Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
43~S3 Istriku Gadis Kecilku Honeymoon part2 menjadi gempa bencana


__ADS_3

H A P P Y R E A D I N G


Seorang pelayan datang saat mereka masih berpelukan. Kelvin sengaja meminta pelayan itu hadir agar bisa memotret mereka. Pemandangan malam itu menjadi saksi kenangan terindah. Begitu banyak hasil gambar yang mereka ambil sampai akhirnya selesai. Kemudian mereka melanjutkan dengan menyantap hidangan yang juga sudah di siapkan oleh Kelvin.


“Apa kamu senang, gadis kecil?” tanya Kelvin.


“Ya tentu saja ... Aku sangat .... bahagia. Terima kasih suami tercintaku,” ucap Viora dengan cinta.


Kelvin tersenyum saling terus memandangi Viora meskipun ia sedang menikmati makanannya. Fokusnya tetap di di depan walaupun tangannya terus memotong daging di piring.


‘Terima kasih Tuhan, istriku kembali mencintaiku. Kembali untuk berjalan bersamaku. Viora, kamu malam ini begitu cantik semoga setelah ini kamu mau untuk membangun rumah tangga yang utuh lengkap dengan hadirnya si buah hati kita nanti,’ batin Kelvin.


Viora yang sadar jika Kelvin sedang memandanginya sambil tersenyum hingga membuatnya salah tingkah. Ia melambaikan tangan di depan wajah Kelvin.


“Hey! Kenapa melamun?”


“Eh! Iya aku ingin kita punya si buah hati, sayang. Eh! Enggak! Ya ampun ...,” ungkap Kelvin sambil mengusap wajahnya dengan cepat.


Viora menertawai suaminya melihatnya jawaban yang begitu aneh keluar. Ia terus tertawa sampai akhirnya makanan yang akan Kelvin makan justru ia masukan kedalam mulut Viora sampai membuat Viora terdiam lalu memakannya.


Viora lalu meneguk minuman dengan cepat. “Kalau aku cekikikan gimana? Terus enggak bisa nelan terus mati gimana? Mau tanggung jawab? Isss kesel.”


Kelvin tidak menjawab justru menertawai Viora. Lalu dengan cepat ia mengusap rambut istrinya agar rasa marahnya hilang.


“Kita udah impas hehe. Udah-udah yuk makan,” ucap Kelvin sambil tersenyum.


Bibir manyun Viora terlihat jelas. Ia melanjutkan menyantap sajian meskipun dengan wajah cemberut namun, beberapa menit kemudian dirinya justru tertawa sendirian sampai membuat Kelvin ikut-ikutan seperti orang gila.


Sajian habis, rasa lapar sudah hilang. Mereka memutuskan untuk kembali ke hotel. Dalam perjalanan pulang Viora ketiduran di dalam pelukan Kelvin.


...----------------...


Tiba di hotel. Viora masih tertidur. Dengan perlahan Kelvin membopong Viora masuk kedalam kamar hotel. Viora tiba-tiba tersadar saat Kelvin merebahkan dirinya di ranjang.


“Eh udah bangun ternyata,” ucap Kelvin.


“Hoamm! Kita di mana my dear? ” tanya Viora sambil terus menguap.


“Udah di hotel, gadis kecil. Kamu kalau masih ngantuk tidur aja lagi,” ungkap Kelvin yang masih setia menunggu Viora.


“Terus kalau aku tidur kamu mau kemana? Aku nggak mau di tinggal sendirian. Ya udah deh kalau gitu aku mandi aja biar enggak ngantuk lagi. My dear, tungguin ya ....”


“Iya-iya, udah sana mandi jangan lama-lama tuh enggak bagus bagi kesehatan mandi malam lama-lama. Aku nanti juga mau mandi. Cepetan yah, sayang,” ungkap Kelvin sambil rebahan dengan mengotak-atik ponselnya.


“Isss bilang aja karena kamu mau mandi juga,” ledek Viora sambil melemparkan handuknya kearah Kelvin.


Handuk di lempar tepat mengenai wajah suaminya. Lalu Viora berlari masuk kedalam kamar mandi sambil tertawa. Ia senang telah mengerjai suaminya.


Beberapa menit kemudian Viora selesai bersih-bersih tapi, ia tidak kunjung keluar sebab handuknya berada di dekat Kelvin yang tadi ia lemparkan.


“Sayang! Ambilkan handukku bentar!” perintah Viora sambil berteriak.


“Iya-iya.”


Kelvin berjalan mendekat ingin memberikan handuk itu tapi tiba-tiba senyuman jail terpancar di wajahnya.


“Gadis kecil, mau handuk ya?” tanya Kelvin sambil tersenyum.


Viora melihat keluar dengan membuka sedikit pintu kamar mandi. “Udah tahu nanya lagi. Cepetan kasih!”

__ADS_1


“Mau handuk ya? Ets! Ada syaratnya,” ganggu Kelvin dengan sengaja.


“Ihhh apaan sih kasih handuk doang pakai syarat emang mau nikahan pakai syarat dulu! Sini kasih aku kedinginan nih,” paksa Viora.


Kelvin tidak memberinya justru mendorong sendiri pintu agar ia bisa melihat kedalam. Sampai akhirnya kepala Kelvin berhasil masuk kedalam sambil memberikan handuk ia melihat keindahan.


“Ya ampun ... Sayang. Indah banget gadis kecil. Buat dedek bayi yuk!” ajak Kelvin dengan mata berbinar-binar.


“Dasar mesum! Sana minggir!” bentak Viora sambil menahan senyumnya lalu kembali menutup pintu.


Kelvin tertawa terbahak-bahak melihat reaksi dari istrinya meskipun ia sedang menahan nafsunya. Sambil menunggu sang istri keluar dari kamar mandi ia lalu menyetel sesuatu video yang tersembunyi di suatu tempat penyimpanan rahasia dalam ponselnya. Situs dewasa yang sengaja ia putarkan apalagi mengingat dirinya sedang menahan nafsu juga sudah lama tidak merasakan sentuhan.


Memakai earphone agar suara tidak keluar kemana-mana apalagi jika sampai di dengar oleh Viora justru akan tamat riwayatnya. Saat sedang asyik-asyiknya menonton sambil menahan sesuatu benjolan yang sedang berusaha bangkit. Viora datang tiba-tiba ingin mengejutkan tapi, dengan cepat ia tahu suara langkah kaki yang semakin mendekat.


Dengan cepat Kelvin membalikkan ponselnya tanpa mematikan videonya terlebih dahulu sebab tidak sempat. Ia berlari agar adik kecilnya tidak terlihat jelas yang sudah bangkit meskipun berusaha ia tahan walau kesakitan karena terhalang.


Kelvin memasuki kamar mandi. Ia merasa lega berada di dalam apalagi bisa menuntaskan yang sedari tadi menghalangi adik kecilnya. Mengambil sabun cair lalu mengolesnya sampai ia merem melek keenakan menikmati dengan kesendirian.


Di sisi lain. Viora yang memiliki penasaran yang cukup tinggi. Ia pun penasaran dengan apa yang sedang di lihat oleh suaminya tadi sampai begitu fokus. Alhasil ia memakai earphone lalu mengambil ponsel tersebut. Matanya tercengang melihat adengan bertempur dengan begitu cepat. Di dalamnya sepasang sebut saja suami istri sedang melakukan hubungan bahkan seorang wanita yang menjadi pemandu begitu lihai dalam gerakan yang ia buat.


“I-ini bukannya yang dulu aku lihat ade-adengan syuting.” Ucapan Viora sampai gelagapan sambil terus memperhatikan video tersebut.


Suara desahan memenuhi seisi kepalanya. Bahkan berbagai adengan mereka perlihatkan dengan begitu jelas. Antara rasa penasaran juga jijik melihat adengan seperti itu walaupun ia terus melihat meskipun hatinya berkata tidak suka.


Viora yang masih fokus.Kelvin yang baru keluar dari kamar mandi masih memakai handuk yang melilit di tubuhnya. Tiba-tiba ia terkejut melihat kearah Viora sedang memainkan ponselnya. Dengan cepat ia menutupi ponsel itu dengan tangannya meskipun suara desahan masih bisa Viora dengar.


“Apa-apa mau bilangin apa? Ayo mau bilangin apa?” tanya Viora sambil melepaskan earphone di telinganya.


“A-anu! Eh, gadis kecil, aku lupa soalnya kemarin ada pekerjaan yang tiba-tiba di kirim sama klien kayaknya aku harus ngecek itu dulu," ucap Kelvin yang berusaha kabur sambil ngeles.


Viora menahan suaminya dengan cepat sampai langkah Kelvin terhenti. Kelvin menelan ludahnya, ia sudah ketahuan melihat adengan bertempur apalagi reaksi Viora yang masih terdiam.


‘Aduh ... Pakai ketahuan segala. Bagaimana pandangan Viora padaku? Pasti dia akan bilang kalau aku ini mesum. Ya ampun .... Ketampanan ku dalam sekejap pudar,’ batin Kelvin.


Viora membawa suaminya duduk di sampingnya. “Maafkan aku. Ini kesalahanku, maafkan aku.”


“Loh? Kamu enggak salah, gadis kecil. Jadi tidak perlu minta maaf. Sungguh aku tidak menyalahi mu,” sahut Kelvin kebingungan.


“Aku salah, My dear. Aku telah membuatmu sampai melihat semuanya ini. Padahal sudah seharusnya aku menerima nafkah batin darimu jadi, malam ini aku sudah ... siap,” ungkap Viora sambil menundukkan kepalanya.


‘Apa aku tidak sedang bermimpi?’ batin Kelvin.


“Gadis kecil, jadi kamu sudah siap? Tapi, jika ini menyakitimu tolong katakan.”


Viora terdiam sambil menganggukkan kepalanya. Kelvin bangkit mengusapkan wajahnya dengan kasar. Ia sampai lupa satu hal.


‘Jika malam ini aku tahu Viora akan memberiku izin maka sejak tadi seharusnya aku bersiap-siap untuk lebih kuat. Ah sial! Mana ketinggalan lagi obat kuat,’ batin Kelvin.


Viora menahan senyumnya melihat kegundahan suaminya. Ia pun bangkit untuk lebih mendekat. Ia mengingat tontonan yang baru saja ia lihat. Dimana erempuan yang mencobanya lebih dulu. Viora terus mendekati Kelvin sampai akhirnya ia perlahan memberikan pelukan.


Kelvin merasakan sentuhan istrinya. Dirinya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Membalikkan tubuh agar bisa saling memandang. Menatap satu sama lain hingga akhirnya sebuah ciuman menyatukan keduanya. Bibir Kelvin dengan lihai membantu pergerakan yang Viora buat. Tangannya juga tidak ingin tinggal diam. Sentuhan demi sentuhan seakan seperti di hipnotis untuk terus bergerak lebih dalam.


Kelvin membawa Viora untuk lebih mendekat dengan ranjang meskipun penyatuan ciuman masih belum terlepaskan. Hingga akhirnya Kelvin merebahkan tubuhnya begitu juga dengan Viora. Kelvin menjadi pemandu, ia menarik pakaian yang sedari tadi menjadi penghalang untuknya sampai akhirnya Viora benar-benar polos seperti bayi yang baru lahir.


Kelvin memulainya dari atas memberikan tanda sebagai pemiliknya. Ia akhirnya berada di bawah begitupun sebaliknya ia tidak ingin melewatkan sesuatu yang belum ia cicipi. Viora tidak sengaja melihat bercak-bercak merah yang berada di tubuhnya. Ia menelan ludah menyaksikan Kelvin sedang bermain di bawah sana. Bulatan kecil yang berada di bawah tidak hilang dari sentuhan Kelvin.


Semuanya telah ia sentuh. Hanya tinggal di titik terakhir di mana segala mahkota akan berakhir. Tubuh Viora sedang bersiap-siap sampai membentuk posisi untuk menerima Kelvin namun, justru Kelvin berhenti saat melihat kelakuan Viora.


“Ha ha ha, gadis kecil. Kenapa kamu kaku begitu? Santai saja sayang,” ungkap Kelvin yang terus menertawai istrinya.

__ADS_1


Wajah Viora memerah menahan malu. Ia kemudian menutupi wajah dengan kedua tangannya. “Sudah jangan banyak berbicara. Sudah cepat lakukanlah.”


Saat Kelvin sedang memasukinya. Viora terus menutupi wajahnya meskipun ia juga berusaha mengintip. “Auchh!” Viora berteriak padahal belum seberapa.


“Gadis kecil, bagaimana kalau kita hentikan? Kamu sudah kesakitan ya?” tanya Kelvin dengan penuh perhatian.


“Eh! Tidak-tidak, ini pasti bisa aku yakin,” sahut Viora dengan percaya diri.


Kelvin tersenyum mendengar jawaban Viora. Padahal ia tahu jika Viora berusaha membuatnya nyaman meskipun dirinya kesakitan.


Kelvin kembali berusaha sampai tiga kali berusaha ia juga belum berhasil lantaran Viora terus berteriak sambil mendorong tubuhnya.


‘Jika yang keempat ini juga tidak berhasil maka sudahlah aku akan mencobanya lain waktu. Dia pasti sudah sangat kesakitan,’ batin Kelvin merasa kasian.


Percobaan keempat pun di mulai. Kaki Viora begitu tegang, peluh keringat keluar padahal belum lagi di mulai ke babak permainan yang sesungguhnya. Ia seakan sedang melawan kematian begitulah kira-kira. Matanya kembali di tutup saat Kelvin sedang mencoba untuk membentuk posisinya.


Kelvin menarik nafasnya memburu. Ia langsung mengarahkan adik kecil untuk masuk kedalam. Dengan sekuat tenaganya ia menghentakkan begitu kuat hingga akhirnya, “Auchh! Mama ....” Viora menjerit memanggil ibunya saat adik kecil Kelvin memaksa masuk untuk memenuhi seisi miliknya.


“Sudah-sudah jangan lagi berteriak. Di sini tidak ada mamamu, gadis kecil. Jika sakit maka aku tidak akan melanjutkannya,” ungkap Kelvin sembari menahan tawanya juga dengan sengaja mendiamkan miliknya sesaat.


“A-aku tidak takut, hanya terkejut,” sahut Viora yang masih menutupi wajahnya.


‘Ya ampun ... rasanya sakit sekali. Aduh .... Malah aku sekarang mau pipis lagi. Ah malu-maluin pakai panggil Mama segala lagi. Benar-benar hari yang begitu buruk buatku,’ batin Viora.


“Gadis kecil, apa kita lanjutkan atau kamu ingin istirahat dulu? Jika sakit tolong jujur supaya aku tahu keinginanmu,” ungkap Kelvin.


“Ti-tidak apa-apa. Ayo lanjutkan saja, My dear,” sahut Viora sampai gelagapan.


Kelvin menggelengkan kepalanya melihat Viora yang tidak ingin jujur. Ia pun tidak punya pilihan. Kelvin memulainya dengan perlahan, begitu pelan, dan sangat pelan. Viora membuka wajahnya. Ia tiba-tiba tersenyum melihat kearah Kelvin, sampai akhirnya ia mencoba mengimbangi gerakannya.


Sekitar beberapa menit berlalu Kelvin yang sudah memulai mempercepat gerakannya begitupun dengan Viora. Viora yang sudah melupakan permulaan di mulai dirinya juga terus membayangkan apa yang sudah ia tonton lalu ia praktikkan. Meminta pada Kelvin agar dirinya yang kemudian memandu gerakan itu.


Ia berada di atas sambil memulai gerakan yang ia ingat saat dalam tontonan. Viora kehilangan kesadaran ia terus meminta agar Kelvin mempercepat sampai akhirnya Kelvin mengambil posisi agar dirinya yang memimpin. Keduanya lihai bahkan terus mengimbangi permainan sampai di satu titik kecepatan semakin besar. Begitu cepat, dan sangat cepat lalu tiba-tiba sebuah suara terdengar.


Kreekk! Keduanya tidak peduli masih terus melanjutkan permainan dengan menambah kecepatan, bahkan berganti berbagai macam gaya. Kreekk! Suara itu kembali terdengar namun, masih sama keduanya asyik tertawa sambil bermain kuda-kudaan. Kreekk! Kembali berbunyi suara retakan namun, masih santai bahkan melakukan dogg* st*le.


“Oh yes! Ooo ... Ini terasa enak, Sayang. Oh yeah! Tolong jangan berhenti,” erang Viora dengan kata-kata yang bisa membuat Kelvin semakin menjadi-jadi.


“Ya Baby, aku ingin kamu,” bisik Kelvin sambil terus mempercepat gerakannya.


“Yeah ... Terus oh .... My dear, kamu begitu besar,” lanjut Viora sambil mengigit bibir bawahnya seperti yang ingat di dalam tontonan barusan.


Kemudian pada titik di mana penentuan kemenangan Kelvin mempercepat bahkan lebih cepat dari sebelumnya hingga akhirnya! Brukk! Sisi kiri bagian belakang ranjang patah tepat di mana mereka melakukannya sampai membuat mereka hampir kehilangan keseimbangan.


“Auch, Sayang! Mungkin sedang gempa ayo cepat kita harus keluar!” teriak Viora sambil terkejut tanpa melihat keadaan yang sebenarnya.


Kelvin menahan tangan Viora yang ingin berlari tanpa memakai apa-apa. Ia kemudian mencari penyebabnya sampai akhirnya ia temukan sisi ranjang yang memang sudah sedikit rapuh hingga membuatnya patah.


“Ya ampun ... Bagaimana bisa seperti ini? Benar-benar keteledoran yang membuat orang lain hampir celaka,” ungkap Kelvin sambil mengusap wajahnya dengan cepat.


“My dear! Jadi bukan gempa jadi apa? Eh bentar! Jika bukan gempa kenapa kita bisa membuat goncangan seperti gempa sungguhan? Lihat Ini bahkan bisa patah? Ayo cepat kita harus laporkan kepada petugas di sini supaya menggantikan ranjang yang baru untuk kita,” ungkap Viora kebingungan sambil menarik Kelvin.


Ia tidak sadar menarik Kelvin padahal tubuhnya masih polos seperti bayi kecil. Kelvin tertawa melihat reaksi Viora yang berlebihan.


“Um, Gadis kecil. Sebaiknya kita memakai pakaian dulu,” ungkap Kelvin dengan jelas.


“Ya ampun! Ah sial! Bisa-bisanya aku lupa padahal umurku masih sangat muda,” sahut Viora sembari menepuk jidatnya.


“Makanya sayang, jangan terlalu gegabah.”

__ADS_1


__ADS_2