Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
11~S2 Kekacauan part 2 dan pelakor terhormat


__ADS_3

H A P P Y R E A D I N G


Mata Claudia berkaca-kaca saat mendengar Steven berbicara seperti itu. Sebab dia sudah sangat menyayangi Steven melebihi dirinya sendiri walaupun mereka tidak terikat hubungan darah. Lalu Claudia berlari ingin memeluk Steven, tapi dengan cepat Pria itu menahan dan mendorong dirinya sampai ia terjatuh.


Tak mengenal rasa sakit sedikitpun walau Claudia terjatuh karena kakaknya. Ia lalu kembali mendekati Steven.


“Ampuni aku, kakak.” Claudia bersujud di hadapan Steven seraya menyentuh kakinya.


“Gua ngga butuh maaf Lo, karena semua itu bukan buat gua tapi Lo ternyata diam-diam menusuk orang lain dari belakang. Apa Lo nggak punya otak sampai segitunya gua percaya sama Lo terus sekarang semuanya Lo anggap remeh. Pikir dong Claudia, jangan cuma pentingkan nafsu Lo aja, tapi orang lain yang justru mereka itu adalah sahabat kita.” Steven menceramahi Claudia yang sedang bersujud.


‘Kenapa kakak begitu peduli dengan orang lain? Justru adiknya adalah aku bukan mereka. Seharusnya aku bisa mengendalikan kakak, ya aku harus coba,’ batin Claudia.


Perlahan Claudia bangun, ia tidak suka terus-menerus di salahkan oleh kakaknya.


“Cukup kak, cukup! Sejak tadi aku terus mencoba untuk mengalah sampai harus bersujud di hadapanmu. Tapi apa, kakak justru tidak membelaku bahkan mementingkan orang lain padahal adik kakak itu aku bukan Zoya! Apa karena kakak mencintai dia lalu dengan mudahnya ingin mengakhiri hubungan adik-kakak ini, begitu?” Dengan rasa percaya diri Claudia membalas ucapan kakaknya.


Plak! Tamparan keras mendarat di pipi Claudia. Dengan matanya menangis ia melotot melihat kearah Steven yang sekarang berani menjatuhkan tangan ke atas tubuhnya.


“Oh jadi begitu, hanya mendengar nama Zoya, kakak bisa-bisanya menamparku? Apa sih hebatnya wanita itu sampai dia begitu di sanjung oleh Pria lain. Bahkan orang itu adalah kakakku. Ayo kenapa berhenti?! Ayo tampar lagi, inikan yang kakak inginkan agar aku terus tersakiti?!” geram Claudia tanpa lagi merasa takut.


“Hentikan semua ini Claudia! Aku muak dengan orang sepertimu. Ku pikir kamu adalah adikku yang bisa menuruti kemauanku. Lagipula semua ini demi kamu sendiri bukan untukku. Aku sanggup membiayai semua keperluan mu sampai nanti setelah kamu menikah. Hanya satu tujuanku agar kamu bisa bahagia dan menjadi orang baik yang selalu bisa di andalkan oleh orang lain. Bukan menjadi bejat seperti ini.” Tak tanggung-tanggung Steven mengatakan semuanya.


“Aku seperti ini karena kakak Elie dan juga mereka telah merebut kebahagiaanku dan Elie. Lihat sekarang kakakku yang kedua sudah masuk rumah sakit jiwa lalu kakak di hadapanku ini malah membenciku. Semua itu salah siapa jika bukan kesalahan mereka yang telah menghasut pikiranmu untuk membenciku! Aku berjanji untuk hidup dan mati ku, selamanya aku akan membenci mereka yang telah membuat hidupku hancur,” ancam Claudia dengan sumpahnya yang begitu sadis.


“Baik jika itu maumu! Aku juga akan berjanji demi hidup dan mati ku. Selamanya akan selalu menentang keras semua rencana busuk mu. Ingat baik-baik Claudia, dan sekarang kita bukan lagi saudara. Terimakasih untuk semua ini. Selama bertahun-tahun kamu telah menjadi adikku dan sekarang anggap saja kita tidak pernah kenal,” ungkap Steven lalu beranjak pergi menuju ke kamarnya.


Claudia mengikuti kemana yang Steven pergi sembari mengatakan. “Kak, tolong tarik semua perkataan mu. Kita masih bisa berbaikan, aku sangat sulit untuk menjauh darimu. Ku mohon ....”


Steven tidak peduli, ia terus berjalan kedepan tanpa menoleh kebelakang. Claudia terus berusaha mengikuti sampai akhirnya kakaknya berhenti di depan lemari pakaian. Lalu Claudia langsung memeluk dari belakang.


“Kak, ku mohon jangan pergi ... Aku berjanji akan menjadi adik yang baik untukmu, jadi tolong urungkan semua keinginanmu ini,” ucap Claudia yang masih memeluk Steven.


Steven hanya diam mematung tanpa berniat untuk membalas pelukan adiknya.


“Keinginanku sudah bulat Claudia, dan tidak bisa di ganggu gugat. Untuk apa kamu hanya baik denganku tapi dengan sahabat sendiri kamu justru menusuknya dari belakang. Sebab jika kamu berbuat ulah sasarannya adalah aku yang akan di salahkan atas tidak becus mengurus adik perempuan ku. Jadi lepaskan pelukanmu agar aku bisa pergi dari sini. Semuanya sudah berakhir Claudia, dan nanti aku akan meninggalkan uang untukmu. Semoga dengan uang itu kamu bisa melanjutkan hidup di sini,” ungkap Steven seraya berusaha melepaskan pelukan.


Claudia akhirnya terduduk sambil menangis sembari melihat kearah Steven yang sedang mengemasi semua barang-barang miliknya. Sudah banyak cara ia lakukan agar bisa menghentikan kakaknya itu namun sia-sia sebab kakaknya sangat kuat dengan pendiriannya sendiri.


Steven menangis dalam diam tanpa ingin Claudia tahu. Meskipun mulutnya berkata ingin pergi. Namun, hatinya berkata tidak, tapi bagaimana lagi itu yang harus ia lakukan agar bisa membuat Claudia sadar dengan ulah dan perbuatan kejahatan yang ia perbuat. Meskipun dari jarak jauh ia berusaha melindungi adiknya.


‘Maafkan aku, Claudia. Jika kepergian ku membuatmu menangis seperti sekarang maka aku akan kembali dengan alasan yang lain. Tapi, berjanjilah satu hal untuk dirimu, untuk bisa menjadi orang baik tanpa adanya dendam untuk orang lain. Aku akan selalu menyayangimu dan selalu akan menjagamu walaupun kita sudah tidak lagi tinggal bersama. Maafkan aku,’ batin Steven.


Steven mencoba menghapus air matanya. Ia akhirnya selesai mengemasi semua barang-barang miliknya. Lalu Steven beranjak pergi keluar dari kamar. Begitupun dengan Claudia, ia mengikuti dari belakang.


Saat berada di pintu apartemen, Steven menghentikan langkahnya. Claudia paham dengan maksud kakaknya, ia lalu kembali memeluk Steven dengan begitu erat dari belakang. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan Steven juga membalas pelukan adiknya untuk yang terakhir kalinya.

__ADS_1


‘Ini kesempatan untukku agar membuat kakak kembali mengasihi diriku,’ batin Claudia.


“Kakak, ku mohon urungkan semua keputusanmu ini. Aku tahu kakak masih ingin bersamaku jadi tolong agar kita bisa kembali berbaikan. Kakak tahu kalau kita di sini tidak ada siapa-siapa jadi kalau kakak harus pergi berarti tidak ada orang lain yang akan peduli denganku. Bisa-bisa aku menjadi seperti Elie, yang hilang akal dan atau lebih parah seperti mengakhiri hidupku,” ucap Claudia sembari menangis di dalam pelukan Steven.


‘Ya Tuhan, bagaimana jika benar seperti yang Claudia katakan? Bagaimana jika dia benar-benar akan melakukan hal bodoh? Apa ini alasan agar aku tidak pergi? Jika benar maka aku tidak akan pergi,’ batin Steven yang sudah luluh dengan adiknya.


“Baiklah aku tidak akan pergi,” sahut Steven pasrah.


“Benarkah kakak? Aku berjanji akan selalu baik untukmu dan juga untuk sahabat kita, sekalipun aku tahu diriku tidak akan bahagia. Tapi tenanglah aku akan mencari sosok Pria seperti dirimu, kak. Agar aku selalu bisa terlindungi dan merasa di sayangi,” sahut Claudia yang masih memeluk Steven.


“Aku tidak butuh janjimu, Claudia. Tapi, tindakan baikmu. Aku tidak akan melarang mu lagi, apapun yang ingin kamu lakukan terserah. Namun, satu hal jangan sampai libatkan aku kedalam sifat buruk mu,” ucap Steven seraya melepaskan pelukannya.


“Baiklah kakak, aku akan membuatmu bahagia,” janji Claudia lalu mencium pipi Steven.


‘Walaupun aku hanya berpura-pura kak. Tapi tenanglah untukmu aku akan selalu menjadi adik yang baik,’ batin Claudia.


“Sudah-sudah jangan kiss gua lagi, nanti bisa-bisa Lo cinta sama kakak sendiri. Mending nih ambil beresin barang-barang gua yah adik cengeng,” ucap Steven meledek Claudia seraya mengacak-acak rambutnya coklatnya.


”Huuf giliran gini suruh gua!” pekik Claudia seraya tersenyum.


Itulah yang mereka inginkan menjadi satu dalam kebahagiaan. Setiap ucapan yang keluar aku dan kamu, bagi mereka itu seperti orang asing yang tidak seperti biasanya. Kecuali ucapan gua dan Lo adalah kedekatan tersendiri bagi adik-kakak itu walaupun mereka sering meledek satu sama lain.


Cinta itu buta, siapapun akan bisa jatuh cinta. Dari teman jadi cinta, dari sahabat jadi cinta, dari sepupu jadi cinta. Apalagi tidak ada ikatan apapun hanya sebatas adik-kakak tanpa adanya hubungan darah. Tidak ada yang tahu cinta mungkin saja akan tumbuh di antara mereka.


*** ----------------------------------------------***


(Kediaman Reiner)


Sebuah kediaman yang sedang begitu bahagianya melihat Kaylee. Si kakak paling tua itu sudah bisa menyebutkan dada untuk sebutan daddy-nya, dan untuk moci ialah sebutan untuk Mommy-nya.


Kaylee juga sudah bisa berdiri walaupun tidak terlalu lama, sedangkan Kayrren hanya bisa berguling-guling dan sesekali mencoba berdiri walaupun selalu di bantu oleh ibunya.


“Bee, lihatlah Kaylee dan Kayrren telah tumbuh dengan begitu pintar, mereka akan menjadi anak-anak cerdas,” ungkap Zoya yang sibuk melihat perkembangan anaknya.


“Benar sayang, mereka mewarisi ketampanan kita dan kecantikan mu. Oh ya selama setahun ini aku belum mengetahui kabar tentang Kelvin dan Viora, apa mungkin mereka sudah memiliki anak? Aku merasa mereka seakan lenyap dari bumi ini.” Reiner sampai kebingungan memikirkannya.


‘Aku sebenarnya tahu bagaimana kabar Kelvin dan Viora, tapi Bee, apa aku harus mengatakan ini?’ batin Zoya kebingungan.


“Sayang, apa kamu mengetahui satu hal? Ayolah katakan, mungkin saja mereka sudah memiliki anak dan kita tidak tahu. Aku hanya ingin jika di usia anak-anak kita besar nanti mereka akan kita jodohkan agar tali persaudaraan ini tidak putus begitu saja,” ungkap Reiner jelas.


“Bee, dengarkan aku. Kita tidak bisa menjodohkan siapa dengan siapa, sebab Kelvin dan Viora belum memiliki anak. Aku tahu semuanya, Kelvin sempat cerita kalau istrinya memilih untuk melanjutkan pendidikannya dan dia sendiri sibuk dengan pekerjaan,” ungkap Zoya dengan fakta yang baru.


“Ya ampun! Hidup pernikahan mereka ternyata lebih rumit daripada kita dulu, sayang,” ucap Reiner seraya tersenyum.


“Bee, sudah jangan mengingat lagi masa lalu. Kita doakan saja pernikahan mereka baik-baik saja.”

__ADS_1


Saat mereka sedang berbincang-bincang tiba-tiba terdengar bunyi bel dari luar. Zoya langsung bangun dan berjalan keluar melihat siapa tamu yang datang. Saat ia hampir sampai di depan pintu, ternyata Steven bersama dengan Claudia pergi ke rumah mereka.


“Hay Steven, Claudia. Ayo silahkan masuk.”


“Reiner di mana, Zoya?” tanya Claudia celingak-celinguk.


“Oh ada di dalam bareng Kaylee dan Kayrren,” ucap Zoya seraya duduk.


Steven memandang Claudia begitu lama saat mendengar ia menanyakan Reiner.


‘Benar-benar Claudia ini, baru datang bukannya basa-basi nanya kabar Kaylee dan Kayrren, malahan tanya Reiner. Dasar,’ batin Steven.


Mereka bertiga langsung menuju ke ruangan bayi, sebab Steven sangat ingin bertemu dengan kedua bayi kembar tersebut. Namun, berbeda dengan Claudia, ia hanya berdiam diri tanpa mengajak bayi kembar bermain bersama. Tingkah Claudia begitu aneh, hingga membuat Zoya memicingkan mata memandangnya.


‘Claudia adalah adiknya Elie, apa mungkin dia juga ikut dalam kebusukan Elie? Tingkahnya saat ini juga begitu aneh. Aku harus hati-hati dengan wanita ini. Meskipun dia terlihat baik bahkan menjadi temanku, tapi setelah mengetahui jika dia adalah salah satu orang dari wanita yang membuatku menderita. Aku juga harus waspada dengannya,’ batin Zoya yang sudah mulai curiga.


***--------------------------------------------***


Reiner berjalan mendekati Zoya. Ia meminta izin untuk pamit mengurus sesuatu hal. Reiner langsung pergi meninggalkan mereka di sana. Namun, sekitar lima menit kemudian Claudia pun meminta izin untuk keluar sebentar. Hingga akhirnya tinggallah Zoya bersama dengan si kembar dan juga Steven.


Merasa aneh dengan tingkahnya Claudia. Steven pun mendekati Zoya lalu menarik tangannya.


”Ada apa, Steven?” tanya Zoya penasaran.


“Begini, aku tidak ingin membohongimu lagi jadi sebaiknya kita selidiki kemana Claudia pergi, ayo cepat,” ajak Steven.


“Sebentar, kita harus kemana? Dan selidiki untuk apa?” Zoya masih belum mengerti.


Steven menepuk keningnya sendiri. “Sekarang bukan waktunya aku menceritakan semuanya, sebaiknya kita pergi diam-diam mengikuti kemana Claudia pergi.” Tanpa menunggu Zoya menjawab, Steven langsung memaksa pergi.


Kayrren dan Kaylee tinggal bersama pengasuh yang memang sudah ada di sana.


‘Apa yang sebenarnya ingin di perlihatkan oleh Steven? Kenapa dia begitu curiga sampai harus mengajakku menyelidiki Claudia? Mungkinkah benar seperti kecurigaan ku, kalau wanita itu memang tidak cocok untuk jadi temanku,’ batin Zoya yang sedang berjalan di belakang.


Mereka berdua berjalan seperti maling. Mengendap-endap menuju ketempat di mana Claudia berada. Wanita itu dengan pedenya mengikuti kemana langkah Reiner pergi tanpa adanya rasa takut meskipun sesekali ia menoleh kebelakang.


Reiner sedang mengambil sebuah proposal Perusahaan di ruangan kerjanya. Namun sama halnya dengan Claudia, dirinya sudah masuk kedalam ruangan tersebut tanpa di sadari oleh Reiner.


Hanya melihat beberapa kali proposal tersebut lalu ia mengambilnya dan berniat untuk kembali ketempat Zoya dan juga yang lainnya berada. Pada saat ia menoleh Reiner dengan kaget melihat jika seseorang yang ia kenal sudah ada di belakangnya. Ia pun sempat kebingungan kenapa Claudia begitu lancangnya masuk ke ruangan khusus miliknya, padahal istrinya saja jika masuk kesana selalu meminta izin terlebih dahulu.


“Claudia? Kok kamu ada di sini?” tanya Reiner kebingungan.


**------**


Cinta mampu membuatku gila akan cinta yang seharusnya tidak untuk kumiliki. Tapi, itulah cinta, tidak memandang siapapun dia, meskipun mencintai suami teman sendiri. Maka siapa saja jika sudah jatuh pada asmara, hati sangat sulit untuk di lupa. (Claudia - Reiner)

__ADS_1


__ADS_2