
H A P P Y R E A D I N G
“Mau alasan apa, Baly? Kamu sudah salah tetap kamu salah jadi jangan mengatakan alasan apapun karena aku tidak akan mendengarnya. Secepatnya sekarang temui aku di hotel. Nanti aku akan mengirimkan lokasinya padamu. Tidak ada bantahan! Aku ingin kamu datang titik!”
‘Astaga, Claudia. Dia dalam sekejap berubah menjadi Ibu tiri yang sangat kejam. Aduh ... Bagaimana ini?’ batin Steven.
“Um, Ball. Aku tidak bisa datang sebab aku sekarang berada di rumah sakit. Bagaimana kalau kamu pergi kesini?” ucap Steven sambil bertanya memberikan solusi melalui ponselnya.
“Di rumah sakit? Memangnya kamu sakit, Baly? Rumah sakit mana? Kamu kenapa sakit enggak kasih tahu aku! Cepat katakan,” tanya Claudia dengan panik.
“Dengar dulu, Ball. Bukan aku yang sakit tapi, orang lain. Alice sedang di rawat di sini jadi aku tidak bisa meninggalkannya terlalu lama. Sebaiknya kamu kesini atau perlu ke jemput?”
“Um sebaiknya tidak perlu. Biarkan aku yang datang kesana, Baly. Ya sudah aku akan mematikan ponselnya,” ucap Claudia yang memang langsung melakukan apa yang ia katakan.
Steven merasa lega dengan Claudia. Ia pun kembali melangkah untuk kembali ke ruang Alice di rawat. Saat ia kembali ia mencoba untuk menghubungi Kelvin sebab sejak tadi Kelvin juga sibuk meneleponnya.
Begitu lama panggilan tidak terjawab sampai akhirnya panggilan pun terjawab meskipun Steven sudah menunggu.
“Hallo, Vin.
“Ya hallo. Lo abis dari mana?! Gue telepon-telepon sengaja Nggak Lo jawab. Lo tahu nggak sekarang Claudia udah ke hotel. Sebab sebentar lagi kami bakalan pergi jadi kami tidak membiarkan orang lain tinggal di rumah. Sebaiknya Lo langsung temuin Claudia, kasian dia sendirian di sana,” ungkap Kelvin panjang lebar.
“Ya-ya baiklah. Kalau gitu gua matiin terus ya teleponnya.”
“Baik.”
Steven yang sudah tahu dengan itu pun merasa lega. Dirinya langsung menuju ke ruangan Alice tanpa berhenti lagi sambil membuat beberapa buah-buahan yang sempat ia beli di depan rumah sakit.
...----------------...
Tiba di ruang inap. Alvero langsung memasuki ruangan tersebut dengan senyuman. Alice pun mengangguk penasaran.
“Kenapa senyam-senyum?" tanya Alice.
“Eh enggak kok! Lagipula aku udah pergi lama. Maaf ya,” ucap Steven.
“Ya-ya baiklah tidak perlu minta maaf. Oh ya apa nanti aku sudah bisa pulang?”
“Pulang? Ada-ada saja. Kamu itu masih sakit jadi belum bisa pulang sebelum Dokter yang mengatakannya. Alice, apa kamu lapar? Di luar hanya ada buah-buahan jadi, aku membelinya.”
“Yah tentu saja aku mau,” sahut Alice mengiyakan.
“Baiklah akan ku kupas untukmu.”
Alice tersenyum sambil terus memandangi Steven yang sedang sibuk. ‘Dia begitu perhatian padahal bukan kekasihku tapi, perhatiannya seperti kekasihku. Andai saja Alvero bisa seperti ini. Pasti aku sangat senang,’ batin.
Steven yang sudah mengupas buah lalu langsung menyerahnya tapi, Alice melamun bahkan tidak mengambil buah yang sedang di berikan.
“Hey! Kenapa terus melamun?” tanya Steven kebingungan.
”Ah enggak!” sahut Alice berbohong.
“Ini ambillah. Katanya kamu ingin makan buah tapi, dari tadi aku terus melihat kalau kamu tidak fokus. Jika kamu sedang bingung maka tanyakanlah langsung padaku.”
“Ya baiklah. Steven, aku merasa kalau kamu begitu perhatian denganku. Kita bahkan berhubungan terlalu jauh. Apa bagimu aku ini murahan?” tanya Alice tiba-tiba.
“Tentu saja tidak! Kamu hanya korban dari ketidakadilan yang telah Alvero berbuat padamu. Meskipun kita melakukannya tapi, semua itu atas dasar kita menginginkan bukan aku membayar mu jadi, jangan berpikir aneh-aneh. Setiap orang berhak bahagia sama sepertimu. Kamu harus bahagia,” respon Steven panjang lebar.
“Kamu benar lalu Steven yang ku khawatirkan bagaimana jika nantinya Claudia tahu kalau kita telah berhubungan terlalu jauh? Bukankah sekarang dia sudah bersamamu? Aku takut kalau dia berpikir aku yang merusak hubungan kalian,” tanya Alice dengan cemas.
“Tentu saja tidak. Dia tidak akan mengetahuinya jikapun nanti dia tahu maka aku akan menjelaskannya dengan baik. Jadi kamu tidak perlu khawatir. Yang terpenting sekarang fokus saja dengan kesembuhan mu. Jangan pikirkan apapun,” ucap Steven yang terus perhatian.
“Terima kasih, Steven. Kamu selalu bisa membuatku tenang. Bolehkah kalau aku mencium mu?”
Steven mengangguk. Ia mendekati dirinya karena tidak ingin Alice bangun. Sampai akhirnya mereka berciuman dengan lembut. Bahkan Alice memejamkan matanya.
“Ya sudah apa sekarang kamu sudah merasa lebih baik?” tanya Steven memastikan.
“Yah tentu saja. Terima kasih, ciuman mu.”
__ADS_1
“Sama-sama, Alice.”
Di sisi lain. Saat mereka sedang hanyut dalam indahnya kebersamaan. Tiba-tiba ponsel Steven berdering, terlihat panggilan atas nama Claudia. Ia pun meminta pada Alice untuk keluar sebentar menunggu Claudia di depan ruangan.
Yang di tunggu pun datang. Steven menyambut kekasihnya dengan memberikan pelukan. “Aku masuk, Ball.”
Mereka masuk kedalam ruangan tersebut. Alice melihat kedatangan Claudia pun tersenyum sambil menerima buah-buahan yang di bawakan olehnya.
“Hay, Alice.”
“Mmmm.”
“Kamu sakit apa?” tanya Claudia.
“Dia sakit karena kelelahan, Ball. Ayo duduklah dulu jangan berdiri seperti itu nanti kamu ikut-ikutan kelelahan,” ungkap Steven, yang langsung di sambut oleh Claudia tanpa penolakan.
‘Ternyata Steven sengaja tidak memberitahu tentangku. Dia tahu mungkin akan ada banyak pertanyaan yang keluar jika aku mengatakan ingin bunuh diri. Terima kasih, Steven. Lagi-lagi kamu membuatku kagum,’ batin Alice.
Claudia bersama Alice berbincang-bincang hal seputaran perempuan. Mereka sibuk ngobrol masalah make-up juga pakaian terbaru yang harganya sedang diskon. Namun, berbeda dengan Steven memilih untuk merebahkan dirinya sambil bermain game. Sampai di akhirnya Claudia meminta untuk pulang.
Steven dengan cepat bangkit. “Ball, apa kamu akan tidur sendirian?”
“Ya tentu saja. Memangnya kenapa kamu mau menemaniku, Baly?” ucap Claudia sambil bertanya.
“Bukan begitu. Malam ini aku tidak bisa menemanimu karena aku tidak mungkin meninggalkan Alice sendirian. Tapi, kalau kamu ingin menemani tidur sambil telepon tentu saja aku mau,” ungkap Steven merasa tidak nyaman.
“Ya-ya tidak perlu, Baly. Alice sedang membutuhkanmu di sini jadi, lebih baik kamu temani dia. Jika nanti aku merindukanmu maka aku akan kembali kesini,” sahut Claudia.
‘Sebetulnya aku tidak ingin kamu terlalu lama di sini, Baly. Aku ingin kamu menemaniku bukan wanita ini,’ batin Claudia.
“Benar begitu? Mau aku antar? Apa kamu membawa mobilmu? Kalau ada ya sudah kalau memang seperti itu pulanglah dengan hati-hati. Oh ya ini ambillah siapa tahu kamu lebih membutuhkannya, Ball,” ucap Steven sambil menyerahkan kartu kreditnya.
“Aku membawanya, Baly. Terima kasih untuk ini. Baiklah kalau begitu aku pamit dulu. Bye Alice, semoga kamu cepat sembuh.”
“Terima kasih, Claudia.”
Claudia pun benar-benar pergi meski dia ingin jika Steven yang menemani kesendiriannya.
“Steven, apa kamu sangat mencintainya?” tanya Alice tiba-tiba.
“Awalnya ya tapi, sekarang aku hanya memiliki kenyamanan dengannya. Entahlah aku selalu mengatakan kalau aku masih mencintainya bahkan aku memaksa diriku untuk terus mengatakan itu tapi, setelah aku bertemu dengannya aku bingung sekarang hatiku sudah tidak berdetak seperti dulu lagi. Mungkin aku berpikir jika aku memang mencintainya tapi, karena kekecewaan yang telah ia buat padaku masih terasa membekas di sini,” ungkap Steven sambil menunjuk kearah hatinya.
“Mungkin saja memang begitu. Steven, aku merasa kalau kamu sudah mencintaiku dari caramu yang terlalu perhatian seperti ini. Maaf jika aku salah bicara,” sahut Alice sambil memalingkan wajahnya kearah lain.
Steven bingung harus menjawab apa. Dia pun memilih untuk berdiri di sebelah Alice sambil memegangi wajahnya. Lalu Steven kembali menjatuhkan ciumannya hingga Alice sampai mendesah.
‘Apa maksud dari ciumanku ini? Apa mungkin aku mencintai Alice? Atau Claudia? Tiba-tiba sekarang hatiku bingung menjawabnya,’ batin Steven.
Mereka berdua larut dalam ciuman itu. Sampai tiba-tiba suster datang untuk memeriksa keadaan Alice. Mereka kaget dan langsung menghentikan ciumannya.
...----------------...
...----------------...
(Honeymoon)
Kelvin bersama Viora sudah memutuskan untuk melakukan honeymoon di Jepang. Mereka telah sepakat untuk kesana sebab Viora yang belum pernah menginjak kakinya di tempat itu. Melakukan perjalanan dengan menaikkan jet pribadi milik Kelvin. Bukan hal sulit untuknya sebagai miliader kedua dunia setelah Reiner suaminya Zoya.
Perjalanan pertama mereka memilih untuk mencari penginapan sampai akhirnya mereka menemukan tempat yang cocok sekaligus untuk melihat pemandangan. Kelvin memilih salah satu hotel Mandarin Oriental Tokyo, hotel yang sangat cocok Jepang untuk mereka yang suka kemewahan. Interior yang hangat dan mewah membuat hotel satu ini bisa dibilang hotel termewah di Jepang. Apalagi saat kita memasukinya sudah disuguhi dengan pemandangan bunga sakura yang ada di depan hotel.
Viora tersenyum lebar saat memasuki tempat itu. Kelvin langsung merangkul istri kecilnya itu.
“Gadis kecil, bagaimana apa kamu suka?”
Viora mengangguk. “Aku suka. Terima kasih, my dear.”
“Sama-sama, gadis kecil. Akhirnya setelah kita menikah beberapa tahun lamanya baru sekarang kita bisa merasakan bagaimana honeymoon. Oh ya, sayang. Setelah ini kamu ingin kemana?”
“Aku? Jangan bertanya padaku, my dear. Kau sendiri tahu aku belum pernah kesini jadi aku akan mengikuti kemanapun yang akan kamu bawa," sahut Viora.
__ADS_1
“Ya-ya baiklah. Apa sekarang kita akan memulai perjalanan atau kita istirahat dulu?” tanya Kelvin.
“Mmm ... Bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu? Setelah lelah baru kita pulang.”
“Baiklah, gadis kecilku. Ayo kita jalan-jalan.”
Kelvin seketika berpikir. Ia ingin mengajak istrinya kemana sampai akhirnya dia menemukan tempat yang cocok untuk membawa istrinya. Karena baru melakukan perjalanan hingga ia memutuskan untuk membawa Viora tidak terlalu jauh terlebih dahulu sambil mencari makan. Lokasi yang juga tidak jauh dari stasiun Tokyo, sehingga sangat mudah untuk di jangkau. Kelvin memilih untuk ke Chidorigafuchi, Tokyo
Viora tersenyum lebar sambil memeluk Kelvin. Ia begitu bahagia melihat pemandangan yang begitu indah apalagi di sana sedang musim semi jadi sangat menarik melihat moment-moment indah dari bunga sakura bahkan pasangan lain juga sudah menaiki perahunya.
“My dear! Ayo cepat aku juga ingin naik perahu seperti mereka!” ajak Viora dengan semangat.
“Haha bersabarlah, gadis kecil. Apa kamu tidak ingin untuk makan dulu. Lihatlah di sana ada sebuah restoran,” sahut Kelvin sambil menunjuk.
“Tidak, tidak! Aku ingin langsung naik perahu itu. Ayo cepat suamiku,” paksa Viora sambil menarik-narik Kelvin.
Kelvin menarik nafasnya sambil tersenyum. Ia pun tidak tega melihat istrinya yang begitu semangat sampai akhirnya mereka menaiki perahu itu seperti yang lain. Viora mendayung perahu sampai akhirnya mereka tiba di tengah danau. Lalu ia tidak lupa meminta Kelvin untuk memotret dirinya. Berbagai gaya ia lakukan begitupun dengan Kelvin. Mereka juga melakukan sesi photo bersama.
Lalu Viora merebut kamera dari tangan Kelvin. Ia begitu ceria. “Sini-sini biarkan kali ini aku memandu kameranya.”
“Baiklah, gadis kecil.”
Tertawa bersama sampai akhirnya sebuah perahu mendekati mereka. Lalu Viora mengambil selfi untuk kenangan-kenangan mereka bersama dengan pasangan yang lain. Tidak terasa begitu lama mereka bermain sampai akhirnya Viora memegang perutnya sendiri.
“My dear, aku lapar ....”
“Ya sudah ayo kita makan. Aku sudah bilang harusnya kita memang makan terlebih dahulu,” ungkap Kelvin sambil terus mendayung perahu sampai ke tepi.
“Maaf, karena aku begitu semangat,” sahut Viora sambil tersenyum lebar.
Kemudian Kelvin langsung membantu untuk Viora turun. Sampai akhirnya mereka memasuki sebuah restoran di dekat sana. Viora memakannya dengan lahap. Lalu tiba-tiba pasangan yang tadi bersama dengan mereka juga ikut makan bersama di dekatnya.
“Your wife is very beautiful. He also looks similar to you. Really, what a harmonious couple,” puji pasangan itu.
“Thanks. If you already love, you are always together, so there must be similarities,” sahut Kelvin sambil tersenyum.
Viora menahan malu saat ada orang memujinya di depan suaminya. ‘Ya ampun ... Aku tidak salah mendengarnya. Dia memujiku cantik bahkan kami mirip,' batin.
Kelvin melirik kearah Viora. Ia juga bangga dengan istrinya. Sudah cantik juga menggemaskan. Mereka tertawa bersama-sama. Seakan pengantin baru mereka juga romantis di depan pasangan yang baru mereka kenal. Saling menyuapi makanan bahkan Kelvin sengaja mencuri ciuman padahal di tengah pasangan lainnya.
...----------------...
Saat malam mulai menjelang. Merenung jauh ke atas awan. Bintang-bintang bertaburan indahnya cahaya di malam hari. Kelvin membawa Viora untuk menaikkan sebuah kapal. Ia sengaja mengajak ke Tokyo Bay Night Cruise, Tokyo. Lampu-lampu kota akan terlihat menawan saat malam. Viora begitu takjub melihat indahnya pemandangan malam hari apalagi saat kapal mereka melewati di bawah jembatan kapal dan berkeliling di sana dengan melewati Tokyo Light Beacon, Jembatan Odaiba, dan juga Gantry Crane. Tentu pemandangannya lebih romantis saat malam hari.
Kelvin memesan sebuah meja yang sudah di hiasi begitu cantik. Lilin pun menyertai meja tersebut. Ia sengaja menyewa khusus satu tempat untuknya bersama dengan Viora.
Viora takjub melihat romantisnya Kelvin saat itu. Seakan seperti ingin di lamar sampai-sampai hati Viora berdegup kencang.
“Emm, my dear. Kenapa kamu menyiapkan semuanya ini? Pasti ini tidaklah mudah apalagi kamu menyediakan khusus untuk kita bahkan orang lain berbeda tempat dengan kita,” ungkap Viora.
“Ya gadis kecil, semua ini untukmu,” sahut Kelvin sambil tersenyum.
Kelvin pun bangkit dari duduknya. Ia berdiri di belakang Viora sampai akhirnya sebuah kalung berlian yang begitu indah berada di depan mata Viora.
“ I love you, my little wife," ungkap Kelvin sambil memperlihatkan kalungnya.
“Wah ... Ini indah sekali .... I love you too, my husband,” sahut Viora dengan tatapan penuh cinta.
“Kau menyukainya, gadis kecil?” tanya Kelvin.
Viora mengangguk, ia kemudian bangkit lalu memeluk Kelvin dengan begitu erat. Hingga akhirnya ia menangis terharu dengan semua perbuatan suaminya.
“Aku menyukainya sungguh. A-aku minta maaf telah mengulur waktu untuk kita selama ini. Maafkan aku, sayang.” Viora masih menangis dalam pelukan Kelvin.
“Sudah tidak apa-apa, gadis kecil. Mulai hari ini kita membuka lembaran baru. Semuanya biarlah menjadi pelajaran. Jangan lagi menangis, aku tidak suka melihatnya. Ayo duduk sayang, supaya aku memasangkan kalungnya,” ucap Kelvin sambil menghapus air mata.
__ADS_1
Viora pun tersenyum. Ia juga menuruti ucapan Kelvin. Sampai akhirnya Kelvin berhasil memasangk kalung indah itu padanya. Lalu ia kembali menjatuhkan pelukannya karena dirinya merasakan kebahagiaan yang sulit ia ungkapkan.
Seorang pelayan datang saat mereka masih berpelukan. Kelvin sengaja meminta pelayan itu hadir agar bisa memotret mereka. Pemandangan malam itu menjadi saksi kenangan terindah. Begitu banyak hasil gambar yang mereka ambil sampai akhirnya selesai. Kemudian mereka melanjutkan dengan menyantap hidangan yang juga sudah di siapkan oleh Kelvin.