
H A P P Y R E A D I N G
‘Alasan, bilang aja males ribut takut kalah debat. Awas sayang, tunggu besok pagi aku pastikan kamu akan menyesal telah melamar kerja di tempatku,' batin Kelvin seraya tersenyum.
Viora melihat wajah suaminya tidak berhenti terus tersenyum hingga ia pun penasaran. “Ngapain kamu senyam-senyum di situ?”
“Ingat pasal ke-empat tidak boleh mencampuri urusan masing-masing jadi, meskipun aku di sini senyum bukan urusan kamu, semoga mengerti wahai gadis kecil tersayangku,” ungkap Kelvin seraya meledek Viora.
“Arrrggh dasar! Evin! Bisa-bisanya kamu yang mengaturku sekarang,” geram Viora begitu kesal.
Lalu Viora berjalan meninggalkan Kelvin yang masih senang meledeknya. Ia memasuki kamarnya sendiri lalu seraya mengeluarkan bantal dan juga selimut dan langsung melemparnya tepat ke wajahnya Kelvin.
“Sayang, apa-apaan ini? Kan masih awal belum juga malem,” tanya Kelvin kebingungan.
“Sengaja mulai saat ini kamu tidur di luar dan nggak bisa masuk ke dalam kamarku. Jika membantah ingat pasal ke-tujuh,” sahut Viora yang ingin membalas perlakuan Kelvin.
Tidak terima dengan semua itu Kelvin lalu masuk ke dalam kamar istrinya meskipun Viora terus berusaha menahan namun, apa boleh buat tenaga Viora bukanlah tandingan Kelvin.
“Barang-barang ku semuanya di sini jadi aku tidak bisa keluar untuk pindah, lagipula rumah kita hanya memiliki satu kamar jadi sebaiknya berbaik, 'lah hatimu untuk menerimaku di sini. Dan satu hal lagi tenang saja kita tidak akan tidur seranjang melainkan pisah,” ungkap Kelvin seraya tersenyum sinis.
“Okay fine, Do not touch me!” ungkap Viora seraya mengancam jangan menyentuhnya.
“Yeah seriously? I won't touch an angry girl like you either,” sahut Kelvin yang juga tidak akan menyentuhnya.
“Yes alright,” ucap Viora lalu beranjak keluar dari kamar tersebut.
Dengan kesal Viora berdiri sambil terus mondar-mandir seperti orang kebingungan, ia pasti tidak akan percaya dengan Kelvin. Apalagi jika sekarang mereka sudah satu kamar walaupun pisah ranjang tapi, ia masih tidak mudah mempercayai Pria itu.
Saat Viora sedang sibuk berpikir di luar sana datanglah mobil yang membawakan satu ranjang berukuran besar lalu membawanya masuk kedalam rumah mereka. Seperti yang sudah di atur Viora hanya melihat saja tanpa banyak Komentar.
Ia sibuk melihat mereka yang sedang mengatur kamarnya lalu hingga ia di kejutkan dengan suara ponsel berdering. Viora bergegas melihat isi ponselnya dan tertera nama Alvero di sana.
‘Tumben dia meneleponku di jam segini, kenapa yah?’ batin Viora.
Viora lalu menjauh dari banyaknya orang. Ia berdiri di tempat sepi.
“Hallo, sayang,” sapa Viora.
“Sayang! Kamu ada di mana? Bantuin aku dong!” ungkap Alvero seperti sedang kesusahan.
“Ya tapi, bantuin kenapa? Kamu ada di mana sekarang?”
“Aku ada di hotel Grand, kamu bisa kesini ngga? Bantuin aku soalnya di dalam sini aku terperangkap dan nggak bisa keluar dengan nomor kamar 025 kakiku kesakitan sayang, habis terkilir. Pliss ... bantuin aku yah,” ucap Alvero memohon-mohon lewat ponselku.
“Tapi, kok bisa ada di hotel, sayang?” tanya Viora yang masih penasaran.
“Nanti aku jelasinnya, cepet sayang aku udah nggak tahan nih." Alvero terus memaksanya.
Hingga akhirnya Viora mengiyakan apa yang disuruh oleh pacarnya tersebut. Dengan bergegas ia mengambil tasnya serta kunci mobil dan pergi meninggalkan kediaman mereka tanpa pamit kepada Kelvin.
Berhubung Kelvin bersama orang yang mengantar ranjang mereka telah selesai menata kamarnya. Saat mereka keluar tidak sengaja melihat Viora bergegas pergi sendirian tanpa memakai supir pribadi.
‘Kok Viora kaya buru-buru begitu? Dia mau kemana yah?’ batin Kelvin curiga.
Hingga akhirnya Kelvin memutuskan untuk mengikutinya Viora secara diam-diam. Dengan melajukan mobilnya sedikit menjauh sampai istrinya tidak mengetahui. Hingga akhirnya istrinya berhenti di sebuah hotel.
“Ke hotel?! ngga salah? Emangnya siapa yang ada di sini?” gumam Kelvin yang bertanya sendirian.
Viora terus memasuki hotel seraya celingak-celinguk mencari nomer kamar yang Alvero katakan. Hingga ia berhenti di depan kamar yang bisa ia pastikan ada kekasihnya di dalam. Tanpa rasa ragu Viora langsung masuk ke dalam.
__ADS_1
Saat Viora sudah memasuki kamar tersebut tidak ada siapapun di sana. Ia langsung memanggil-manggil nama Alvero tapi sayang tetap tidak ada wujud manusia yang terlihat.
“Keknya gua lagi di tipu nih,” gumam Viora yang merasa curiga.
Hingga ia memutuskan untuk berbalik dan berniat keluar. Belum selesai Viora keluar, Alvero sudah memeluknya dari belakang hingga membuatnya kaget.
“Sayang! Kok kamu tiba-tiba ada di belakangku?” tanya Viora baik-baik.
“Ya aku mau kasih surprise buat kamu jadinya aku ngumpet. Oh ya sayang, malam ini kita bermalam di sini ya? Lagian malam kemarin kamu udah nggak jadi. Aku tuh kangen ... banget! Sama kamu, sampai-sampai aku nggak bisa tidur, sayang,” ucap Alvero mengungkapkan isi perasaannya.
Terlihat begitu aneh kaki Alvero tidak terkilir sebab ia bisa berdiri normal lalu kemudian Viora juga menyadari bahwa Alvero bukan seperti biasanya. Ada bau minuman dari mulutnya hingga membuatnya menyadari jika kekasihnya itu sedang mabuk. Dengan usaha yang kuat ia melepaskan dirinya dari pelukan sang kekasih.
“Kamu bohongin aku ya? Katanya kaki kamu terkilir terus sekarang nyatanya nggak! Dan lagi kamu habis minum-minum, buang waktu aku aja tahu datang kesini,” geram Viora dan ia berniat keluar.
Belum sampai ia keluar Alvero terus menahan dirinya hingga menggendong Viora dan menghempaskan tubuh gadis itu terbaring ke ranjang.
‘Aku harus bisa keluar dari sini jika tidak habislah sudah mahkota berhargaku ini,' batin Viora.
Alvero menindih tubuhnya hingga Viora susah untuk keluar, Alvero menahan tangan Viora hingga ia sama sekali tidak bisa untuk lepas lagi.
“Lepaskan aku! Sadarlah aku ini kekasihmu!” bentak Viora.
“Aku masih sadar, sayang. Karena kamu adalah kekasihku jadi aku punya hak atas dirimu ini,” ucap Alvero yang tidak ingin mengalah.
Alvero yang sudah terbawa arus karena mabuk, ia sangat ingin menghabiskan kekasihnya dengan berduaan. Tanpa tinggal diam merobek baju Viora sampai baju dalamnya terlihat.
Viora terus berontak meskipun Alvero tidak akan menghentikan aksinya itu. Saat detik di mana kekasihnya ingin melepaskan penutup bawahnya hampir saja semuanya terlepas namun, dengan kuat Viora berusaha melepaskan diri dengan cara menendang adik kecil Alvero hingga ia menjerit kesakitan.
Lalu Viora berlari menuju ke pintu kamar. Untung saja kunci pintu masih bergantung di tempatnya sampai akhirnya ia berhasil membukanya tapi, tanpa ia ketahui Kelvin sedang berusaha mendengar apa yang terjadi di dalam sana meskipun tidak ada suara yang keluar karena di hotel kamar itu memakai peredam suara.
Hingga akhirnya mereka tidak sengaja bertabrakan di depan pintu hingga membuat kedua terjatuh ke lantai. Kelvin terkejut saat ia menyadari bahwa istrinya keluar dengan pakaian hampir semuanya tertutup dengan cepat ia melepaskan pakaiannya dan menutup tubuh Viora.
Kelvin yang tidak terima istrinya di perlakukan seperti itu oleh Pria lain, ia langsung memberikan pukulan sampai bertubi-tubi.
“Dasar buaya! Lo apain istri gua sampai bisa seperti itu?! Gua ngga akan mengampuni Lo kali ini. Jika dulu Lo hanya koma karena gua maka sekarang Lo harus mati!" geram Kelvin yang sedang menarik baju Alvero.
Viora tahu jika Kelvin sudah dalam emosi yang tidak bisa terkendali, ia tahu jika benar-benar membunuh Alvero hingga akhirnya ia berusaha menghentikan perkelahian itu.
“Stop Kelvin! Sudah cukup, dia sudah babak belur dipukuli dan jangan sampai membunuhnya. Aku tidak ingin hal yang sama terjadi,” ucap Viora yang berusaha menahan Kelvin.
“Kamu membela Pria hidung belang ini?! Aku tidak habis pikir, biarkan saja aku membunuhnya sekarang!” Kelvin benar-benar sudah di kendalikan oleh emosinya sendiri.
“Jangan Kelvin! Lagipula aku sudah baik-baik saja. Alvero sedang dalam pengaruh minuman, itu artinya dia tidak sepenuhnya sadar dengan apa yang ia perbuat. Sudahlah lebih baik kita pergi saja dari sini,” ungkap Viora berhasil meluluhkan Kelvin.
Kelvin mengusap wajahnya dengan kasar, ia sangat ingin menghabisi nyawa Alvero. Kedua kalinya ia bertemu dengan Pria itu dengan keadaan yang sama-sama membuat ulah.
Viora dengan cepat mengandeng Kelvin agar suaminya mau pergi dari sana. Lalu mereka pun melangkah pergi tapi, Alvero bangun dan tertawa hingga membuat Kelvin menghentikan langkahnya.
“Heuh! Sayang, kamu mau kemana? Ayolah temani aku di sini kekasihku,” ungkap Alvero yang berusaha menghentikan langkah mereka, lalu setelah itu Pria itu jatuh tergelatak di lantai.
‘Ya ampun, Alvero sampai berkata seperti itu di depan Kelvin. Mati aku,’ batin Viora seraya menelan ludahnya.
Kelvin menatap wajah Viora dengan tatapan yang sangat sulit di mengerti. Ia ingin kembali menghajar Alvero tapi sayangnya Pria itu sudah duluan pingsan. Hingga akhirnya Kelvin langsung membawa pergi dengan menarik tangan istrinya begitu kasar.
Viora meringis kesakitan saat pergelangan tangannya di pegang begitu erat. Ia hanya menahan sambil mengimbangi langkah Kelvin yang begitu cepat sampai akhirnya mereka sudah masuk ke dalam mobil.
Tanpa bicarakan apapun Kelvin langsung melajukan mobilnya tapi, Viora berusaha menghentikan.
“Mobilku di sana, lebih baik aku pulang dengan mobilku," ungkap Viora.
__ADS_1
“Tidak perlu! Biarkan supir yang mengambil mobilmu,” sahut Kelvin tanpa melirik kearah lawan ia bicara.
Dengan mengeraskan rahangnya, Kelvin melajukan mobil dengan kecepatan begitu tinggi hingga ia tidak berpikir bahwa Viora berada di sampingnya.
(Di kediaman Kelvin)
Setibanya di kediaman mereka. Kelvin langsung membawa masuk Viora ke kamarnya dengan terus memegang tangan gadis itu sampai akhirnya kemerahan.
Laku Kelvin berjalan keluar untuk memberitahukan kepada Pak supir agar mengambil mobilnya. Lalu ia kembali masuk kedalam kamar mereka.
Dengan sorot matanya yang tajam, Kelvin berdiri di depan istrinya yang sedang meniup tangannya yang sakit.
“Jelaskan padaku apa yang sedang terjadi antara kamu dengan Alvero? Dan mengapa kamu bisa ada di dalam hotel itu?” tanya Kelvin masih bersikap baik-baik saja.
“Tidak ada yang perlu di katakan apapun. Ingat pasal ke-empat tidak ada yang boleh mengganggu privasi masing-masing,” sahut Viora yang masih membungkam rahasianya.
“Sekarang bukan waktunya untuk mengatakan lelucon mu itu, Viora! Aku mau jawaban bukan mengenai pasal konyol itu, jadi jawab!” paksa Kelvin yang tidak terima dengan semua itu.
“Aku bilang tidak ingin menjawab ya tidak ingin jadi jangan paksa aku! Kamu telah melanggar privasi ku maka bayar aku sekarang 2M.” Viora tetap teguh pada pendiriannya.
“Jadi kamu mau uang? Seharusnya aku tidak datang membantumu waktu itu. Ternyata aku salah menilai mu. Di depanku, kamu bahkan sengaja menutup diri kepada suamimu ini dengan maksud memeras uangku secara perlahan tapi, di depan Pria sialan itu kamu justru memberikan tubuhmu sampai kamu yang datang sendiri kesana. Kamu tidak ada bedanya dengan Elie! Dasar wanita malam!” bentak Kelvin tanpa menahan emosinya lagi.
Setelah Bentakan itu Kelvin akhirnya keluar dari kamar mereka dan ia memilih untuk memasuki kamar rahasia miliknya.
Contoh kamar rahasia Kelvin yang hanya di tutupi oleh rak buku-buku miliknya.
Viora memutuskan untuk mengganti pakaiannya yang sudah rusak. Ia tidak habis pikir kenapa Alvero begitu tega memperlakukan dirinya seperti itu padahal ia sangat percaya dengan Pria itu.
‘Kelvin pasti tidak akan percaya denganku tapi, ya sudahlah toh tidak ada ruginya buatku. Meskipun dia akan marah namun biarkan saja,’ batin Viora.
Ia tidak memusingkan apa yang telah terjadi saat ini. Viora langsung mengistirahatkan tubuhnya yang begitu kelelahan.
Berbeda dengan Kelvin yang masih marah sampai tidak habis pikir dengan istrinya. Ia menghisap sebatang rokok dan sesekali ia mengomel sendirian.
“Viora sudah benar-benar mempermainkan aku. Dia bahkan tidak menghargai lagi tentang cintaku untuknya, aku sungguh tidak tahu dengan cara apa lagi agar dirinya melihatku sebagai suami bahkan aku sudah menuruti semua keinginannya selama ini. Apa aku harus memberitahukan pada Bunda?”
Kelvin berniat menghubungi ibundanya, ia lalu mengambil ponsel dan mencari nomer telepon ibunya.
Beberapa saat menunggu hingga akhirnya panggilan pun tersambung. “Hallo, Bun,” sapa Kelvin.
“Hai sayang, tumben sekali kamu menghubungi, Bunda?” sahut Bunda seraya bertanya.
“Sebenarnya aku rindu, Bunda,” sahut Kelvin.
“Rindu? Yah Bunda juga merindukanmu, sayang. Tapi sepertinya kamu bukan cuma rindu melainkan sedang ada masalah ya. Ayo nak, ceritakan pada Bunda jika benar kamu ada masalah.”
‘Apa aku boleh menceritakan masalah rumah tanggaku? Nanti bagaimana jika Bunda sampai memarahi Viora? Aduh ... kok jadi bingung sendiri gini, ah ya sudahlah ngga usah cerita aja deh,’ batin Kelvin tidak menentu.
“Hallo, Kelvin. Kenapa malah diam saja?” tanya Bunda curiga.
“Eh ngga Bun, tadi lagi habisin rokok. Oh ya sebenarnya aku cuma mau bilang sama Bunda, kalau besok aku bakalan nginap di sana. Bolehkan Bun? Lagipula aku juga sudah lama tidak mengunjungi Zoya dan Reiner. Setahuku si kembar sudah tumbuh besar,” ungkap Kelvin berusaha ngeles.
‘Untung pinter bohong tapi, gimana yah kalau beneran besok nginap di sana, apa Viora bakalan mau? Aduh yang ada ribut lagi,’ batin Kelvin kebingungan.
“Wah ... bagus dong, jadi makin senang Bunda dengernya. Ya sudah besok pagi-pagi kamu langsung siap-siap buat kesini. Nginep di sini seminggu ya sayang, sekalian main sama Kaylee dan Kayrren loh,” ucap Bunda dengan cerianya.
”Baik Bunda, sehabis kerja besok langsung menuju kesana, ya sudah Bunda aku mau istirahat dulu. Jaga kesehatan Bunda sama Papa di sana.”
__ADS_1
“Baik sayang, jaga juga dirimu baik-baik.”