
H A P P Y R E A D I N G
“Kenapa gadis kecil, apa kamu merasakan sesuatu? Kamu sakit? Atau karena kita terlalu lama berendam? Jika ya maka sebaiknya kita harus naik keatas,” tanya Kelvin cemas.
“Baiklah.”
...----------------...
Pikiran Viora tidak berfokus dengan pertanyaan suaminya. Ia hanya mengiyakan namun, sangat jelas dirinya tidak mendengar apa yang Kelvin ucapkan.
Mereka berdua telah naik keatas dan memilih untuk tidak lagi berendam. Kelvin sibuk sendiri mulai dari mengambil handuk untuk istrinya bahkan mengeringkan rambut istrinya. Namun, berbeda dengan Viora.
‘Jika memang kain putih itu adalah milik wanita itu jadi, kenapa bisa kain itu berada di saku celana suamiku? Mustahil, aah sudahlah yang ada aku ikutan tidak waras lagi,’ batin Viora yang tidak lagi mempermasalahkannya.
Viora melirik kearah suaminya, lalu ia tersenyum. “Pangeran, sudahlah aku bisa melakukannya sendiri.”
“Tidak apa-apa gadis kecil, biarkan aku yang mengeringkan rambutmu lagipula tadi kamu tidak enak badan,” ungkap Kelvin.
“Terserah Pangeran saja,” sahut Viora seraya tersenyum.
“Baiklah. Oh ya gadis kecil, bagaimana masalah honeymoon kita apa kamu setuju kalau weekend ini kita langsung berangkat, dan nanti di sana kita bisa berlibur seminggu. Kau setuju?” ungkap Kelvin seraya bertanya.
“Tapi, apa kita tidak terlalu cepat untuk honeymoon, Pangeran?” tanya Viora masih ragu.
‘Sebetulnya aku hanya takut Pangeran, aku takut sakit ... seperti yang pernah kulihat disebuah situs mereka justru berteriak karena kesakitan. Duh bagaimana kalau nanti aku juga melakukan hal yang sama? Pasti Pangeran terus menganggap ku gadis kecil yang belum dewasa,’ batin Viora merasa cemas.
Awalnya Kelvin ceria namun, wajahnya langsung berubah cemberut. “Jadi, kamu belum bersedia, gadis kecil? Baiklah tidak apa-apa kita bisa tunda lagi.”
’Aduh ... Pasti Evin marah nih, yah gimana yah jelasinnya? Aku mau bilang takut sakit tapi, malu! Mau bilang iya jadi juga ngga berani. Ya ampun kapan aku bisa benar-benar dewasa dan siap dengan hal seperti itu,’ batin Viora.
“Sayang, aku ke kamar dulu yah dingin banget di sini. Apalagi badanku pegal-pegal,” pamit Kelvin.
‘Yah ... pasti Evin lagi kesal sama aku,’ batin Viora.
Kelvin beranjak pergi meninggalkan Viora yang masih berada di kolam. Namun, Viora menyadari jika dirinya telah salah sampai akhirnya ia memutuskan untuk membujuk suaminya.
“Evin, boleh aku masuk?” tanya Viora didepan pintu kamarnya.
“Masuk aja ini juga kamar kamu,” sahut Kelvin tanpa melihat Viora.
Dengan hati-hati Viora mendekatinya. “Evin, lagi marah yah sama gadis kecil?”
Namun, Kelvin tidak menjawab melainkan menggelengkan kepalanya.
“Marah? Marah karena apa? Aku nggak marah kok gadis kecil jadi, tidak perlu cemas,” sahut Kelvin.
“Udah deh jangan bohong. Kalau nggak marah pasti Evin ngga kaya gini. Maafin gadis kecil ya. Sebenarnya aku itu malu,” ungkap Viora sambil menundukkan kepalanya.
“Malu? Hey! Ayolah malu kenapa, gadis kecil? Apa karena kita akan honeymoon? Tapi-”
“Ya, aku malu karena itu. Aku takut jika aku tidak bisa melayani Evin dengan baik. Itu saja,” sahut Viora berbohong.
‘Padahal aku malu takut sakit,’ batin Viora.
Kelvin memicingkan matanya, ia lalu tersenyum. “Gadis kecil, ayolah aku tahu pasti kamu sedang berpikir sesuatu. Benarkan tebakanku?”
Viora menundukkan kepalanya seraya mengangguk. Kelvin mencubit pipinya hingga Viora kesakitan.
“Ihhh jangan mulai deh, sakit tahu!” rengek Viora dengan wajah cemberut.
Kelvin terus saja mengganggu istrinya. Mulai dari mencubit sampai menggelitik perutnya. Tawa terbahak-bahak terdengar sampai ke telinga pelayan kediaman mereka.
“Sudah hentikan! Baiklah Pangeran, aku akan ju-jujur,” ungkap Viora dengan nafas terengah-engah.
__ADS_1
Kelvin berdiri sambil melipatkan tangan di dadanya. “Baiklah aku tunggu.”
“Sebenarnya aku hanya ... Takut denganmu!” ungkap Viora dengan keras lalu berlari dari hadapan suaminya.
Terus berlari sampai akhirnya kami bermain kejar-kejaran. Tawa ceria begitu indah terpancar dari balik wajah mereka. Rasanya kebahagiaan ini tidak ingin berlalu begitu saja.
“Hey jangan kabur, gadis kecil!” teriak Kelvin yang sudah berhasil menangkap ku.
“Ampun, Pangeran. Ampun!” rengek Viora sambil terus tertawa.
“Sekarang kamu nggak bisa lagi lari dariku, gadis kecil. Kali ini kami harus jujur apa yang kamu takutkan sebenarnya?” tanya Kelvin yang terus menahan tubuh Viora dalam pelukanku.
“Baik ... aku akan memberitahukannya tapi, lepaskan aku dulu, Pangeran. Ini justru geli ....” Viora terus berusaha untuk lepas.
“Aku tahu gadis kecil, kamu malu denganku. Percayalah sayang, aku tidak akan menyakitimu juga tidak akan melakukan apapun tanpa seizin mu,” ungkap Kelvin.
“Benarkah?” tanya Viora penasaran.
“Benar, gadis kecil. Kita hanya akan honeymoon untuk liburan dan selebihnya semuanya akan ku serahkan padamu. Apapun yang kamu inginkan begitupun dengan apa yang akan kulakukan. Jadi, tidak perlu merasa takut, gadis kecilku.”
“Baiklah, Pangeran,” sahut Viora mengiyakan seraya memutarkan badannya untuk merangkul suaminya.
‘Sepertinya aku harus bisa melawan rasa takutku,’ batin Viora.
“Gitu dong, gadis kecil.” Kelvin tersenyum bahagia sambil terus memeluk istrinya.
...----------------...
Lain tempat dengan Alvero. Ia sedang menikmati udara segar di tepi pantai sambil membayangkan wajah Viora. Namun, ia hanya duduk sendirian. Entah mengapa setelah Viora meninggalkannya dirinya lebih banyak terdiam meskipun Bibi Karin telah menasehatinya tapi, ia belum juga bergerak untuk membuat rencana merebut kembali kekasihnya.
Hari weekend baginya tidaklah menyenangkan. Ia sangat kesepian semenjak Viora pergi darinya. Ingin sekali mencari pengganti namun, sayangnya ia belum bisa melupakan sang kekasih.
Jauh dari tempat Alvero bersantai. Tiga wanita cantik sedang menikmati indahnya pantai dan juga segarnya berjemur. Alice bersama dengan kedua temannya memilih hari weekend pertama dengan memanjakan diri di tepi pantai dan hanya memakai b*kini.
“Eh Alice, setelah aku pulang kemarin gimana kamu sama Alvero?” tanya Mony tiba-tiba.
“Yah nggak kenapa-kenapa sih cuma mau nanya doang daripada kita cuma berjemur diam kaya gini mendingan gosip. Tapi, kalau di lihat-lihat nih yah Alvero ganteng. Dia ... cocok ngga kalau misalnya jadi suamiku?” tanya Mony dengan tiba-tiba tanpa angin dan hujan.
“Suami? Nggak cocok sama sekali! Dia itu ngga pantes jadi suami siapapun! Udahlah jangan bahas dia! Sana tuh bahas sama Deva biar nyambung sekalian!” geram Alice.
“Lah kenapa malah marah? Santai aja lagi,” sahut Mony.
‘Iya santai. Apa yang udah aku alami itu ngga bisa di katakan santai sebab Alvero harus bertanggung jawab. Aku bakalan ngejar dia kalau nantinya dia terbukti seorang miliader,’ batin Alice.
Deva melirik kedua temannya saat namanya ikut di sebutkan, padahal ia hanya memilih untuk menenangkan diri dan tidak berbicara apapun.
“Udah deh jangan ribut-ribut. Kita di sini mau seru-seruan bukan malah bertengkar,” timpal Deva.
Alice dan Mony melirik bersamaan. “Lah siapa juga yang lagi bertengkar?!”
Alice memilih untuk tidur sedangkan Mony justru bangun dan meminta Deva untuk memotretnya. Tapi, belum juga hasil photo berhasil di ambil Mony kaget melihat seseorang yang belum lama ini ia kenal juga berada di pantai yang sama. Dengan cepat Mony membangunkan Alice dengan menarik tangannya.
“Apasih?! Jangan ganggu. Udah sana kalian aja photo. Aku lagi males pengen tidur!” ucap Alice dengan kasar.
“Heh! Siapa juga yang mau ngajak photo. Itu lihat di sana ada Alvero,” sahut Mony sambil menunjukkannya.
“Alvero?! Mana dia?!” tanya Alice dengan ngegas.
“Itu di sana! Tapi, kok semangat gitu sih? Tadi katanya mau tidur lagi males ...,” ledek Mony dengan sedikit curiga.
Tanpa menjawab apa yang di katakan oleh Mony. Alice langsung berlari menuju kearah Alvero berada. Dengan sekuat tenaga ia berlari sampai akhirnya kedua temannya pun terpaksa mengikuti.
Alvero tidak menyadari bahwa seseorang yang ia kenal sedang menuju kearahnya. Ia lalu terkejut saat seorang wanita tiba-tiba menghampirinya.
__ADS_1
“Alvero! Aku mau ngomong sesuatu sama kamu, sekarang!” perintah Alice dengan tegas.
“Al-Alice! Kok kamu bisa ada di sini sih?!” tanya Alvero dengan terbata-bata.
‘Ampun ... Mati gua. Gimana nih kalau sampai dia marah terus bakalan laporin gua ke jalur hukum terus gimana kalau dia juga nuntut gua, dan keluarganya juga bakalan kasih hukuman mati buat gua. Aduh ... Mimpi apa semalam jadi sial begini,’ batin Alvero yang sudah menebak segala macam.
”Halah udah deh jangan kaget gitu! Pokoknya sekarang bawa aku pergi dari sini dan kita ngomong berdua sebelum teman-temanku yang lain sampai kesini. Cepetan!” Lagi-lagi Alice memaksanya.
“I-Iya iya, tapi pakaian kamu kok gitu? Janji aku bakalan tunggu di sini, jadi lebih baik kamu ganti pakaianmu biar lengkap jangan b*kini doang,” pinta Alvero.
“Ogah! Yang ada kamu pasti kabur lagi dari aku. Udahlah cepetan pergi. Lihat tuh Mony sama Deva, mau sampai kesini. Buruan ah jangan lemot!” paksa Alice.
Alvero terpaksa mengiyakan, ia pun akhirnya menggandeng tangan Alice lalu mereka berlari meninggalkan pantai. Mony bersama Deva melihatnya tidak percaya sampai mereka berdua tercengang.
“Capek-capek kita ngejar terus mereka yang ada lari. Kamu percaya ngga? Itu beneran Alice teman kitakan?” tanya Deva dengan polos.
“Bu-bukan! Udahlah mending balik yuk percuma kita kejar yang ada kita capek,” sahut Mony.
‘Aku yakin pasti di antara mereka berdua sudah terjadi sesuatu. Jika tidak mana mungkin seorang Alice bisa senekat itu dengan Pria bahkan dia menggoda Pria di kantor saja tidak berani. Awas kamu, Alice. Kamu telah bermainm denganku, aku pasti akan mengetahui segalanya,’ batin Mony.
...----------------...
Di dalam mobil Alvero bersama Alice sudah memasuki mobilnya. Alvero membawanya dengan pelan-pelan sebab ia sesekali melirik di antara pemandangan indah yang berada di sampingnya.
“Eh! Apa lihat-lihat?" tanya Alice begitu galak.
“Aku aneh aja kok seorang wanita cantik kaya kamu sampai berani-beraninya memaksaku dalam keadaan pakaian seperti ini. Apa kamu tidak takut akan akan melakukan sesuatu?” ungkap Alvero seraya bertanya.
“Nggak! Buat apa aku takut sama orang yang udah berani-beraninya menjebakku. Kamu 'kan yang udah ambil keperawanan ku?” tanya Alice langsung tanpa basa-basi.
“Hah? Keperawanan? Jangan ngaco deh! Mana mungkin aku lakuin hal seperti itu. Udahlah mendingan kita balik aja ke pantai daripada gini gangguin liburan aja,” sahut Alvero tidak ingin jujur.
“Udahlah jangan banyak drama deh! Nggak lagi syuting jadi nggak usah sok jadi orang lain. Aku tahu waktu itu cuma yang ada kamu dan juga kamu yang sudah memberiku minum. Jadi mendingan jujur!” geram Alice.
‘Mau bilang nggak, udah telat. Bilang iya malah di amuk lagi. Aduh ... harus bilang apa yah? Oh aku ada ide,’ batinku.
“Iya aku jujur waktu itu aku juga nggak sadar karena saat itu aku juga lagi mabuk. Sorry banget! Mau 'kan maafin aku?” ungkap Alvero memohon.
“Heh! Kamu pikir dengan mohon maaf selesai gitu. Nggak bakalan! Tapi bawa aku untuk masuk kedalam kehidupanmu jika perlu kita akan tinggal bersama dalam rumahmu. Bagaimana setuju?” Senyum tersungging Alice dengan sangat licik.
“Tinggal bareng? Ogah! Kita itu baru kenalan! Baru juga beberapa hari doang jadi aku minta tolong banget jangan kasih syarat konyol apapun karena aku tidak bisa mewujudkan keinginanmu,” sahut Alvero menolaknya.
“Memang kita baru kenal tapi, karena itulah kamu bahkan berani menghilangkan hal berharga untukku! Meskipun aku tahu jaman sekarang hal berharga itu tidak lagi ternilai,” ungkap Alice tidak ingin mengalah.
“Ya aku tahu maka dari itu tolong jangan meminta hal konyol. Jika kamu mau uang maka aku akan memberikannya berapapun yang kamu mau,” ucap Alvero yang terus memegang pendiriannya.
“Aku nggak mau tahu kalau tidak maka sesuatu yang buruk yang bahkan tidak pernah kamu duga akan menimpa dirimu!” ancam Alice dengan murka.
‘Bagaiamana bisa aku tinggal dengannya? Bahkan Bibi Karin juga pasti akan marah denganku,' batin Alvero.
“Cepat jawab, Alvero! Jangan membuang-buang waktuku!” bentak Alice.
“Baiklah aku akan menerimamu. Jadi sekarang lebih baik turun dari dalam mobilku,” pinta Alvero baik-baik.
“Aku tidak mau turun! Lagipula temanku sudah pasti tidak lagi menungguku jadi ku putuskan hari ini juga supaya secepat mungkin kita langsung pergi ke rumahku dan kita ambil semua barang-barang ku,” perintah Alice layaknya Bos besar.
‘Alvero, langkah kecil sudah datang padamu. Aku hanya tinggal menunggu waktu mengalahkan dirimu meskipun kamu sudah menganiaya orang lain yang seperti diriku. Sedikit demi sedikit hartamu akan ku rampas dan kamu akan menderita karena telah merusak mahkota milikku tanpa izin! Lihat saja nanti,’ batin Alice.
”Arrgh! Okay Fine! Kamu bisa tinggal di tempatku,” sahut Alvero dengan terpaksa.
‘Wanita itu benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Sekarang permintaan konyol terus nanti apalagi? Haduh ... Alasan apa kalau sampai Bibi Karin nanya terus aduin ke nyokap. Mati gua,’ batin Alvero cemas.
Raut wajah Alice seketika berubah ceria. Ia senang rencananya pertamanya berhasil.
__ADS_1
“Gitu dong! Udah ah yuk ke rumahku ambil barang-barang terus pindah deh!” ajak Alice dengan ceria.
“Iya-iya tapi, lihat tuh pakaian kamu nggak malu emangnya?” tanya Alvero yang sedang memandanginya.