
Happy reading.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Akhirnya Reiner memutuskan tidak pergi dan menetap di rumah bersama istrinya. Lalu mereka pun tidur. Besok paginya mereka bergegas pulang kekediaman mereka.
(Zoya Khalisa More)
Pagi hari di kediamanku, kami telah kembali kerumah, sebab suamiku hanya memiliki cuti tiga hari.
Reiner seperti menyimpan sesuatu dariku, dia justru belum pernah seperti ini. Pagi itu seperti biasa rutinitas sehari-hari ku kembali normal, aku harus menyiapkan sarapan untuk suamiku sebelum berangkat bekerja. Sarapan yang sangat simpel kubuat hanya omelette ikan dan juga nasi goreng khas Filipina serta dua gelas susu.
Setelah semuanya ku siapkan, aku langsung kembali menuju ke kamar, berniat membangunkan Reiner, ternyata dia sudah duluan mandi. Lalu aku hanya membantunya memakai baju serta dasi untuknya.
“Sayang, kamu di rumah aja ya, jangan kemana-mana pas aku kerja,” ucapnya saat aku sedang memakaikan dasinya.
“Kalau aku bosan bagaimana mas?” tanyaku.
“Kan bisa nonton drakor sayang atau kamu mau ke kantorku?” tanyanya kembali.
“Tidak mas, kalau aku ke kantormu sama aja seperti aku menggangu tugasmu,” sahutku.
“Baiklah sayang, padahal aku sangat senang kalau kamu ikut,” ucap Reiner mengalah.
“Sudahlah mas, jangan seperti itu. Oh ya mungkin aku mau pergi ke Mall bolehkah? Aku bosan di sini mas, maunya pergi keluar tapi kamu tenang saja aku nggak akan menyetir mobil sendiri kok,” ucapku meminta izin.
“Jangan sendirian sayang, ajak Mommy atau teman kantormu, apa aku minta bantuan saja sama karyawanku? Biar kamu nggak kesepian yang, bukannya kamu juga kenal mereka semuanya,” ungkap Reiner.
“Ngga apa mas, udah kamu jangan berlebihan gitu aku bisa shopping sendirian kok, lagian cuma bentar terus juga ada Pak supir nantinya,” aku tidak mau mengalah.
__ADS_1
“Baiklah sayang, hati-hati kalau kamu males sendirian nanti bisa hubungi aku terus, ya udah aku mau pergi kerja dulu ya sayang sini bibir kamu,” ucap Reiner, dan cupps! Kecupan manis mendarat di bibirku.
Lalu aku mengantarnya sampai didepan gerbang, hingga melihat mobilnya sudah menghilang dari mataku. Setelahnya aku kembali kedalam rumah. Duduk sendirian di sofa.
Rasa bosan menghampiriku. “Andai kalian lahir cepat nak, Mommy pasti akan sangat senang melihat kalian, pasti aku tidak kesepian seperti saat ini,” ucapku seraya mengusap perut buncit ku.
Melihat siaran televisi tidak ada yang menarik, hingga membuatku mengotak-atik layar ponsel sembarangan, kebosanan sungguh membuatku muak. “Sepertinya tidak terlalu cepat kalau sekarang aku ke Mall, ah sebaiknya aku segera pergi.”
Aku pun memutuskan untuk ke Mall. “Pak, kita ke Mall ya.”
Aku pun langsung menuju kesana, sekitar tiga puluh menit akhirnya aku sampai. “Melihaf keramaian seperti ini, membuatku lebih baik.”
Aku pun langsung melihat-lihat apa yang kusukai, serta perlengkapan bayi yang belum semuanya kubelikan saat bersama Reiner, akhirnya membuatku ingin membeli semuanya, gaun-gaun indah mempesona juga membuat mataku melirik ingin segera memakainya saat tubuhku kembali normal.
Aku membeli semua apa yang aku mau sampai Pak supir kewalahan menenteng semua barang-barang belanjaan. Karena merasa kasihan melihat Pak tua itu kewalahan membawa belanjaan ku, akhirnya ku sudahi.
“Pak, langsung saja dulu ke mobil ya, tunggu saja di sana aku ingin melihat beberapa makeup dulu,” ucapku.
Tidak menunggu lama, aku pun memboyong beberapa alat make-up yang biasanya ku pakai. Setelah semuanya selesai aku pun menuju keluar ke parkiran.
Saat aku sedang santai-santai berjalan menuju ke parkiran. “Awass nona ...!” suara teriakan seseorang entah dari arah mana suara itu berasal. Lalu tiba-tiba badanku terasa ditarik dengan tarikan keras di tanganku sehingga membuatku tersadar bahwa di belakangku ternyata sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi hampir saja menabrak ku.
Saat itu aku sangat ketakutan, tubuhku bergetar hebat, untung saja mobil itu tidak sempat menabrak ku jika tidak aku sangat merasa bersalah, apalagi dalam diriku memiliki dua kehidupan lagi yang harus dijaga.
“Kau sangat ketakutan tunggu di sini sebentar nona, aku akan belikan air minum untukmu,” ucap Pria yang telah menolongku. Aku baru menyadari kalau ada orang lain di dekatku, dia pun pergi baru aku menyadarinya. Sangking aku merasa takut sampai tidak dapat melihat orang tersebut dan berterimakasih.
Aku terduduk, getaran di tubuhku masih terasa bergetar. Hampir saja nyawaku hilang. Dan tidak lama setelah itu orang yang menolongku pun akhirnya kembali ke tempatku. Lalu dia menyodorkan air di depanku.
“Minum ini nona, agar detak jantungmu stabil kembali,” ucap Pria tersebut.
__ADS_1
Aku pun langsung mengambil air botol tersebut tanpa mengucapkan sepatah katapun, dan langsung meminumnya. Hingga kusadari aku belum mengucapkan terimakasih dan menanyakan namanya.
Pria itupun duduk di sampingku. “Aku rasa mobil itu sepertinya sengaja menabrak mu, bukan aku asalan menuduh tapi sangat terlihat, tidak mungkin seseorang membawa mobil dengan kecepatan tinggi di dalam tempat parkir serta mengambil jalannya pejalan kaki, bagiku itu sangat aneh jika bukan ada unsur kesengajaan,” ucap Pria itu.
Aku pun mencoba berpikir hal yang sama, mungkin saja memang benar atau juga bisa salah dan aku tidak mengambil sebuah masalah besar sebab aku selamat dari kejaran maut tersebut.
“Terimakasih sudah menolongku Tuan, jika saja Anda tidak ada di sana entahlah mungkin sekarang aku sudah dibawa ke rumah sakit, sekali lagi terimakasih banyak,” ucapku.
“Sama-sama, aku juga kebetulan abis dari Mall mau ambil mobil mungkin memang sudah jalannya aku menolongmu saat ini, dan bisa saja kedepan kau yang akan menolongku,” sahutnya sambil tersenyum.
“Anda bisa saja,” sahutku dan membalas senyumannya.
“By the way kita belum kenalan, siapa namamu?” ucapnya seraya mengulurkan tangannya.
“Namaku Zoya Khalisa.”
“Nama yang cukup menarik seperti orangnya, dan aku Stevenson, kau bisa memanggilku Steven atau Steve, bagaimana kalau aku antar pulang biar sekalian kita ngobrol-ngobrol, habisnya aku baru beberapa hari di sini dan ya juga belum mempunyai teman yang cukup,” ucap Steven.
‘Aku rasa orang ini baik, dia terlihat sangat mudah bergaul, sepertinya akan baik-baik saja bergaul dengannya, sebagai rasa terimakasih ku aku akan menjadikannya teman,’ batin Zoya.
“Ah tidak perlu, supirku sudah menunggu di sana, bagaimana kalau lain kali saja, dan nanti bisa sekalian bertemu dengan suamiku, kau mau?” tanyaku berniat baik.
“Tidak perlu Zoya, aku tidak mau bertemu dengan suamimu, sepertinya saat tidak enak apalagi kau sendiri yang memperkenalkan aku, aku tidak ingin suamimu berpendapat yang bukan-bukan,” tolak halus oleh Steven.
“Baiklah kalau begitu juga tidak apa-apa, tapi sekali lagi terimakasih ya sudah menolongku Steven, sepertinya aku harus pergi lain kali kita bertemu,” ungkapku pamit dengan sopan.
“Sama-sama Zoya, tidak masalah, ya sudah kalau begitu mari kuantar ke mobilmu,” ajak Steven.
Aku pun mengangguk, lalu Steven mengantarkan aku, dan akhirnya aku pun beranjak dari Mall dan pulang.
__ADS_1
≈≈≈≈≈≈≈≈
Jangan lupa terus dukung aku guys, dan sertakan kesan menarik dari kalian.