Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
Eps 38. Kecewa part2


__ADS_3

Jika hati telah dikhianati, nyerinya terasa dalam senyap. Lukanya tak mudah lenyap. Meski akan sembuh namun tetap tidak akan terobati


********


Melihat aku yang tidak ingin disentuh akhirnya Reiner memilih untuk duduk di sampingku menemani aku yang sedang menangis. Ia terus mencoba membuatku agar mau bicara tapi aku tetap tidak bicara, bahkan melihatnya di sini justru semakin amarahku memuncak. ‘Haruskah aku memarahinya?’


"Sayang, bicaralah kumohon aku sungguh tidak tahu harus apa jika melihatmu seperti ini" ungkap Reiner. Ia terus mengajakku mencoba untuk jujur tapi sangat berat mengatakan jika aku sudah terlanjur kecewa karena cinta masa lalunya dulu. Aku beranjak bangun dan pergi melangkah keluar dari Kamar, kulihat suamiku mengikuti dari belakang. Tidak lupa mengambil tas aku berniat untuk kerumah Kelvin.


Saat ingin aku keluar dari rumah, tanganku ditahan olehnya, membuat langkahku berhenti dan mematung. "Sayang mau kemana? Kumohon jangan seperti ini, jika memang aku ada salah selesaikan dulu baik-baik" ucap Reiner. Aku melepaskan tanganku dengan menariknya. Dan mencoba mengatur nafas sebelum aku mulai berbicara.


"Mas, tolong mengertilah beri aku waktu agar aku bisa menceritakan semuanya dan sekarang tolong beri aku jalan untuk menenangkan diriku dulu," ungkapku. Dan setelahnya aku melangkah pergi tapi dia lagi-lagi meraih tanganku. "Maaf sayang tapi bisa beritahu kemana kau akan pergi?" Aku menggelengkan kepalaku mendengar ucapannya.


Dia menarik tanganku dengan keras hingga aku terpental ke pelukannya. Lalu dia membawaku berjalan beriringan dengannya, aku sudah mencoba untuk melepaskan diri tapi kekuatannya lebih kuat dariku, air mataku terus mengalir dan lagi sekarang dia memaksaku. Sampai ia berhenti di dalam kamar dan menguncinya bersamaan dengannya.


"Buka pintunya!" Aku berteriak dihadapannya, tapi dia terus menggelengkan kepalanya. "Katakan sayang kau kenapa baru aku akan membuka pintu," ungkapnya.

__ADS_1


"Aku sudah katakan aku butuh waktu untuk sendiri dulu, mengertilah!" Aku geram dengannya.


"Aku tidak bisa membiarkanmu pergi begitu saja sayang, dan lagi saat dirimu seperti ini, menangis tidak jelas dan tidak mau bicara! Apalagi kau sedang mengandung, kumohon jangan menyakiti dirimu tapi katakanlah padaku, kita akan menyelesaikannya baik-baik tanpa kau harus pergi menyendiri dulu!" Ungkapnya. Lalu dia terduduk lesu, dan aku lihat matanya menangis.


Aku terus menangis tidak memperdulikan ucapannya, aku tahu sekarang air matanya keluar tapi bagaimana mungkin aku jujur. Aku sangat malu menyatakannya, sebab cintanya dulu itu adalah miliknya bukan milikku yang harus aku tahu, tapi hatiku sangat tidak terima mereka sudah saling mengenal satu sama lain sangat dalam, biarkan aku yang tahu jika memang aku harus merasakan sakit.


Kulihat ia perlahan mendekatiku, aku masih menunduk dalam tangis ku, ia mencoba untuk memelukku. "Sayang kumohon jangan lepaskan pelukan ini, menangislah jika memang kau ingin melepaskan semua beban mu dan maaf jika aku memaksamu untuk bercerita," ungkapku Reiner.


Hatiku seakan tersentuh oleh ucapannya, dan aku membiarkan ia memelukku, dan terus aku menangis di pelukannya. Ia sedang mengusap rambutku dengan perlahan. Setidaknya hatiku sedikit membaik seperti ini meskipun aku tahu bayangan mereka masih terlintas dalam benakku.


Gelapnya malam, aku terbangun dalam pelukannya. ‘Sejak kapan aku tertidur?’ Aku sama sekali tidak ingin, yang kuingat hanyalah aku sedang menangis dan ia memelukku, lalu setelahnya aku tidak tahu lagi. Mungkin aku terlalu lelah sampai tidak sadar. Kulihat wajah tampannya berada di sampingku memelukku, suara nafasnya yang sudah pulas tertidur. Aku mendekati wajahnya, mengusap perlahan pipinya.


Sungguh aku tidak sanggup jika harus kehilangan lagi kasih sayang darinya, aku menatap lekat pria di sampingku yang sudah menjadi suamiku ini. Dadanya yang bidang, serta otot besar yang sangat ku sukai, badannya yang putih bersih membuatku semakin nyaman meskipun pikiranku masih membayangkan tentang mereka.


Aku mencoba untuk bangun, kulihat jam ternyata sudah memasuki tengah malam, berjalan melangkah menuju kamar mandi, karena badanku sudah terasa lengket akibat keringat tentunya saat aku menangis. Air hangat malam hari membuat pikiranku sedikit tenang, perutku yang sudah sangat terlihat, aku lalu melanjutkan mandi dengan cepat sebab tidak baik mandi tengah malam.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama, aku sudah selesai dengan ritual mandi ku, lalu keluar, kulihat kearah tempat tidur, suamiku sudah tidak ada di sana, lalu kemana dia, ah biarkanlah. Aku mengambil lingerie dan memakainya, sebab jika ingin tidur aku memang sering memakai ini. Tapi ini lingerie merah muda dan memperlihatkan tubuhku yang putih mulus. Itu adalah salah satu pemberian darinya.


Aku tidak tahu kemana suamiku, aku berniat tidak mencarinya mungkin saja dia sedang diruangan televisi, dan aku berniat untuk kembali tidur. Saat aku sudah terlelap dalam mimpiku, aku merasakan sebuah tangan besar berjalan di atas tubuhku, hingga aku merasakan sesuatu sedang mencoba untuk memasuki ku. Perlahan itu semakin cepat dan semakin cepat sampai aku menahan erangan yang sangat besar.


Perlahan mataku terbuka terlihat jika suamiku sedang berada di kakiku, lalu dia membuka lebar kakiku dan menghujam nya dengan mulutnya. Aku ingin marah tapi tidak bisa, dia terus membuatku ingin terbang. Lalu tiba-tiba terlintas bayangan Elie dengannya, apa mungkin mereka juga seperti ini, tanpa terasa aku kembali mengeluarkan air mataku, tapi Reiner terus melakukan aktivitasnya.


Aku menahan tangis saat dirinya semakin membuatku terbang, sampai pada satu titik rasanya aku ingin meminta lebih, lebih dalam dari itu. Ia tersadar dan melihat kearahku yang sudah menangis, ia lalu bangkit dan menuju dekat dengan wajahku. Bibirnya yang masih meninggalkan sisa akibat ulahnya sendiri.


"Sayang maaf jika aku tidak meminta persetujuan mu terlebih dahulu, maaf dan kau boleh menghukum ku saat ini" ungkapnya lalu dia menunduk. Aku tidak ingin berdebat, dan aku membalikkan kearah lain berniat membelakanginya. Terdengar nafasnya yang memburu, lalu dia bangun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Aku melihatnya dan aku tahu jika dia ingin menuntaskan keinginannya.


Entah mengapa setelah itu aku bisa tidur lagi, aku bangun dan berjalan keluar, mengambil beberapa cemilan dan membawanya ke ruangan televisi, berniat ingin menonton. Sedang fokus dengan melihat siaran televisi, ia berjalan menghampiriku dan duduk di sampingku, tidak ada perbincangan di antara kami, hanya suara televisi dan cemilan dalam mulutku.


Mungkin karena aku mengabaikannya lalu dia bangun dan melangkah pergi, aku melihat punggungnya dan memasuki kamar kami, karena rasa penasaranku yang tinggi, aku mencoba mengintipnya dengan perlahan aku berjalan di belakangnya. ‘Dimana dia kenapa tidak ada di sini’. Aku terus penasaran apa yang dilakukan suamiku, entah mengapa hatiku sangat tidak enak karena dia tidak ada dikamar padahal aku melihatnya dia kearah sini.


Lalu aku mencoba untuk mencari memasuki kamar mandi dan melihat ketempat lain tapi tetap tidak ada, dan bertapa terkejutnya diriku melihat ia sudah ambruk di lantai dengan sebuah pisau yang sudah melumuri darah sangat banyak. "Tidak!" Aku menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


__ADS_2