
Happy Reading
“Jangan ngomong ngaco sayang! Udah ah aku nggak mau dengerin kata-kata gitu, kalau kamu pergi aku juga bakalan pergi dan anak-anak kita entar biar Kelvin yang urus,” ucap Reiner kesal.
“Bee! Aku cuma becanda ihhh kamu gitu, masak iya Kelvin yang urus? Mana mau dia Kelvin aja belum kawin,” timpal ku yang mudah percaya.
“Iya sayang, aku cuma bercanda kok. Ya udah yuk turun kita udah sampai rumah nih.”
Mereka akhirnya telah sampai di kediaman tersayang. Reiner langsung membuka pintu mobil serta membantuku berjalan karena high heels yang kupakai membuatnya takut aku tergelincir.
Sesampainya di kediaman aku sempat bingung melihat ternyata sudah ada Vanny yang menunggu kami di teras rumah. Entah apa yang ia tunggu padahal di pesta ulangtahun Kelvin, kami sempat bertemu hingga berbincang-bincang.
“Hay Zoya, ku pikir kalian berdua belum pulang?” sapa Vanny yang langsung mendekatiku.
“Oh ... Tadi iya sih rencananya belum mau pulang terus yah aku kecapean. Eh kamu kok di sini masuk yuk,” ajakku.
“Ya, Zoya,” ucap Vanny seraya mengikuti kami masuk.
Reiner langsung menuju ke kamar sedangkan aku masih berada di ruang tamu bersama Vanny.
“Zoya, sebenarnya aku kesini itu mau kasih tahu sesuatu,” lirih Vanny.
“Kasih tahu apa?”
“Tadi di pesta Kelvin untung saja kalian tidak jadi minum racun. Untung aja cepat-cepat kalau nggak bisa gawat,” ungkap Vanny dengan pengakuan.
“Apa racun?! Racun di mana? Perasaan tadi kami semua baik-baik aja kok. Jangan aneh-aneh nanti bisa jadi fitnah loh. Apa jangan-jangan kamu lagi yang kasih racunnya untukku?” ucapku yang langsung menuduh tanpa bukti.
__ADS_1
“Heh! Gua itu bantuin Lo yah jadi bukan gua yang kasih racun! Lo tuh makin hari makin di baikin makin ngelunjak tahu nggak, kesel gua nolongin Lo. Padahal biar aja Lo tuh mati minum racun terus suami Lo jadi buat gua!” bentak Vanny dengan tegas dan jelas tanpa berpikir apa yang dia maksud seraya ia langsung menutup mulutnya dengan tangannya.
‘Astaga mati aku, kok aku bisa sampai keceplosan? Aduh ... bodoh banget,’ batin Vanny ketakutan.
“Emm Zo–Zoya, maksudnya ngga gitu. Aku tadi bersyukur nolongin kamu, serius! Ngga ada rencana kok buat hancurin hubungan kalian.” Dengan ketakutan Vanny membela ucapannya.
‘Vanny kok aneh, dia bukan seperti temanku dan lagi apa maksudnya bawa-bawa nama suamiku?’ batinku.
“Zoya apa?! Jadi maksudnya kamu tuh nyesal udah nolongin aku, terus sekarang kamu bilang kalau kamu mau jadi pelakor di antara hubungan aku, gitu? Denger yah Vanny, aku paling ngga suka kalau ada teman yang berusaha nusuk aku dari belakang. Kupikir kamu itu temanku karena sewaktu kita masih bekerja kamu selalu baik dan bantuin aku tapi ternyata aku salah. Kamu pikir aku nggak percaya, aku yakin semua yang diucapkan dengan keceplosan itu semua adalah fakta.”
“Oh gitu? Jadi sekarang kamu udah sadar siapa aku. Karena udah ketahuan ya udah aku kasih tahu lagi siapa aku yang sebenarnya. Kita memang temanan Zoya, tapi apa kamu pikir aku tulus? Bulshit! Aku kesal karena kamu sejak dari kecil hidup dengan berlimpah harta dan saat kerja pun justru kamu menikah dengan Bos tanpa pikirkan perasaanku. Apa itu teman yang adil?! pekik Vanny dalam amarahnya.
“Sadar Vanny, kamu itu cuma iri dan itu ngga sepantasnya. Kita udah temanan lama bahkan kemanapun kita selalu bareng dari mulai sekolah sampai kerja, tapi apa ternyata kamu memiliki dendam denganku yang tidak sama sekali aku lakukan!”
“Yah memang benar, kamu tidak melakukan apapun, tapi karena kehadiranmu aku selalu yang jadi masalah. Karena sekarang tidak ada lagi yang dibicarakan, lebih baik kamu mati!” bentak Vanny yang terus mendekat kearahku.
“Vanny sadarlah aku ini temanmu!” teriakku supaya membuat ia tersadar.
‘Bisa-bisa aku mati sungguhan. Bee, di mana kamu keluarlah ku mohon bantu aku,’ batinku.
Aku berusaha menjauh karena keadaanku seperti ini tidak mungkin bisa melawannya. Vanny yang terus mendekat, tapi kupikir dia mendekatiku dengan tangan kosong ternyata dia memiliki senjata. Pisau kecil lipat yang sangat runcing berada di tangannya. Entah darimana pisau itu berada sebab di kediaman ku tidak memiliki senjata itu. Aku sendiri terus melihat kearah tangannya.
“Kenapa Zoya, kamu takut? Haha aku sudah tebak kalau kamu takut. Ah ya sebelum aku mencabik-cabik tubuhmu baik ku perkenalkan tentang senjata ini. Pisau ini selalu aku bawa kemanapun aku pergi yah ... awalnya ini hanya untuk berjaga-jaga untuk keselamatanku, tapi sekarang senjata ini untuk membunuhmu!” Vanny tidak lagi bermainm ia sungguh ingin menghabisi ku.
‘Jika aku teriak pasti aku akan langsung di tusuk olehnya, tapi jika tidak aku juga akan mati di sini. Oh Tuhan. Di mana suamiku, apa dia tidak mendengar sejak tadi keributan di sini?’ batinku.
“Zoya! Matilah kamu!” Vanny mengangkat pisaunya tinggi dan berniat akan menghabisi ku sepertinya dengan sangat tusukan keras.
__ADS_1
‘Oh Tuhan, jika memang aku mati ampunilah dosaku dan juga maafkan aku yang tidak bisa menjaga bayiku. Maafkan Mommy sayang,’ batinku.
BRUGG!
Entah suara apa, tapi aku tidak tahu pasti karena mataku terpejam. Lalu saat aku membuka mata terlihat kalau Vanny sudah tergeletak di sampingku.
“Bee, untung saja kamu cepat datang,” ucapku bersyukur seraya menyambut pelukan darinya.
“Iya sayang, aku tidak mungkin membiarkan istriku melawan siluman bermuka dua seperti ini. Sebentar sayang. Pak satpam! Tolong bawakan wanita ini pulang ke rumahnya, sepertinya dia hanya pingsan dan serahkan pisau itu padaku,” perintah Reiner dengan tegas.
“Siap Tuan, perintah dijalankan!” ucap petugas keamanan kediaman kami.
Vanny pun akhirnya di bawa pergi. hingga aku tidak merasakan ketakutan lagi.
“Bee, mau minum aku haus ...,” rengek ku dengan manja.
“Iya sayang, sebentar yah aku ambilkan,” sahut Reiner seraya beranjak pergi.
‘Aku tidak habis pikir Vanny sampai merusak pertemanannya dengan sifat iri hati. Padahal kami sudah berteman lama bahkan semua persoalan tentang Kelvin, aku juga sudah memberitahu dia. Sebaiknya nanti aku harus menghubungi Kelvin,’ batinku saat ditinggal sendirian.
Lamunanku buyar saat mendengar suara kaki yang terus mendekat kearahku. Siapa lagi jika bukan suamiku yang sedang membawa minuman untukku.
“Ini sayang, minumlah,” ucap Reiner seraya memberikan gelas.
“Terimakasih, Bee.”
* * *
__ADS_1
Hiks ... Hiks .... Hiks. Si Vanny muka dua jahat banget, tapi syukur Zoya sudah tahu. Lalu bagaimana dengan keadaan Kelvin? Berikan kesan dan dukungannya, terimakasih cinta.
Salam sayang ~ Meldy Ta.