Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
41~S3 Istriku Gadis Kecilku Merenggut nyawa, kekacauan, & kejam seperti ibu tiri


__ADS_3

H A P P Y R E A D I N G


Alice mengangguk. “Aku tidak habis pikir dengan Alvero. Dia benar-benar sudah kehilangan akalnya. A-aku benar-benar takut ... Tolong jangan tinggalkan aku, Steven.”


“Tenanglah sekarang aku ada di sini bersamamu. Ayo kubantu,” sahut Steven sambil membantu Alice bangun. Lalu mereka menuju ke kamar.


Steven merebahkan tubuh Alice tapi, dengan cepat ia bangkit kembali sampai membuat Steven heran.


“Loh? Bukankah lebih baik istirahat apalagi kamu habis menangis? Tidurlah supaya pikiranmu lebih tenang. Aku ada di sini menunggu,” ungkap Steven begitu perhatian.


“Aku tidak ingin tidur, Steven. Pikiranku tidak tenang jadi aku tidak bisa tidur. Bolehkah kalau aku curhat?"


“Tentu saja boleh. Lagipula aku tidak melarang mu.


Alice menghembuskan nafasnya. Kemudian ia berpindah tempat mendekati jendela kamarnya. Memandang jauh kedepan sambil menatap sebuah harapan yang telah sirna.


“Aku bingung dengan kedatangannya kemari. Kupikir dia akan menjemput ku lalu meminta maaf, dan mengajakku untuk kembali tapi, ternyata tidak. Dia hanya ingin menjadikan aku bonekanya. Kau tahu, kami bahkan akan di nikahkan oleh orangtuanya. Jelas-jelas orangtuanya sudah setuju denganku sebab dia menjadikan aku tunangan settingannya. Kupikir semua harapanku menjadi nyata tapi, ternyata aku salah. Dengan tiba-tiba dia mengusirku sesuka hatinya,” curhat Alice dengan penuh kesedihan.


“Ya ampun, dia menjadikanmu tunangan settingan? Apa dia tahu kalau dia mencintaimu?” tanya Steven yang merasa kasihan.


“Ya dia tahu tapi, dia sengaja bungkam. Seakan aku tidak pernah mengatakan apapun padanya padahal jelas-jelas aku sudah mengakui cintaku. Entahlah, Steven. Hidupku benar-benar hancur. Tidak ada lagi harapan untukku bangkit. Satu sisi aku mencintainya tapi, dia dengan terang-terangan menjadikan aku alat untuknya. Lalu satu sisi lain aku ingin hidupku kembali normal seperti dulu. Fokus bekerja, memiliki banyak teman, dan hidup jauh dari kegelisahan. Namun, semuanya sirna, bahkan sekarang aku hanya memilikimu di sini tapi, aku tahu kamu juga telah menemukan dia yang kamu cintai pasti kamu juga akan meninggalkan ku. Steven, bolehkah kalau aku memilih untuk mati?!”


Alice sangat putus asa. Dirinya menangis sejadi mungkin sambil mengungkapkan isi hatinya. Kemudian Alice berlari menuju ke dapur. Steven yang merasa khawatir dengan apa yang akan terjadi, dengan cepat ia mengejarnya.


Jarak dapur yang tidak terlalu jauh hingga membuat Alice dengan cepat mengambil pisau buah yang tergeletak di atas meja makan miliknya. Lalu ia langsung mengarahkan tepat di pergelangan tangannya. Ia ingin mengiris nadinya. Langkah Steven pun berhenti saat melihat pisau yang sudah berada di tangan Alice.


“Ku mohon ... Jangan lakukan itu, Alice. Kamu tidak sendirian,” ungkap Steven mencoba mendekati.


Alice justru semakin mendekatkan benda itu ke tangannya. “Steven! Jangan mengejar ku! Aku lebih baik mati daripada harus menanggung semua derita ini. Hidupku hancur, tidak ada seorangpun yang akan peduli. Begitupun denganmu! Pergilah, cepat pergi! Temui cintamu! Jangan pedulikan aku di sini. Aku lebih baik mati.


“Aku tidak akan pergi sebelum kamu menaruh kembali benda tajam itu. Alice, kamu tidak sendirian. Ada aku di sini bersamamu. Posisimu saat ini juga pernah ku alami bahkan setia harinya aku harus mendengar semua rasa cinta untuk orang lain dari orang yang aku cintai. Jadi, bersabarlah pasti kamu akan bahagia, Alice,” respon Steven yang sangat cemas.


“Kamu berbohong, Steven! Kamu hanya ingin menyenangkan ku supaya aku tidak menghabisi nyawaku sendiri. Namun, nyatanya semuanya hanya kebohongan! Begitupun denganmu yang akan meninggalkan aku. Jadi pergilah! Aku tidak ingin kamu melihatku mati!” bentak Alice yang sudah tidak bisa terkendalikan.


“Aku tidak berbohong! Aku akan bersamamu selamanya. Kamu ada di sisiku sampai nanti kamu mendapatkan kebahagiaanmu sendiri. Sampai itu juga aku akan terus menemanimu. Jadi, jangan bersedih karena kita hanyalah korban dari mereka yang tidak memiliki hati. Alice, ku mohon ... Jangan lakukan hal bodoh.”


Alice menggelengkan kepalanya. Ia tetap tidak ingin mendengarkan apapun yang Steven katakan. Sambil terus menangis ia terus berusaha mendekatkan benda tajam itu ke tangannya meskipun dengan rasa takut.


‘Steven, jika aku pergi dan tidak lagi kembali. Terimakasih atas semua perhatianmu. Aku tahu kita tidak saling mencintai tapi, kenyamanan akan selalu kita dapatkan bersama, terima kasih. Alvero, maaf aku tidak bisa pamit padamu tapi, aku akan terus menunggu sampai kamu bisa mencintaiku. Entah itu aku masih mencintaimu ataupun sudah tidak mencintaimu,’ batin Alice.


Steven mencari posisi agar bisa merebut benda tajam tanpa melukai Alice tapi, begitu susah. Sangat ia ingin merebutnya justru Alice dengan sengaja mendekati benda itu semakin dekat.


Alice yang sudah pasrah dengan keadaan akhirnya ia melakukan apa yang hatinya katakan. Dengan begitu cepat ia langsung mengiris lengannya sendiri tepat di tempat nadinya berdetak meskipun tidak terlalu dalam tapi juga membahayakan. I


“Auch!” Alice meringis kesakitan. Darah segar mengalir membasahi lantai begitupun air matanya terus mengalir tidak hentinya.


“ALICE!” Sekuat tenaga Steven teriak namun, sia-sia ia sudah terlambat.


Dengan cepat Steven merangkul Alice yang sudah terdiam tanpa menggerakkan tubuhnya lagi. Alice pingsan. Lalu Steven khawatir, ia memikirkan cara untuk bisa menghentikan darah tersebut sampai akhirnya pakaian miliknya sengaja ia sobek. Lalu bergegas ia membopong tubuh Alice. Dengan sekuat tenaga ia sedikit berlari membawa Alice masuk kedalam mobilnya.


Karena tidak tahu arah jalan menuju rumah sakit. Sambil gemetar ia membuka ponselnya lalu ia menghidupkan aplikasi GPS.


“Bertahanlah, Alice. Kita akan kerumah sakit. Aku pastikan kamu akan selamat. Bertahanlah!”


Rasa cemas Steven melihat keadaan Alice yang sangat lemah. Ia begitu khawatir akan terjadi sesuatu. Saat sedang menuju kerumah sakit ponsel Steven pun tiba-tiba berdering. Ia tidak melihat siapa yang sedang berusaha menghubunginya.


...----------------...


Setiba di rumah sakit dengan cepat Steven membopong tubuh Alice sampai akhirnya bantuan datang dari pihak petugas rumah sakit. Ia pun di larikan supaya cepat mendapatkan pertolongan. Bahkan Steven tidak menyadari jika ponselnya tertinggal di dalam mobil meskipun ponsel itu terus berbunyi.


Ia terduduk dalam kekhwatiran dengan keadaan Alice. Kegelisahan terus-menerus datang bahkan sesekali ia bangkit hanya untuk melihat keadaan kedalam. Walaupun tidak terlihat jelas.


Di dalam ruangan, pendarahan yang terus tiada henti membuat Dokter cemas apalagi lukanya begitu dalam.


...----------------...


Sekitar dua jam akhirnya Dokter pun keluar. Dengan cepat Steven berlari menghampirinya.

__ADS_1


“Dok, katakan bagaimana keadaannya?” tanya Steven cemas.


“Untung saja Anda cepat membawanya jika tidak maka nyawanya akan melayang. Lukanya terlalu dalam tapi, syukur tidak sampai mengenai urat nadinya. Tapi, yang saya khawatirkan kondisinya masih lemah karena dia terlalu banyak kehilangan darah hingga saat ini dia membutuhkan golongan darah AB. Namun, persediaan darah dengan golongan tersebut sudah habis,” ungkap Dokter menjelaskan dengan wajah gelisah.


‘Golongan darah AB?’ batin Steven.


Steven terdiam sejenak. Ia berpikir dengan golongan darah yang ia punya sampai akhirnya ia menemukan jawaban.


“Dok, bagaimana jika dengan golongan darah saya? Seingat saya dulu golongan darah AB sewaktu melakukam tes di saat mengecek kesehatan tapi, sebaiknya Dokter juga mengetesnya terlebih dahulu agar saya tidak keliru,” ucap Steven.


Dokter mengangguk. “Baiklah kalau begitu saya akan melakukan tes. Secepatnya kita lakukan sekarang.”


“Baik, Dok.”


Dokter pun langsung membawa Steven untuk melakukan tes kesehatan, juga golongan darahnya. Sampai akhirnya yang di harapkan akhirnya keluar. Steven pun masuk kedalam ruang di mana Alice berada. Saat Dokter sedang melakukan tugasnya, Steven tiada henti menatap kearah Alice yang masih belum sadar.


...----------------...


Darah Steven sedang mengalir masuk kedalam tubuh Alice. Steven berada di sampingnya menunggu sampai Alice tersadar.


“Alice, penderitaan yang kamu rasain seperti ini sama dengan penderitaan ku. Kita sama-sama kecewa meskipun kita masih terus berharap bahwa orang yang kita cintai memikirkan kita meskipun hanya sesaat. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu walaupun sekarang kebersamaan kita sudah melewati batas tapi, aku tahu semua yang telah kita lakukan adalah kesalahan namun, rahasia kehidupan tidak ada yang tahu. Alice, percayalah bahwa kamu tidak pernah sendirian karena ada aku di sini yang selalu mendukungmu bahkan menjadikanmu keluargaku. Cepatlah sadar,” gumam Steven penuh kasih sayang sambil terus menatapnya.


Steven terus menunggu Alice sadar tapi, sudah lama ia berada di dalam sana juga tetap Alice tidak juga sadar. Bahkan sebentar-sebentar ia memanggil suster untuk melihat keadaan Alice. Merasa kesal dengan apa yang terjadi hingga ia memutuskan untuk keluar dari ruangan itu.


“Alvero! Kamu akan membayar kesakitan yang sudah Alice rasakan!” geram Steven.


Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Arah tujuan Steven menuju ke apartemen Alice. Sesampai di sana ia berlari mencari keberadaan ponsel Alice. Lama ia mencari sampai akhirnya ia temui. Dengan bergegas ia langsung menekan nama panggilan Alvero untuk berusaha menghubunginya.


Alvero langsung menerima panggilan atas nama Alice. “Hay tunangan ku ... Ternyata kamu sudah berubah pikiran sampai akhirnya meneleponku. Ada apa, Alice? Apa kamu setuju kita akan kembali bekerjasama?”


“Dasar tidak tahu malu! Asal Lo tahu karena ulah Lo yang kurang ajar! Alice sekarang masuk ke rumah sakit! Sialan! Awas Lo kalau masih berani deketin Alice cuma buat dia sakit hati. Lo bakalan berhadapan sama gua!” bentak Steven dengan tegas melalui ponsel Alice.


“Apa? Alice masuk rumah sakit? Lo serius? Rumah sakit mana?!” tanya Alvero dengan sangat cemas.


“Rumah sakit harapan kasih. Gua tunggu Lo di sini,” ungkap Steven sambil mematikan ponselnya sebelah pihak.


...----------------...


Tiba di rumah sakit. Steven berlari masuk kedalam ruang Alice di rawat. Ia langsung mendekati Alice yang sudah tersadar.


“Steven.”


“Alice, kamu sudah sadar? Maaf aku keluar sebentar. Bagaimana kondisimu saat ini apa merasa baikan?”


Alice mengangguk. “Ya, walaupun tanganku masih terasa nyeri. Oh ya tadi suster di sini, dan aku menanyakan tentangmu tapi, katanya dia tidak lagi melihatmu setelah kamu memberikan darahmu. Steven, terima kasih kamu sudah menolongku bahkan mendonorkan darahmu untukku. Seharusnya kamu tidak perlu melakukan semua itu. Seharusnya kamu juga cukup membiarkan aku mati.”


“Alice, kematian bukan di tangan kita. Jika Dewa pencabut ajal belum memutuskan untuk kamu pergi maka kamu tidak bisa pergi. Kamu jangan khawatir, aku akan bersamamu, menjagamu, dan menjadikanmu keluargaku. Lagipula aku juga tidak memiliki keluarga yang lain kecuali teman-temanku yang semuanya telah ku jadikan seperti keluarga sendiri. Jadi, mulai hari ini buang semua rasa cemas karena aku di sini. Selama aku di sini tidak akan ada yang namanya Alvero yang akan menyakitimu,” sahut Steven panjang lebar sambil mengusap rambut Alice.


Alice menangis terharu mendengarnya. “Steven, aku benar-benar tidak menyangka kalau kamu akan berkata seperti itu denganku. Padahal kita hanyalah orang asing yang tidak sengaja bertemu. Aku benar-benar sangat berterima kasih bahkan semua itu tidak cukup untuk membalas jasamu. Bolehkan aku meminta satu hal lagi padamu? Tapi, aku tidak akan meminta jawabannya sekarang.”


“Tentu saja boleh jika aku bisa memberinya maka akan kulakukan. Jika takdir sudah berbicara maka sekalipun kita terus berusaha untuk menjauh pasti kita akan juga di pertemukan. Seperti kita sekarang aku bahkan tidak menyangka. Ya sudah katakan apa yang ingin kamu katakan, Alice? Setelah itu istirahatlah kembali.”


Alice tersenyum lebar. “Mungkin ini permintaan konyol tapi, aku merasa jika kedekatan kita semakin terasa. Steven, jika suatu saat aku mulai mencintaimu apakah kamu bersedia untuk menikahi ku? Maaf jika pertanyaan ini begitu aneh tapi, aku hanya iseng bertanya jikapun kamu tidak ingin menjawabnya ya sudah tidak mengapa.”


‘Apa yang Alice katakan? Bagaimana aku bisa menikahinya jika aku memiliki Claudia. Sungguh ini pertanyaan yang begitu mematikan,’ batin Steven.


Steven terlihat cemas. Ia tiba-tiba seperti berpikir sesuatu sampai akhirnya ia membuka suara. “Alice, aku meminta maaf nanti aku akan menjawab pertanyaan mu. Kau tahu, ponselku sejak tadi berada dalam mobil. Aku sampai lupa mengambilnya. Bolehkah kalau aku keluar sebentar untuk mengambilnya?”


‘Semoga Alice tidak marah dengan alasan yang sengaja ku buat-buat,’ batin Steven.


“Ya tentu saja boleh. Ya sudah sana ambil siapa tahu ada seseorang yang sudah menunggumu menghubunginya,” ungkap Alice yang langsung setuju.


“Baiklah terima kasih, Alice. Aku akan keluar sebentar hanya sebentar,” ucap Steven sambil tersenyum.


Alice menganggukkan kepalanya sembari membalas senyuman Steven. Begitupun sebaliknya Steven langsung melangkah keluar dengan senyuman yang masih terpancar di wajahnya.


‘Steven, aku tahu itu sulit untuk kamu jawab tapi, aku juga tidak akan memaksamu untuk menjawab pertanyaan ku. Terima kasih kamu telah membangkitkan semangatku untuk hidup kembali. Jikapun aku bisa memilih kemana cinta harus ku pilih maka aku sudah pasti akan memilih untuk hidup dengan mencintaimu namun, itu tidaklah mudah karena kita memiliki seseorang yang kita cintai walaupun hubungan kita telah begitu dalam tapi, aku tidak menyesalinya,’ batin Alice saat Steven telah pergi keluar.

__ADS_1


...----------------...


Di luar ruangan tersebut. Steven mengusapkan hatinya saat berhasil keluar dari sana.


“Huuf! Pertanyaan seperti itu sungguh membuatku tidak bisa berkata apapun. Bagaimana jika nanti Alice akan mempertanyakan lagi? Arrgh! Apa yang harus ku jawab? Ini benar-benar bingung,” gumam Steven.


Kecemasannya hingga membuatnya peluh keluar. Ia kemudian memutuskan untuk berjalan mengikuti langkahnya yang tidak ia tahu akan kemana. Namun, ia mengingat satu hal jika ponselnya memang berada di dalam mobil sampai akhirnya ia memutuskan untuk menuju kesana. Saat dalam perjalanan tiba-tiba ia tidak sengaja melihat Alvero yang sedang keluar dari mobilnya. Dengan berjalan lebih cepat sambil celingak-celinguk melihat ruangan yang akan ia masuki.


Steven pun mengejar kemana Alvero akan pergi hingga ia mereka bertemu di lorong yang sedikit sepi dari pengunjung rumah sakit. Steven kemudian menarik Alvero sedikit menjauh lalu ia mendorongnya dengan kasar.


“Woy! Apa masalahnya?! tanya Alvero dengan amarah.


“Masalahnya Lo tanya sendiri sama diri Lo!” sahut Steven dengan tegas.


“Maksud Lo apa?! Gue kesini datang baik-baik buat jenguk Alice terus Lo tiba-tiba sengaja halangi jalan gue!” bentak Alvero sambil mengepalkan tangannya.


“Karena Lo datang kesini itu adalah kesalahan, dan kesalahan terbesar Lo udah buat Alice sampai merenggut nyawanya sendiri hanya demi pria pecundang kaya Lo! Gua nggak akan biarin Lo temui Alice. Enggak akan!” geram Steven.


“Apa? Alice mau bunuh diri maksud Lo? Terus hubungannya sama gue apaan? Lo enggak jelas ya sumpah ngeselin lihat wajah sok pahlawan Lo itu. Ngapain sih Lo urusin hidup tunangan gue? Mendingan Lo balik sana pergi jauh-jauh sama temen-temen sialan Lo yang lain!” Alvero juga tidak ingin kalah.


“Dasar banyak ngomong Lo!” bentak Steven sambil menendang Alvero tepat mengenai dadanya.


Tanpa sempat Alvero berusaha berdiri, Steven kembali menjatuhkan pukulannya tepat mengenai wajah tampannya. Bahkan ia memukul sampai tiga pukulan dengan cepat.


“Lo tahu satu hal! Alice itu cinta sama Lo tapi, apa Lo sengaja mempermainkan dia buat jadi boneka Lo. Pikir dong! Sebagai cowok Lo itu lemah! Pengecut! Dengan wanita Lo berani-beraninya permainkan dia. Gua nggak akan biarin ini sampai terjadi lagi,” ancam Steven.


Steven berpikir jika tugasnya sudah selesai karena melihat Alvero yang masih belum bisa bangkit. Hingga ia memutuskan untuk pergi. Namun, saat itulah Alvero membalaskan tendangannya tepat mengenai punggung Steven bahkan sampai terpental.


“Sialan! Lo jangan sok tahu deh ya. Alice itu cuma mau jadi boneka gue karena dia cuma mengincar uang hanya uang! Dan mungkin saja dia akan melakukan hal yang sama buat Lo. Mengenai perasaan dia sendiri yang salah ngapain jatuh cinta sama gue. Bahkan dalam perjanjian gue nggak suruh dia buat jatuh cinta,” balas Alvero dengan sadis sambil menunjuk kearah Steven yang masih berada berusaha bangkit.


“Selama dia bahagia sama gua maka selama itu gua akan memberikan yang terbaik bahkan uang! Karena bagaimanapun seorang wanita itu lemah. Mereka hanya ingin di sayang. Apalagi seperti Alice. Dia hidup sendirian. Berjuang sendirian terus Lo datang cuma buat jadiin boneka yang saat Lo muak Lo buang gitu aja, terus Lo pungut dia lagi saat Lo udah kehilangan orang lain. Sadar brother, kalau Lo memperlakukan wanita seperti itu maka mereka akan memperlakukan dirinya tidak berharga,” ungkap Steven panjang lebar.


“Heh! Enggak usah berlagak sok jadi orang baik. Sok jadi pahlawan Lo. Tampang Lo padahal tampang yang sering gonta-ganti pasangan terus main di Club aja belagu. Udahlah basi tahu ngomong sama orang sok bener kaya Lo. Kalau emang Lo nggak bolehin gue jenguk dia ya udah apa susahnya gue tinggal pergi kok,” sahut Alvero dengan entengnya.


“Ya udah sana pergi. Gua ingat wajah Lo. Lo orang yang sama yang waktu itu nyerang Kelvin. Ternyata setelah merebut Viora terus sekarang Lo justru permainkan wanita lain. Kaya hidup Lo bukan lahir dari wanita aja. Ingat kata-kata gua. Kalau sekali lagi Lo datang cuma buat Alice menangis maka Lo bakalan terima lebih dari ini. Camkan itu!” ancam Steven sambil berlalu pergi di depan Alvero.


Alvero terdiam sendirian. Ia kembali mengingat semua yang telah Steven katakan padanya.


‘Alice, maafin aku. Aku tahu kalau aku telah melewati batas bahkan kamu telah kehilangan semuanya karena ku. Mulai dari teman, pekerjaan, lalu yang paling berharga mahkotamu juga telah ku renggut. Alice, mungkin aku memang bukan pria baik untukmu tapi, aku minta maaf kalau sampai saat ini aku belum bisa membalas cintamu. Semoga kamu lekas sembuh, dan hidup bahagia dengan Steven. Dia pria baik yang lebih mengutamakan kasih sayang untuk wanita,’ batin Alvero yang tiba-tiba merasa sedih.


Alvero akhirnya memilih untuk kembali pulang meskipun ia sangat ingin melihat keadaan Alice karena dirinya masih merasa bersalah dengan semua yang telah terjadi.


...----------------...


Di sisi lain. Rasa kesal Steven membuatnya tenang setelah bertemu dengan Alvero. Setidaknya ia sudah memberikan ancaman meskipun ia belum tahu kalau ancam itu berguna atau tidak bagi orang lain.


Ia kelelahan sampai ingin mendapatkan hiburan. Mengambil ponsel dari saku celananya tapi, saat itu hanya ada ponsel Alice bersamanya.


“Yah ... Gimana mau main game. Ponsel gua masih di mobil. Ah kudu balik lagi nih," gumam Steven.


Ia benar-benar kembali kearah mobilnya. Namun, saat ia mengambil ponselnya begitu banyak notifikasi yang belum terbuka. Sekitar lima belas panggilan yang tidak terjawab, dan dua puluh lima pesan masuk. Melihat panggilan mulai dari Kelvin, Viora, bahkan kekasihnya, Claudia.


“Ya ampun! Mereka semua sampai kabarin gua sebanyak ini. Ada apa ya?” tanya Steven kebingungan.


Ia lalu mulai membuka isi pesan satu persatu. Namun matanya justru melotot melihat isi di dalamnya. Bagiamana tidak isinya adalah dari Claudia yang terus mengomel karena ia tidak membalasnya. Begitu juga dengan Kelvin dan Viora. Mereka mengabari jika malam ini mereka akan pergi honeymoon.


“Bagaimana ini? Apa yang harus ku katakan? Pasti Claudia sangat marah denganku apalagi Kelvin. Dia sudah pasti akan menendang ku jika aku bertemu dengannya. Oh ... tidak! Aku benar-benar tidak berpikir sampai jauh kesana.” Steven cemas bahkan ia gundah.


Steven lalu masuk kedalam mobilnya agar bisa lebih leluasa. Ia kemudian menghubungi Claudia. Dengan cepat panggilan itu langsung terjawab.


“Baly! Kamu benar-benar sengaja yah tidak menjawab panggilanku, juga tidak membalas pesanku! Bahkan Kelvin yang sengaja menghubungi juga tidak kamu angkat! Aku marah padamu!” geram Claudia dari balik ponsel.


“Um, Ball. Tolong dengarkan kejelasan ku terlebih dahulu. Sebetulnya aku tid-”


“Mau alasan apa, Baly? Kamu sudah salah tetap kamu salah jadi jangan mengatakan alasan apapun karena aku tidak akan mendengarnya. Secepatnya sekarang temui aku di hotel. Nanti aku akan mengirimkan lokasinya padamu. Tidak ada bantahan! Aku ingin kamu datang titik!”


‘Astaga, Claudia. Dia dalam sekejap berubah menjadi Ibu tiri yang sangat kejam. Aduh ... Bagaimana ini?’ batin Steven.

__ADS_1


__ADS_2