Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
2 ~ S2 Singa betina melahirkan


__ADS_3

Happy Reading


“Apa Lo kata ujian setan? Berarti Lo anggap gua setan dong! Sialan kesini Lo kalau berani tantang gua!” Bentakan dengan sedikit bercandaan membuat Zoya menggeleng-gelengkan kepala melihat kearahku.


“Lihat nak, kedua orang bodoh ini saling mengejek satu sama lain,” sahut Zoya berbicara dengan perutnya.


“Ya ampun sayang, jangan katakan pada anak kita papanya bodoh, tapi katakan kalau aku ini tampan,” ucapku penuh dengan percaya diri.


Zoya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum melihat tingkahku. Namun berbeda dengan Steven, ia tiba-tiba berdiri dan menatap jauh kedepan.


Terlihat Brian bersama dengan seorang wanita yang sangat ku kenal bahkan sering berada dalam kediamanku. Begitupun dengan Zoya, ia penasaran dengan apa yang kami lihat, lalu menoleh kebelakang.


“Brian! Tapi, kenapa Vanny bersama dengannya, Bee?” tanya Zoya terkejut.


“Aku juga tidak tahu, sayang.”


“Apa mungkin Vanny adalah pacar Brian? Tapi bagaimana bisa? Bee, aku tidak ingin melihat wanita busuk itu ada di sini. Usir dia sekarang!” Zoya tiba-tiba mengamuk saat melihat wanita itu berlanjut semakin mendekat.


“Zoya! Kamu kenapa marah? Apa Zoya mengenal siapa wanita itu, Reiner?” tanya Steven panik.


“Ya, dia mengenal wanita itu. Namanya Vanny, dia pernah menjadi teman dekat istriku. Namun, dia justru mengkhianati istriku,” ucapku menceritakan seadanya.


“Jadi dia bisa di bilang musuhnya Zoya?! Ya ampun, ini bakalan perang besar!” Steven pun panik lalu berdiri di depan Zoya untuk waspada.


Aku mengikuti Steven untuk berdiri didekat istriku. Brian bersama Vanny semakin mendekat kearah kami semua.


“Hallo semuanya! Kenalin nih pacar gua!” teriak Brian dari jarak sedikit jauh.


“Ngapain kamu bawa perempuan itu kesini, Brian?! Aku tidak ingin melihat dia. Sebaiknya kamu bawa pergi wanita itu!” bentak Zoya seraya mengepalkan tangannya.

__ADS_1


Brian bersama dengan Vanny mendadak menghentikan langkah mereka saat mendengar suara bentakan dari Zoya. Dengan cepat pasangan kekasih tersebut berlari kearah kami.


“Ya ampun Rei, beneran bakalan perang,” bisik Steven tepat di telingaku.


‘Sebaiknya aku harus menghentikan istriku,’ batin.


“Sayang, jangan marah-marah gitu biarkan kita bicara baik-baik. Mungkin saja Brian punya alasan tersendiri sampai ia harus memacari Vanny. Sudah kamu tenang ya,” ucapku mencoba menenangkan istriku.


“Bicara baik bagaimana, Bee? Jelas-jelas Brian sekarang juga mengkhianati kita dengan membawa perempuan busuk itu. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi untuk kedua kalinya, aku harus mencegah mereka!” bentak Zoya beranjak pergi dengan tergesa-gesa.


Betapa susahnya menghentikan istriku sekarang. Ia justru tidak main-main dengan ucapannya hingga membuat aku dengan Steven panik sejadi mungkin.


“Sayang, tungguin!” Aku berusaha mengejar istriku yang sudah duluan berjalan di depan sampai ia tepat berdiri di depan Vanny bersama Brian.


Dengan perut buncit Zoya melipatkan dadanya seakan seorang jagoan berdiri tegak didepan Brian dan Vanny, meskipun keadaannya tidak memungkinkan untuk melawan siapapun.


“Heh jangan sok manis deh depan aku! Setelah semuanya kamu lakuin terus sekarang kamu berusaha datang lagi dengan melibatkan Brian untuk menghancurkan aku, iyakan?! Ngaku aja deh.” Zoya lepas kontrol terhadap Vanny, ia begitu marah.


“Enggak Zoya, semua yang kamu tuduh salah, tolong dengerin aku dulu. Aku bisa jelasin semuanya,” sahut Vanny membela dirinya.


“Udahlah jangan banyak omong, semua ini rencana kamu 'kan dengan jadi pacar Brian terus kalian bisa merusak hubunganku lagi. Jujur aja.” Lagi-lagi istriku tidak bisa menahan emosinya.


Brian ingin menyahut, tapi berkali-kali ia tidak bisa berbicara sebab istriku tidak membiarkan mereka terlalu lama membuka mulutnya hingga membuat Brian memupuk keningnya sendiri.


“Rei, ini bukan lagi permasalahan kecil. Kalau kita cuma diam yang ada perang beneran bakalan terjadi!”


“Iya Lo bener, Steven.”


Aku bersama Steven mencoba menenangkan suasana, tapi sepertinya sangat susah Zoya begitu marah dan kesal dengan melihat Vanny berada di sana.

__ADS_1


“Kalian benar-benar tidak tahu ma-malu aaa arrrgggghh perutku sa-sakit sekali!” Zoya tiba-tiba kesakitan di bagian perutnya hingga ia terjatuh dan untung saja berusaha aku menangkap tubuhnya.


Semua orang yang di sana panik melihat istriku yang sudah sangat kesakitan. Vanny pun tercengang entah apa yang ia lihat sampai membuka mulutnya.


“Reiner, istri kamu mau melahirkan! Ketubannya pecah ayo cepat bawa dia kerumah sakit,” perintah Vanny yang juga ikut khawatir.


“Bee, sakit ... Sakit.” Dalam tangisnya ia menahan kesakitan.


Zoya sudah berada dalam mobil begitupun semua orang yang ada di sana. Kami langsung menuju ke rumah sakit. Dalam pangkuanku istriku sedang menahan kesakitan yang amat pedih hingga tidak henti-hentinya menangis dan menjerit hingga membuatku kasihan dan ikut menangis.


* * *


Setiba di rumah sakit istriku langsung memasuki ruang persalinan begitupun denganku. Ia juga masih merasakan kesakitan dan aku tidak berniat untuk meninggalkan dirinya sebab aku tidak tega melihatnya melawan semua ini sendirian.


“B-be-Bee, aku tidak akan pernah ingin lagi hamil. Ini sangat sakit ... Bolehkan aku mati?” ungkap Zoya terbata-bata hingga ia berbicara sesukanya.


“Sayang, jangan bicara sembarangan. Percayalah kamu akan sanggup melewati ini semua demi Debay kembar, demi aku dan demi rumah tangga kita. Ku mohon bertahanlah,” ungkapku mencoba untuk menenangkan.


“Aaa ... tapi aku begitu sakit .... Kau tahu Bee, aku akan membunuhmu jika nanti sampai ada orang yang berani membuat keluarga kita hancur. Melahirkan begitu sakit jadi aku akan kuat jika siapapun berani mengganggumu!” teriak Zoya seraya menarik-narik rambutku hingga membuat Dokter dan suster di sana menahan tawanya.


‘Ya ampun dalam sekejam istriku berubah jadi singa betina yang ganas. Oh Tuhan selamatkan lah rambutku dari tarikan kekejaman tangannya. Aww sakit sayang, kulit kepalaku rasanya ingin copot. Andai dia mendengar suara hatiku,’ batinku.


Terus-menerus Dokter di dalam ruangan itu menahan tawanya seraya menyiapkan alat-alat untuk persalinan nantinya. Aku sendiri tidak hentinya menahan rasa sakit yang juga sama hingga air mataku keluar. Demi harga diri seorang Pria sejati sepertiku, aku harus mampu mendiamkan diri menerima semua perlakuan dari singa betina yang ganas.


“Maaf Tuan, apa Anda akan tetap di sini atau akan menunggu di luar? Keliatannya Anda juga sudah kelelahan menerima serangan dari istri Anda,” tanya Dokter tersebut.


“Suami saya akan tetap di sini Dok! Uh ... uuh. Dia akan menunggu saya di sini sebab di luar ada wanita busuk. Aaargh sakit .... tunggu apalagi.” Zoya benar-benar tidak lagi terkendali.


“Se-sebaiknya saya di sini saja. Ayo Dok di aww ... Di lanjut saja.” Ucapanku terputus oleh perbuatan istriku yang berfokus menarik rambutku ketimbang tanganku.

__ADS_1


__ADS_2