
H A P P Y R E A D I N G
Reiner mendengar itu langsung melemparkan botol minuman kearah Kelvin. “Jangan cuci otak anakku!” Kelvin tidak menjawab justru ia tertawa menatap Reiner sudah dimusuhi oleh Kayrren, putranya sendiri.
Semuanya tertawa melihat Reiner kesal namun, tidak dengan kedua putra dan putrinya. Mereka hanya berdiam diri sembari kebingungan melihat orang dewasa tertawa dengan tiba-tiba.
...----------------...
Acara pesta sungguh membuat mereka kelelahan seharian hingga membuat Claudia sakit pinggang bahkan ia berjalan ke kamarnya dengan memegang pinggang sebelah kirinya dengan pakaian lengkap baju pengantin. Hingga Kelvin tidak sengaja sengaja menatap Claudia berjalan seperti itu. Sampai akhirnya Kelvin mencolek bahu Viora untuk menatap ke depan.
“Pookie, lihat Claudia. Dia bahkan seperti nenek tua berjalan seperti itu. Masih melayani tamu belum lagi melayani adiknya Steven pasti langsung tepar,” ledek Kelvin dengan seenak jidatnya hingga membuat Viora menjentikkan jari ke keningnya.
“Apa mulutmu harus ku sekolahkan lagi?” sahut Viora dengan pertanyaan memprihatinkan.
“Pookie, sekolah bagaimana? Tapi, ucapan ku itu benar. Pasti saat dia merasakan milik Steven pasti dia langsung tepar. Duh ... Rasanya aku ingin berada di sana untuk menjadi sutradara.”
“SEKALIAN AJA NAFKAH BATIN SEKALIAN!” ketus Viora dengan kasar. Lalu melangkah pergi meninggalkan Kelvin yang masih duduk.
“Hey! Mau kemana?! Astaga, Pookie! Apa kamu cemburu?! Tolong ... tidak perlu cemburu! Hanya ada kamu yang bisa membuat adikku bahagia!” teriak Kelvin begitu keras sampai terdengar ke telinganya Reiner. Bahkan Reiner yang sedang mabar (main bareng) bersama kedua anaknya sampai terkejut mendengar Kelvin berteriak menyebutkan adik kecil.
Reiner tiba-tiba mematikan ponselnya. “Kaylee, Kayrren. Mabarnya sama Mommy dulu ya. Daddy mau temuin Uncle Kelvin dulu.”
“Yah Daddy! Mabar sama Mommy enggak asyik cepat banget is dead!” kesal Kayrren sembari ikut-ikutan mematikan ponselnya lalu memilih untuk duduk di pangkuan Mommy-nya.
Reiner dengan sengaja menemui Kelvin hanya ingin mengejeknya. Tiba di samping Kelvin. “Ehemm! Enak ya yang lagi di marahin sama istrinya. Rasain emang enak enggak dapet jatah pastinya.”
“Lama-lama Lo enggak waras,” sahut Kelvin kesal hingga melangkah pergi meninggalkan Reiner tanpa berkata apapun.
“Dasar sensian!” ledek Reiner.
__ADS_1
Reiner pun langsung kembali. Acara pesta pun berakhir. Semua tamu berjalan keluar. Begitupun dengan Steven dan Claudia serta Alvero bersama Alice. Mereka hanya menunggu untuk kembali ke tempat masing-masing dan melanjutkan kehidupan dengan bahagia.
...----------------...
(Steven dan Claudia)
Tiba di kediaman Steven. Rumah yang sudah lama ia nanti-nantikan untuk berdua dengan Claudia dalam ikatan pernikahan akhirnya bisa mereka tempati bersama. Steven langsung turun namun, tidak dengan Claudia. Ia duduk terdiam di dalam mobil hingga membuat Steven kebingungan.
“Ball, apa kau menjadikan mobilku sebagai rumahmu juga?” tanya Steven dengan tiba-tiba.
“Pinggang ku sakit sekali, Baly ... Kamu 'kan tidak tahu. Hanya tahu tersenyum!” jawab Claudia dengan ketus.
Mendengar ucapan dari istrinya. Steven langsung membopong tubuh Claudia untuk masuk kedalam. Lalu tiba di dalam malam itu menjadi malam pertama untuk mereka meskipun mereka sudah pernah melakukannya tapi, tetap saja yang namanya baru menikah tentu selalu punya sensasi rasa ingin terus berduaan.
“Kamu ingin aku melakukannya, Ball?” tanya Steven sembari membantu Claudia melepas gaunnya.
Steven tersenyum, ia merasa kemenangan berpihak padanya. Lalu Steven mulai mengerakkan tangannya tapi, dengan cepat Claudia menahan.
“Mau ngapain?” tanya Claudia sambil terus memegang tangan suaminya.
“Tapi, kita mau kuda-kudaan 'kan, Ball? Bukannya tadi kamu juga bilang lakukanlah terus minta lepasin gaun mu juga,” jawab Steven dengan bibir manyun.
“Ia lakukanlah. Udah cepat pijitin aku bentar,” perintah Claudia yang langsung mengambil minyak urut untuk di serahkan kepada suaminya.
“Ball, kok malam pertama minta di urut? Ayolah main ...,” rengek Steven sambil menyatukan kedua tangan di depan Claudia.
“Kamu enggak lihat apa? Aku dari tadi sakit pinggang! Berdiri di sana itu mau runtuh ini pinggang. Udah cepet urut aku. Pegel nih. Awas kalau macem-macem!” ancam Claudia dengan memicingkan matanya.
“Malam pertama malah di suruh urut. Hadeuh ... Nasib emang punya istri galak,” omel Steven sambil mulai melakukan apa yang istrinya mau.
__ADS_1
“Bilang apa barusan? Aku galak?”
“Enggak kok, Ball. Kamu baik kok. Udah ah diem biar aku urut terus.” Sukses membuat Steven menarik nafasnya memburu sambil terus mengurut sang istri. Padahal dirinya sudah kelelahan namun, ia merasa kasihan hingga mau di suruh-suruh oleh istrinya di malam pertama.
...----------------...
(Alice bersama Alvero)
Di sisi lain. Mereka tiba di kediamannya. Alvero langsung turun tanpa menunggu Alice untuk turun. Mereka berjalan terpisah hingga membuat Alice kesusahan sendiri dan harus dibantu oleh pelayan sebab perutnya sudah membesar di tambah dengan gaun besar yang cukup membuat repot. Hingga akhirnya Alice pun masuk kedalam kediamannya.
Alvero di mana ya? Mungkin dia udah duluan ke kamar, batin Alice celingak-celinguk hingga ia memutuskan untuk berjalan ke kamar.
Tiba di kamar. Alvero terlihat sedang rebahan dengan baju pengantin yang ia pakai. Ia sibuk mengotak-atik ponselnya hingga saat Alice masuk tidak ada sapaan akrab dari dirinya.
“Loh kamu malah enak-enakan di sini main handphone. Aku jalan aja susah. Capek tahu udah beban berat di depan begini di tambah lagi baju sebesar ini. Padahal 'kan bisa kamu bopong aku,” kesal Alice yang langsung memilih duduk di samping Alvero.
“Punya kaki 'kan? Udah jangan manja. Aku juga capek gimana mau bantuin kamu. Lagian kamu juga sampai ke kamar. Udah ah aku mau mandi dulu terus tidur,” sahut Alvero dengan ketus sembari berjalan menuju kamar mandi.
“Yah ... Jangan tidur dulu dong. Inikan malam pertama kita. Aku ikutan mandi boleh enggak?” Alice dengan sengaja menahan Alvero.
Sesaat Alvero terdiam menatap Alice namun, setelah itu dia langsung berjalan tanpa menghiraukan Alice yang sudah cemberut.
“Baru nikah bukannya di manja-manjain malah di tinggal begini. Dasar!” omel Alice.
Alice kesal. Namun, apa boleh buat. Hingga akhirnya ia membuka gaunnya sendirian tanpa ada bantuan meskipun dirinya sendiri kesusahan. Sambil menunggu Alvero selesai. Ia memilih menonton televisi ketimbang memikirkan banyak hal yang membuatnya pusing tujuh keliling.
...----------------...
Banyak hal yang bisa kita petik dari kehidupan mereka. Di mana sebuah hubungan rumah tangga tidaklah ada yang sempurna. Namun, ketidaksempurnaan itulah membuat kita bisa saling melengkapi satu sama lain. Seperti Steven bersama Claudia hanya ada cinta untuk mereka berdua tapi, tidak untuk Alvero dan Alice. Hanya ada cinta sepihak yang membuat mereka harus saling menetap.
__ADS_1