
Happy reading.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Aku pura-pura tidak mendengar ucapannya, lalu beranjak pergi melewatinya. Tapi lagi-lagi dia menghentikan langkahku. Dia berdiri tepat di hadapanku.
"Mau apalagi kamu!?" ucapku geram. Melihatnya saja sudah membuatku kesal.
"Ck! Ayolah Reiner jangan seperti itu, aku tidak akan berbuat jahat, kita kebetulan bertemu di sini itu adalah takdir, takdir untuk kita jadi kau jangan menghindar," ucap Elie tidak menentu.
"Aku tidak punya waktu untuk berbicara denganmu!" ucapku ketus. Dan beranjak pergi dari sana.
"Aaarrghh Reiner! Kau, awas saja," ucap Elie mengancam.
Aku justru tidak memperdulikan ucapannya, meskipun dia teriak sekaligus. Lalu aku fokus dengan tujuanku tadi, mengambil barang yang sudah ku beli dan membawanya ke kasir. Singkat kata semuanya sudah ku siapkan tinggal menunggu waktu untuk bisa berbicara langsung dengan istriku.
Melajukan kecepatan tinggi agar bisa sampai melihat istriku. Butuh perjalanan beberapa menit dan akhirnya aku sampai di Perusahaan yang ingin ku datangi. Aku berjalan ketempat resepsionis, tujuanku ingin menanyakan dimana ruangan istriku berada sebab aku ingin memberikannya kejutan dengan kehadiranku tiba-tiba.
"Excuse me, can show me Zoya Khalisa room?" tanyaku.
"Wait a minute," sahut karyawan tersebut.
Aku menunggu beberapa saat, sampai mereka memberi jawaban.
"Come on Sir," ucapnya. Aku mengikutinya dari belakang. Menaiki lift dan menuju kelantai paling atas. Sampailah aku didepan ruangan istriku. Dan tidak lupa aku berterimakasih kepada karyawan tadi.
"Thanks for wanting to help," ucapku.
__ADS_1
"You're welcome Sir."
Perlahan aku menarik nafas dalam-dalam lalu mengetuk pintu ruangannya. Sampai beberapa kali aku mencobanya tapi tidak ada siapapun yang membukanya. Dan terus aku mencoba lagi sampai aku kelelahan. Lelah menunggu lama dan berniat menghubunginya.
Treett, trett. Suara getaran panggilan yang membuatku kesal. ‘Sayang cepat dong angkat.’ Aku gelisah sendiri, kemana dia pergi? Diruangan ngga ada, di telpon juga ngga dijawab. Sampai aku mencoba menghubunginya lagi. Dan ketiga kalinya aku mencoba menghubungi baru panggilku diangkat.
"Hallo mas," ucap Zoya dari balik ponselku.
"Kemana aja, ditelpon udah berkali-kali baru sekarang jawab," ucapku kesal.
"Maaf mas, aku tidak tahu ponselku dalam tas, dan sekarang aku lagi di Restoran tidak jauh dari Perusahaan," ungkap Zoya.
"Sama siapa?" tanyaku.
"Sama Kelvin, kenapa mas? Kau perlu sesuatu?" sahut Zoya.
"Mas tunggu." Tett. Aku mematikan panggilan sepihak. Sedikit kesal mengingat aku sudah lelah kesini tapi tidak bisa mendapatkan apa-apa. Bukan aku marah tapi ini belum waktunya istirahat, hanya tinggal beberapa menit lagi waktu untuk bekerja. Membuatku kesal, dan penasaran, apa mereka perbuat sampai harus mengambil waktu istirahat dengan cepat.
Aku melihat dua hadiah yang berada di tanganku. Ingin aku melempar hadiahnya. Marah dan juga cemburu menyatu menjadi satu. Pupus sudah kesempatanku, ingin meminta maaf dan sekaligus memberikan kejutan. Meskipun hanya masalah kecil tapi sungguh membuat hatiku sakit.
Sebagai lelaki sejati tentunya aku juga merasakan sakit dan juga cemburu. Meskipun kecemburuan ku tidak terlihat tapi justru aku memperlihatkannya dengan cara yang lain, seperti berdiam diri. Pekerjaanku terpaksa ku tinggalkan demi dirinya tapi aku sangat bingung, akhir-akhir ini mereka sering sekali bersama, kemana-mana bersama. Aku sendiri iri padahal aku di sini suaminya, meskipun aku tahu salahku karena telah mendiamkannya tapi tidak harus juga dia terus-menerus bersama pria lain meskipun aku tahu mereka hanya berteman.
Tidak menunggu waktu lama, aku bergegas turun dari lantai atas. Pikiranku terus memikirkan istriku. Dan aku ingat jika aku pernah memasang pelacak dari ponselnya. Dan ya aku tahu istriku jujur memang mereka tidak jauh dari Perusahaan. ‘Apa aku mencoba menghampirinya? Tapi bagaimana jika dia tidak menyukai kedatanganku?’
Hatiku bimbang antara ingin menemuinya langsung, tapi aku juga merasa tidak nyaman sebab hubunganku dengannya sedang diuji berbagai masalah. ‘Ah sudahlah, nanti malam sajalah aku mencoba berbicara dengannya.’
Sampailah aku di parkiran. Memasuki mobil dan membawanya dengan pelan. Waktu istirahat masih sangat panjang dan aku tidak berniat untuk kembali ke kantor terlebih dahulu. Pikiranku masih mengingat tentang istriku. Berbagai macam pikiran negatif yang sedang kupikirkan. Membuatku frustasi. ‘Arrgghh rasanya aku ingin liburan, atau menghilang sekaligus dari bumi ini.’
__ADS_1
"Persetan dengan Kelvin, aku muak dengannya, dia telah mengambil perhatian Zoya dariku, awas kau, akan kuberi pelajaran sudah membuat kasih sayang istriku menghilang dariku.” Aku mengamuk sendiri. Amarahku memuncak pada beberapa barang yang terlihat di depanku. Memukul dan melemparkannya ke sembarang arah.
‘Padahal aku sudah merencanakan, siang ini agar kami berbaikan dan nanti malam aku bisa melepaskan kerinduanku padanya tapi semuanya harus gagal gara-gara pria sialan itu!’
Emosiku tidak bisa terkendali, apalagi jika mengingat dengan satu pria itu. Kringg ... Kringg .... Suara ponsel membuatku melirik nama siapa yang menghubungiku. My beautiful wife. Itulah nama yang tertera. Dengan cepat aku menepikan mobil dan mengangkat panggilannya.
"Hallo sayang ada apa?"
"Mas sedang dimana?" tanya Zoya dari balik ponselku.
"Sedang dijalan kenapa memangnya?" ucapku ketus.
"Ah tidak ada mas, aku hanya penasaran tidak biasanya kau menghubungiku, apalagi dalam waktu istirahat seperti ini," sahut Zoya.
"Lalu jika kau penasaran kenapa tidak bertanya dari tadi? Ah aku tau, kau kan sedang sibuk mengurusi pria lain selain aku, bukankah begitu?" ucapku kesal. Sungguh aku sedikit kecewa dengannya.
"Mas! Kenapa kau bicara seperti itu? Aku tidak mengurusi siapapun tolong jangan membuat mood ku buruk, aku sedang tidak ingin ada masalah hari ini mas," ucap Zoya membela diri.
"Kau sangat lucu, bicara denganku saja sudah membuat mood mu tidak bagus lalu bagaimana saat kau bersama dengan Kelvin, apa mood mu sangat bagus sayang?"
Aku mendengar tarikan nafas panjang dari Zoya. "Mas, jangan bicara seenaknya aku tidak seperti yang kau ucapkan."
"Baiklah lupakan!" ucapku dan langsung aku mematikan panggilan sebelah pihak.
Seharusnya dia tahu kalau aku menghubunginya mendadak seperti itu ada sebab. Aku tambah kesal dan saat ini aku sudah berniat untuk bekerja. Andai ini malam aku bisa mendatangi Club dan minum sepuasnya. Jika siang hari, aku sangat tidak suka meskipun beberapa Cafe ada yang membukanya.
≈≈≈≈≈≈≈≈
__ADS_1
Hallo guys jangan lupa terus dukung karya Author, mudah kok, dengan LIKE, KOMEN dan berikan VOTE. Kalian harus memberikan VOTE. Sebab itu akan membuatku untuk lebih semangat dan menghadirkan yang lebih keren. Nah jika kalian penasaran langsung saja seperti yang udah Meldy bilang untuk dukung juga sertakan vote kalian agar Meldy memberikan kejutan-kejutan di setiap episodenya okay.