
H A P P Y R E A D I N G
“Claudia? Kok kamu ada di sini?” tanya Reiner kebingungan.
Bukannya menjawab Claudia justru mengunci pintu dari dalam lalu membuang kunci tersebut lewat jendela, dan hanya mereka berdua yang berada di dalam ruang kerja tersebut. Namun malangnya ruang kerja tersebut berada di atas lantai rumah Reiner.
“Memangnya tidak boleh kalau aku ada di sini?” Bukannya menjawab justru Claudia bertanya kembali.
“Tentu tidak sebab ini adalah ruang kerjaku. Zoya saja jika masuk meminta izin terlebih dahulu, lantas jika kamu ada keperluan penting denganku, maka tunggulah sampai aku selesai,” sahut Reiner masih berpikir positif.
“Ya sepertinya aku memang sangat memiliki keperluan denganmu, hanya saja ... Aku .... Aaah Reiner.” Dengan tiba-tiba Claudia memeluk Reiner seraya mendesah.
Dengan cepat Reiner menjauh saat melihat kelakuan aneh yang di tampilkan oleh Claudia.
“Hey apa kamu waras, Claudia?” tanya Reiner tidak mengerti dengan maksud dari wanita itu.
“Ya aku sangat waras. Awalnya aku ingin bersamamu secara diam-diam, tapi mengingat sekarang kakakku saja sudah mulai curiga denganku. Jadi apalagi yang ku tunggu bukankah kamu juga berpikir hal yang sama. Ayolah Reiner, aku tahu kamu mengerti maksudku, sejak saat kita SMA, kita sudah saling mencintai namun waktu yang tidak tepat untuk kita berdua, dan sekarang adalah waktu yang sangat tepat. Kemari, 'lah sayang, peluk tubuhku,” ucap Claudia yang terus mencoba merayu.
‘Kenapa tingkah Claudia seperti ini? Rasanya dia bukan seperti sahabatku lagi,’ batin Reiner.
“Ayolah Reiner, kenapa malah diam? Apa kamu tidak lagi mencintaiku?” tanya Claudia seraya berusaha menyentuh adik terpenting dari Reiner.
Dengan sekali dorongan Claudia terhempas jauh, untung selamat ada sofa di ruangan kerjanya. Reiner berusaha agar dirinya tidak di lecehkan oleh wanita itu.
“Hey! Aku benar-benar tidak habis pikir? Claudia, kenapa kamu ingin memegang milikku, kamu bukan Zoya yang bisa seenaknya dengan tubuhku. Sekarang aku benar-benar menjijikkan denganmu. Sebaiknya keluar dari ruangan ku dan jangan buat masalah di sini aku tidak ingin jika nanti istriku berpikir yang bukan-bukan,” ucap Reiner merasa kesal.
Tidak ada kapok dan rasa malu. Claudia bangun dengan cepat namun tidak mendekati Reiner melainkan berdiri di dekat meja kerja seraya mengangkat satu kakinya hingga terlihat pakaian dalam yang tidak ingin di lihat oleh Reiner.
“Aku sudah bilang Reiner. Kakakku saja sudah mulai curiga denganku, dan kamu sekarang malah mengatakan kalau aku menjijikkan. Jadi aku tidak lagi berbohong denganmu. Dengarkan, sejak aku kesini hanya dua tujuanku, pertama mencarimu dan kedua mengejar karir agar aku bisa sepadan denganmu. Dan sekarang aku sudah menjadi seseorang yang berguna, pendidikan ku juga sudah tinggi. Jadi sekarang tidak ada lagi alasan untuk kita tidak bersatu.” Dengan pedenya Claudia mengatakan semua itu.
“Ayolah Claudia, aku sebenarnya sangat peduli denganmu, tapi sekarang saat melihatmu seperti ini rasa kepedulian ku hilang justru kamu tidak jauh beda dengan Elie. Oh aku takut kalian memang bersaudara jadi pantas saja jika kalian memiliki karakter yang hampir sama walaupun Elie lebih menarik darimu,” sahut Reiner yang tidak ingin mengalah.
Terjadilah perang mulut antara mereka. Claudia yang sengaja berbicara sembari terus mencoba merayu Reiner dengan berbagai cara, mulai dari ingin menyentuh milik Reiner, dan sekarang mungkin lebih yang Reiner pikirkan.
“Jadi kakak Elie yang lebih menarik dariku? Ah baiklah akan ku tunjukkan sesuatu yang berbeda. Reiner, mungkin aku bisa menjadi sahabatmu dan juga musuh mu dalam satu muka, tapi kamu harus ingat kalau aku akan menjadi milikmu setelah ini,” ucap Claudia seraya membuka rok mini yang ia kenakan.
Terlihat sesuatu barang berharga yang seharusnya tidak di lihat oleh Reiner. Namun, itulah ujian dengan segala kekuatan Reiner harus bisa menjaga dengan baik harga dirinya.
‘Kenapa rasanya Claudia lebih parah dari Elie? Eliezer hanya menginginkan kehancuran ku jadi dia tidak ingin memperlihatkan sesuatu yang bodoh seperti ini walaupun itu pernah namun itu hanya untuk Zoya marah, tapi Claudia, dia seperti wanita malam yang haus akan kehangatan. Aku hanya bisa menahan diri dari godaan setan kali ini,’ batin Reiner yang terus menahan dirinya.
“Claudia, apa yang ingin kamu lakukan? Bukankah kamu masih perawan? Jadi Jangan jatuhkan harga dirimu di depanku, jangan seperti Elie, kamu adalah sahabatku sebab aku tidak akan menyentuhmu sekalipun kamu memaksaku. Sebaiknya sebelum terlambat pakai pakaianmu kembali dan aku akan mengampuni mu,” ungkap Reiner yang mencoba membuat Claudia sadar.
“Ayolah Reiner jangan naif begini, aku tahu kamu masih mencintaiku sampai sekarang kamu bahkan tahu kalau aku masih menyimpan sesuatu yang berharga hanya untuk diriku akan ku berikan. Sekalipun nanti Zoya akan melihat semuanya, tapi aku akan tetap seperti ini dan tidak akan ada yang berubah.” Claudia sudah termakan oleh cinta, ia sampai menanggalkan seluruh pakaiannya hingga ia benar-benar seperti cicak polos.
‘Aduh kenapa aku bisa bodoh? Aku harus menghubungi Zoya atau Steven, tapi di mana ponselku? Argh mana ruangan ini kedap suara lagi. Duh kalau aku tahu akan kejadian seperti ini sejak dulu aku harus mendekorasi ulang ruangan ini,’ batin Reiner celingak-celinguk mencari ponselnya.
__ADS_1
Claudia semakin mendekat, ia tahu jika Reiner sedang mencari sesuatu. Namun, ia sengaja memperlihatkan berbagai gaya layaknya artis profesional yang sedang menunggu untuk bermain kuda-kudaan. Hingga hal bodoh seperti memasukkan tangannya tepat kedalam tempat bayi miliknya. Reiner melototkan matanya melihat pemandangan indah yang seharusnya tidak di lihat. Dengan sekuat tenaga ia mencoba menahan diri hingga agar dirinya tidak bangkit.
“Claudia! Kamu sudah benar-benar keterlaluan! Sebaiknya perlihatkan semua itu di depan Steven karena kalian begitu cocok bersama apalagi kalian sama-sama masih lajang walaupun hubungan antara kalian sudah seperti adik-kakak namun itu bukan hal sulit karena kalian tidak memiliki hubungan darah. Sebelum aku membeberkan semuanya sebaiknya pakaikan bajumu jika tidak aku tidak segan-segan memberitahu Zoya tentang semua ini,” ancam Reiner.
“Jangan mengancam ku, Reiner. Karena bagaimanapun kamu mencoba menjodohkan aku bersama dengan Steven tapi tetap aku hanya menganggapnya kakak untukku,” timpal Claudia yang tidak takut dengan ancaman.
Reiner merasa gelisah jika semakin lama berada dalam tempat neraka seperti ini maka justru dia tidak tahan melihat semua itu sebab laki-laki manapun jika sudah di ambang batas kenikmatan pasti dia akan jatuh jua.
Reiner mencari cara jalan keluar, ia memang tidak memiliki kunci namun ia mencoba mendobrak pintu. Dengan sekuat tenaga Reiner terus mencoba walaupun begitu sulit.
Claudia pun menyadari jika Reiner tidak main-main dengan ucapannya, lalu dengan cepat Claudia memakai pakaiannya kembali walaupun dirinya sudah tergoda ingin sekali di sentuh oleh Reiner.
‘Sialan! Begitu kuatnya pesona Zoya sampai Reiner tidak peduli denganku? Apa memang wanita itu lebih sempurna dariku? Tapi tidak, jika sekarang tidak mempan maka lain kali aku harus melakukannya dengan cara lain seperti ajaran kakakku,’ batin Claudia.
Reiner terus berusaha sampai akhirnya ia mencari sesuatu barang yang keras agar bisa membuat pintu tersebut lepas dan rusak. Namun, sia-sia tetap tidak bisa terbuka hingga akhirnya Zoya bersama dengan Steven mendengar keributan dari balik pintu ruang kerja itu.
** (Di balik pintu) **
“Steven, suara pukulan itu sepertinya arahnya dari ruangan kerja suamiku,” ucap Zoya penasaran.
“Yah, kamu benar. Ayo kita lihat rasaku Reiner bersama Claudia masuk kedalam sana, ayo cepat kita sudah ketinggalan jauh,” sahut Steven, mereka pun terburu-buru menaiki tangga.
Claudia mencoba membuka pintu namun tidak bisa. “Steven, sepertinya sudah terkunci dari dalam, bagaimana ini? Ya Tuhan tolong lindungilah suamiku.”
Reiner pun mendengar suara istrinya dari dalam meskipun mereka yang di luar tidak bisa mendengarnya. Ia lalu kembali mendobrak pintu sampai akhirnya Zoya dan Steven pun peka hingga Zoya mencari kunci satu lagi di tempat penyimpanan kunci yang lain.
Claudia sudah cemas, ia juga sedikit takut sebab dirinya tidak bisa mendapatkan apapun meski dia sudah mencoba merayu Reiner. Namun sia-sia, Pria yang di anggap mesum dan remeh tidaklah mempan untuk ia goda.
“Reiner, tolong jangan ceritakan apapun kepada istrimu dan juga Steven, ku mohon ....” Claudia berlari mendekati Reiner sembari memeluknya dari belakang.
Tanpa adanya rasanya kasian dari Reiner, ia berusaha melepaskan pelukan Claudia, hingga wanita itu lagi-lagi jatuh ke lantai.
Dari luar pintu kamar gagang pintu sudah bergerak pertanda sedang di buka dari balik sana. Hingga akhirnya pintu terbuka terlihatlah oleh Zoya dan Steven.
Reiner akhirnya pergi meninggalkan mereka tanpa adanya penjelasan terlebih dahulu. Berbeda dengan Claudia, ia di tahan oleh Steven hingga tidak bisa pergi jauh dari kedua orang itu.
‘Kenapa bisa suamiku bersama dengan Claudia berada di sini? Apa yang sebenarnya mereka lakukan? Aku harus memastikannya terlebih dahulu,’ batin Zoya penasaran.
“Claudia, kenapa kamu bisa ada di dalam ruang kerja suamiku?” tanya Zoya baik-baik.
Steven yang sudah melototkan matanya dengan nafas memburu, ia sangat yakin kalau Claudia sedang bermain api di dalam. Walaupun demikian Steven tidak berani mengatakannya langsung di sana sebab tidak ingin membuat hati Zoya tersakiti.
“Jawab Claudia?! Jangan diam saja!” bentak Steven.
“A-aku tidak melakukan apapun, tapi sebaliknya Reiner yang mencoba menyeret ku masuk kesini lalu dia sempat menodai ku, Zoya sungguh aku tidak berbohong denganmu,” ungkap Claudia tanpa meras malu.
__ADS_1
Plak! Tamparan kembali mendarat di pipi Claudia. Zoya begitu geram melihat perempuan seperti itu.
“Kamu pikir aku akan percaya dengan begitu mudahnya?! Bukan cuma kamu yang sudah pernah mencoba merusak rumah tanggaku tapi kakakmu dan juga yang lain. Jadi aku sudah kebal terhadap godaan wanita malam sepertimu. Lagian mana mungkin kamu bisa masuk kesini kecuali kamu mencoba memaksa suamiku. Ku pikir kita berteman, namun akhir-akhir ini aku curiga denganmu dan ternyata kecurigaan ku benar. Steven, aku harus pergi mencari sebuah kebenaran selebihnya urus dengan benar adikmu ini,” geram Zoya lalu beranjak pergi.
Tinggallah Steven bersama dengan Claudia di sana. Claudia sudah menunduk saat menyadari kakaknya sedang menahan amarah.
“Katakan yang sebenarnya padaku, Claudia!” bentak Steven yang masih menahan emosinya.
“A-aku sungguh tidak melakukan apapun, kakak. Reiner sendiri yang mencoba mencari kesempatan denganku bahkan dia sempat membuatku tidak berdaya sampai tidak memakai apapun,” sahut Claudia berusaha ngeles.
“Oh jadi kamu masih ingin membela diri setelah apa yang sudah terlihat saat ini. Kamu sendiri yang sudah berada di ruangan ini bahkan sempat mengikuti Reiner dari belakang. Aku tidak habis pikir denganmu padahal kita baru saja bertengkar karena hal ini.” Steven sampai tidak tahu harus berbuat apa.
“Tapi-” Dengan cepat Steven menahan mulut Claudia hingga ia berhenti bicara.
“Apa yang sebenarnya kamu cari dari Reiner? Sampai seperti ini kamu merendahkan harga dirimu sendiri, Claudia. Aku benar-benar tidak habis pikir padahal kamu masih suci, tapi kenapa?! Apa kamu sangat ingin mencoba semua hal pernikahan hingga sampai seperti itu? It's okay alasanmu mungkin karena cinta masa-masa sekolah, tapi tolong sadar diri meskipun kamu mencintai dia jangan lakukan hal bodoh sampai merugikan dirimu sendiri. Kamu tahu kamu sudah seperti wanita malam!” omelan serta bentakan Steven.
Steven pun beranjak pergi meninggalkan Claudia yang masih mematung. Steven pergi tanpa mengucapkan pamit kepada Zoya, sebab pemilik rumah pun sudah tidak keliatan ada di mana. Hingga akhirnya Claudia pun berusaha mengejar Steven walaupun ia sudah di tinggal hingga membuatnya berjalan keluar dari komplek perumahan dengan berjalan kaki baru mencari taxi.
** ------------------------------------------ **
Reiner menyendiri di tepi kolam di dalam rumahnya. Ia tidak habis pikir mengingat Claudia sampai tidak menghargai dirinya sendiri. Padahal ia menyayangi wanita itu sebagai sahabatnya, dan juga berniat untuk menjadikan salah satu karyawan di perusahaannya. Namun sekarang semuanya tidaklah seperti kenyataan yang ia terima.
Zoya melihat suaminya sedang melamun, ia memutuskan untuk menghampiri. Reiner menyadari jika istrinya datang lalu ia menyambut Zoya kedalam pelukannya.
‘Bagaimana aku harus menjelaskan semuanya padamu, sayang? Aku sangat bingung saat ini,’ batin Reiner yang terus memandangi istrinya.
Zoya mencoba untuk mengusap lembut pipi Reiner. “Bee, apa yang akan kamu katakan saat ini? Aku akan menunggunya.”
‘Aku paham pasti berat untuk kamu membuka suara di depanku, tapi aku akan lihat seberapa besar kejujuran mu untukku tanpa aku bertanya terlebih dahulu,’ batin Zoya yang masih melakukan hal yang sama.
“Sayang,” sapa Reiner.
“Iya Bee, ada apa?” sahut Zoya.
“Aku ingin jujur satu hal denganmu. Apa nanti setelah aku jujur kamu akan percaya, sayang?” Reiner berusaha menyakinkan Zoya sebelum mengungkapkan kebenaran.
Zoya pun mengangguk, ”Tentu saja, aku akan percaya dan melihat kedalam matamu sebab di sanalah kejujuran itu ada.”
“Terimakasih, sayang. Aku bahagia memilikimu.” Reiner kagum dengan istrinya lalu memberikan pelukan untuk kedua kalinya.
“Sama-sama, Bee.”
Reiner mencoba mengatur nafasnya walaupun ia tahu jika kebenaran pasti menyakitkan, tapi ia harus katakan yang sejujurnya walaupun ia tahu ujung-ujungnya akan ada perdebatan.
‘Semoga Zoya tidak marah denganku saat aku mengatakan jika Claudia memperlihatkan semuanya,’ batin Reiner.
__ADS_1
** ---------- **
Tidak ada seorang istri yang sanggup mendengar semua kejujuran yang suaminya katakan. Namun, hanya suami yang bertanggung-jawab yang akan mengatakan apapun meski dia tahu kehancuran ada di depan. (Zoya - Reiner)