
Hari ini Zoya dan Reiner berkunjung ke kediaman More, keluarga istrinya. Mereka tidak berdua tapi juga dengan Kelvin. Mereka berangkat bersama. Mobil dengan kecepatan tinggi tak perlu menunggu lama sampailah mereka di tempat tujuan.
Saat kedatangan kami mami sudah menunggu didepan pintu. "Kirain kalian berdua ngga jadi datang, Eh ada Kelvin juga. Udah lama ngga kesini ya."
Kelvin memberikan salam. "Iya Tante maaf udah lama ya semenjak aku pindah ngga sempat lagi kesini sibuk soalnya." Zoya dan Reiner sudah masuk kedalam duluan.
"Ya udah yuk masuk Vin biar kita sarapan bareng Tante udah siapin makanan banyak banget kalau tahu kamu juga datang pasti Tante buatin cemilan lagi," memang Mami sangat tahu jika Kelvin suka mengemil. Papi datang menghampiri kami dan ikut bergabung makan bersama. Acara dirumah mami berlanjut dengan baik.
Lain halnya dengan Elie, dia merasa sangat kecewa karena telah di khianati oleh Kelvin. Rencana yang sudah disiapkan dengan matang menjadi berantakan, dia sengaja menyewa suruhannya agar mengikuti Kelvin. Hatinya dipenuhi dendam, mereka semua sama saja telah mengkhianatinya mentah-mentah.
Brian datang menghampiri istrinya. "Sayang jangan terlalu pikirkan mereka nanti bisa-bisa wajahmu terlihat tua, ayo senyum." Elie menurut dan tersenyum, Brian memeluk istrinya itu.
"Tenang saja aku pasti akan membantumu untuk membalaskan dendam kita akan buat kehidupan mereka tidak tentram aku tidak rela jika istriku dikhianati seperti ini."
"Benar aku berniat juga begitu tangisan harus dibalas dengan tangisan, aku tidak rela melihat mereka bahagia apalagi dengan Kelvin dia telah merusak kepercayaan ku, tapi nanti aku pastikan dia akan menangis melihat gadis yang cintanya, kau memang harus menbantuku," ucap Elie.
Brian masih terus memeluk istrinya, ia menginginkan lebih. "Aku akan selalu mengikuti keinginanmu sayang, bagaimana jika sekarang kamu mengikuti kemauanku dulu." Brian tersenyum berusaha menggoda Elie.
Elie paham apa yang ada dalam pikiran Brian. "Tunggu, aku mau tapi jangan berikan aku keturunan aku belum siap untuk itu. Wajah Brian seketika berubah. "Aku menginginkan anak Elie, aku menikah denganmu untuk memiliki keturunan bersama tidakkah kau merasa kasihan denganku?"
__ADS_1
Elia mengusap wajah Pria didepannya ini. "Aku akan menurutimu tapi tunggu sampai aku bisa membalaskan dendam ku, bersabarlah aku akan tetap menjadi untukmu." Brian memeluk Elie, hari ini mereka melakukan aktivitas umum seperti suami dan istri lainnya. Elie mengikuti irama pergerakan Brian. Seketika membuatnya kehilangan rasa dendam.
---------------------------------------------------
Zoya dan Reiner telah kembali kerumah mereka, juga Kelvin. Saat itu mereka sedang duduk bersantai di ruangan televisi. "Sayang kapan rencana honeymoon kita? Kau masih ingatkan dengan pembicaraan kita kemarin," ucap Reiner.
"Mas apa setidaknya kita tidak perlu melakukan honeymoon lagi maksudnya bukan aku tidak mau justru aku sangat menginginkannya, tapi aku tidak mau menganggu pekerjaanmu apalagi denganku yang masih baru bekerja lagi rasanya tidak enak dengan Kelvin," ucap Zoya seraya ia tidur di pengakuan suaminya.
Reiner mengusap lembut rambut istrinya. "Hatimu sangat mulia sayang aku tidak masalah jika harus meninggalkan pekerjaan demi kamu bukankah aku sudah berdosa dulu tidak membahagiakanmu, kau tidak perlu khawatir dengan Kelvin dia pasti akan mengerti."
"Tapi mas kau tidak bisa meninggalkan Perusahaan terlalu lama bukankah Perusahaan mu sekarang sedang maraknya sibuk, aku tahu banyak kendala yang kau lalui di Perusahaan," ucap Zoya dia tidak ingin terus-menerus membuat suaminya kelelahan mengatur Perusahaan nantinya.
"Yasudah lah mas terserah kau saja aku akan mengikutinya." Reiner tersenyum mendengar ucapan istrinya. Ia memeluk dan berbaring di samping istrinya. "Mas kamu mau ngapain lagi ini?" ucap Zoya saat tangan suaminya mulai berjalan.
Reiner terkekeh mendengarnya, memang ia berniat menggoda istrinya lagi saat ini. "Sayang kamu sepertinya gemukkan." Zoya memengang pipinya, perut, dan bahunya sendiri memastikan ucapan suaminya. "Ihh... Mana ada aku masih utuh kok ngga gemuk masih cantik badanku mas," Zoya kesal dengan pengakuan suaminya.
Reiner memastikan dengan memengangnya. Tapi bukannya memengang yang benar malah mencari yang lain, alhasil membuatnya mendapat pukulan ringan dari istrinya. Plak! Ia meringis kesakitan.
"Sayang kamu lama-lama kaya tukang pukul sakit tahu apalagi kalau cubit itu lebih parah, belajar dimana kamu?" Reiner terkekeh dan memeluk erat Istrinya.
__ADS_1
"Lepasin aku mas panas tahu nanti aku berkeringat lepasin," Zoya kesal, ia berusaha melepaskan pelukan suaminya tapi apa boleh buat tenaganya sangat lemah jika dibandingkan dengan tubuh kekar suaminya.
Reiner terus tertawa melihat istrinya kesusahan melepaskan diri, sesekali dia memberikan ciuman di pipi istrinya. Ia gemas melihat Zoya apalagi jika sedang kesal mata lentik serta bulat melotot kearahnya, dan bibir merah yang membuatnya tidak ingin lepas mengingat keindahan dari istrinya.
Reiner tidak tahan akhirnya dia membuat istrinya agar meminta duluan. Ia sangat pandai membuatnya, Zoya yang sudah dibawah kesadarannya memohon agar suaminya menuntaskan aktivitas tersebut. Dan sekali lagi mereka terbenam dalam keindahan Dunia.
Aktivitas yang dilakukan memakan banyak waktu, mereka melakukan sampai keduanya benar-benar kewalahan. Zoya bangun diikuti suaminya dan akhirnya mereka mandi bersama.
Sore itu mereka berniat untuk jalan-jalan ditepi pantai. Entah angin darimana Zoya ingin sekali berada dilantai menunggu senja. Secangkir cappucino dingin menemani senja mereka, langit memancarkan keelokannya, Reiner dan istrinya berjalan menyusuri tepian pantai, melihat keindahan lembaran air biru berubah menjadi merah kemilau tapi tetap terlihat indah dan elegan. Ia merangkul dan terus melihat kearah istrinya yang sedang sibuk mengamati senja.
Tiba-tiba Zoya berlari didepan dan meminta Reiner mengabadikannya keponsel. Istrinya berpose dengan berbagai macam gaya dan mereka juga berpose bersama. "Sayang terus tunjukan senyummu seperti ini kau sangat cantik," Reiner mendekat. "Benarkah aku cantik, lantas dulu kenapa mas tidak menyukaiku?" Zoya duduk disamping suaminya.
Reiner membuat Zoya tidur di bahunya. "Sayang aku menyukaimu hanya saja aku terpengaruh oleh orang lain, ayolah kita sedang jalan-jalan hari ini jangan mengungkit masa lalu itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri, dan yang harus kau tahu aku akan mencintaimu dan tetap menjadi yang terbaik untukmu meskipun belum ada kata sempurna dariku."
Zoya memandangi suaminya. "Mas kau itu tampan dan aku beruntung menjadi istrimu meskipun kau harus ingat jika dulu aku juga ingin membunuhmu tapi percayalah aku bahagia sekarang."
"Sayang, kau ingin membunuhku jahat sekali" Reiner menggelitiknya hingga membuat istrinya tertawa terbahak-bahak. "Ampun... Mas aku lelah baiklah aku tidak jadi membunuhmu."
*******
__ADS_1
Jika dalam hidupmu belum menemukan kebahagiaan bersabarlah dan yakinkan bahwa kebahagiaan kelak pasti akan menghampirimu.