
Happy reading
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Apa aku tidak salah dengar Kelvin? Kamu bilang menyiapkan pistol untukku? Tapi sayang, kamu tidak akan berani membunuhku, apa kamu tidak takut masuk penjara lalu reputasi mu akan hancur, jelas-jelas itu sama saja dengan menyakiti dirimu sendiri,” ucapku berusaha mengalihkan ancamannya.
“Aku tidak mau mendengarkan apapun jadi pergilah sebelum ancaman benar-benar akan menembak mu!” bentak Kelvin dengan serius.
Merasakan memang ia sangat serius, aku sedikit ketakutan dengannya apalagi dia berusaha mengancam ku dengan pistol entah memang benar adanya atau tidak justru aku juga harus berhati-hati. Aku hanya tersenyum kikuk karena takut lalu pergi dari ruangannya.
(Kelvin Marble)
Kepergian Elie dari ruangan ku membuatku sedikit tenang, padahal aku hanya mengancamnya dengan pistol sebab memang tidak ada benda itu padaku, hanya gertakan tapi tetap berhasil.
---------------------------------------
(Viora Lausy)
“Hallo Papi, yah aku masih berkemas-kemas kok tenang saja, emm ... tentu saja aku tidak akan terlambat lalu akan mendengarkan ucapanmu baiklah Papi, aku tutup teleponnya yah, tunggu aku di sana bye sampai jumpa,” ucapku lalu mematikan sambungan ponselku.
Papi barusan meneleponku, biasalah kebiasaan setiap keluarga rindu dengan gadis kecilnya tapi aku harus berbohong dengan Papi kalau aku masih magang di tempat Kelvin supaya Papi tidak cemas dan marah jika mengetahui kami sedang bertengkar.
Kembalinya aku ini adalah sebagai tanda jika aku merindukan keluargaku bukan untuk membawa kekecewaan karena telah di lukai meski aku harus terus berusaha berbohong dan mengatakan jika hubungan kami baik-baik saja.
__ADS_1
Perjodohan antara keluargaku dan keluarganya Kelvin mengharuskan aku untuk berbohong kepada mereka. Kelvin sendiri tidak mengetahui tentang masalah perjodohan itu karena dia sibuk mengurus perusahaanya di sini sebab hanya aku yang di utuskan untuk bersama Kelvin dalam status sebagai pegawai magang di perusahaannya.
Hari berganti hari aku hanya berdiam diri di kediaman Zoya tanpa berani keluar sedikitpun meski aku bosan tapi mau bagaimana lagi aku harus berusaha menjauh dari Kelvin. Zoya sendiri selalu menyuruhku agar keluar tapi aku tidak berniat sebab jika pergi jalan-jalan aku takut jika sewaktu-waktu bisa bertemu dengannya.
Acara ngambek ku bisa gagal jika aku melihat Kelvin Itulah sebabnya, sangat tidak asyik bukan setelah berusaha kabur, menulis surat bucin terus tiba-tiba muncul dengan kegembiraan karena telah melihatnya. Meskipun aku sedih dan marah tapi tetap saja aku rindu dan ingin bertemu.
Hari ini tepat dua Minggu setelah aku mencoba kabur dari kediaman Kelvin. Dan hari ini adalah hari untuk aku kembali ke halaman rumahku yang sebelumnya karena apa aku ingin benar-benar meninggalkan semua kenangan yang tersisa di sini. Entah sampai kapan aku terus seperti ini menghindar dari semua kekecewaan.
Zoya dan Reiner sudah mewanti-wanti diriku agar mengulurkan waktuku supaya tidak pergi sampai aku bisa berbaikan dengan Kelvin tapi rasanya tidak nyaman jika aku sendiri yang datang setelah kabur darinya. Biarkan kali ini aku benar-benar pergi jika memang nanti dia menginginkan diriku dengan lapang dada aku memberikan izin agar ia datang padaku langsung tapi meskipun begitu untuk aku menerima dirinya kembali masih butuh waktu agar aku bisa memikirkan tentang semua cinta yang pernah ia lukai.
Saat ini aku sedang bersama Zoya, ia sedang membantuku berkemas-kemas. Sembari ia membantuku memasukkan semua barang-barang milikku saat itu pula air matanya menangis, aku sendiri jadi ikut-ikutan menangis karena dirinya.
Justru melihat Zoya menangis seperti itu semakin membuat kakiku berat untuk meninggalkan dirinya, bagaimana tidak dia sudah seperti kakakku sendiri padahal tak ada ikatan tali persaudaraan hanya status sahabat Kelvin tapi justru ia sangat baik denganku.
“A_aku tidak akan melupakan mu, kamu dan kakak Reiner sudah sangat baik terhadapku meksipun aku di sini menyusahkan mu, Zoya maafkan aku,” sahutku tulus saat membalas pelukannya.
“Jangan katakan seperti itu Viora, kami tetap akan baik denganmu dan selalu berusaha membantu jika kami bisa lakukan, pergilah dengan tenang dan jangan pernah lupakan aku dan Reiner, juga jangan lupa mengabari ku. Ingat satu hal kembalilah jika memang kamu ingin, pintu akan selalu terbuka untuk menunggu mu,” pesan Zoya untukku lalu ia melepaskan pelukannya.
“Baik Zoya, aku berjanji tidak akan pernah melupakan kalian, tolong jangan terus menangis biar aku bisa tenang. Ayo ... tersenyumlah,” ucapku dengan senyuman.
Zoya pun menurut ia lalu tersenyum meskipun isakkan tangisnya masih bisa ku dengarkan. Lalu kami berdua keluar dari kamar. Saat dalam perjalanan menuju pintu gerbang ada Reiner dan juga Vanny sudah menungguku sejak tadi.
Vanny mencoba mendekatiku, matanya sudah berkaca-kaca, “Viora ... jangan lupakan aku, pasti nanti aku akan merindukanmu,” ucap Vanny yang sekarang memelukku.
__ADS_1
“Pasti teman, aku akan selalu ingat denganmu,” sahutku serta membalas pelukannya.
Lalu aku berjalan menghampiri Reiner yang sedari tadi hanya melihat kami yang sudah terhanyut dalam tangisan.
“Kakak Reiner ... aku izin pamit, terimakasih sudah mau menerimaku di sini, bolehkah jika aku memelukmu sebagai tanda dirimu kakakku?” tanyaku terlebih dahulu karena tidak mungkin aku langsung memeluknya tanpa izin.
“Tentu saja peluklah aku, Zoya pasti tidak akan cemburu memeluk adiknya yang akan pergi. Emmm gadis kecil yang nakal ... sampai di sana jangan lupakan aku, jika nanti Debay kembar lahir kami akan pergi berlibur bersama menemui mu, ah satu lagi pesanku jadilah gadis dewasa yang baik dan jangan menyakiti perasaan orang lain meskipun sekarang kau yang sedang tersakiti, ingat itu,” ucap Reiner memberi pesan untukku saat dalam pelukannya.
“Terimakasih kakak Rei, aku akan mengingatkan pesanmu, dan aku janji ... akan jadi gadis dewasa yang seksi seperti kakak Zoya,” sahutku sedikit bercanda dibarengi dengan tawa kikuk.
Bukan ikut tertawa justru Reiner menjentikkan jarinya tepat di keningku. “Hey gadis nakal, kau ini benar-benar yah, ah lama-lama aku ikutan stress kali ini.”
Semua orang yang di sana akhirnya tertawa dalam tangisan, mereka suka dengan kelucuan itulah yang aku mau, membuat mereka bahagia saat kepergian ku.
* * * *
Aku harus pergi agar bisa membuatmu bahagia
Meninggalkan luka yang mungkin tidak akan pernah terlupakan. Semoga dengan kepergian ku membuatmu tenang dan bisa bahagia dengan pilihanmu. (Viora–Kelvin)
≈≈≈≈≈
Maaf ya biasanya aku up pagi terus tiba-tiba udah beda jadwal, sibuk guys dunia nyata menyita waktuku. Ehmm gimana kesan kalian untuk episode ini? Aku harap suka, kalau tidak suka aku bisa gila wkwkw
__ADS_1