
H A P P Y R E A D I N G
“ Loh-loh padahal baru pulang udah mau pergi lagi.”
“ Suka-suka akulah emang kamu siapa? Istri? Bukan juga 'kan?”
“ Iya sekarang bukan tapi, nanti juga bakalan jadi istri,” ucap Alice.
“ Ya udah berarti nanti bukan sekarang. Dah ah aku mau pergi dulu,” pamit Alvero yang langsung pergi meskipun wajah cemberut terlihat dari raut wajahnya Alice.
Dengan bergegas Alvero pergi, ia ingin menemui sang adik meskipun dirinya belum dapat percaya dengan semua kenyataan yang telah terjadi. Tiba di dalam mobil, Alvero langsung mencari nomor Claudia, ia berniat menghubunginya. Namun, sangat di sayangkan orang yang ia butuhkan justru tidak menjawab panggilannya.
“ Loh? Kok Claudia enggak jawab ya? Apa mungkin terjadi sesuatu. Mana aku enggak tahu lagi dimana dia tinggal. Ah! Harus gimana dong? Sial!”
Alvero kesal setengah mati. Namun, ia terus mencoba menghubunginya lagi sampai berkali-kali hingga kesepuluh kalinya baru Claudia akhirnya menjawab.
“ Hello ... ini dengan siapa?" tanya Claudia dari balik ponsel.
“ Masa sih udah enggak kenal? Yang dulu sempat ketemu enggak sengaja pas keserempet mobil terus kita duduk di pantai terus kamu pesan makanan banyak di restoran bahkan sengaja bawa pulang,” sahut Alvero dengan menjelaskan memori pertemuan mereka.
“ Eee ... Oh! Alvero yah? Maaf, kirain tadi siapa soalnya nomor masuk sih. Tumben nih teleponnya banyak banget, ada apa?” sahut Claudia.
“ Anu, sibuk enggak? Kalau enggak kita ketemuan yuk! Aku pengen ngobrol berdua sama kamu,” ajak Alvero.
“ Ketemuan? Boleh sih soalnya aku juga enggak sibuk-sibuk banget tapi, gimana kalau nanti aja? Soalnya aku lagi di rumah sakit nih.”
“ Di rumah sakit? Loh? Emangnya siapa yang sakit? Duh ... Claudia, kenapa kamu enggak bilang sama aku? Kamu sakit ya? Sakit kenapa? Kalau gitu biar aku langsung kesana aja ya.” Alvero cemas.
“ Eh! Jangan! Bukan aku yang sakit tapi, peliharaan ku. Oh ya kenapa tiba-tiba jadi posesif gitu?” tanya Claudia heran.
“ Eh! Enggak apa-apa cuma refleks kaget aja. Oh ya udah kalau gitu kita ketemuan sekarang yuk?! Aku jemput juga boleh.”
__ADS_1
“ Oh baiklah jumput aja nanti aku kirimkan lokasi, soalnya juga enggak bawa mobil sih.”
“ Siap! Adek manis!” sahut Alvero.
“ Adek manis?” Claudia heran.
“ Anu, ah udahlah aku jalan dulu ya,” ucap Alvero yang langsung menarik ponselnya. Ia langsung menancap gas untuk bertemu dengan sang adik.
...----------------...
...----------------...
(Rumah sakit)
Di rumah sakit Claudia bergegas memasukkan perlengkapan make-up kedalam tasnya sebab, ia selalu membawa perlengkapan make-up sekedar untuk berjaga-jaga jika diperlukan. Steven, Kelvin, dan Viora. Terheran melihat Claudia menerima telepon sedikit menjauh meskipun mereka masih bisa mendengarnya. Saat Claudia kembali kearah teman-temannya, Steven langsung mengambil paksa ponsel Claudia.
Claudia terkejut. “Eh! Mau ngapain sama ponselku?”
“ Yah emang bener. kamu 'kan peliharaan ku, namanya aja buaya. Udah ah jangan sok-sok jadi Tuan posesif. Balikan ponselku!” ketus Claudia.
“ Aku buaya? Eh! Jangan salah buaya juga betina! Bentar aku periksa dulu ponsel kamu tadikan habis teleponan,” sahur Steven yang tidak ingin kalah.
Claudia kesal mendengar sahutan dari Steven. Berbeda dengan Steven justru mencoba mengecek isi ponsel Claudia bahkan ia memeriksa satu-persatu panggilan yang baru masuk. Hingga akhirnya ia menemukan nomor masuk tanpa nama.
“ Kamu abis telepon siapa sih? Nomornya enggak ada nama lagi. Lagi coba selingkuh ya?” Steven curiga.
“ Ya telepon oranglah masa aku telepon buaya. Emangnya kaya kamu suka masuk lubang buaya!” ketus Claudia sambil melipatkan kedua tangannya.
Kelvin bersama Viora hanya menjadi penonton bahkan mereka yang sedang membuat toktok sampai geleng-geleng kepala melihat kedua pasangan yang sibuk bertengkar di depannya.
Steven menarik nafasnya memburu. “Kita bilang A dia jawab B. Begitu aja terus mana ada yang bakalan kelar. Ball, jawab dulu tadi lagi telepon sama siapa?”
__ADS_1
“ Duh ... Baly, kamu kepo banget sih! Aku tadi telepon temanku namanya Alvero. Dia ajak ketemuan bentar lagi dia bakalan jemput kesini. Sini 'kan ponselku. Nanti dia datang aku enggak tahu lagi.”
Steven, Kelvin, dan Viora. Sama-sama tercengang mendengar nama Alvero yang disebutkan oleh Claudia. Bahkan pasangan pasutri yang sedang sibuk joget-joget toktok tiba-tiba bergegas mendekati Claudia.
“ Kamu enggak lagi salah sebutin namakan?” tanya Viora kebingungan.
“ Enggak! Namanya emang Alvero kok, emangnya kenapa, kalian?” Claudia penasaran.
“ Ball, kamu teleponan sama Alvero yang mana? Dia kerja apa? Harusnya itu kamu kasih tahu aku dulu dia mau jemput kamu kesini. Mentang-mentang aku lagi sakit jadi kamu enggak ngomong apa-apa lagi,” kesal Steven sembari mengambil ponsel miliknya.
“ Ngapain aku kasih tahu kamu? Kamu yang main sama perempuan lain aja aku bahkan enggak tahu. Lagian aku sama Alvero cuma temen kok, kami enggak sengaja ketemu. Lagian nih ya kamu itu masih dalam tahap hukuman, aku bahkan belum bilang kalau hukuman kamu udah kelar,” sahut Claudia.
“ Ball, kamu jahat banget!” geram Steven, sambil mengecek nomor Alvero yang berada di ponselnya.
“ Kamu bahkan lebih jahat dari aku,” sahut Claudia yang tidak ingin kalah.
Steven tidak menjawab tapi, dia justru fokus dengan dua ponsel yang berada di tangannya. Saat nama Alvero sedang dilacak betapa terkejutnya dia menyadari bahwa orang yang menghubungi kekasihnya adalah musuh terbesarnya. Bahkan ketegangan di wajah Steven membuat pasangan pasutri cemas.
“ Steve, Lo kenapa? Apa ada sesuatu yang Lo temuin dalam ponsel itu?" tanya Kelvin.
“ Ya, dia Alvero. Alvero musuh dari kita semua. Gue enggak habis pikir darimana dia dapat kenalan dengan Claudia,” sahur Steven cemas.
“ Astaga! Claudia dalam bahaya, ternyata dia masih belum menjauh untuk menyakiti kita lagi. Claudia, aku minta maaf terlebih dahulu, tolong jangan bertemu dengan Alvero. Kau tahu? Dia pria kejam! Bahkan kami semua sangat mengenalnya,” timpal Viora.
Claudia terlihat bingung. “Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Bagaimana bisa kalian memintaku untuk tidak bertemu dengannya? Apa ini? Yang aku tahu dia orang baik yang telah menemaniku saat aku sedang menangis bahkan dia membelikan semua makanan untukku.”
“ Ball, yang Viora katakan semuanya itu benar. Aku tidak melarang mu untuk jangan berteman dengan pria asalkan berteman dalam hal wajar tapi, jangan menjadikan Alvero sebagai temanmu. Dia tidak baik untuk kita semua, dia adalah musuh besar kita. Kau harus mendengarkan ku,” ucap Steven mencoba menasehati.
...----------------...
Hallo guys ... Tanggal 18 nanti akan ada novel baru terbit judulnya. Cintai aku tuan muda & Gejolak Manja tuan muda. Nah sama-sama Tuan Muda tapi, berbeda karakter guys ... Ah sambilan nunggu up yuk baca kisah Aland bersama Arabella.
__ADS_1