik-tarik! Aku lagi ngetik nanti terhapus semua harus ngulang lagi jadinya capek tahu! Bentar lagi udah selesai nih,” omel Viora yang tidak terima dipaksa.
“Makanya yuk temenin aku. Kitakan best friend forever,” ucap Alice dengan merayunya.
“Best friend forever? Sejak dua hari yang lalu?” tanya Viora tercengang mendengarnya.
__ADS_1
“Yah meskipun baru sangat singkat tapi, kita kedepan juga akan jadi teman sehidup semati sejiwa dan tidak akan pernah ada yang bisa memisahkan cinta persahabatan kita ini,” ungkap Alice dengan lebay.
‘Ya ampun ... Aku yang mengatakannya bahkan ingin muntah. Benar-benar wanita murahan ini telah menguji kesabaran ku,’ batin Alice sambil memicingkan matanya.
“Baru kali ini aku mendengar pertanyaan cinta yang begitu menjijikkan,” gumam Viora seraya terus mengetik tanpa jelas di dengar oleh Alice.
“Hah? Apa? Kamu bilang apa?” tanya Alice penasaran.
“Ah tidak. Badanku terasa gatal,” jawab Viora berbohong.
“Oh begitu ... Ya udah yuk temani aku nanti kita kerja lagi. Pliss ....” Lagi-lagi Alice memaksa.
Viora menarik nafas sambil menganggukkan kepalanya. Ia terpaksa mengiyakan lantaran dirinya juga tidak dapat fokus bekerja jika keadaan di ganggu.
“Mau kemana emangnya?” tanya Viora sambil mengambil handphonenya.
“Ke taman luar doang,” sahut Alice seraya menarik tangan Alice.
Mereka pun keluar sambil berjalan kaki. Alice benar-benar membawa Viora ke taman hingga mereka duduk di bawah pohon rindang dengan menghirup udara segar. Saat Viora sedang tidak melirik kearahnya, Alice berusaha untuk mengirimkan sebuah pesan kepada Alvero berisi dia sudah berhasil membawa Viora keluar.
‘Dasar gadis bodoh! Mau-mau aja aku paksa keluar. Kalau kamu bisa menipuku maka begitupun denganku. Sekarang tunggu saja hari ini akan menjadi hari penyesalan untukmu,' batin Alice.
Sekitar lima belas menit duduk saling termenung. Viora terus menunggu sampai Alice ingin bercerita tentang gebetannya.
“Katanya mau curhat! Terus mana juga kamu curhat? Kalau begini yang ada kerjaku rugi dong di tinggal,” omel Viora dengan wajah cemberut.
“Iya sabar, Viora. Aku tuh lagi mengingat masa-masa indah bisa jatuh cinta tapi, sayangnya gebetanku tidak tahu dengan perasaan tulus ini malahan dia justru terus mengharapkan cinta dari mantannya. Padahal mantannya itu sudah menikah loh. Aku harus apa dong?” curhat Alice seraya bertanya.
“Ya ... Gimana? Aku juga nggak bijak kalau masalah ginian,” sahut Viora dengan seadanya.
‘Haduh ... Kayak kisah ku aja. Apa cuma kebetulan ya?’ batin Viora kebingungan.
“Masa sih kamu nggak tahu? Aku frustasi mikirnya tapi, sudahlah kalau bukan takdir jadi milik kita pasti sebisa mungkin kita jaga juga bakalan pergi dengan orang lain,” ungkap Alice dengan bijak.
__ADS_1
“Ya sudah kalau begitu lupakan saja cari yang lain,” sahut Viora dengan mudahnya.
“Iya kalau ngomong mah enak! Tapi, yang ngerasain sakitnya itu aku!” jawab Alice dengan suara lantang.
“Lah ngapain malah ngegas sama aku?!” Viora tidak mengalah.
“Eh maaf-maaf! Aku kebawa emosi kalau lagi ingat gebetanku itu.” Alice mencoba ngeles.
Alice bangun dari duduknya. Ia merentangkan tangannya sambil menikmati segarnya udara. Ia juga berputar-putar sebab ada sesuatu yang ingin ia lihat.
’Mana lagi si Madam sama Alvero nih kok nggak datang-datang?’ batin Alice.
Viora merasa bosan duduk tanpa tujuan hingga akhirnya ia memilih untuk pamit.
“Kayaknya aku harus balik cepat deh nggak enak soalnya duduk santai di sini sedangkan orang lain kerja di dalam. Kalau kamu nggak mau balik ya udah aku balik sendirian,” ungkap Viora seraya melangkah.
“Eh tunggu-tunggu! Kita cari es krim dulu yuk katanya di ujung sana ada loh. Mood orang katanya bisa cepat membaik dengan makan coklat dan es krim tapi, jika pribadiku malah tidak mempan dengan memakan coklat justru makin muak,” ucap Alice sambil menahan tangan Viora.
Viora akhirnya menurut. Alice tersenyum melihat Viora berhasil masuk dalam perangkap. Mereka berdua terus berjalan bergandengan tangan hingga sampai di depan jualan es krim dekat sekolah anak-anak. Alice dengan cerita menarik tangan Viora untuk dengan cepat menuju kesana.
Alice sedang memesannya seraya dirinya terus melihat keberadaan Madam. Hingga akhirnya Madam terlihat tapi, dengan pakaian compang-camping.
Madam langsung menuju mendekat kearah Viora sambil membawa botol bekas di punggungnya serat satu botol kecil untuk meminta sedekah. Kaki pincang pun Madam lakukan demi mendapatkan tujuan yang mereka inginkan.
“Cu, minta ... Sedekahnya sedikit, nenek belum makan sejak kemarin laper ...,” ungkap Madam dengan wajah sedih
“Sebentar yah, Nek,” sahut Viora sambil mencari uang di dalam saku bajunya.
“Makasih, Cu. Kamu anak yang baik,” sahut Madam.
“Sama-sama, Nek. Yang terpenting nenek bisa makan yah,” sahut Viora sambil mengeluarkan uang.
Madam yang menyamar menjadi nenek-nenek akhirnya tersenyum sambil menerima uang tersebut.
__ADS_1