
“Jangan merasa senang Evin, aku menerima pernikahan ini demi mamaku. Lagipula aku sudah tidak lagi mencintaimu. Jadi sekarang cepat lepaskan tanganku dari tangan seorang pembunuh sepertimu.”
“Tidak semudah itu lepas dariku, Viora. Bukankah aku ini seorang pembunuh? Lalu apalagi yang harus ku tunggu, tentu saja aku akan tetap menjadi Pria bajing*n. Siap-siap hidup menderita dengan seorang pembunuh, Viora.” Tingkat laku Kelvin membuatku tidak mengenali dirinya lagi yang sudah berubah.
‘Apa kali ini Kelvin becanda atau hanya main-main dengan ucapannya? Kenapa aku merasakan sakit saat mendengar ia berkata seperti itu,’ batinku.
“Silahkan katakan apapun. Aku tetap tidak akan pernah takut dengan ancaman seorang pembunuh sepertimu. Jadi tolong sekarang lepaskan aku!”
“Tidak bisa semudah itu, Viora.”
Kelvin menarik tubuhku hingga membuatku memeluk tubuhnya. Ia lalu mengunci diriku dengan kedua tangannya. Aku melawan namun sia-sia tenagaku tidak sebanding jika harus melawan Pria bertubuh kekar seperti dirinya.
“Apa yang ingin kamu lakukan padaku, Kelvin?! Ah aku tahu kamu ingin mencari kesempatan dengan ingin menyentuh tubuhku, bukankah itu yang bisa kamu buat paksaan! Sama seperti kamu menyuruh ibumu untuk memaksaku menikah!” bentak ku dengan tegas.
“Jangan bawa-bawa ibuku, Viora! Kamu bisa mengatakan aku seorang pembunuh atau apapun yang akan keluar dari mulutmu. Namun, satu hal jangan pernah katakan ibuku. Jika sebanding denganmu, Elie lebih pantas untuk menjadi istriku. Dan satu hal aku tidak akan pernah menyentuhmu lagi,” ucap Kelvin seraya melepaskan aku dengan paksa, lalu ia pergi tanpa mengajakku pergi.
‘Tadi dia katakan Elie yang pantas untuk ia nikahi? Apa aku tidak salah dengar?! Lalu jika begitu kenapa bukan dia yang menikah denganmu? Kamu tahu hatiku sakit, sungguh aku tidak suka mendengar nama wanita lain yang pantas untuk bersanding denganmu,’ batinku.
Lain di mulut, lain pula di hati. Aku memang tidak menyukai Kelvin karena kesalahan masa lalunya. Namun, jauh dari itu aku masih tidak rela jika dirinya mengatakan wanita lain yang pantas untuknya. Walaupun aku selalu berbohong dan selalu berusaha menutupi semua cintaku yang masih tulus untuk dirinya.
Kelvin sudah berjalan jauh di depan. Entah kenapa jalannya sangat cepat sampai aku tidak bisa menemukan dirinya.
“Dasar Pria sialan, jika pun kamu tidak lagi mencintaiku seharusnya kamu menungguku untuk kembali bersama. Bukan malah meninggalkan aku di sini sendirian, mana gelap terus sunyi lagi. Kalaupun ada apa-apa orang pacaran juga tidak akan menolongku,” gumam ku seraya berjalan kembali.
__ADS_1
Hawa dingin yang sangat menusuk tulang-tulang. Aku berjalan kembali seorang diri tanpa adanya Kelvin. Di tempat sepi dan gelap seperti ini pikiranku justru berpikir yang bukan-bukan. Seakan ada sesuatu yang sedang mengikuti ku. Sesekali mencoba menoleh ke belakang tapi nihil saat aku menoleh tidak ada seorang pun yang datang, hingga membuatku semakin ketakutan.
“Aduh kok jadi serem gini yah, mana sendirian lagi terus juga malam Jumat. Ya ampun kenapa bisa nasibku apes banget sih?!”
Sepanjang jalan aku berusaha mengomel agar aku tidak terlalu merasa takut. Jarak didepan masih sangat jauh membuatku tidak bisa terus-menerus berjalan perlahan seperti ini.
“Satu-satunya cara agar aku selamat dari arwah yang akan menggangu ku ditempat gelap ini. Aku harus ... Lari ...!” Sekuat tenaga aku berlari tapi rasanya bukan semakin sampai tapi seakan makin jauh hingga aku tidak merasakan kehadiran kehidupan apapun.
------------------------------------------
(Kelvin Marble)
Aku sengaja bersembunyi tidak jauh dari tempat Viora berada. Dengan begitu dia berpikir aku memang telah kembali ke mobil. Mana mungkin aku kembali jika tidak bersamanya, tentunya saja aku tidak akan membuat hidup wanita yang sangat ku cintai menderita. Dengan berjalan perlahan-lahan di belakangnya seperti sedang mengikutinya ia berpikir kalau hantu yang sedang mengganggunya.
“Ya malah pingsan lagi. Dasar gadis kecil, ngomong aja judes di takuti sedikit malah pingsan beneran," gumam ku seraya membopong tubuhnya kembali ke mobil.
Sesaat sampai di tempat parkiran mobil ternyata hanya tinggal mobilku sedangkan mobil Viora sudah di bawa pulang oleh mamanya.
“Pantesan! Sengaja nih mereka buat aku supaya bisa pulang satu mobil.”
Keberuntungan berpihak padaku dari mulai Viora pingsan sampai kami tinggal berdua. Aku langsung cepat-cepat membawa masuk Viora kedalam mobil lalu aku langsung membawanya pulang ke apartemen bukan pulang ke kediaman, sebab Bunda dan Papa pasti di berada di rumah. Tidak keren bukan sampai membawa wanita ke rumah dengan keadaan pingsan karena takut setan justru aku sendiri yang akan kena omel.
* * *
__ADS_1
Sampai di apartemen gadis kecilku masih tertidur pulas. Ia seakan tidak ingin melihat di mana ia berada sekarang. Aku tiba-tiba berpikir sangat kasihan melihat Viora tidur lengkap dengan baju lengan panjang serta celana jeans seperti ini.
“Kasihan banget! Baiknya aku ganti ajalah baju dia, tapi nanti Viora pakai apa ya?” gumam ku seraya membuka isi pakaian yang ada.
Tidak banyak stok pakaianku di apartemen hanya beberapa tersimpan apabila aku males pulang kerumah. Terlihat baju kaus tanpa lengan yang mungkin cocok untuk Viora pakai saat tidurnya.
Setelah berpikir cocok untuknya aku lalu mendekat dan berusaha melepaskan baju yang ia kenakan. Meskipun aku sedikit malu dan mencoba menahan diriku agar sesuatu tidak bangkit di bawah sana. Dengan perlahan membuka bajunya hingga menampakkan pakaian dalam khusus yang membalut dua gundukan besar miliknya.
“Ternyata gadis kecilku bukan lagi anak kecil seperti dulu. Dia sudah memiliki tubuh yang sangat menarik bahkan jauh lebih indah dari Elie. Tahan Kelvin, tahan ....”
Selesai sudah tugasnya agar ia tidak kegerahan meskipun aku harus menahan diri sebisa mungkin.
“Kayaknya harus mandi air dingin nih,” gumam ku lalu berjalan menuju kamar mandi.
Menuntaskan apa yang seharusnya sudah jadi kewajiban. Ada rasa lega saat semuanya keluar dan tidak membuat adik kecilku tidak lagi teriak di bawah sana. Saat aku melihat Viora, ia masih tertidur pulas.
Rasa kantuk juga membuat diriku ingin tenggelam dalam alam mimpi bersama Viora. ‘Kayaknya emang harus tidur nih, tapi tidur di mana? Di sini cuma punya satu ranjang. Ya udahlah jangan banyak kali mikir mending tidur di samping Viora, lagian nanti kami juga akan menikah,’ batinku.
Tanpa berpikir banyak hal karena aku sudah sangat mengantuk apalagi kelelahan karena sudah berjalan sepanjang malam. Aku memutuskan untuk tidur di samping gadis kecilku sembari memeluk erat tubuhnya.
* * *
Salam sayang ~ Meldy Ta jika berkenan berikan dukungan dan juga dengan novel baruku yang lain.
__ADS_1