Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
7~ S3 Istriku. Gadis Kecilku Pemakaman - Kemarahan Kelvin


__ADS_3

H A P P Y R E A D I N G


(Kediaman Bunda Kelvin)


Ejekan serta ledekan dari pria-pria mampu membuat wajah para wanita tersenyum bahagia. Zoya, Viora, dan Vanny. Sibuk memperhatikan kearah suami mereka.


‘Aku akhirnya bisa bertemu dengan mereka lagi tapi, kenapa mereka terlihat tidak akrab yah? Mungkinkah kalau hubungan antara mereka ada sesuatu yang terjadi? Sebaiknya aku harus mengirimkan pesan pada Kelvin,’ batin Zoya seraya bergegas mengirimkan WhatsApp.


-Vin, cepat jawab langsung pada intinya. Sekarang katakan apakah hubungan kalian benar baik-baik saja? Maafkan aku begitu lancang tapi, aku penasaran sampai saat ini kalian belum memiliki bayi. Aku tahu kamu memang berusaha berbohong padaku- Mengirim WhatsApp kepada Kelvin.


Kelvin pun melihat nama yang tertera di sana. Hingga mereka membalaskan pesan berkali-kali. Dan ia memberitahu Zoya tentang hubungannya sekilas saja. Ia juga meminta jika bisa Zoya membuka mata istrinya serta tentang kejadian masa lalu yang pernah membuat Alvero sampai di celaka oleh suaminya.


Begitupun Zoya, ia juga melihat suaminya. Namun, sesekali ia memperhatikan wajah Viora yang sedari tadi juga memberikan tatapan penuh cinta kepada Kelvin. Dengan perlahan Zoya berpindah duduknya agar lebih dekat apalagi ia belum berbicara apapun dengan istri dari sahabatnya itu.


“Viora,” sapa Zoya seraya tersenyum.


“Mmm ya, Zoya,” respon Viora sangat baik.


“Ke sana dulu yuk! Yah kita ngobrol-ngobrol berdua,” ajak Zoya.


Viora pun mengiyakan ajakannya. Mereka duduk di teras belakang rumah. Udara sejuk mampu membuat siapapun menenangkan pikirannya di sana.


Zoya pun menarik nafasnya perlahan dan hembuskan. “Maaf kalau aku lancang menanyakan tentang hubunganmu tapi, sebagai sahabat yang baik aku hanya ingin kalian bisa bahagia.”


“Terimakasih, Zoe. Aku juga ingin minta maaf waktu itu aku pernah membentak mu saat berada di rumah sakit sewaktu Alvero terluka. Saat itu aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih jadi aku melakukan kesalahan dan sebagai balasannya kita akan sering bertukar kabar kembali,” respon Viora begitu baik.


“Oh ya tidak apa-apa. Lagipula aku juga sudah melupakan kejadian itu. Sudahlah aku tidak mungkin menyimpan dendam dengan temanku yang satu ini,” sahut Zoya seraya tersenyum.


Keduanya pun tertawa bersama. Kesalahpahaman mereka dulu akhirnya selesai dan kembali menjadi teman yang baik. Hingga akhirnya Zoya tidak perlu lagi merasa segan jika ingin bertanya apapun.


“Mmm ... Zoya, lalu sekarang apa kamu masih berkerja?” tanya Viora memulai pembicaraan seperti teman kembali.


“Tidak, aku sekarang hanya fokus pada si kembar. Ya rasanya juga bosan tapi ya mau bagaimana lagi aku sudah menjadi ibu rumah tangga walaupun jika aku males di rumah aku bisa ke kantor suamiku. Reiner sudah tidak memberiku izin bekerja. Lalu Viora, apa kamu sekarang masih menjadi model?” sahut Zoya seraya bertanya kembali.


“Model? Tidak, aku sudah lama tidak bekerja lagi di sana. Awal mula pernikahan aku memilih untuk melanjutkan pendidikan yang sempat tertunda. Tapi sekarang ... Aku baru sehari melamar kerja sebagai sekretaris Kelvin. Aku mohon jangan kaget seperti itu,” ungkap Viora menahan tawanya saat melihat Zoya membelalakkan matanya begitu ia tahu mengenai sekretaris.


“Kamu menjadi sekretarisnya Kelvin?! Wow ada gerangan apa ini?” tanya Zoya dengan respon lebay karena terkejut.


“Ya begitulah, sama denganmu. Aku pikir pasti akan bosan berdiam diri di rumah tanpa melakukan apapun. Jadi, aku pikir lebih baik aku bekerja agar pendidikan ku tidak sia-sia tapi, naasnya Kelvin menjebak ku agar bisa bekerja dengannya. Entahlah Zoya, hari pertama kerja sudah membuatku banyak masalah,” curhat Viora tanpa merasa takut.


Zoya mengerutkan keningnya saat ia mendengar curhatan Viora tentang hari pertama sudah banyak masalah. Ia pun penasaran.


“Bukannya enak ya bekerja bersama dengan suami kita? Seperti aku dulu! Tapi, kenapa malah menjadi masalah, Viora?” tanya Zoya kepo.


“Awalnya aku tidak tahu jika itu adalah perusahaan Kelvin. Ternyata dia memiliki cabang perusahaan lain di sana, sebab itulah aku melamar bekerja dan langsung sekejap di terima. Lalu ada sekretaris pertama Kelvin yang tidak suka denganku, hingga dia mengatakan kalau aku ini masuk ke perusahaan itu dengan cara merayu Bos. Namanya Alice Nathalia, apa kamu kenal?” curhat Viora kembali seraya bertanya.


“Alice Nathalia? Aku tidak kenal. Namanya juga baru aku tahu. Lagipula dulu saat aku menjadi sekretarisnya Kelvin, hanya sebentar karena masa itu aku sedang hamil. Jadi ... kalau dia yang membuat masalah denganmu, apa kamu sudah ceritakan pada Kelvin?” Zoya berpikir dan ia bertanya lagi.


“Belum, aku tidak ingin memberitahukan pada Kelvin yang ada wanita itu bisa di pecat karena ku. Sebab katanya dia sudah bekerja lima tahun di sana. Tapi, mungkin aku akan melawannya dan yah aku akan bilang jika aku adalah istrinya Bos!” tegas Viora seraya tertawa kikuk.


Zoya pun tertawa. Keduanya sama-sama saling curhat. Kebahagiaan yang pernah hilang kini kembali lagi bersatu dengan sahabat baik. Bagi Viora, Zoya sudah seperti kakaknya sendiri meskipun pernah terjadi kesalahpahaman. Namun, sekarang ia masih menganggapnya begitu meskipun bagi Zoya, dia adalah teman baik.


“Baguslah jika begitu memang harus kita lawan. Mmm ... Bagaimana selama kalian menikah, apa Kelvin memperlakukanmu dengan baik?” tanya Zoya yang langsung to the point pada pernikahan.


“Oh ya! Tentu saja. Kelvin adalah orang yang bertanggung jawab dengan semua yang ia lakukan. Aku sudah mengetahuinya dan dia juga selalu menjadi yang terbaik untukku,” sahut Viora yang berkata jujur meskipun pada akhirnya hubungan mereka tidak berjalan mulus.


“Baguslah, aku merasa lega sekarang tapi, maaf sebelumnya jika aku mencampuri masalah rumah tangga kalian. Mmm bolehkah jika aku mengetahui banyak hal lagi?” tanya Zoya untuk meminta izin.


“Tentu saja, Zoya.” Viora menyetujuinya.


‘Zoya pasti akan menceritakan semuanya pada Kelvin. Sebaiknya aku harus hati-hati menjawabnya,’ batin Viora.


“Apa kamu masih mencintai Kelvin?” tanya Zoya.


“Mmm ya, aku memang masih mencintai Kelvin. Jauh sebelum ia mencintaiku tapi, aku takut jika dia akan menyakitiku lagi,” sahut Viora dengan cemas.


Zoya memengang bahu Viora, ia mengerti dengan kekhawatiran yang gadis itu rasakan. “Percayalah, Kelvin pasti tidak akan menyakitimu lagi tapi, sebaliknya kamu yang sudah menyakiti dia saat ini. Aku tahu Viora bagaimana hubunganmu dengan Alvero. Kamu pacaran dengan dia 'kan?”


‘Bagaimana Zoya tahu? Apa mungkin Kelvin yang sudah menceritakannya?’ batin Viora.


“A-aku tidak ada hubungan apapun dengan Alvero, hanya berteman itu saja tidak lebih. Zoya, darimana kamu tahu semuanya itu? Apa Kelvin sudah menceritakannya?” jawab Viora lalu bertanya kembali.


“Ya benar Kelvin sudah cerita. Dengarkan aku, Viora. Aku tidak punya hak untuk terlalu jauh terlibat dalam rumah tangga kalian tapi, aku sebagai sahabat tidak mungkin berdiam diri apalagi Kelvin selalu ada untukku dalam kesusahan itu sebabnya saranku sebelum semuanya terlambat kamu masih bisa memperbaiki segalanya, Viora. Jangan menunggu sampai Kelvin membencimu. Jika benci menjadi cinta, maka sebaliknya cinta juga pasti bisa menjadi benci. Baiklah sepertinya aku harus pergi, tidak baik kita di sini terlalu lama yang ada mereka justru curiga, kalau begitu aku pergi dulu,” saran Zoya seraya meninggalkan Viora sendirian.


Tanpa menunggu Viora menjawab Zoya sudah meninggalkan dirinya yang masih duduk terdiam.


Zoya sedikit kesal sebab Viora sudah menyakiti sahabatnya. Merasa kasian dengan Kelvin memiliki seorang istri tapi, seperti tidak memiliki istri bahkan seperti kisahnya dulu menikahi orang yang sudah memiliki kekasih. Itu sebabnya dia sudah tidak memiliki rasa simpati dengan gadis itu walaupun ia hanya mencoba untuk berbicara sedikit tapi sebetulnya hatinya juga sudah membenci Viora.


Viora masih terdiam meskipun Zoya sudah meninggalkan dirinya. Ia melamun memikirkan apa yang sudah di katakan oleh Zoya.


“Aku tahu aku sudah salah di dalam hubungan ini tapi, aku harus melakukan apa? Haruskah aku memaafkan apa yang sudah terjadi antara Kelvin bersama dengan Elie? Mereka telah saling menyatu dan itu sudah terjadi berkali-kali. Apalagi di kediaman ini semuanya mereka mulai, saat aku melihat tangga, aku teringat aku pernah mendengar suara teriakan desahan dari Elie. Jika aku mengingat ini rasanya aku ingin terus membalaskan rasa sakit hatiku ini,” gumam Viora lalu ia menunduk hingga ia mengeluarkan air mata.


Viora terus menangisi apa yang sudah terjadi. Ia terus saja mengingat ucapan Zoya. Rasanya begitu sakit sangat sakit! Tanpa sepengetahuannya Kelvin sudah ada di belakangnya dan ia juga mendengar apa yang telah Viora ucapkan.


Saat Zoya pergi meninggalkan Viora. Ia sempat berbicara dengan Kelvin lalu Zoya pun memberitahu jika istrinya berada di halaman belakang. Itulah sebabnya sekarang Kelvin ada di tempat itu.


Kelvin menatap gadis kecil yang sudah menjadi istrinya. Hatinya sakit saat mendengar bahwa ucapan Viora yang belum bisa sepenuhnya memaafkan dirinya. Ia lalu mencoba mendekat meskipun istrinya masih menangis.


Dengan cepat Viora menghapuskan air matanya, ia tidak ingin Kelvin melihat dirinya menangis. Lalu mencoba tersenyum palsu dan ia pun bertanya. “Evin, kok tahu aku di sini?”


“Ah itu, tadi ngga sengaja ketemu Zoya, terus dia bilang kamu di sini. Ya makanya aku kesini. Lagian ngapain sih di sini sendirian? Habis nangis ya? Zoya cerita apa emangnya?” tanya Kelvin terus-menerus.

__ADS_1


“Ti-tidak! Siapa yang nangis? Mataku cuma kelilipan kok,” sahut Viora berbohong.


Kelvin duduk di samping istrinya lalu ia menghapuskan sisa air mata dengan tangannya sendiri. Ia tahu apa yang sedang di alami oleh Viora cukup berat beban di dalam hatinya yang harus ia hadapi.


“Sayang, bagaimana kalau kita ke suatu tempat? Kamu harus mau karena aku tidak ingin ada bantahan apapun. Ayo sebaiknya kita langsung pergi supaya jangan keburu malam,” ajak Kelvin dengan memaksanya.


“Tapi kita akan kemana, Evin?” tanya Viora kebingungan.


“Sudahlah turuti saja, gadis kecil.”


Kelvin menggenggam tangan istrinya. Ia ingin membuat pikiran Viora lebih tenang. Karena tidak membawa mobil alhasil Kelvin meminta mobil bundanya meskipun ia mengatakan alasan terlebih dahulu.


“Kok sudah mau pergi, Kelvin? Baru juga kalian datang, ayo kita makan dulu,” ajak Bunda seraya tidak ingin anaknya pergi.


“Bunda, hanya sebentar. Aku hanya ingin memperlihatkan sesuatu pada istriku ini,” sahut Kelvin seraya mengambil kunci mobil dan berpamitan dengan ibunya.


“Ya sudah, kalian hati-hati ya!”


Kelvin bersama Viora mengangguk. Lalu mereka beranjak pergi dari sana. Viora masih penasaran kemana ia akan di bawa.


“Evin, kita akan kemana?” tanya Viora kebingungan.


“Nanti kamu akan tahu sendiri,” sahut Kelvin yang tetap tidak ingin menjawab.


Kelvin terus melajukan mobilnya dengan sedikit pelan. Ia lalu berhenti di depan toko bunga. Lalu Kelvin pun turun tanpa mengajak Viora. Sekitar sepuluh menit kemudian Kelvin pun keluar dengan membawa seikat bunga. Lalu ia kembali masuk kedalam mobilnya.


Viora sangat heran melihat apa yang Kelvin bawakan. “Bunga? Tapi ... bukannya bunga ini untuk berziarah ke pemakaman? Memangnya kita akan ke kuburan siapa, Evin?”


Kelvin tidak menjawab ia terus dengan niatnya berjalan kedepan seraya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hingga akhirnya mereka berhenti di tempat pemakaman.


“Ayo turun,” ajak Kelvin seraya membuka mobil untuk Viora turun.


“Untuk apa kita kesini, Evin?” tanya Viora yang masih membutuhkan jawaban.


“Sudahlah nanti kamu akan tahu sendiri, sayang. Hati-hati jalannya sini genggam tanganku,” ucap Kelvin dengan lemah lembut.


Kelvin pun berjalan kedepan. Ia juga menuntun Viora agar tidak tergelincir. Hingga akhirnya Kelvin menemukan pemakaman seseorang yang pernah menghiasi hidupnya meskipun dengan terpaksa.


Viora sampai tercengang melihat nama seseorang yang sangat ia kenal dan juga ia benci. Ia sungguh tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Rasanya seperti tidak nyata.


“El-Eliezer Belle? Apa ini makamnya Tante Elie? Tapi bagaimana mungkin?” tanya Viora gelagapan.


Kelvin hanya mengangguk mengiyakan. Ia lalu menaruh bunga yang sudah ia siapkan. Lalu Kelvin menunduk seraya menyatukan kedua tangannya dengan mata tertutup sebagai salam.


‘Elie, aku datang padamu. Maafkan aku yang tidak bisa membalaskan cintamu hingga akhirnya kamu menderita. Semoga roh mu bisa tenang dan semoga di kehidupanmu yang selanjutnya apa yang kamu inginkan semoga nanti semua bisa terpenuhi tapi, aku hanya meminta satu hal jadilah orang baik di kehidupanmu yang baru,’ batin Kelvin.


Viora pun melakukan hal yang sama meskipun ia juga membenci Elie tapi ia tidak tega jika melihat keadaan yang sudah seperti ini.


Kelvin menatap Viora yang sedang berdoa untuk Elie. Sampai istrinya selesai pun ia juga masih memandangnya.


“Apa yang kamu doakan, gadis kecil?” tanya Kelvin kepo.


“Rahasia! Yang jelas aku sudah memaafkannya,” sahut Viora seraya memandangi wajah Kelvin dan tersenyum.


Kelvin pun membalas senyuman istrinya. Ia lalu menarik nafas dalam-dalam lalu ia mengingat harus menceritakan sedikit tentang Elie.


“Sayang, apa kamu mau mendengarkan kenapa Elie bisa pergi dari kehidupan kita?" tanya Kelvin yang masih menatap kearah makam Elie.


”Ya tentu saja.”


“Aku tidak mengetahui banyak hal. Hanya sekilas seperti yang telah ku dengar. Dia pergi saat kondisinya begitu buruk. Kurus kering bahkan dia sempat menjadi salah satu pasien di rumah sakit jiwa. Itu semua karena terobsesinya dia akan aku dari itulah mulai penyakitnya timbul hingga akhirnya ia berhubungan dengan banyaknya orang dan menjadikan penyakit mematikan yang menyerang tubuhnya,” cerita Kelvin sekilas pada istrinya.


Viora tercengang mendengar cerita dari suaminya. Ia sampai tidak habis pikir jika ada orang lain yang begitu mencintai suaminya sampai menjadi seperti ini. Bahkan jika di bisa di bilang cinta Elie lebih besar dari cinta yang ia miliki.


“Evin, aku sangat pusing mendengarnya. Bagaimana jika kita langsung pergi dari sini?” tiba-tiba Viora enggan mendengarkan cerita hingga ia beralasan untuk pergi.


“Baiklah jika itu maumu. Mmm Elie, aku dan Viora harus pamit pulang. Kami akan kembali lagi untukmu nanti saat ulangtahun mu. Jika saat ini kamu melihat bahkan mendengar ku, hanya satu pintaku. Doakan aku bahagia bersama orang yang ada di sampingku ini. Tapi tetap, kamu akan ada di dalam hatiku tersimpan sebagai orang yang begitu mencintai diriku. Selamat tinggal Elie. Maaf aku tidak bisa berada di dekatmu saat hari terakhir mu,” ungkapan terakhir Kelvin panjang lebar.


Kelvin sedih atas apa yang telah terjadi dengan Elie. Ia tahu bahwa cintanya begitu besar hingga ia harus berakhir seperti ini. Bahkan wanita yang Kelvin cintai tidak ada yang setulus cinta Elie. Sekarang ia menyadari bahwa betapa besarnya cinta dari wanita itu untuk dirinya hingga tanpa terasa air matanya mengalir dan berusaha ia hapuskan agar Viora tidak melihatnya.


‘Eliezer, andai aku tahu hari terakhir mu pasti hari itu akan ku berikan semua cinta untukmu walaupun terpaksa. Aku mengakui jika aku merindukanmu saat ini. Maafkan aku. Aku tidak bisa memenuhi cintamu, salam sayang dariku, Kelvin,’ batin Kelvin seraya menoleh kebelakang walaupun langkahnya sudah ke depan.


Saat Kelvin merindukan Elie. Ia juga menoleh kebelakang untuk yang terakhir. Namun, saat itu juga bayangan wanita itu terlihat dan sedang terduduk di atas batu nisannya. Elie tersenyum manis kearah Kelvin. Tanpa rasa takut karena wajahnya tidak menyeramkan hanya terlihat pucat. Kelvin pun membalas senyuman itu. Lalu dengan perlahan bayangan itupun menghilang.


‘Aku tahu, bahwa kamu mendengar suara hatiku. Terimakasih Elie, sudah mau tersenyum untuk terakhir kalinya denganku. Maafkan aku dan sebagai gantinya kamu akan selalu ku kenang dalam hatiku dan aku berjanji tidak akan lagi menyia-nyiakan seorang wanita yang mencintaiku,’ batin Kelvin.


Mereka berdua pun kembali dan sudah masuk kedalam mobilnya. Kelvin sangat lega hingga ia tidak berhenti untuk terus tersenyum dan membuat Viora curiga.


“Perasaan senyam-senyum terus, lagi mikirin apa sih?” tanya Viora penasaran.


“Oh enggak mikirin apapun! Cuma ... Aku senang aja akhirnya aku bisa bertemu dengan Elie dan membawamu juga kesana. Aduh ... aku hampir lupa! Ada satu tempat lagi yang akan kita kunjungi.” Dengan semangatnya Kelvin langsung mengarahkan mobilnya menuju ketempat tersebut.


“Begitu ya? Sampai senyam-senyum padahal cuma liat makam doang. Tapi, sudahlah. Lalu sekarang kemana kamu akan membawaku?” Viora tidak begitu peduli dengan apa yang Kelvin pikiran, seraya ia bertanya.


“Aku akan membawamu ke satu tempat di mana kamu bisa meluapkan emosi. Bukankah gadis kecilku ini tadi sedang menangis?” ledek Kelvin seraya mencolek dagu Viora.


“Aku tidak menangis! Ah sudahlah terserah kamu saja,” sahut Viora pasrah lalu memilih berdiam diri.


‘Aneh sekali, padahal Kelvin hanya berkunjung ke makam Elie tapi ia seperti orang yang sedang jatuh cinta. Senyam-senyum ngga jelas lagi. Apa dia memang sudah jatuh cinta yah? Ah mana mungkin dia mencintai hantu. Haduh otakku ini benar-benar sudah tidak waras,' batin Viora.


Viora sibuk dengan pikirannya. Namun, berbeda dengan Kelvin. Ia sangat senang mengganggu gadis kecilnya itu. Lalu ia kembali fokus dengan menyetir mobil tanpa berbicara apapun lagi.

__ADS_1


Sampai akhirnya tempat yang Kelvin tuju pun sampai. Lalu Kelvin pun turun tanpa membukakan pintu mobil untuk gadis kecilnya hingga Viora mengomel.


“Dasar! Dia bahkan tidak membuka pintu untukku dan sekarang dia langsung naik ke atas bukit itu sendirian. Heuh Pria macam apa dia itu? Awas kamu jika aku sampai di atas aku akan mengomeli mu habis-habisan!” omel Viora yang merasa kesal.


Kelvin menahan tawanya saat ia mendengar istrinya mengomel di dalam mobil. Suara Viora begitu besar hingga terdengar jelas di telinganya. Ia sengaja menjahili gadisnya itu.


Viora keluar dari mobil dengan rasa kesalnya itu ia bahkan menutup pintu mobil dengan hentakan keras. Ia langsung berjalan ke atas berniat naik ke bukit namun, baru sedikit melangkah ia sudah jatuh sebab ia memakai sepatu yang lumayan tinggi.


Kelvin pun melihat istrinya itu sedang kesusahan lalu sambil menertawainya ia turun dari bukit dan berdiri di hadapan Viora.


“Hey! Kenapa cuma berdiri? Ayo ... bantu aku bangun ....” Dengan manjanya Viora sampai merengek-rengek meminta bantuan.


”Jadi kamu membutuhkan bantuan ku, sayang? Kalau begitu cium pipiku dulu biar aku bantu.” Kelvin sengaja membuat istrinya kesal.


“Ogah! Udah sana pergi kalau nggak mau nolongin yaudah jangan cari kesempatan!” geram Viora seraya berusaha bangkit.


Kelvin masih menertawai istrinya lalu ia membopong tubuh istrinya dan membawa sampai ke atas bukit. Memandang jauh ke depan, begitu rindangnya pepohonan serta semilir angin sepoi-sepoi mampu menyejukkan jiwa yang gundah. Memendam rasa yang tak pernah mati. Di sinilah tempat Kelvin menenangkan diri. Tempat di mana ia membawa Zoya sampai ingin menciumnya dulu.


Hawa segar dari tempat itu perlahan membuat Viora rileks. Seakan bebannya hilang dalam seketika. Viora lalu melepaskan sepatunya, ia berlarian di atas bukit sambil merentangkan tangannya dan menikmati keindahan pemandangan alam yang begitu asri untuk di lihat.


Kelvin tersenyum bahagia melihat istrinya bisa menikmati tempat indah itu. Lalu ia pun bangun untuk mendekati Viora.


“Kamu bahagia, gadis kecil?” tanya Kelvin seraya mengusap rambut istrinya.


“Tentu saja, Evin! Aku bahagia ada di sini. Rasanya beban ku hilang,” sahut Viora sambil tersenyum lebar lalu memeluk suaminya tanpa meminta persetujuan.


Kelvin kaget saat Viora memeluknya tiba-tiba. Ia pun tidak ingin menyia-nyiakan momen-momen itu. Ia lalu membalas pelukan istrinya seraya mengecup keningnya.


“Gadis kecil, sejujurnya ada yang ingin ku katakan padamu,” ungkap Kelvin tiba-tiba lalu melepaskan pelukannya.


“Baiklah aku akan mendengarkan apapun yang akan kamu katakan. Ya sudah ayo kita duduk,” sahut Viora tanpa sedikitpun curiga.


Kelvin pun mengangguk lalu ia mengambil sendalnya untuk menjadi tempat duduk buat istrinya meskipun ia harus duduk langsung menyentuh tanah. Viora hanya menatap tanpa banyak berkomentar.


Mereka duduk berdekatan seraya Kelvin merangkul istrinya. “Saat kamu menangis tadi, aku sudah mendengar semuanya. Jadi jawab dengan jujur, apa kamu masih mencintaiku, gadis kecil?”


Viora pun mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu maksud dari Kelvin menanyakan semua itu.


“Apa maksudmu, Evin? Bukankah kamu tahu jawabanku?” Viora membalas pertanyaan bukan menjawabnya.


“Aku tidak tahu, apa kamu masih mencintaiku atau tidak. Tapi, satu hal jika memang kamu tidak mencintaiku lagi maka katakanlah sejujurnya. Bahwa kamu sudah mencintai orang lain. Aku akan mencoba ikhlas melepaskan kamu walaupun hatiku sakit tapi, akan aku coba asalkan dirimu bahagia itu sudah cukup bagiku. Karena aku sudah belajar dari orang lain bahwa cinta tidak selamanya harus memiliki,” ungkap Kelvin dengan tiba-tiba.


Viora sudah berlinang air mata. Ia menahan agar tidak menangis. Ia pikir Kelvin membawanya kesini untuk bersenang-senang tapi, justru sebaliknya. Padahal hatinya sudah begitu nyaman berada di tempat ini.


“Ka-karena siapa kamu belajar jika cinta tidak selamanya bisa memiliki, Evin?” tanya Viora gelagapan.


“Elie. Dia membuktikan padaku bahwa cinta tidak harus memiliki tapi, biarkan cinta di miliki jika keduanya saling mencintai,” ungkap Kelvin dengan jelas.


“Elie? Apa sekarang kamu mulai mencintai dia? Ayolah Evin, apa-apaan ini? Bagaimana tiba-tiba kamu mengatakan bahwa kamu belajar dari Elie? Secara dia sudah tiada.” Viora terlihat cemburu.


“Bukan begitu. Aku sekarang hanya mencintai dirimu bukan dia atau siapapun. Tapi, aku belajar darinya dengan melihat bahwa dia mampu mencintaiku meskipun ia rela dirinya terluka. Itulah sebabnya aku sangat menghargai pengorbanan cintanya itu. Gadis kecil, tolong jangan tanya hal lain dulu tapi, jawab pertanyaan ku. Apa kamu masih mencintaiku?" Kelvin mengulang kembali apa yang ia butuhkan.


“Kamu sudah tahu jawabannya! Jadi aku tidak perlu mengatakannya lagi, Evin,” sahut Viora yang masih membungkam mulutnya.


Kelvin menarik nafasnya memburu. “Gadis kecil, itu bukan jawaban melainkan kamu tidak berani mengaku di depanku. Memangnya kenapa? Apa yang kamu takutkan? Toh di sini kita hanya berdua. Kenapa mulutmu begitu berat mengatakan cinta untukku? Apa karena kamu sudah memiliki Alvero?”


“Ti-tidak! Bukan begitu. Baiklah aku jujur bahwa aku memang mencintaimu, Pangeran.” Viora akhirnya jujur seraya menatap mata Kelvin.


“Baiklah, jika kamu mencintaiku, lalu apa kamu juga mencintai Alvero? Jawab yang sejujurnya, gadis kecil.” Kelvin terus memaksanya.


Kelvin seakan ingin menjebak Viora dengan pertanyaan mudah tapi memiliki sambungan yang akan di tanyakan kembali oleh Kelvin.


“A-aku tidak mencintai Alvero. Hanya saja ... Ah sudahlah Kelvin sebaiknya kita pulang lagipula ini sudah sore pasti Bunda sudah menunggu kita,” sahut Viora berusaha mengalihkan pembicaraan.


“Ya sudah mau pulangkan, tuh mobil pulang aja sendiri tapi, aku akan tetap di sini.”


‘Gadis kecil, kenapa kamu begitu sulit mengatakan yang sejujurnya? Bahkan kamu sengaja mengganti topik perbincangan kita. Apa bagimu aku ini tidak berarti yang bisa mudahnya kamu permainkan?’ batin Kelvin kecewa.


Dengan raut wajah kecewa serta menunduk Kelvin lalu mengeluarkan kunci mobilnya agar Viora bisa pulang sesuai seperti yang ia inginkan.


‘Aduh ... gawat nih. Gua salah ngomong lagi. Bodoh banget sih gua. Padahal Kelvin sengaja bawa gua kesini buat ngobrol tapi, gimana gua harus jujur sekarang,’ batin Viora.


Dengan perlahan Viora menggenggam tangan Kelvin. Ia tahu dirinya salah. Dan tidak seharusnya ia bertingkah secara terang-terangan mengalihkan pembicaraan.


“Evin,” sapa Viora.


Kelvin mengiyakan dengan cara menaikkan kedua bulu matanya. Ia lalu memandang wajah istrinya.


“Ada apa, Viora? Bukankah kamu ingin pulang? Jadi tunggu apalagi, pulanglah dan ini kunci mobilnya. Bilang pada Bunda, nanti malam mungkin aku akan menginap di tempat Reiner,” ucap Kelvin tanpa memanggil gadis kecil.


“Evin, sudahlah jangan begitu. Aku minta maaf,” ungkap Viora memohon.


“Apa kamu pikir dengan maaf cukup, Viora? Dengarkan aku, bagimu aku memang seorang pembunuh, mesum, dan tidak layak untuk di cintai. Tapi, pernahkah kamu mau mendengarkan aku saat aku ingin menjelaskan semuanya padamu, tidak 'kan! Kamu bahkan dengan egoisnya menganggap aku seperti seorang yang begitu menjijikkan bagimu. Aku tidak masalah jika memang kamu ingin menganggap aku jahat sekalipun tapi, tolong pikirkan bahwa saat ini kamu bukan sedang menyakitiku namun juga orang lain!” geram Kelvin yang sudah tidak ingin menahannya lagi.


“Ta-tapi Kelvin, aku bisa jelaskan semuanya kalau-” Viora berusaha membela diri tapi, ucapanya terhenti.


“Tidak! Sekarang yang harus kamu dengarkan itu aku! Pertama aku memang bersalah karena sudah pernah berhubungan dengan Elie tapi, tolong dengarkan aku dengan penjelasan tentang itu. Semuanya telah di rencanakan oleh Elie, hingga aku jatuh kedalam perangkapnya, dia juga menggodaku lalu seorang Pria sangat sulit menolaknya apalagi jika sedang di ancam! Tapi aku salut dengan dia. Demi cintanya dia bahkan rela melakukan apapun untukku. Bukan aku ingin membandingkan mu namun, coba lihatlah kamu sudah di depanku tapi, dengan sengaja 'nya kamu membuat hubungan kita semakin renggang.”


“Kedua, kamu bahkan mengganggap ku pembunuh padahal saat itu jelas-jelas kalau Alvero dengan sendirinya datang padaku dan ia ingin menghabisi nyawaku. Aku hanya ingin membela diri bukan ingin membunuhnya lagipula tidak ada untungnya bagiku. Dan saat itu juga Zoya bahkan mencoba menjelaskan tapi, kamu tetap tidak ingin mendengarnya. Ketiga, pernikahan kita sudah berjalan lima tahun, tapi dalam waktu itu kamu bahkan membuat surat kontrak dan menjauhi dirimu sendiri denganku. Aku rela tidak menyentuhmu padahal itu adalah kewajiban ku. Aku rela, Viora!” sambung Kelvin yang sudah tidak ingin menahannya lagi.


‘Ya ampun, apa aku telah begitu jahat sampai tidak ingin mendengarkan apapun? Aku sudah begitu keterlaluan, bagaimana ini aku harus katakan apa?’ batin Viora yang sudah ketakutan.

__ADS_1


“Ayo jawab, Viora! Jangan hanya diam! Apa ini yang kamu namakan mencintaiku?! Jika boleh memilih sejak dulu aku menolak perjodohan kita tapi, mengingat cintaku yang sudah begitu besar untukmu membuatku lupa diri bahwa sebenarnya kamu tidak mencintaiku, melainkan hanya ingin membalaskan dendam mu. Kamu tidak menghargai suamimu sendiri. Katakan sekarang apa kita harus bercerai? Supaya hubunganmu dengan Alvero bisa sampai kejenjang pernikahan, begitu?” Kelvin benar-benar marah hingga bertanya hal yang tidak seharusnya ia tanyakan.


__ADS_2