
H A P P Y R E A D I N G
“Pekerjaan? Pekerjaan macam apa cuma pakai b*kini gitu?” tanya Mony penasaran.
‘Aduh ... Aku harus jawab apa nih? Sial, Mony kepo banget lagi urusan orang,’ batin Alice.
“Ngga ada apapun! Udah ah aku pergi dulu ya Bos tadi minta antar kopi, bye guys,” ungkap Alice mencoba untuk mengalihkan perhatian.
“Eh mau kemana?!” tanya Mony.
“Daaa ....” Tanpa menjawab Alice langsung kabur.
Alice kabur dari hadapan kedua temannya. Ia mencari cara agar menjauh meskipun temannya masih melihatnya dengan tatapan mencurigakan. Hingga akhirnya Alice memutuskan untuk pergi kearah belakang dapur perusahaan, di sana tidak terdapat banyak orang. Lalu Alice mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang. Beberapa saat panggilan langsung terjawab.
“Alvero, dengarkan aku. Langkah pertama sudah selesai. Aku sudah berbaikan dengan kekasihmu itu. Lalu langkah selanjutnya apalagi?” tanya Alice dari balik ponselnya.
“Bagus, Alice. Tugasmu benar-benar mengesankan. Langkah selanjutnya hanya perlu membuat agar kekasihku, Viora benar-benar sudah percaya denganmu,” jawab Alvero.
“Caranya bagaimana? Hey aku hanya memintamu caranya supaya bisa membuat Viora itu percaya denganku,” ucap Alice kebingungan.
“Ya ampun! Itu saja kamu tidak tahu. Ajak Viora untuk bermain-main denganmu, jika perlu jangan terlalu sering bersama dengan kedua temanmu itu. Bukankah mereka juga ikut-ikutan membenci Viora? Jadi, cepat buat semuanya seperti normal dan tidak mencurigakan,” ungkap Alvero dengan jelas.
“Baiklah, jika begitu aku harus tutup teleponnya sebab tadi Mony bersama Deva juga sedikit curiga denganku apalagi jika aku berlama-lama di sini,” ungkap Alice sambil celingak-celinguk.
“Baiklah, Alice. Semoga kerjamu berhasil,” sahut Alvero penuh perhatian.
Alice langsung mematikan ponselnya. Ia menarik nafas dalam-dalam dan hembuskan. ‘Huuf! Jika bukan karena uang maka aku tidak akan mau seperti ini.’
...----------------...
Di dalam ruangannya Viora sedang mengatur beberapa jadwal untuk bertemu dengan klien di dalam negeri. Meskipun dia hanya sekretaris kedua. Namun, dirinya cukup diberi satu pekerjaan khusus oleh Kelvin. Selebihnya masih tetap di kerjakan oleh Alice.
Viora sudah selesai dengan tugasnya, ia langsung menuju ke ruangan milik Kelvin tapi, di tengah jalan langkahnya terhenti oleh Alice.
“Hay, mau kemana?” tanya Alice dengan tiba-tiba.
“Mau keruang Bos. Memangnya ada apa?” sahut Viora kebingungan.
“Ah kebetulan sekali. Aku juga ingin masuk kesana. Laporan tentang hasil dari rapat kemarin sudah selesai ku rangkum jadi, aku ingin membawanya juga. Lebih baik kalau kita sekalian masuk, ayo,” ungkap Alice yang langsung menarik tangan Viora.
Viora hanya menurut meskipun ia sangat kebingungan. Mereka mengetuk pintu bersamaan dan bos langsung mempersilahkan keduanya masuk.
“Ini Pak, sudah selesai saya kerjakan," ungkap Viora dengan sopan.
Alice melirik kearah Viora. ‘Dasar! Sok ngga kenal pakai panggil Pak segala. Padahal suami sendiri. Asal kalian tahu ya aku di sini sudah tahu kalau kalian suami istri,’ batin.
“Baik terimakasih,”. ucap Kelvin.
“Sama-sama, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu,” ungkap Viora masih dengan sopan.
“Eh tunggu sebentar! Bagaimana kalau nanti kita makan siang bersama?” tanya Kelvin.
Mendengar hal itu Alice langsung mengambil posisi untuk berdiri di depan. “Anu bos maaf. Bukan maksud saya ingin mencampuri urusannya, Bos. Namun, saya nanti akan mengajak Viora untuk makan siang bersama karena saya memiliki hutang budi dengannya jadi, ajakan Bos terpaksa saya yang harus mengambilnya duluan.”
Viora tercengang mendengar apa yang di ucapkan oleh Alice. Ia bahkan tidak menyangka jika Alice sampai berkata seperti itu.
“Tapi saya yang atasan di sini jadi, lebih baik hutang budi kamu itu di bayarkan nanti saja,” ungkap Kelvin tanpa ingin di bantah.
“Emm maaf bukan maksudnya ingin melawan tapi Bos, lebih baik memang untuk saya makan siang dengan teman saya dulu.
“Ya sudah kalau begitu baiklah. Jika tidak ada keperluan lagi silahkan keluar,” ungkap Kelvin.
“Baik, Bos,” sahut keduanya sambil menundukkan kepala.
‘Bagus, Viora. Akhirnya kamu mulai menyukai untuk berteman denganku,’ batin Alice.
Alice mengandeng tangan Viora. Mereka keluar barengan. Namun, saat mereka sedang keluar tiba-tiba dari jauh kedua teman Alice tidak sengaja melihatnya.
“Eh! Bentar deh. Itu kayaknya Alice sama ... Wanita murahan itu! Apa dia sudah tidak waras?” tanya Mony pada Deva.
“Mungkin saja memang Alice sudah tidak lagi waras. Bagaimana kalau kita samperin aja,” sahut Deva memberikan solusi.
“Tunggu dulu jangan gegabah. Kita buntuti mereka dan kita lihat apa yang akan terjadi,” ungkap Mony yang sangat cerdik.
Deva pun mengangguk mengiyakan. Mereka berdua mengintai secara diam-diam. Arah tujuan Alice bersama dengan Viora menuju ke restoran dekat dengan perusahaan.
Alice memesan makanan untuknya dan juga Viora. Ia sampai mentraktir Viora meskipun tidak di minta. Begitu banyak penolakan dari Viora. Namun, lagi-lagi Alice tidak peduli, ia tetap kuat dengan keinginannya untuk membayarkan segala biaya yang keluar.
“Santai aja. Udah nggak usah sungkan gitu lagipula ini tuh sebagai tanda maaf aku juga karena kemarin-kemarin aku udah berbuat buruk jadi, sekarang kita awali dari sini. Di tanggal dan bulan yang sama supaya tahun depan kita bisa merayakan hari pertemanan kita ini,” ungkap Alice dengan semangat.
“Ya tapi, inikan terlalu cepat. Lagipula kita baru kenal, Alice. Apa kamu tidak takut berteman dengan sembarang orang?” tanya Viora.
“Tentu saja aku takut. Namun, itu tidak berlaku untukmu sebab aku bisa melihat kalau kamu ini adalah orang baik jadi, untuk apa aku harus takut,” ucap Alice menyakinkan.
”Baguslah jika memang benar seperti itu, aku sudah lega mendengarnya. Jadi setelah kita berteman bolehkah kalau aku menanyakan masalah kerja sekretaris? Soalnya aku tidak begitu paham dan juga Bos hanya memberiku satu pekerjaan saja. Tentu saja aku berpikir tidak akan mungkin perusahaan sebesar ini memiliki sedikit beban,” sahut Viora seraya menanyakan sesuatu.
‘Wah! Jadi dia hanya diberikan satu pekerjaan saja oleh suaminya itu? Dasar! Sangat tidak adil denganku yang memiliki sepuluh bahkan lebih dalam satu hari. Mentang-mentang kerja di atas perusahaan sendiri malah pilih kasih,’ batin Alice.
“Jika di bilang apa pekerjaanku tentu saja banyak, Viora. Namun, kembali lagi dengan sistem perusahaan itu sendiri. Misalkan seperti kita di sini. Aku sering melakukan mengatur agenda, mengetik, mengurus, dan menata dokumen, menjadi perantara dengan pihak eksternal, menyiapkan rapat atau kegiatan lain, menyusun banyaknya laporan bahkan yang paling menyebalkan membuat alasan saat bos kita tiba-tiba membatalkan janjinya tentu saja kita harus bisa membuat agar klien bisa percaya kembali dan tidak marah, dan lain sebagainya,” jelas Alice dengan panjang lebar.
Viora mengangguk-anggukkan kepalanya. “Jadi lumayan banyak tapi, aku hanya diberikan satu pekerjaan. Jadi waktu bersantai untukku lumayan banyak.”
“Ya tentulah karena kamu 'kan istrinya. Eh maksudku istri dari temanku juga seorang sekretaris,” ungkap Alice hampir keliru.
‘Aduh ...Hampir aja kecoplosan,’ batin Alice.
‘Aku sedikit curiga dengan Alice. Dia tiba-tiba bersikap baik bahkan sekarang dia mengatakan istrinya. Ada sesuatu yang ia sembunyikan. Aku harus mencari tahunya jika perlu harus mengawasi gerak-geriknya. Alice, jika kamu berani bermain-main denganku maka kamu selamanya akan menyesal. Jangan berpikir aku hanya diam tanpa melakukan apapun karena musuhku jauh lebih dulu hebat darimu dan sebab itulah aku telah belajar banyak dari setiap geraknya Tante Elie terdahulu,' batin Viora.
Alice tersenyum kikuk saat melihat Viora tidak menjawab ucapannya saat perkataannya keliru. Ia lalu melanjutkan hidangan yang telah ia pesan. Namun, Viora mencoba untuk bersikap biasa saja agar tidak terlihat seperti orang yang sedang mencurigai sesuatu.
“Oh ya, Viora. Aku lihat hubunganmu dengan Bos sangat dekat. Apa kalian memiliki hubungan khusus? Maksudku jika memang tidak maka mungkin saja Bos yang sudah menaruh hatinya untukmu,” ungkap Alice sengaja berbasa-basi agar suasana tidak tegang.
“Tidak! Mana mungkin Bos menaruh hatinya kepada sekretaris rendahan sepertiku. Jelas-jelas dia hanya kasihan denganku. Lagipula kamu yang sudah menjadi sekretaris perut tentu saja Bos lebih menaruh perhatian denganmu,” ungkap Viora mencoba menipu.
‘Pintar sekali drama. Kamu pikir dengan sengaja mengatakan seperti itu aku akan percaya. Awas saja identitas mu akan segera ku bongkar, dan Bos akan menanggung malu karena telah melanggar peraturan yang ia buat sendiri,’ batin Alice.
__ADS_1
“Jadi begitu, Viora. Tapi, aku tidak merasa kalau Bos perhatian denganku justru dia bersikap sama dengan siapapun karyawan di sini. Namun, ku lihat dia hanya lebih perhatian denganmu,” sahut Alice sengaja memojokkan Viora.
“Mungkin itu hanyalah kebetulan, Alice. Sudahlah jangan terlalu banyak berkata seperti itu sebab aku tidak ingin jika nantinya banyak berharap,” respon Viora dengan tersenyum kikuk.
“Aku hanya ingin mengatakannya, Viora. Tentu saja aku tahu jika Bos memang hanya kebetulan baik denganmu. Tapi, apa kamu memiliki perasaan dengannya? Sebetulnya aku juga sedikit memiliki perasaan,” ungkap Alice.
‘Rasakan kamu, setelah mendengar yang aku katakan apa mungkin kamu masih bersikap biasa saja setelah tahu suamimu di sukai oleh sekretaris pertamanya. Padahal aku sama sekali tidak menyukainya,’ batin Alice.
“Oh ya? Jadi kamu sudah mencintai Bos? Lalu kenapa tidak mencoba untuk merayunya? Siapa tahu jika dia akan juga mencintaimu,” sahut Viora memberikan ide.
“Sepertinya tidak perlu sebab ku dengar dia sudah memiliki istri. Namun, aku tidak tahu istrinya yang mana sebab selama aku bekerja di sini belum pernah dia membawa istrinya. Entahlah mungkin saja dia malu karena istrinya yang ku dengar hanyalah anak kecil biasa,” ungkap Alice dengan sengaja.
‘Sial, aku tidak boleh tergoda perkataan wanita ini. Kamu harus tahu Alice, bahwa anak kecil biasa yang kamu sebutkan itu adalah aku. Dasar! Jika bukan karena aku mematuhi peraturan di sini kalau tidak riwayat kerjamu hanya tinggal kenangan,’ batin Viora.
“Hey! Apa kamu baik-baik saja?” tanya Alice.
“Ah ya, aku baik-baik saja,” sahut Viora seraya tersenyum.
“Lalu kenapa kamu melamun? Apa kamu sakit? Jika ya sebaiknya kita langsung kembali dan aku akan meminta izin untuk membawamu pulang,” ungkap Alice berpura-pura cemas.
“Tidak perlu, aku baik-baik saja. Hanya sedikit kenyang.” Viora terus beralasan.
“Baiklah, ku pikir kamu sakit. Apa kita langsung balik saja?” tanya Alice.
“Sepertinya kita langsung balik lagipula aku sudah kenyang. Terimakasih banyak atas traktirannya. Lain kali pasti aku yang akan membayar milikmu,” ungkap Viora.
“Ah tidak perlu, Viora! Aku ikhlas memberi kesempatan untukmu. Jadi, tidak usah menggantinya lagipula ini hanya sebagai permintaan maaf ku padaku,” sahut Alice menolaknya.
“Kamu baik sekali, Alice. Baiklah jika begitu aku akan mulai menjadikanmu teman terbaikku," ungkap Viora dengan bahagia.
“Tentu saja, Viora. Aku sangat senang hari ini bertambah lagi temanku,” sahut Alice seraya memeluknya.
“Baiklah, ayo kita balik,” ajak Viora langsung menggandeng tangan Alice.
Mereka langsung kembali ke perusahaannya dengan berjalan kaki sebab tidak terlalu jauh. Dalam perjalanan mereka tertawa bersama. Senyuman pun belum pudar dari wajah masing-masing. Meskipun demikian hati Viora bersama Alice jauh berbeda dari apa yang terlihat.
‘Bagus sekali, langkah keduaku juga sudah berhasil. Sekarang saatnya menunggu perintah untuk langkah selanjutnya. Viora, tersenyumlah hari ini maka nanti kamu pasti akan menangis darah di hadapanku,’ batin Alice.
‘Aku tidak akan bodoh dengan mempercayai orang lain dengan mudah apalagi dia yang telah menyakitiku. Lihat saja Alice, ini hanyalah permulaan untuk mencari tahu apa tujuanmu padaku,’ batin Viora.
Gandengan tangan mereka sampai di pintu gerbang perusahaan. Lalu mereka pun berpisah dengan saling melambaikan tangan. Senyum palsu masih memancarkan di wajah mereka meskipun sudah berpisah.
Alice berjalan ke ruangannya yang sedikit jauh dari ruang Viora. Alice menarik nafasnya dan mulai mengeluarkan senyum tersungging untuk keberhasilan rencananya. Ingin dirinya menghubungi Alvero untuk mengadu. Namun, niatnya terhenti sebab kedua teman menarik tangannya dengan paksa hingga membawa jauh dari keramaian.
“Lepasin! Apa sih kalian ini main tarik aja!” geram Alice.
“Jangan bilang apa yang aku lihat barusan itu nyata. Jelasin Alice apa yang sebenarnya kamu rencanakan?” tanya Mony langsung tanpa bertele-tele.
“Jelasin apa sih? Ngomong itu yang jelas!” bentak Alice dengan tegas.
“Udah deh jangan pura-pura bodoh dan ngga tahu dari maksud pertanyaan ku ini. Aku bareng Deva, ngga sengaja lihat kalau kamu sama si wanita murahan itu makan berdua sampai kamu justru traktir dia. Bahkan kami sebagai teman aja ogah di bayarin, terus sampai masuk ke dalam sini pun kalian masih senyam-senyum kaya orang baru jatuh cinta. Apa ini kurang jelas?” ungkap Mony panjang lebar seraya bertanya.
Alice tidak menjawab justru dirinya tersenyum. Ia memang sudah berjanji untuk tidak membagikan rahasianya dengan Alvero. Namun, dia akan memberitahukan yang lain.
“Ya tentu saja. Tapi kalian berdua tidak perlu tahu apa yang sedang ku rencanakan. Dan ingat jangan sesekali mencoba untuk mengganggu rencana ku ini, jika tidak maka kalian berdua akan menyesal. Ah sudahlah lebih baik kalian kembali bekerja,” ungkap Alice berniat pergi.
“Tunggu dulu, Alice. Baiklah kami tidak akan mengacaukan semuanya tapi, setidaknya beritahukan dulu pada kami mengenai semuanya itu,” sahut Deva terus memaksa.
“Aku bilang tidak, ya tidak! Sudah sana kerja atau aku aduin nih sama wanita murahan itu kalau kalian sedang mencoba menghasut ku,” ancam Alice.
“Okay, kami akan pergi. Jika memang kamu tidak ingin mengatakannya maka kami berdua yang akan mencari tahunya sendiri. Mulai hari ini pertemanan kita bubar. Ayo Deva, kita pergi saja. Jangan lagi berteman dengan wanita sombong seperti dia. Awalnya dia yang mengajak kita untuk berbuat jahat kepada Viora tapi, sekarang justru dia sendiri yang mengakhirinya. Mulai hari ini jangan pernah anggap kita berteman!” geram Mony seraya menarik tangan Deva.
“Ya sudah sana pergi. Lagian siapa juga yang mau berteman dengan staf karyawan miskin kaya kalian! Dasar! Buang-buang waktuku saja,” gumam Alice.
Mony bersama Deva memilih untuk pergi menjauh. Begitupun dengan Alice, ia juga tidak terlalu khawatir dengan kehilangan kedua teman yang sudah selalu ada selama lima tahun bekerja bersama. Alice langsung memasuki ruangannya dan langsung mengunci pintu. Ia ingin beritahukan pada Alvero mengenai keberhasilannya. Tidak lama kemudian panggilan langsung terjawab.
“Hello, Alvero. Aku sudah berhasil. Viora juga sudah begitu percaya denganku meskipun uangku ludes hari ini,” lapor Alice.
“Tidak masalah, aku akan menggantikan uang mu yang keluar hari ini. Lalu apalagi yang terjadi?” tanya Alvero dari balik ponsel.
“Masalahnya sekarang temanku tahu kalau aku sedang melakukan sesuatu untuk Viora tapi, sekarang kami sudah memutuskan untuk tidak lagi berteman," ungkap Alice.
“Ya sudah tidak perlu khawatir. Lain kali kamu harus selalu waspada jika sedang menemui Viora. Baiklah kalau begitu aku akan menutup teleponnya,” respon Alvero dengan baik dan berniat mematikan sambungan.
“Tunggu dulu!” teriak Alice menghentikan.
“Apalagi? Sudah selesaikan laporan mu hari ini jadi apalagi? Ayolah aku tidak punya banyak waktu untuk mengobrol, aku sedang berkerja,” kesal Alvero.
”Ya aku tahu tapi, ini sangat penting. Jemput aku saat pulang kerja ya. Bye ... ku tunggu awas kalau ngga!” ancam Alice.
Tanpa menjawab lagi Alvero langsung mematikan ponselnya. Alice memukul mejanya dengan sedikit keras lantaran Alvero selalu bersikap acuh terhadapnya. Alice tidak memusingkannya lalu ia mulai fokus dengan pekerjaan agar bisa cepat pulang.
...----------------...
(Ruangan Viora)
Viora sudah menyelesaikan pekerjaannya sebab ia hanya bekerja dengan satu tugas saja. Lalu dirinya berjalan mondar-mandir untuk mencari solusi tentang prasangka 'nya terhadap Alice. Terus mencoba berpikir. Namun, tidak juga mendapatkan solusi yang tepat hingga akhirnya ia mengirimkan pesan pada Kelvin untuk pergi ke ruangannya.
Lama ia menunggu mungkin sekitar dua puluh menit baru Kelvin datang menemuinya. Di luar ruangan ia celingak-celinguk melihat orang lain agar dirinya tidak ketahuan terus memasuki ruangan milik sekretaris kedua.
Viora langsung memasang wajah cemberut saat Kelvin datang. Namun, Kelvin justru membalasnya dengan mengecup kening istri kecilnya itu.
“Ayolah gadis kecil tersenyumlah. Aku datang justru wajahmu seperti ingin mengajakku ribut,” ungkap Kelvin seraya membelai rambut istrinya.
“Aku kesal tahu! Satu hal aku sedang mencari solusi tapi tidak dapat dan satu lagi justru kamu datang cukup lama! Mood ku hari ini berantakan!” geram Viora.
“Baiklah, aku minta maaf sudah mengecewakanmu, gadis kecil. Tadi itu aku sedang menyelesaikan pekerjaan sedikit lagi jadi aku tidak bermaksud untuk membuat istriku ingin menunggu terlalu lama. Jadi, sekarang solusi seperti apa yang ingin ku beritahu?” ungkap Kelvin memohon seraya bertanya.
“Ya sudah aku maafkan. Tapi, mengenai solusi sepertinya aku perlu satu atau dua orang untuk menyelidiki seseorang, Pangeran,” curhat Viora.
“Menyelidiki seseorang? Apa maksudmu, gadis kecil? Memangnya siapa yang berani macam-macam dengan istriku ini?” tanya Kelvin dengan penuh perhatian.
“Baiklah kali ini aku akan jujur. Awalnya sekretaris pertamamu itu pernah membuatku sakit hati tapi, sekarang dia dengan tiba-tiba mengajakku untuk berteman. Kupikir ini hal yang biasa. Namun, setelah aku ikut makan siang dengannya justru ia bertanya begitu aneh padaku seperti sedang berusaha memojokkan aku, Pangeran,” curhat Viora dengan cepat.
Kelvin mengangguk-anggukkan kepalanya mengiyakan. Ia berusaha mencerna apa yang sedang di katakan oleh istrinya.
__ADS_1
“Jadi maksudmu, gadis kecil. Kalau istriku ini masih belum percaya dengan Alice, benarkah begitu?” tanya Kelvin.
“Iya, Pangeran!” jawab Viora dengan ketus.
“Baiklah, aku akan membantu gadis kecilku ini tapi, dengan satu syarat,” ungkap Kelvin mencoba mencari kesempatan.
“Hey! Aku ini istrimu! Ayolah jangan mencari kesempatan padaku," kesal Viora dengan langsung melipatkan tangan di dadanya.
Kelvin tersenyum melihat perubahan wajah istrinya yang begitu cepat marah. Ia lalu mencubit pipi gemesnya itu hingga Viora meringis sakit.
“Udah sana keluar! Dasar suami ngga mau bantu istrinya!” geram Viora.
“Sayang, ayolah kamu hanya perlu menjawab ia dengan syarat ku maka hari ini juga solusi yang kamu minta akan langsung terpenuhi,” kata Kelvin yang masih suka membuat istrinya kesal.
“Baiklah, katakan apa syaratnya?” ungkap Viora pasrah seraya bertanya.
“Syaratnya adalah ... Nanti malam berikan aku susumu, gadis kecil. Bolehkan? Tapi, aku juga tidak akan memaksanya. Jika tidak maka aku tidak akan membantumu,” pinta Kelvin dengan sengaja.
“Dasar mesum! Baiklah hanya itu saja. Kalau nanti Pangeran mengambil lebih dari syarat tersebut maka aku tidak segan-segan akan mencubit habis kulitmu,” ancam Viora dengan tersenyum.
“Gitu dong! Nggak akan lewat kok, gadis kecil. Aku hanya menginginkan itu saat aku menonton televisi nanti agar aku bisa tertidur di dalam pelukanmu. Itu saja tidak lebih,” ucap Kelvin dengan semangat.
“Ya baiklah, Pangeran. Lalu mengenai solusi ku bagaimana?” tanya Viora memastikan.
“Tenang, sayang. aku akan membayar dua orang untuk mengikuti kemanapun Alice pergi, dan nanti setiap geraknya akan di laporkan padamu, Tuan putri kecilku,” ungkap Kelvin dengan jelas.
“Yee ... Asyik! Akhirnya aku akan tahu tujuan Alice berpura-pura baik denganku. Terimakasih Pangeran jelekku,” ledek Viora seraya mengecup bibir suaminya.
Meskipun Viora meledeknya. Namun, bagi Kelvin itu hanyalah pujian bahwa ia tampan. Kelvin membalas ciuman dengan rakus seraya memijat sedikit gundukan indah di depannya.
“Gadis kecil, bolehkan kalau aku mencicipinya saat ini? Hanya mencicipinya tidak lebih,” pinta Kelvin sambil memeluk Viora.
‘Sebetulnya aku sangat merindukan istri kecilku ini. Namun, aku harus menahannya,’ batin Kelvin.
Viora pun mengangguk. Ia juga tidak tega terus membiarkan Kelvin meminta walaupun kontrak pernikahan masih tetap berlaku dan hanya tidak berlaku tentang satu pasal yaitu tidur boleh satu ranjang.
Kelvin tidak menyia-nyiakan kesempatan meskipun masih di perusahaan. Ia memang mengambil apa yang ia minta dan tentu saja tidak ingin melewati batas. Meskipun itu sudah menjadi haknya namun, dia ingin menunjukkan betapa berharganya Viora dalam hidupnya walaupun harus terus menahan diri. Viora terduduk sedangkan Kelvin tidur di atas pangkuan istrinya. Seperti bayi yang kelaparan dengan lahap ia seakan meminum susu. Sampai air liurnya membasahi semua gundukan besar milik istrinya.
Kelvin pun bangun. Ia sengaja tidak ingin berlama-lama sebab takut dirinya tidak bisa menahan. Ia langsung merapikan pakaian milik istrinya lalu tidak lupa mengecup bibir mungil itu.
“Terimakasih, gadis kecilku. Setelah ini aku sudah pasti begitu semangat bekerja. Aku mencintaimu, sayangku,” ucap Kelvin dengan penuh cinta seraya mengecup lagi bibir Viora.
”Aku juga mencintaimu, Pangeran,” balas Viora.
“Ya sudah, gadis kecil. Kalau begitu aku akan keluar dulu, mengenai masalah tadi secepatnya aku akan menghubungi seseorang. Jadi, istriku tidak perlu lagi khawatir. Kalau kamu sudah selesai bekerja dan ingin istirahat di sini sebaiknya kunci pintunya dari dalam. Nanti aku akan kembali menjemputmu kesini saat pulang,” pesan Kelvin dengan penuh perhatian.
“Baiklah, Pangeran. Aku akan melakukan seperti yang kamu mau," jawab Viora tidak ingin membantah.
“Ya sudah, aku keluar dulu,” pamit Kelvin seraya mencubit pipi gemesnya.
Kelvin telah keluar. Viora justru senyum-senyum sendiri. Ia begitu suka sangat Kelvin bersikap perhatian seperti itu. Lalu ia tidak lupa mengunci pintunya dan memilih rebahan. Viora membuka sedikit bajunya lalu memegang sisa gigitan pada gundukan miliknya yang masih basah oleh liur suaminya.
“Maafkan aku, Pangeran. Seharusnya aku memberikan semuanya untukmu seperti kamu memberikan apa yang ada dari dirimu untukku. Tapi, aku berjanji saat honeymoon nanti aku tidak lagi melarang mu untuk melakukan semuanya,” gumam Viora.
...----------------...
Jam sudah menunjukkan waktunya untuk kembali beristirahat di rumah masing-masing. Semua karyawan sedang berjalan keluar. Begitupun dengan Kelvin dan Viora. Mereka langsung memasuki mobil yang sama, dan langsung meninggalkan perusahaan tanpa memperdulikan dengan orang lain yang sedang menatap mereka.
Berbeda dengan Alice, ia sedang menunggu jemputan tapi, hampir semua orang sudah pulang hingga tinggal dirinya sendiri di depan gerbang perusahaan yang sudah terkunci sebab hari itu tidak ada orang lembur. Berdiam diri sambil sibuk menekan panggilan pada Alvero.
“Mana lagi itu orang. Apa mungkin dia sengaja lagi nggak mau jemput? Awas aja kalau dia berani,” gumam Alice.
Alice terus menunggu Alvero datang. Namun, sudah sekitar satu jam berdiri justru jemputan belum juga terlihat. Ia mondar-mandir seperti orang kebingungan. Jauh dari tempat itu sudah ada dua Pria berbadan kekar yang berdiam diri di dalam mobil untuk mengawasinya.
“Aduh ... Mana kaki udah pegel lagi terus pintu masuk pun udah di tutup. Hari juga mau gelap. Ya ampun ... Alvero benar-benar cari gara-gara nih sama aku,” geram Alice yang sudah kecapean.
Biasanya ia selalu pulang dengan di antar oleh temannya Deva, sebab Deva memiliki mobil. Namun, sekarang ia harus bernasib sial setelah memilih berpisah dengan teman-temannya. Alice juga tidak henti-hentinya untuk menghubungi Alvero namun, terus-menerus panggilan tidak terjawab hingga membuatnya memilih untuk berjalan kaki sampai di depan jalan raya. Sebab perusahaan tersebut sedikit memasuki jalan khusus.
Alice terus berjalan kaki sambil terus mengomel sepanjang perjalanan. Dua orang di mobil itu memilih untuk mengikutinya dengan pelan-pelan. Hingga Alice menyadari ada sedikit keanehan yang terjadi.
“Perasaan mobil itu dari tadi jalannya di sana terus, apa mungkin lagi nunggu seseorang? Tapi, kayaknya nggak mungkin deh, secara orang lain di sini cuma tinggal aku doang. Apa jangan-jangan itu orang jahat ya mau celakain aku? Aduh ... Gimana kalau beneran nih? Mana Alvero ngga datang-datang lagi,” gumam Alice dengan suara pelan.
Alice akhirnya memilih untuk berlari meskipun ia sudah lelah tapi, dirinya harus berlari.
“Benar dugaan ku, mobil itu ternyata emang lagi ngikutin aku. Aduh ... Mana udah capek terus sekarang harus lari lagi,” gumam Alice sesekali menoleh ke belakang.
Ia terus berlari sampai akhirnya tiba di jalan raya. Sesekali ia menoleh kebelakang untuk melihat taksi. Namun, tiba-tiba mobil yang ia nanti-nantikan akhirnya datang. Alvero telah menjemputnya meskipun sudah sangat telat. Dengan terburu-buru Alice mencoba menghentikan mobil Alvero hingga ia berlari memasuki mobil tersebut.
“Kamu gila ya! Udah tahu kalau aku suruh jemput itu harusnya datang tepat waktu jangan telat gini. Kalau aku di perkosa orang atau mati gimana, emang mau tanggung jawab?!” omel Alice dengan kasar.
“Udah di jemput malah marah lagi. Mau di perkosa kek, mati kek serah! Ngga ada untung dan ruginya buatku. Lagian mana ada Pria yang mau sama wanita galak kaya kamu!” sahut Alvero dengan membalas kasar.
“Tuh di belakang buktinya ada tuh yang mau sama aku. Kalau di suruh cepat jemput ya cepat jangan kelamaan!” Alice terus-menerus kesal.
“Jadi ada orang sengaja yang mengikuti kita? Baiklah, berani sekali bermain-main denganku. Maaf, Alice. Aku tadi banyak sekali pekerjaan, jadi aku sedikit telat menjemputmu. Sekarang pakai sabuk pengaman mu, aku akan ngebut," perintah Alvero.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Sesekali Alvero melirik ke kaca mobilnya untuk melihat musuhnya di belakang.
“Menurutmu siapa yang sedang mengikuti kita, Alvero?” tanya Alice tiba-tiba.
“Aku tidak tahu dan aku tidak memikirkannya saat ini. Sampai di rumah nanti kita akan memikirkannya,” sahut Alvero sambil terus fokus dengan jalan didepan.
Mereka sangat berusaha untuk menghindar hingga akhirnya didepan terdapat lampu merah, kuning, dan hijau. Kesempatan untuk Alvero sebab di depan lampu kuning sedang menyala. Dengan kecepatan tinggi hingga mereka berhasil menembus dan tinggallah musuh di belakang.
Mobil mereka berhasil terhindar dari kejaran. Hati lega dan pikiran tenang. Lalu Alvero langsung melewati jalan pintas untuk cepat sampai di kediamannya. Mereka pun telah sampai di kediaman dengan selamat.
“Piuhh ... Akhirnya berhasil lolos,” ucap Alice sambil menarik nafasnya.
Alvero tidak menjawab, ia langsung turun dari mobil sebab dirinya juga kelelahan bekerja di tambah main kejar-kejaran.
Bibi Karin langsung menyambut keduanya untuk masuk kedalam serta langsung menyediakan minuman untuk mereka.
“Bibi, tahu nggak? Capek banget aku ya ampun ... Udah tunggu ini anak kelamaan terus lari-larian di tambah kami sampai di kejar sama orang yang nggak kami kenal. Untung aja bisa lolos," curhat Alice sambil meneguk minumannya.
“Minum terus dulu nanti baru ngomong,” ungkap Alvero sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1