Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
Eps 135 Pemandian yang indah & Kasih sayang Bunda


__ADS_3

Happy Reading


“Ini sayang, minumlah,” ucap Reiner seraya memberikan gelas.


“Terimakasih, Bee.”


Aku meminum habis dalam satu tegukan langsung. Kejadian hari ini memang sangat menguras tenagaku. Mulai dari masalah Kelvin sampai Vanny yang bermuka dua. Reiner yang sedari itu hanya bisa mengusap lembut rambutku.


“Bee, aku capek ingin istirahat. Temani aku yuk,” pintaku sambil tersenyum.


“Ya udah sayang, tapi sebelum itu kamu mandi dulu yah biar nggak gerah. Aku mandiin mau?” Dengan tampang mesum ia tersenyum sembari mencolek ku.


“Au ah aku mau mandi bukan mau layani kamu, Bee.”


“Ya udah sayang sekalian yuk! Kamu dapat mandi, aku dapat enak begitupun kamu bisa aku mandiin. Ayuk Sayang pliss ... aku juga 'kan kangen,” rengek Reiner dengan sengaja.


“Yaudah sayang iya.”


“Gitu dong sayang nurut.”


Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkahnya yang hanya bisa mencari kesempatan. Kamu berdua berjalan ke kamar, lalu seperti Reiner menginginkan apa yang ia inginkan. Tentu saja ingin memandikan aku. Menjadi istri yang penurut agar di sayangi oleh suami. Reiner yang sedari tadi berada di sampingku sampai ia membuka bajuku lalu kami berdua berjalan ke kamar mandi.


Seperti keinginannya aku sudah lepas tanpa adanya benang satupun. Reiner yang memang berusaha untuk dilayani olehku ia juga melakukan hal yang sama menghilangkan penghalang di tubuhnya.


“Sayang, kamu tahu kalau saat-saat seperti ini selalu aku tunggu-tunggu bahkan aku sekarang tidak lagi menginginkan siapapun selain kehangatan dan juga cintamu,” gombal Reiner sembari tangannya terus merangkak turun ke bawah pusar ku.

__ADS_1


“Benarkah? Kamu tidak lagi merayuku sayang?” tanyaku sengaja.


“Benar sayang, aku memang mencintaimu dan bukan saja hanya mencintaimu, tapi semua yang ada di padamu aku tidak ingin membaginya dengan siapapun. Kamu tahu sayang aku hanya menginginkan kita hidup jauh dari orang-orang yang berniat melukai kita,” ungkap Reiner ungkapan dengan sayangnya sembari dua jari tangannya sudah memasuki ke lubang liat indah milikku.


“Aahh ... Aaaa .... Bee,” desahan ku tidak sanggup ku tahan karena ia sudah memasuki tangannya hingga jauh kedalam lubang indah dengan penuh dan mengeluarkan banyak cairan seraya keluar masuk dengan cepat.


“Iya sayang, yah seperti itulah. Sayang aku selalu berharap kelak saat anak kita lahir hidup kita jauh lebih indah dan dijauhkan dari masalah, tapi jika Tuhan memang menghendaki untuk menguji kita yah mau bagaimana lagi. Sayang aku mencintaimu.” Lagi-lagi Reiner menjadi penyair, tapi lucunya ia menjadi penyair saat waktu yang tidak tepat.


Reiner yang terus melakukan aksinya hingga membuatku lemas dan akhirnya ia memelukku dari belakang sedangkan aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk juga membuat suamiku nyaman. Aku berjongkok didepan Adik kecilnya hingga aku memasukkan penuh benda besar nan panjang itu berada penuh dalam mulutku.


Dengan ritme permainan yang lembut namun juga habis ku lahap membuat Reiner terpejam matanya menikmati sensasi yang sedang aku lakukan.


“Sayang, aaah ... aaa kau tahu? Bahwa ini yang paling seru, aku sungguh tidak ingin menyia-nyiakan dirimu sayang sampai anak-anak kita besar nanti. Sudah cukup bangunlah biar kamu bisa cepat istirahat nanti,” ungkap Reiner sembari membawa naik tubuhku.


Yang di nantikan saat kedua benda menyatu dengan irama yang menggoda. Saat kedua pasangan mendesah kenikmatan dalam nikmatnya kasih sayang dan juga cinta saat kita bercinta.


“Ahh sayang ....” Reiner yang sudah sampai pada waktunya ia mengerang nikmat seraya memegang erat dua benda menggantung hingga membuat banjir liang bayiku.


Ada rasa bahagia telah bisa memberikan cinta untuk suamiku. Rasa lelah yang sejak tadi hilang sudah berganti dengan rasa nikmat.


“Sayang, terimakasih ayo kita mandi,” ucapnya sambil mengambil sabun.


Acara mandi-mandi selesai. Kami sudah memang lelah dengan banyaknya aktivitas. Hingga aku memutuskan untuk tidur begitupun dengan suamiku yang juga sudah berada di sampingku dan memelukku erat dari belakang punggungku.


--------------------------------

__ADS_1


(Kelvin Marble)


Hidup yang sudah tidak berwarna lagi untukku, semuanya sudah sia-sia tidak ada lagi cinta, tidak ada lagi yang bisa di harapkan dari cinta Viora untukku melainkan kekecewaan yang mendalam. Sejak dari kejadian itu aku mengurung diri dan tidak lagi keluar untuk menyambut tamu-tamu meskipun Bunda selalu mewanti-wanti agar aku berada di sana di akhir acara.


Seperti saat ini aku hanya bisa memandang jauh kedepan dari balik balkon kamar dan tidak ingin keluar. Bunda yang selalu menyempatkan waktunya untuk melihatku, ia takut kalau aku melakukan hal bodoh lagi yang bisa mengancam nyawaku sendiri.


“Kelvin, ayo makan nak. Sejak acara selesai kamu belum makan-makan, Bunda khawatir sayang,” ucap Ibunda seraya mengusap bahuku.


“Tapi Evin tidak ingin makan Bunda, Evin hanya ingin agar Viora mengerti bahwa semua yang aku lakukan semuanya tidak benar yah meskipun aku memang mencelakai temannya itu, tapi Viora harus tahu kalau aku hanya membela diri.” Dan lagi-lagi aku hanya mengingat tentang kejadian itu tanpa mengingat kondisi buruk yang akan menimpa diriku.


“Nak, dengarkan Bunda. Jika kamu tidak makan maka kamu tidak akan ada tenaga, Bunda janji secepatnya hubungan perjodohan kalian akan kita laksanakan meskipun Viora tidak menginginkannya, tapi aku akan berusaha untuk anakku ini.”


“Tapi Bun, ini bukan soal perjodohan namun ini soal hati. Viora telah sangat membenciku lalu bagaimana bisa ia akan menerima perjodohan di saat kondisi seperti ini. Aku tidak mau Bunda, biarkan dia bahagia dengan temannya itu.”


“Tidak Evin, Bunda tahu kamu sangat mencintai Viora, begitupun dengan dia. Maka kalian berdua tidak bisa berbohong meskipun kalian sama-sama sedang terluka. Bunda janji perjodohan akan tetap kita laksanakan karena nanti keluarga Viora sedang terbang menuju kesini,” ungkap Bunda membuatku tercengang.


”Bunda serius?! Sungguh tidak membohongiku 'kan?” tanyaku penasaran.


“Iya nak, bagaimana mungkin Bunda membiarkan anaknya menderita seperti ini, tapi sebelum itu kita harus menjenguk teman Viora dan setelah itu serahkan semuanya pada Bunda.”


“Terimakasih, Bunda.” Aku memeluk erat tubuhnya, betapa bahagianya aku memiliki Ibu yang sangat mengerti tentang diriku.


‘Viora, kita belum lepas. Tunggu aku,’ batinku saat memeluk Bunda.


* * *

__ADS_1


Duh bakalan ada perjodohan dan nikah paksa lagi ckckck. Gimana yah keadaan mereka jika sampai benar-benar menikah. Sertakan kesan juga dukungannya. Terimakasih.


Salam sayang ~ Meldy Ta


__ADS_2