
Happy reading
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Semua orang yang di sana akhirnya tertawa dalam tangisan, mereka suka dengan kelucuan itulah yang aku mau, membuat mereka bahagia saat kepergian ku.
“Ya udah deh kalau gitu aku pergi dulu yah, jaga diri kalian baik-baik di sini, aku akan merindukan kalian semuanya,” pamit ku yang terakhir kalinya.
Bukannya menyahut seruan ku, Zoya justru menghentikan langkahku, “Tunggu dulu Viora ... kami akan ikut mengantarmu.”
Aku mengangguk mengiyakan, bahagiaku kali ini sangat kepergian ku mendapatkan kasih sayang yang begitu tulus dari mereka semua meskipun saat hari terakhirku juga ingin melihat Kelvin lalu mengucapkan salam dan memeluknya tapi keinginan itu harus segala ku jauhkan.
Zoya, Reiner, dan Vanny. Mereka bertiga mengantarkan aku sampai ke bandara, saat menunggu pesawat akan terbang beberapa menit lagi, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bersama tiga orang yang sudah menjadi keluargaku di sini.
“Debay kembar ... jika nanti kalian lahir tolong jaga Mami kalian yah, kakak akan pergi jadi tidak lagi bisa bersama kalian, semoga kalian lahir dengan sehat agar bisa segera berlibur ke tempat kakak,” gumam ku pada perut Zoya, sebab hanya itulah caraku agar bisa berbicara dengan mereka.
Lalu aku bangkit dan terus memeluk mereka satu-persatu meskipun harus menahan tangisan. Lalu melangkah sedikit demi sedikit menjauh karena sebentar lagi waktuku akan habis.
Tangis Zoya pecah saat aku sudah sedikit jauh darinya, Reiner terlihat mencoba merangkul istrinya agar lebih tenang. Dalam setiap langkahku tidak lupa lambaian tangan terus kulakukan meski senyuman palsu dibalik tangisan harus kucoba perlihatkan di depan mereka semua.
“Maaf ... jika kepergian ku begitu membuat kalian semua sedih, semoga tanpaku kalian semua baik-baik saja, untuk Kakak Rei, jaga pernikahan dengan baik. Untuk Vanny, semoga kamu cepat dapat jodoh. Dan untuk Evin ... maaf telah pergi tanpa pamit sekarang aku benar-benar pergi, kumohon jadilah Pria kuat untukku, aku mencintaimu selamat tinggal Pangeran, ”gumam ku saat melangkah lebih jauh, memandang kedepan karena pesawat telah menungguku.
Semua cinta kasih kalian akan selalu ku kenang, begitu juga dengan Kelvin, ia akan selalu ada dalam hati kecilku meski tak terlihat meski sudah layu tapi ia akan selalu ada menemani ku walaupun sudah berjauhan.
Tak ada doa yang lebih indah untuk kalian selain ucapan semoga kalian semua baik-baik saja tanpa aku di sini. Pesawat telah terbang memenuhi janjinya untuk membawaku kembali. Aku duduk menatap jauh kesamping, melihat semua kenangan baik manis dan pahit semuanya telah terkubur di hati kecilku. Mencoba membuka lembaran baru saat aku sudah kembali ke asalku. Lalu aku memilih tidur agar nanti saat aku terbangun semuanya seolah tak pernah terjadi sedikitpun luka yang ada dalam hatiku.
--------------------------
__ADS_1
(Zoya Khalisa More)
Kami semua melihat kepergian Viora, menjauh dan terus menjauh lalu menghilang. Mungkin itu jalan yang terbaik meski aku sudah mencoba untuk menahannya agar ia tetap di sini setidaknya sampai mereka berbaikan.
Reiner terus menenangkan aku, merangkul ku yang sedari tadi mencoba kuat melihat kepergian Viora.
“Sayang ... sebaiknya kita langsung kembali, Viora juga sudah berangkat, ayo.”
“Baiklah Mas.”
Aku hanya menurut tidak ada bantahan lalu kami telah beranjak dari bandara dan memutuskan untuk pulang. Begitupun Vanny, dia memilih pulang dengan taxi karena arah pulang yang berlawanan. Dalam perjalanan tidak ada hal yang membuatku ceria meskipun Reiner terus mencoba berada di sampingku dengan kelucuan yang ia sengaja lakukan.
Tiba-tiba aku terpikirkan satu hal, “Mas ... kita ketempat Kelvin yuk kasih tahu kalau Viora sudah kembali.” Memang niatku seperti itu sebab tidak mungkin terus-menerus aku mengatakan pada Kelvin kalau gadis kecilnya masih bersamaku.
“Sayang ... menurutku kita jangan kesana, kita jangan berkata apapun terhadap Kelvin, biarkan ia sendiri yang datang dan mencarinya,” sahut Reiner tidak setuju dengan ideku.
“Nggak sayang, justru yang ingin kamu lakukan itu salah. Biarkan mereka mengambil jalan yang terbaik untuknya sebab jika nanti mereka berjodoh meski Viora mencoba kabur pasti mereka akan tetap bersatu, ah sudahlah kamu sejak tadi cemas terus mending tidur deh, aku takut kamu nanti kecapean terus bayi kita ikut-ikutan sedih lagi,” sahut Reiner serta memeluk diriku supaya ketiduran.
“Tapi Mas, aku belum mau tidur ... ihhh kamu,” rengek ku tidak terima.
“Sayang jangan bandel, ya udah sebentar lagi kita mau sampai rumah kamu tidur yah jangan banyak gerak terus apalagi cemaskan hal yang nggak penting banget,” ucap Reiner dengan gampangnya.
“Apa kamu bilang mas? Hal ngga penting! Kamu tahu nggak maksud ucapanmu itu apa? Jelas dong aku mikirin temenku, sahabatku, mereka orang yang terpenting buatku seandainya aku lakuin hal yang sama mereka juga pasti cemas dengan keadaanku, ihhh kok gitu banget deh mas, ngga suka aku.”
Aku sedikit kecewa dengan suamiku, ucapannya justru membuatku marah dan tidak suka melihatnya berucap sesuka hatinya.
Reiner tercengang melihat tingkahku saat ini, lalu ia menepuk jidatnya sendiri, “Sayangku yang cantik ... kok jadi ribut gini sih? Kamu nggak malu itu Pak supir ngelihat kita loh ... sayang dengerin yah, aku bukan ngga boleh kamu mikirin mereka, bukan tapi ada batasannya juga yang, liat keadaanmu saat ini kamu lagi hamil besar terus kamu cemasin orang lain dengan berlebihan seperti itu, nanti kamu yang capek terus sakit gimana, mau?”
__ADS_1
Aku hanya menggelengkan kepala, sepertinya benar aku tidak boleh terlalu banyak memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya kupikir. Biarkan waktu yang menentukan tentang mereka.
“Mas ... aku ngantuk mau bobok di kamu,” ucapku manja, karena telah marah dengannya caraku hanya bersikap sok manis dan sedikit manja.
“Ngantuk yah sayang? Sabar yah sebentar lagi kita sampai rumah. Pak, percepat kecepatan istriku ingin segera sampai,” perintah Reiner.
“Baik Bos.”
Aku masuk kedalam pelukan suamiku, memeluknya erat meskipun sedikit kesusahan karena perut besar ku, hal yang sama juga dilakukan olehnya. Menerima pelukku dalam kehangatan.
‘Kelvin ... maaf jika kali ini aku tidak jujur denganmu, aku terpaksa tidak jujur demi kebaikanmu juga Viora. Semuanya sudah terlambat gadis kecilmu telah pergi dan telah memilih hidupnya yang baru, aku harap kamu tidak cemas sampai melukai dirimu sendiri,’ batinku saat sudah dalam pelukan suamiku.
* * *
Biarkan aku pergi dengan tenang
Biarkan aku pergi membawa kenangan
Meski dirimu memanggilku untuk datang memelukmu
Maaf aku tidak bisa tapi Jika nanti kita berjodoh
Pelukanmu tentu akan terisi olehku. (Viora–Kelvin)
≈≈≈≈≈≈
Yuhuu gimana kesan kalian? Ah aku sedih Menjadi abu karena rak atas ngga pernah bisa disentuh hanya bisa memandang, ayo guys sertakan vote untukku
__ADS_1