Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
7~S2 Jebakan gila Elie


__ADS_3

Happy Reading


Seperti yang sudah ia niatkan Claudia membawa Elie pergi ke kamar mandi. Ia membersihkan semua kotoran di tubuh kakaknya. Sudah berhari-hari perempuan itu belum menyentuh air. Tidak ada perlawanan apapun kecuali senyuman yang sedari tadi masih berada di raut wajahnya.


‘Setelah kakak Steve pergi menemuinya, sejak tadi kakak Elie terus saja tersenyum bahkan sekarang dia tidak menolak aku mandikan. Jika seperti ini bagus juga aku tidak terlalu capek mengurusnya,' batin Claudia.


Claudia melakukan semuanya hingga selesai. Sekarang Elie sudah bersih dan sudah memakai baju tidur tanpa lengan, sebab alasannya satu agar dirinya tidak kegerahan dan bisa tidur dengan nyenyak meskipun bukan waktunya tidur.


Claudia pun beranjak dari tempat Elie. Ia lalu menemui Kelvin yang sedang menonton televisi.


“Kak, jaga kakak Elie ya. Aku sudah selesai memandikannya jadi sebaiknya aku pergi sekarang, temanku sudah menunggu,” ucap Claudia sembari mengambil tas branded.


“Okay baiklah aku akan menjaga kakakmu, tapi saat pulang bawakan aku oleh-oleh,” ucap Steven sambil tersenyum.


“Ya baiklah, jika begitu aku pergi dulu. Ah aku hampir saja lupa, tadi sesudah aku memandikan kakak Elie, aku lupa memakaikan perban di lukanya. Tolong bantu pakaikan lagi ya. Bye aku pergi dulu!”


Claudia pun berteriak sembari berlari meninggalkan Steven sebelum menunggu sahutan dari kakaknya.


“Wanita itu merepotkan aku saja,” omel Steven seraya beranjak menemui Elie.


Steven sudah berada di kamar Elie, ia melihat wanita itu sedang tersenyum sendirian layaknya seperti sedang memikirkan sesuatu. Ia mencoba mendekatinya sambil membawa kotak obat.


“Kapan kamu akan sembuh, Elie? Jika hal kecil seperti ini saja kamu justru merepotkan diriku,” omel Steven yang sedang membalut perban.

__ADS_1


“Ayolah jangan terus tersenyum, aku tidak sedang tersenyum denganmu melainkan aku sedang kesel karena mu. Jika saja bukan karena adikku, Claudia, aku pasti tidak akan menerimamu di rawat di sini. Justru menambah beban ku. ”Tidak hentinya Steven mengomel.


Selesai sudah semuanya Steven lakukan, ia lalu melangkah ingin meninggalkan tempat itu. Brug! Suara pukulan keras tepat di belakang leher Steven hingga membuatnya jatuh tergeletak dan tidak sadarkan diri.


Dengan mata terbelalak melihat Steven sudah kehilangan kesadarannya. Elie menarik Steven perlahan-lahan hingga membawanya tepat di atas ranjang. Lalu Elie mengikat kedua tangan dan kaki dengan tali yang tersangkut jauh sampai ke jendela kamar.


Elie mencoba mendekati Steven sembari mengusap lembut wajahnya.


“Kelvin, sekarang kamu ada di depan mataku dan itu artinya kamu akan selalu ada di dekatku selamanya! Hahaha.” Betapa gembiranya Elie yang berpikir jika itu adalah pujaan hatinya selama ini.


Ia begitu puas melihat bayangan Kelvin yang sedang terbaring tidak sadarkan diri. Elie lalu melepaskan semua pakaiannya hingga tidak ada satupun benang yang tersisa.


“Tunggu, jika aku sendiri yang melayaninya seperti ini maka tidaklah seru. Kelvin ku yang malang ... Jika saja kamu tidak lagi pergi dariku, tidak akan hal ini terjadi padamu,” ucap Elie sembari menangis lalu ia kemungkinan tertawa.


“Sebaiknya aku harus mengambil air.” Elie berlari mengambil air tanpa busana ia keluar dari kamarnya.


“Umm kepalaku pusing sekali, di mana ini?” Steven sadar sembari melihat kesana-kemari.


“Tanganku, kakiku! Lepaskan siapa yang berani melakukan ini semua?! Hey keluarlah siapapun di sana lepaskan aku! Jangan berani main seperti ini, jika berani lawan aku.” Steven geram seraya berusaha bergerak-gerak.


Di balik pintu lemari pakaian Elie bersembunyi tanpa busana. Ia lalu keluar dengan perlahan-lahan dengan sedikit gaya berjalan. Lenggak-lenggoknya ia berjalan dengan meliuk pinggul kanan dan kiri yang begitu sexy.


Steven membelalakkan matanya melihat seorang yang sangat ia kenal berada di depannya. Elie memasukkan jarinya kedalam mulutnya sembari mengeluarkan lidah seolah sedang menjilat. Steven menelan ludahnya. Meskipun ia waras namun jika Pria normal melihat keindahan di depan siapapun tidak akan menyia-nyiakan kesempatan.

__ADS_1


Berkali-kali Steven menggelengkan kepalanya agar membuat kesadarannya normal kembali dari pemandangan setan di depan.


“Elie, lepaskan aku! Apa kamu ingin secepatnya masuk rumah sakit jiwa? Ayolah lepaskan aku tidak berdosa padamu. Ku mohon ... lepaskan.” Steven mengemis agar di lepaskan.


Namun bukan Elie namanya jika dia menyia-nyiakan mangsa didepan. Elie hanya tertawa dan berkedip mata dengan gaya khas menarik lawan jenis.


“Ayolah Kelvin, bukankah kita pernah berbuat? Lalu tunggu apalagi sekarang kita melakukannya lagi sayangku.” Elie semakin mendekat ke tubuh Steven seraya membawa gunting.


‘Apa dia katakan, Kelvin? Jadi dia melihatku sebagai Kelvin? Oh tidak wanita gila ini sudah benar-benar tidak waras. Bagaimana mungkin dia melihatku sebagai Kelvin, apa matanya buta?' batin Steven.


“Sadar Elie, aku ini Steven bukan Kelvin mu! Ayolah jangan lakukan hal bodoh ini. Mana mungkin aku mau berhubungan dengan wanita gila sepertimu!” Steven meronta-ronta dan berteriak.


Elie tidak peduli dengan apa yang Steven katakan, baginya dia adalah Kelvin. Elie langsung menggunting semua pakaian milik Steven hingga ia juga tidak memiliki apapun.


“Elie, kamu benar-benar gila! Ya ampun percuma saja aku berteriak sampai habis suaraku toh dia juga sudah gila.” Kelvin akhirnya menyerah dan menutup matanya.


‘Jika pun perjaka ku akan hilang hari ini maka biarkanlah, tapi aku akan selalu menganggapnya bahwa diriku masih perjaka. Karena aku tidak sudi dengan perempuan gila seperti ini. Author kenapa tidak kamu berikan gadis hebat untukku bukan wanita gila ini,’ batin Steven.


(Ingat hidup selalu ada ujian jadi tidak selamanya hidup selalu berjalan manis sesuai keinginan. Tapi kita juga harus Ingat akan ada pelangi setelah hujan reda. Author menyelinap masuk.)


Steven sangat pasrah, ia hanya menunggu sampai Claudia pulang dan menolongnya. Meskipun ia tahu badai besar sedang menghampirinya.


Elie sangat puas hingga terus tersenyum. Ia perlahan naik ke atas tubuh Steven, dan mulai menggesek-gesekkan lubang bayi miliknya tepat berada di atas adik kecil Steven.

__ADS_1


‘Ya ampun! jadi begini rasanya berhubungan hanya di gesekan saja sudah menyenangkan. Apa mungkin rasanya lebih nikmat jika masuk kedalam miliknya? Astaga sadar Steven, bukan waktunya kamu menikmati, tapi aku tidak ingin berbohong pada diriku sendiri,’ batin Steven antara si jahat dan si baik.


“Kenapa Kelvin, kamu juga menyukai seperti ini? Kenikmatan seperti ini dulu pernah kita lakukan. Aku ingin saat ini kamu di atas ku yang memimpinnya, tapi sepertinya kamu tidak suka, karena gadis kecil bodoh itu kamu menjauh dariku,” ucap Elie yang terus melakukan seperti sebelumnya.


__ADS_2