Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
35~S3 Istriku. Gadis Kecilku Bertemu seseorang


__ADS_3

H A P P Y R E A D I N G


Steven tidak sengaja melihat seorang wanita pingsan di jalanan. Ia bergegas berlari menghampiri. Ia lalu melihat tumpukan berkas-berkas lamaran pekerjaan. Dengan cepat ia membopong tubuh Alice untuk ia bawa ke dalam mobilnya.


“Kasian sekali gadis ini pasti dia sangat lelah sampai pingsan,” gumam Steven.


Steven langsung melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit. Sambil mengendarai mobilnya sebuah panggilan masuk dari orang yang sangat ia kenal.


“Hallo, Kelvin,” sapa Steven dari balik ponselnya.


“Lagi di mana? Kenapa lama sekali? Gua udah capek tungguin di sini. Jika sebentar lagi Lo belum datang juga gua bakalan pulang. Istri gua dari tadi ngomel terus gara-gara Lo kelamaan pusing tahu dengernya, dan Lo tahu imbasnya itu sama gua. Sakit kepala,” omel Kelvin dengan cepat.


“Sorry brother, kayaknya gua juga nggak bisa datang nih soalnya lagi bawain orang ke rumah sakit. Sorry yah lain kali aja deh kita ketemu. Oh ya, tahan Claudia dulu di rumah Lo yah jangan sampai dia pergi,” ungkap Steven merasa bersalah.


“Yah ... Lo bilangin dong dari tadi. Ya udahlah kalau gitu gua matiin teleponnya yah,” ucap Kelvin.


“Okay.”


...----------------...


Setiba di rumah sakit. Steven langsung membopong tubuh Alice untuk di bawakan ke dalam ruang Emergency Installation atau disebut IGD, Instalasi Gawat Darurat. Dokter pun langsung menangani pasiennya. Setelah memeriksa keadaan Alice hingga dokter pun keluar sambil bertemu dengan Steven.


“Dok, bagaimana keadaannya?” tanya Steven.


“Anda suaminya? Nanti tolong secepatnya siapkan berkas-berkas biaya perawatan untuk pasien bernama Alice. Mengenai kondisinya dia tidak apa-apa hanya sedikit kelelahan sebab kondisi tubuhnya juga sangat lemah jadi sebaiknya usahakan untuk beristirahat terlebih dahulu, dan juga saya sudah menyiapkan resep obat untuk kembali memulihkan tenaganya,” ungkap Dokter dengan jelas.


“Umm be-benar. Baiklah jika begitu, Dok. Bolehkan sekarang saya melihatnya?” tanya Steven.


“Yah tentu saja. Pasien setelah sadar juga langsung sudah bisa pulang. Kalau begitu saya permisi dulu.”


“Baiklah, Dok. Terima kasih.”


“Sama-sama.”


Steven melihat seorang gadis terbaring lemah. Ia merasa prihatin melihat seorang wanita seperti itu. Tanpa sadar dirinya mengusap lembut rambutnya hingga membuat gadis itu perlahan membuka matanya.


“Siapa kamu?! Pasti mau macam-macam yah sama aku?!” tanya Alice dengan tegas.


Steven menepuk kening sambil menggelengkan kepalanya. “Ya ampun ... Lo udah di tolongin malah nggak tahu terima kasih terus sekarang malah nuduh gua mau macam-macam. Emangnya wajah tampan gua ini keliatan mau macam-macam hah?”


“Yah siapa tahukan? Lagian kamu berani-beraninya pegang aku. Eh, tunggu ini di mana? Ru-rumah sakit?”


“Iya rumah sakit. Puas Lo!” sahut Steven kesal.


’Aduh! Aku tadi ingat lagi cari kerjaan terus pusing terus akhirnya aku nggak ingat apapun. Apa mungkin Pria ini udah nolongin aku?’ batin Alice sambil melirik kearah Steven.


“Apa lihat-lihat?” tanya Steven.


Alice menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. “Enggak! Anu makasih ya udah mau tolongin aku. Soalnya aku baru ingat kalau tadi aku tiba-tiba pusing dan nggak tahu apa-apa lagi. Oh ya nama kamu siapa? Kalau namaku, Alice Angely, panggil Alice.


“Namaku Stevenson, panggil Steven. Oh ya, Lo lagi ngelamar kerja ya?” ucap Steven sambil bertanya.


“Iya tapi, masalahnya udah mutar-mutar tapi, tetap nggak ada yang mau terima aku kerja,” sahut Alice.


“Cari kerjaan sekarang emang sulit sih tapi, aku bisa kasih kamu kerjaan cuma bukan di sini. Di Filipina, tempatku sekarang di sana, dan aku kesini cuma mau temuin seseorang. Cuma mungkin pasti sulit buat kamu terima kerja karena harus pindah,” ungkap Steven.

__ADS_1


’Gimana yah? Kalau aku terima ajakan dia pasti aku langsung bisa dapet kerja tapi, aku harus pindah. Mungkin setelah aku pindah, aku nggak bisa lagi ketemu sama Alvero. Haruskah perjuangan cintaku sampai di sini?' batin Alice.


“Mungkin lain kali aja deh soalnya aku harus mikir matang-matang kalau harus pindah. Tapi, sekali lagi makasih yah kamu bahkan mau nawarin pekerjaan buatku,” sahut Alice sambil tersenyum.


“Yah sama-sama. Ini ambil aja kartu nama gua Siapa tahu nanti Lo butuh. Gua tuh kasian lihat wanita pergi cari kerja apalagi sampai pingsan begini. Soalnya gua dulu pernah punya adik tapi, sekarang gua nggak tahu hidupnya itu gimana apa udah membaik atau belum jadinya yah hati gua selalu ngerasa sedih liat wanita kesusahan," ungkap Steven sambil curhat.


“Oh ... Begitu. Semoga Lo cepat ketemu sama adik Lo itu yah,” sahut Alice.


Kruk. Kruk. Tiba-tiba perut Alice keroncongan. Ia menahan malu saat mendengar suara perutnya.


‘Aduh ... Pasti Steven denger nih,’ batin Alice sambil menutupi perutnya.


Wajah Steven seketika mendekati wajah Alice. Hingga akhirnya ia tertawa melihat tingkah lucu wanita didepannya.


“Lo laper yah?” tanya Steven sambil tersenyum.


“Emm iya nih,” sahut Alice.


“Ya udah cari makan yuk! Kebetulan juga udah mau waktunya makan siang,” ajak Steven sambil mengulurkan tangannya.


“Eh! Nggak usah lain kali aja. Kamu udah tolongin aku rasanya udah makasih banget apalagi sekarang malah ajak makan. Nggak apa-apa deh nggak usah,” tolak Alice dengan halus.


‘Ya ampun ... Gua padahal mau banget!’ batin Alice.


”Oh gitu ya udah gua pergi dulu ya. Lo bisa 'kan pulang sendirian?” tanya Steven sambil melangkah sedikit.


“Eh bentar-bentar! Aku nggak jadi nolak. Yuk kita makan tapi, di traktir ya,” ucap Alice sambil menahan senyumnya.


Steven justru menjentikkan jarinya tepat di kening Alice. “Makanya alasan lagi udah tahu laper. Ya udah yuk!”


“Sakit tahu!” ucap Alice dengan mengusap keningnya.


‘Dia Pria baik, tampan lagi. Meskipun dia terlihat sedikit angkuh tapi, caranya memberi perhatian terhadap orang lain berbeda dari kebanyakan Pria yang kukenal. Semoga setelah aku bertemu dengan Steven perlahan-lahan aku bisa lupain Alvero walaupun sejujurnya sulit tapi, siapa tahu bisa jika aku harus mencobanya,’ batin Alice.


...----------------...


Tiba di restoran. Steven meminta Alice untuk memesan makanan apa saja yang di inginkan. Begitupun sebaliknya. Mereka larut dengan hidangan lezat. Saling terdiam sampai Alice berpikir ia sedikit canggung dengan keadaan seperti ini hingga ia memutuskan untuk memulai basa-basi.


“Steven, abis ini tujuan kamu kemana?” tanya Alice sambil memasukkan makanan kedalam mulutnya.


“Yah cari penginapan lagipula gua di sini belum ada tempat tinggal,” lirih Steven.


“Oh ... gitu. Gimana kalau nginap di tempatku aja? Soalnya aku juga sendirian sih,” ajak Alice berbaik hati.


“Serius? Emangnya boleh kalau gua nginap? Nanti kalau marah pacar Lo gimana?” tanya Steven memastikan.


“Pacar? Aku belum ada pacar. Lagipula aku juga abis di tolak sama orang yang aku suka tapi, ya udahlah semuanya juga udah terjadi jadi nggak perlu di ingat lagi,” ungkap Alice sambil sedikit curhat.


“Oh ya?! Kebetulan dong. Gua sebenarnya juga bernasib sama kayak Lo. Orang yang udah gua anggap adik tiba-tiba gua perlahan jatuh cinta sama dia tapi, akhir-akhirnya cinta gua di tolak,” sahut Steven.


“Wah ... Kisah cinta kita berdua tragis ya haha,” ledek Alice sambil terus tertawa.


“Yah mau gimana lagi. Kita juga nggak mungkin paksa orang buat juga sayang sama kita. Sejujurnya sih gua sampai sekarang belum bisa move on. Tapi, udahlah semuanya udh terjadi, dan gua cuma bisa pasrah sama Tuhan. Bye the way, jangan bahas ini dong gua ingat-ingat yang dulu justru tambah buat hati gua nggak bisa lepas padahal semuanya udah berlalu cukup lama, bisa di bilang sih sekitar lima tahunan lebih gua masih belum bisa move on,” curhat Steven dengan mencoba ikhlas.


‘Ya ampun ... Steven belum bisa move on udah lima tahun lebih. Apa mungkin aku juga bakalan bernasib sama dengan dia? Keliatannya hati Steven benar-benar tulus sampai dia belum bisa lupakan orang yang dicintai padahal jika di lihat dia cukup mapan untuk mendapatkan siapapun yang di inginkan,’ batin Alice.

__ADS_1


“Steven, gua turut prihatin ya dengan keadaan Lo yang belum bisa move on ini,” ucap Alice dengan penuh perhatian.


“Hahahaha santai aja lagi. Gua juga nggak terlalu ingat-ingat meskipun setiap malam gua selalu bayangin dia datang temuin gua lalu memulai semuanya dari awal tapi, mungkin itu cuma khayalan yang sulit buat di capai. Tapi, ya udahlah gua juga nikmati hidup ini enjoy walaupun gua nggak ada pasangan. Selagi gua suka, bahagia yah gua lanjut meskipun itu harus bermalam di sebuah Club. Asalkan diri Lo sendiri senang yah nikmati aja nanti kedepan Tuhan juga bakalan kasih kebahagiaan buat kita,” ungkap Steven penuh semangat.


‘Benar kaya Steven. Mungkin ini saatnya aku tunjukkan bahwa aku bisa melupakan Alvero, dan memulai semuanya kembali dari nol meskipun aku harus banting tulang dari nol lagi buat lanjut hidup ini. Ternyata aku beruntung bertemu dengan Steven. Dia orangnya nggak mudah menyerah dengan apa yang udah terjadi,' batin Alice.


Alice tidak menjawab curhatan dari Steven. Ia lebih memilih tertawa sampai akhirnya mereka tertawa bersama hingga tanpa terasa hidangan di depan habis tanpa tersisa.


Steven pun pamit untuk membayar semua biaya yang telah di keluarkan hingga tanpa sadar ia meninggalkan ponselnya di atas meja. Alice yang penasaran diam-diam mencoba mengambil ponsel tersebut. Beruntung sekali tidak ada pengaman kunci di dalam sana. Hingga Alice diam-diam mencatat nomor handphone miliknya kedalam ponsel Steven sampai meninggalkan gambar dari hasil ia Selfie.


‘Yes! Yah meskipun aku bisa menghubunginya melalui kartu nama miliknya namun, siapa tahu dia membutuhkanku lebih dulu atau rindu dengan wajahku. Nggak apa-apalah sedikit ngehalu,’ batin Alice dengan percaya diri.


Dengan cepat Alice menaruh kembali ponsel tersebut saat tahu Steven sedang menuju kearahnya. Memasang wajah polos seakan tidak melakukan apapun.


“Ayo kita pulang,” ajak Steven.


Sambil tersenyum serta menganggukkan kepala, Alice merasa lega dengan apa yang sudah ia lewati. Mereka pun pergi meninggalkan tempat itu. Di dalam mobil Steven terus bertanya jalan mana menuju ke apartemennya Alice hingga akhirnya mereka berdua sampai di tempat tujuan.


“Kita sampai! Ayo masuk! Tapi, maaf apartemenku sangat berantakan sebab aku baru pindah jadi belum sempat merapikan barang-barang ku,” ucap Alice.


“Yah tidak masalah. Gua juga enggak terlalu pemilih,” sahut Steven.


“Baiklah. Selamat datang di tempatku. Mari silahkan duduk. Aku pergi sebentar buat rapikan barang-barang dulu, hanya sebentar!” ungkap Alice sambil tersenyum.


“Ya-ya lanjutkan. Gua mau istirahat sebentar," ucap Steven sambil merebahkan tubuhnya di sembarang tempat.


“Eh! Jangan di sini. Ayo masuk kedalam kamarku. Di sini masih kotor. Lebih baik istirahat di kamarku sebab di sana masih sedikit rapi,” tahan Alice dengan cepat.


Steven tidak menjawab, ia hanya mengangguk sebab memang dirinya kelelahan apalagi tidurnya yang tidak nyenyak. Hingga akhirnya tanpa memikirkan apapun Steven melepaskan pakaian atas lalu merebahkan diri. Dengan sekali mata terpejam ia langsung tertidur pulas.


Alice berdiri sambil tersenyum melihat kearah Steven. Ia pun melanjutkan pekerjaan yang belum ia selesaikan sampai akhirnya selesai.


“Piuh ... Akhirnya selesai juga. Semuanya udah rapi baju udah di kemas. Eh! Apa Steven nggak bawa pakaian? Kayaknya pasti dia bawa. Coba aku periksa ah ke mobilnya,” gumam Alice.


Alice celingak-celinguk mencari keberadaan kunci mobil milik Steven. Hingga ia menemukan kunci tergeletak di atas meja. Dengan keberanian diri untuk melihat langsung ke dalam mobil hingga akhirnya ia menemukan sebuah koper besar berada di bagian belakang.


“Tuhkan! Apa yang udah tebak ternyata benar. Daripada Steven sibuk-sibuk cari hotel nantinya lebih baik dia tinggal di sini sementara. Sebagai balas jasa aku akan menata barang-barang miliknya dengan rapi,” gumam Alice sambil menyeret koper tersebut.


Tak kenal rasa lelah ia terus menata pakaian milik Steven sampai dengan pakaian dalam, semuanya ia masukkan kedalam lemari yang masih tersisa satu ruang kosong. Hingga akhirnya semuanya selesai. Dengan senyuman terpancar ia melihat tatanan rapi yang baru saja ia buat.


‘Pasti Steven bakalan senang,’ batin Alice.


Peluh keluar membasahi tubuhnya hingga akhirnya ia memutuskan untuk membersihkan diri.


...----------------...


Beberapa saat setelah membersihkan diri Alice keluar dengan tubuh segar. Namun, rasa kantuk akibat kelelahan justru datang menghantui matanya. Hingga ia memutuskan untuk membaringkan tubuhnya tepat di samping Steven yang masih pulas tertidur.


Malam berbalut sepi, dingin merayu hati. Cahaya bulan ikut menghiasi serta nuansa misteri menyelimuti. Steven terjaga saat kehidupan sudah berubah menjadi gelap. Ia merasakan sebuah tangan merangkul pinggangnya dengan erat. Sambil mengucek mata ia melihat Alice sudah terbaring di sampingnya.


“Alice? Sejak kapan dia tidur di sebelahku?” tanya Steven dengan suara pelan.


Steven memandang wajah Alice dengan begitu lama. Ia tidak tega mengganggu tidurnya hingga akhirnya pelan-pelan mencoba memindahkan tangan Alice yang berada di tubuhnya.


“Wah ... Rumahnya sudah rapi, sepertinya Alice sangat lelah pasti nanti setelah bangun dia lapar. Sebaiknya aku mengambil beberapa makanan yang sudah ku sediakan di mobil,” gumam Steven.

__ADS_1


Steven beranjak pergi keluar. Dengan rasa sedikit malas sambil menguap ia membuka mobilnya namun, saat ia buka bagasi mobil belakang hanya ada beberapa makanan cemilan yang masih utuh tapi, barang berharga miliknya telah hilang.


“Ya ampun ... Apa mungkin ketinggalan? Tapi mana mungkin perasaan gua juga bawa koper. Aduh ... Gimana nih? Masa harus belanja lagi di sini buang-buang uang sama tenaga aja tapi, apa yang harus gua pakai nantinya? Ah sial! Pasti ketinggalan nih kalau nggak mana mungkin bisa hilang di dalam mobil yang masih terkunci. Pakai lupa segala lagi,” kesal Steven.


__ADS_2